Entri Populer

Welcome Guys

Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog

Tampilkan postingan dengan label paru--paru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label paru--paru. Tampilkan semua postingan

perkembangan bayi yang sempat henti napas karena kanker paru-paru

Written By iqbal_editing on Jumat, 10 Maret 2017 | 03.10

Dylan Askin dikabarkan mengalami henti napas saat berada di tempat penitipan anak, Little Nippers di Derby, Inggris. Beruntung salah satu sukarelawan tempat itu, Caroline Blake bergerak cepat.

Dengan sekuat tenaga, Caroline melakukan tindakan CPR atau memberi napas buatan kepada Dylan, sembari menunggu datangnya ambulans.

"Ia tampak terengah-engah, dan saya mulai melakukan CPR sebanyak empat putaran," kisahnya.

Caroline menambahkan, Dylan sebenarnya tak sendiri karena ibunya juga ada di tempat yang sama. Akan tetapi sang ibu sedang hamil tua sehingga tak bisa berbuat banyak ketika melihat keadaan Dylan.

Upaya ini berhasil. Dylan pun bisa dibawa ke rumah sakit. Namun begitu sampai di rumah sakit, tim dokter mengabarkan bahwa kondisi Dylan sangat buruk sebab kedua paru-parunya kolaps. "Mereka juga mengira otak Dylan mengalami kerusakan karena saya langsung melakukan CPR," tambahnya.

Bocah berusia tiga tahun itu kemudian didiagnosis mengidap kanker paru. Sayangnya baru sebulan menjalani kemoterapi, Dylan terkena infeksi dan kejang sehingga napasnya berhenti lagi. Saat inilah keluarga sudah diminta melepaskan alat pendukung kehidupan Dylan.

Baca juga: Rokok Punya Bahan Pemicu Kanker, Masih Tega 'Ngebul' Dekat Anak?

Ibu Dylan, Kerry Askin mengisahkan, pada awalnya paru-paru Dylan hanya kolaps sebelah di Hari Natal tahun lalu. Gejalanya hampir sama, sesak napas dan begitu dilarikan ke rumah sakit, dokter menduga si kecil terserang pneumonia.

Kondisinya tidak membaik, lalu dilakukan pemindaian dengan sinar X dan terlihat bahwa paru-paru Dylan tak hanya kolaps, tetapi juga berpotensi tertutup kista berisi udara. "Kami dirujuk ke Nottingham QMC untuk mengeluarkan udara yang terperangkap itu," ungkap Kerry.

Selepas itu, anak kedua dari tiga bersaudara ini sempat pulang tetapi paru-paru kanannya kolaps lagi empat hari berikutnya. Dylan pun dirawat hampir sebulan di rumah sakit, tetapi kondisinya malah memburuk.

Itulah saat di mana Dylan mengalami kolaps dobel atau kedua paru-parunya mengalami kerusakan, saat berada di tempat penitipan anak. "Saya hanya bisa menghubungi 999 berulang kali tetapi ia keburu berhenti bernapas, dan untunglah ada Caroline," lanjutnya.

Lebih jelasnya, Dylan terdiagnosis mengidap Pulmonary Langerhans Cell Histiocystosis yang lebih dikenal sebagai kanker paru. Pulmonary LCH sendiri tergolong langka karena diperkirakan hanya menyerang 1 dari 200.000 anak.

Dan tepat di hari Kasih Sayang, alat penunjang kehidupan Dylan sempat akan dicopot.

"Begitu relaksan ototnya dimatikan, kami akan mulai melepaskan selang-selang di tubuhnya. Tetapi ternyata ia butuh lebih banyak obat bius, dan saat itulah kami tahu kondisinya membaik walaupun perlahan," kenang Kerry.

Dylan akhirnya bisa dipulangkan ke rumah pada April lalu. Kerry dan suaminya kemudian menggalang dana sekaligus meningkatkan kesadaran akan Pulmonary LCH yang tidak banyak diketahui orang lewat situs Just Giving.
03.10 | 0 komentar | Read More

batuk yang menjadi pertanda pneunomia

Batuk bisa saja lumrah dialami anak-anak. Tapi jika batuk yang dialami si kecil seperti ini, baiknya orang tua tidak menganggap enteng karena bisa jadi itu gejala pneumonia.

dr Nastiti Kaswandani SpA(K), Ketua UKK Respirologi PP IDAI mengatakan pada prinsipnya batuk merupakan gejala umum sebagi bentuk mekanisme pertahanan. Nah, batuk merupakan tanda awal peradangan di saluran napas. Namun, dr Nastiti menekankan tidak semua batuk yang dialami anak akan menjadi pneumonia.

"Tapi kalau disertai sesak napas, demam, kebiruan, lalu batuknya terjadi dalam waktu lama atau disebut juga batuk rejan, lalu napas cepat disertai tarikan dada bawah dan saat dibuka bajunya ada cekungan yang amat terlihat di bagian dada atas, segera bawa anak ke puskesmas atau RS," kata dr Nastiti di sela-sela Forum Ngobras 'Harapan Baru Eradikasi Pneumonia di Indonesia' di D'Lab, Menteng, Jakarta pusat, Jumat (10/3/2017).


Untuk mengetahui apakah anak mengalami napas cepat, ada praktik sederhana yang bisa dilakukan kader kesehatan atau bahkan orang tua, yakni melalui hitung napas balita. Dikatakan dr Nastiti ada kisaran normal tarikan napas anak di masing-masing usia. Untuk anak usia 0 sampai 2 bulan, normalnya maksimal 60 napas per menit.

Untuk anak usia 2 bulan sampai 1 tahun, frekuensi normal maksimal bernapasnya 50 kali dan untuk anak usia 1 sampai 5 tahun frekuensi normal maksimalnya yakni 40 kali. Jika dihitung dalam satu menit napas anak melebihi angka tersebut berdasarkan usianya, dr Nastiti menegaskan segera bawa anak ke Puskesmas atau RS terdekat.

Ia menambahkan, umumnya ketika ditanya dokter, orang tua akan melihat napas cepat anak bak seorang yang habis lari di mana napas anak terlihat ngos-ngosan. Dikatakan dr Nastiti, pneumonia merupakan radang paru yang menyerang jaringan paru dan disebabkan oleh kuman. Pada gelembung paru normal, akan terjadi pertukaran udara.

"Tapi kalau terinfeksi kuman dan terisi cairan radang, tidak terjadi pertukaran udara dengan baik hingga jaringan paru rusak. Kalau lama-lama dibiarkan, fungsi paru terganggu, pasokan oksigen kurang dan bisa sebabkan kematian, terutama jika terjadi kekurangan oksigen di jantung dan otak," kata dr Nastiti.
02.02 | 0 komentar | Read More

kegunaan vaksin pneunomia menekan pneunomia

Written By iqbal_editing on Rabu, 08 Maret 2017 | 23.59

Pneumonia masih menjadi masalah kesehatan yang mengancam nyawa anak-anak di Indonesia. Atas dasar itu, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan mencanangkan pilot project peluncuran vaksin pneumonia di pertengahan tahun ini.

Direktur Surveilans dan Karantina Penyakit Kementerian Kesehatan Ri, dr Elizabeth Jane Soepardi, MPH, Dsc, menyebut vaksin pneumonia merupakan salah satu dari tiga vaksin baru yang akan diluncurkan pada tahun 2017. Peluncuran pertama akan dilakukan di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

"Kenapa Lombok? Karena pneumonia paling tinggi di sana. Kita ingin coba mendokumentasikan data semua untuk melihat adakah dampak penurunan pneumonia yang sekaligus menurunkan angka kematian bayi," kata dr Jane dalam siaran pers yang diterima detikHealth.


Pemberian vaksin dilakukan sebanyak tiga kali, yakni pada saat anak berusia 2 bulan, 3 bulan dan 12 bulan. Di tahun kedua, diharapkan sudah ada dokumentasi data yang terlihat.

Adanya dokumentasi data diharapkan dapat menjadi bekal pengajuan vaksin pneumonia sebagai program nasional. Jika hasil pilot project di Lombok memuaskan, bisa saja vaksinasi pneumonia menjadi program nasional. Dengan begitu masyarakat bisa mendapat manfaat vaksin gratis sekaligus mencegah kematian anak dan bayi akibat pneumonia.

"Kita berharap, masyarakat juga mendukung, Pemda juga harus mendukung. Dengan membawa bukti data, rekaman di sana, akan memudahkan pemerintah berjuang ke DPR dan menunjukkan ini efektif," lanjutnya lagi.

Adanya vaksin pneumonia juga diharapkan mampu mengurangi beban Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Dikatakan dr Jane, biaya rawat inap anak akibat pneumonia jauh lebih tinggi daripada biaya vaksinasi.

Sebagai gambaran, satu dosis vaksin pneumonia oleh pemerintah memiliki harga Rp260 ribu. Satu anak membutuhkan tiga dosis vaksin untuk seumur hidup sehingga total biaya yang dibutuhkan kurang lebih Rp780 ribu. Harga ini masih jauh lebih murah daripada harga vaksin pneumonia di RS swasta yang bisa mencapai Rp800 ribu sampai Rp1 juta.

dr Darmawan, SpA dari RS Cipto Mangunkusumo mengatakan sosialisasi pneumonia kepada masyarakat sangat penting untuk mencegah penyakit ini menjadi epidemi. Menurutnya, kewaspadaan yang rendah membuat anak terinfeksi pneumonia telat mendapat perawatan dan baru dibawa ke rumah sakit saat sudah gawat.

"Imunisasi pneumonia sangat penting, dan harusnya penggunaan imunisasi ini akan mengurangi risiko anak terkena pneumonia. Namun peran serta masyarakat untuk benar-benar mengetahui gejala pneumonia yang terjadi pada orang-orang di lingkungannya, akan sangat membantu anak mendapatkan tindakan medis secepatnya," ungkap dokter yang juga aktif di UKK Respirologi IDAI ini.

Secara terpisah, dr Nurlaili Muzayyanah dari Jogja International Hospital mengatakan pneumonia tidak boleh diremehkan. Apalagi jika anak sudah mengidap batuk-pilek hingga lebih dari 2 minggu disertai dengan sesak napas.

"Batuk pilek sampai 2 minggu, lalu demam dan sesak napas adalah kondisi yang tidak boleh dianggap remeh. Itu adalah gejala awal pneumonia. Apabila dibiarkan, akan sangat berbahaya bagi nyawa sang balita," kata dr Nurlaili.
23.59 | 0 komentar | Read More

tbc pada lansia

Written By iqbal_editing on Senin, 28 November 2016 | 07.07

TUBERKULOSIS
          Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksius yang terutama menyerang parenkim paru. Tuberculosis dapat juga ditularkan ke bagian tubuh lainnya, termasuk meningens, ginjal, tulang dan nodus limfe (Brunner & Studdart, 2002 : 584).
          Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium Tuberkulosis). Sebagian besar kuman menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya (www.infeksi.com).
                Tuberkulosis paru adalah ptenyakit yang disebabkan oleh mycobacterium tuberkulosis, yakni kuman aerob yang dapat menyerang semua sistem tubuh, yang mengenai paru (Ramali, Ahmad, dkk, 1992 :306).

  • Gambaran klinis :
a. Demam (panas)
b. Batuk dan sputum
c. Sesak nafas
d. Nyeri dada
e. Malaise

                Tuberkulosis juga dapat mempunyai manifestasi atipikal pada lansia, seperti prilaku tidak biasa dan perubahan stastus mental, demam, anoreksia, dan penurunan berat badan (Brunner & Studdart, 2002 : 585).

  • Komplikasi :
a. Komplikasi dini 
- Pleuritis
- Efusi pleura
- Empiema
- Laringitis
- Menjalar ke organ lain yaitu usus
b. Komplikasi lanjut
- Obstruksi jalan nafas – SOPT (Syndrome Obstruksi Pasca Tuberkulosis)
- Kerusakan parenkim berat – fibrosis paru, kor pulmonal
- Amioloidosis
- Karsinoma paru
- Sindrom gagal nafas dewasa (ARDS)
   
(Buku ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid II, 2003 : 829).
  • Penatalaksanaan medik
          Tuberculosis paru di obati karena agens kemoterapi (agen anti tuberkulosis) selama periode 6-12 bulan. Lima medikasi garis depan digunakan: isoniasid (INH), rifampicin (RIF), streptomisin (SM), etambutol (EMB), dan pirazinamid (PZA). Kapreomisin, kanamisin, etionamid, natirum para-aminosalisilat, amikasin, dan siklisin merupakan obat-obat baris kedua.

  • Pembedahan pada TB paru
     Peranan pembedahan dengan adanya OAT yang poten telah berkurang. Indikasi pembedahan dibedakan menjadi indikasi mutlak dan indikasi relatif.
Indikasi mutlak pembedahan adalah :
a. Semua pasien yang telah mendapat OAT adekuat tetapi sputum tetap positif
b. Pasien batuk darah pasien tidak dapat diatasi dengan cara konservatif
c. Pasien dengan fistula bronkopleura dan empiema yang tidak dapat diatasi secara
    konservatif

Indikasi relatif pembedahan :
a. Pasien dengan sputum negatif dan batuk-batuk darah berulang
b. Kerusakan satu paru atau lobus dengan keluhan
c. Sisa kavitas yang menetap
(Kapita selekta kedokteran jilid II, 2001 : 474).
  • Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Riwayat kesehatan keperawatan
1) Riwayat kesehatan dahulu
Kemungkinan klien sebelumnya pernah menderita sakit seperti ini atau pernah kontak dengan penderita tuberkulosis, Tidak dapat imunisasi BCG dan mempunyai riwayat status gizi yang kurang baik.
2) Riwayat kesehatan sekarang
Biasanya klien mengalami batuk disertai dengan demam, sesak nafas, sakit di daerah sekitar dada, lelah, tidak nafsu makan, penurunan berat badan serta sering berkeringat pada malam hari.
3) Riwayat kesehatan keluarga
Karena penyakit ini merupakan salah satu penyakit menular yang dapat ditularkan melalui inhalasi, kemungkinan salah seorang dari keluarga pernah menderita penyakit
TB paru.

Pengkajian perawatan pada klien dengan tuberculosis paru antara lain difokuskan pada :
1) Aktifitas dan istirahat
Yang perlu dikaji adalah apakah terjadi kelelahan umum dan kelemahan, nafas pendek karena bekerja, kesulitan tidur pada malam hari atau demam malam hari, menggigil atau berkeringat, terjadi takipnea, dispnea pada saat kerja.
2) Makanan dan cairan
Pengkajian meliputi : apakah kehilangan nafsu makan, apakah makanan sulit untuk dicerna, terjadi penurunan berat badan, turgor kulit menurun, kehilangan lemak subkutan.
3) Pernafasan
Apakah ada gejala batuk produktif atau tidak produktif, nafas pendek, peningkatan frekuensi nafas. Apakah ada sputum jika ada apa karakteristik sputum : hijau/purulen, mukoid kuning atau bercak darah.
4) Nyeri dan kenyamanan
Untuk mengkaji nyeri meliputi : nyeri dada meningkat karena batuk yang berulang, klien tampak berhati-hati pada area yang sakit, serta gelisah.

b. Data Diagnostik
1) Radiologi
Pada pemeriksaan radiologi, rontgen foto thorak akan ditemukan lesi pada segmen paru bagian apex dan posterior lobus atau segmen superior lobus bawah. Selain itu juga ditemukan infiltrat atau nodular terutama pada lapangan atas paru.

2) Pemerikasaan laboratorium
2.1 Darah
- Leukositosis ( Jumlah leukosit yang lebih dari normal, N= 5000-10.000/mm3 ).
Jumlah limfosit dibawah normal.
LED meningkat
2.2 Sputum
kultur sputum : Mycobacterium tuberkulosis (+)
3) Pemeriksaan test tuberkulin : (+)
4) Tes kulit (PPD, mantoux)
Reaksi positif (area indurasi 10mm atau lebih besar, 48-72 jam setelah injeksi intra dermal antigen) menunjukkan infeksi masa lalu dan adanya antibodi tetapi tidak secara berarti menunjukkan penyakit aktif. Reaksi yang bermakna pada pasien secara klinik berarti bahwa TB aktif tidak dapat diturunkan atau infeksi disebabkan oleh micobakterium yang berbeda.

5) Foto thorak
Dapat menunjukkan infiltrasi lesi awal pada area paru atas, simpanan kalsium lesi sembuh primer, atau efusi cairan. Perubahan menunjukkan lebih luas TB dapat termasuk rongga, area fibrosa.

6) Biopsi paru pada jaringan paru
Positif untuk granuloma TB : adanya sel raksasa menunjukkan sel nekrosis

7) Pemeriksaan fungsi paru
Penurunan kapasitas vital, peningkatan ruang mati, peningkatan rasio udara residu dan kapasitas paru total dan penurunan saturasi oksigen sekunder terhadap infiltrasi parenkim, kehilangan jaringan paru, dan penyakit pleural (TB paru kronis luas).

8) Elektrosit
Dapat tak normal tergantung pada lokasi dan beratnya infeksi : contoh hiponatremia disebabkan oleh tak normalnya retensi air dapat ditemukan pada TB paru kronis.

9) GDA
Dapat normal tergantung lokasi, berat dan kerusakan sisa pada paru.


2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada klien dengan Tuberkulosis paru antara lain :
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan sekret kental, atau sekret darah, upaya batuk buruk
2. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia
3. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan primer tidak adekuat, penurunan kerja silia, penurunan pertahanan/penekanan proses inflamasi, malnutrisi
4. Resiko tinggi pertukaran gas berhubungan dengan penurunan permukaan efektif paru, ateletaksis, kerusakan membran alveolar kapiler, sekret kental, edema bronkhial
5. Kurang pengetahuan mengenai kondisi, aturan tindakan, dan pencegahan berhubungan dengan salah interpretasi informasi, keterbatasan kognitif, informasi yang kurang.

3. Perencanaan
      Pada tahap perencanaan, perawat membuat rencana tindakan keperawatan dalam menentukan pendekatan yang akan dilaksanakan untuk memecahkan masalah klien atau mengurangi masalah klien. Tahap perencanaan ini terdiri dari penentuan tujuan dan prioritas dalam penyususnan intervensi keperawatan.
07.07 | 0 komentar | Read More

makanan sehat untuk paru-paru

Written By iqbal_editing on Rabu, 23 November 2016 | 21.55

Paru-paru adalah salah satu organ inti dalam tubuh kita. Peranannya yang sangat penting mengharuskan kita merawatnya agar tidak sakit. Salah satu caranya adalah dengan tidak merokok dan meghirup udara berpolusi.

Tahukah kamu bahwa terdapat sekitar 14 makanan yang secara alami dapat membersihkan paru-paru. Dengan menjaga paru-paru tetap bersih, fungsi paru-paru yang kamu miliki akan tetap sehat dan dapat bekerja secara maksimal.

1. Buah dan Sayur yang Mengandung Karotinoid
Beberapa buah dan sayur yang memiliki kandungan karonoid adalah wortel, ubi jalar, sayuran hijau gelap dan tomat. Karena khasiatnya, bahkan karotinoid digunakan untuk dijadikan antioksidan untuk mengurangi risiko kanker paru-paru.

2. Makanan dengan Asam Lemak Omega-3
Makanan yang kaya akan asam lemak omega 3 secara bertahap mampu menyembuhkan asma. Asam lemak omega 3 dapat ditemukan pada ikan salmon, tuna, trout, kacang-kacangan dan juga biji rami.




3. Sayuran
Sayuran seperti kubis, brokoli dan kol memiliki kandungan yang sangat baik untuk paru-paru. Jadi, selalu sertakan sayuran dalam setiap menu makananmu setiap hari.

4. Makanan yang Mengandung Folat
Dalam tubuh, folat yang berasal dari makanan seperti bayam, asparagus, buah jeruk, kacang dan alpukat akan diubah menjadi asam folat. Makanan tersebut juga secara bertahap melindungi paru-paru dari kanker. 

5. Makanan Bervitamin C
Vitamin C adalah salah satu nutrisi yang sangat penting untuk kesehatan paru-paru. Kamu dapat memperoleh vitamin C dari buah-buahan seperti jeruk. Buah kiwi, stroberi, anggur, nanas dan mangga juga memiliki kandungan vitamin C yang tinggi.

6. Bawang Putih
Bawang putih memiliki zat yang disebut allicin yang mampu melawan infeksi dan mengurangi peradangan pada paru-paru. Zat ini akan sangat baik bagi penderita asma dan infeksi paru-paru.

7. Buah Berry
Flavonoid, karotenoid, lutein dan zeaxanthin yang terdapat dalam berry dapat menghilangkan karsinogen dari paru-paru. Adapun jenis buah berry yang bisa kamu coba yaitu blueberry, raspberry ataupun blackberry.

8. Apel
Apel merupakan salah satu makanan yang baik untuk paru-paru. Selain mudah diperoleh, harganya pun lumayan terjangkau. Bahkan, telah tersedia berbagai jus apel yang bisa dengan praktis langsung dinikmati.

9. Jahe
Menambahkan jahe ke dalam masakan, atau menjadikannya minuman hangat akan memberikan efek yang baik untuk paru-paru.

10. Kunyit
Rempah yang mirip jahe ini juga mampu meringankan peradangan pada paru-paru. Zat curcumin yang terdapat didalamnya menghilangkan zat penyebab kanker paru-paru.

11. Delima
Buah delima berguna untuk meningkatkan suplai darah dan menghilangkan zat beracun dari paru-paru.

12. Anggur
Anggur secara alami mampu membersihkan paru-paru dengan vitamin dan mineral yang terkandung di dalamnya.

13. Makanan yang Mengandung Magnesium
Magnesium merupakan salah satu mineral terbaik untuk menyembuhkan asma. Beberapa makanan yang mengandung magnesium diantaranya adalah kacang-kacangan, alpukat, pisang, ikan dan buah-buahan kering.

14. Air Putih
Air adalah elemen terpenting yang membantu kerja paru-paru
21.55 | 0 komentar | Read More

pertolongan asma

Written By iqbal_editing on Senin, 07 November 2016 | 05.14

Penyakit asma ( asthma ) yaitu satu penyakit yang menyerang saluran pernafasan yang menyebabkan penyempitan saluran pada karena hiperaktivitas terhadap rangsangan tertentu sehingga menimbulkan peradangan dan penyempitan jalan nafas. Hal tersebut mengakibatkan penderita mengalami sesak nafas.
Asma dapat disebabkan oleh alergi terhadap oleh polusi udara ( asap, debu, zat kimia) hawa dingin, makanan, hewan berbulu, bau/aroma menyengat. Disamping serangan asma juga akibat efek pada penderita infeksi saluran pernafasan atas (ISPA ) baik flu maupun sinisitis. Serangan asma juga dapat di picu oleh tekanan psikis pada penderita.

Serangan asma dapat terjadi secara tiba-tiba dengan tanda khas seperti nafas yang berbunyi (wheezing/mengi/bengek ), batuk dan sesak nafas. Bunyi wheezing/mengi/bengek terdengar ketika penderita menghembuskan nafasnya. Kemudian keluhan lain yang rasakan dada terasa sempit, cemas, wajah pucat dan membiru. Serangan asma yang hebat dapat menyebabkan penderita tidak bisa bicara dikarenakan kesulitannya saat mengatur pernafasan.


Asma dapat disebabkan oleh alergi terhadap oleh polusi udara ( asap, debu, zat kimia), hawa dingin, makanan, hewan berbulu, bau/aroma menyengat. Disamping serangan asma juga akibat efek pada penderita infeksi saluran pernafasan atas (ISPA ) baik flu maupun sinisitis. Serangan asma juga dapat di picu oleh tekanan psikis pada penderita.

Apa yang dilakukan untuk menghindari saat serangan asma ?

Langkah terbaik yang dapat dilakukan untuk menghindari serangan asma yaitu menghindari /menjauhi faktor-faktor pemicu yang menyebabkan munculnya serangan asma itu sendiri.

Apakah Penyakit asma bisa di sembuhkan?

Penyakit asma sampai saat ini belum dapat diobati dengan tuntas, hal tersebut berarti serangan asma di masa mendatang masih bisa terjadi.Pemberian obat-obatan pada penderita asma adalah pengobatan untuk menangani serangan yang timbul. Dokter memberikan obat obatan tergantung tingkat keparahan dari gejala dan tanda serangan asma itu sendiri. Untuk penanganan asma biasanya dokter meresepkan obat-obatan golongan kortikosteroid ( hydrocortisone ), syrup ventolin ( salbutamol ) atau nebulizer ( gas salbutamol ) untuk menolong melonggarkan saluran pernafasan.

Untuk penderita asma biasanya dokter meresepkan obat hirup ( ventolin inhaler ) . Obat ini di simpan dan di gunakan bila terjadi serangan asma sewaktu- waktu pasien asma.

Asma membutuhkan penanganan segera, dan bila tidak dilakukan dapat membahayakan penderita maka langkah yang tepat dapat mengurangi resiko bahaya yang mengancam.

Berikut langkah- langkah pertolongan pertama saat terjadi serangan asma (health.detik.com):

  1. Tenangkan penderita
  2. Bantu penderita untuk duduk dan istirahat
  3. Bantu penderita mengambilkan atau mencarikan obat
  4. Biarkan penderita menggunakan obat inhalernya sendiri
  5. Sebisa mungkin hindari penderita dari sumber alergi
  6. Jika merupakan serangan pertama atau terlihat berkepanjangan, segera bawa layanan medis
  7. Jika tidak sadar, segera bawa ke layanan medis
  8. Jangan memaksa penderita untuk tidur terlentang karena penderita lebih nyaman dalam keadaan duduk
  9. Jangan banyak bertanya pada penderita, karena biasanya ia sulit berbicara.

Langkah yang tepat saat penanganan serangan asma akan mencegah resiko dan bahaya yang lebih buruk.
05.14 | 0 komentar | Read More

tips menjaga kesehatan paru-paru

Written By iqbal_editing on Minggu, 30 Oktober 2016 | 14.11


14 Cara Menjaga Kesehatan Paru-Paru dengan Pola Hidup Sehat

 Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan paru-paru seperti berikut ini. 1. Belajar cara bernafas dengan baik
Mengetahui bagaimana cara bernafas dengan baik dan benar diperlukan teruma bagi anda yang sedang mengalami gangguan pernafasan. Anda bisa mempelajarinya dari orang yang lebih ahli seperti terapis dan dokter.
2. Minum air putih secukupnya
Air putih adalah obat dari segala penyakit di dalam tubuh. Air putih mengandung oksigen yang akan membuat paru-paru akan bekerja lebih optimal, seperti disegarkan oleh air putih. Selain itu, air putih juga bisa membersihkan segala kotoran atau lendir yang ada di paru-paru. Minumlah air putih secukupnya 8 gelas per hari.
3. Olahraga secara rutin
Dengan melakukan olahraga rutin anda bisa melatih pernafasan dan juga bisa mengencangkan otot-otot pernafasan sehingga bisa bernafas dengan baik. Anda tidak harus melakukan olahraga yang berat namun, juga bisa dengan melakukan tips olahraga ringan saja seperti jogging atau jalan kaki setiap pagi dan sore hari. Ingat ya, lakukanlah secara rutin.
2. Mengkonsumsi makanan sehat
Konsumsilah makanan sehat dan makanan yang mengandung antioksidan seperti jeruk karena bisa menyehatkan paru-paru. Usahakan untuk tidak memakan makanan yang banyak mengandung lemak terutama lemak jenuh. Pastikan anda juga mengkonsumsi makanan yang memiliki gizi seimbang.
3. Hindari perilaku merokok dan tempat yang berasap
Bagi perokok aktif, tentunya bukan menjadi hal baru bahwa dirinya akan beresiko tinggi terkena penyakit paru-paru. Namun juga bahaya perokok pasif yang menghirup asap rokok juga memiliki resiko bahkan lebih besar terkena penyakit paru-paru. Polusi juga bisa menyebabkan kerja paru-paru berat dan menyebabkan penyakit paru-paru.
4. Menjaga berat badan ideal
Kelebihan berat badan atau obesitas dapat memicu timbulnya berbagai penyakit seperti kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, jantung dan paru-paru. Badan yang telalu gemuk dapat membuat kerja jantung dan paru-paru lebih berat Karena orang gemuk membutuhkan oksigen yang lebih banyak. Jadi sebaiknya anda menjaga berat badan supaya lebih ideal sehingga anda bisa lebih sehat dan terhindari dari berbagai jenis penyakit.
5. Hindari makan makanan yang bergas
Makanan dan minuman yang mengandung gas seperti bahaya minuman bersoda, bahaya alkohol, nangka, kubis, brokoli, melon, bawang merah, lobak, timun, kol dan lainnya. Makanan yang bergas bisa membuat pernafasan menjadi tidak enak.
6. Hindari paparan zat klorin secara langsung
Zat klorin bisa membuat kerja paru-paru menjadi lebih berat dibandingkan biasanya. Klorin tidak hanya berasal dari makanan saja namun juga bisa berasal dari air PDAM. Oleh karena itu, sebaiknya gunakan penyaring atau filter pada keran air supaya klorin tidak ikut terbawa.
7. Tidak makan makanan dan minuman yang dingin
Menghindari sebisa mungkin makanan dan minuman yang dingin sangat dianjurkan karena jaringan yang ada di paru-paru sangat sensitif terhadap suhu dingin, bahkan bisa membekukan pembuluh darah. Jadi, sebaiknya makanlah saat masih hangat saja. (baca juga : bahaya minum air es)
8. Mengurangi makanan yang menyebabkan lendir di paru-paru
Makanan yang bisa menyebabkan penumpukan lendir adaah makanan yang mengandung banyak gula seperti coklat dan permen. Lendir yang menempel pada paru-paru ini nantinya dapat mengakibatkan penyakit paru-paru kronis jika tidak diketahui gejalanya.
9. Menjaga tubuh supaya tidak stress
Paru-paru juga erat kaitannya dengan emosi manusia. Hal ini akan menyebabkan paru-paru lebih bekerja keras dibandingkan biasanya jika anda sedang sedih, marah atau depresi.
10. Bernafas dengan hidung
Jika anda memiliki kebiasaan bernafas dengan mulut sebaiknya untuk segera menghentikan kebiasaan tersebut. Bernafas menggunakan hidung dapat membuat udara yang masuk dalam tubuh menjadi lebih bersih karena, dibersihkan dengan bulu hidung yang memang berfungsi untuk menyaring kotoran dari udara.
11. Makan makanan yang mengandung omega 3
Makanan dengan omega 3 tinggi dapat menjadi obat yang mengalami penyakit pernafasan seperti asma dan bronchitis.
12. Makanan bervitamin C
Makanan yang mengandung vitamin C sangat baik untuk paru-paru karena bisa meringankan kerja paru-paru hingga lebih optimal.
13. Bawang putih
Di dalam bawang putih mengandung zat yang disebut zat acilin yang bisa membuat infeksi hilang dari paru-paru.
14. Konsumsi buah
Sebaiknya konsumsi buah dan sayuran yang bisa membersihkan paru-paru seperti buah apel, berry, delima dan anggur.
14.11 | 0 komentar | Read More

brunkopneunomia

Written By iqbal_editing on Kamis, 13 Oktober 2016 | 08.19

Bronkopneumonia adalah peradangan dinding bronkiolus (saluran napas kecil pada paru – paru). Peradangan ini umumnya disebabkan infeksi dan terjadi pada kedua paru – paru secara tersebar. Peradangan dapat bersifat ringan atau berat tergantung penyebabnya, Bronkopneumonia diawali oleh infeksi saluran napas bagian atas yang menyebar ke saluran napas bagian bawah. Pada bronkopneumonia, peradangan terjadi pada bronkiolus dan sedikit jaringan paru di sekitarnya. Sedangkan pada pneumonia, peradangan terjadi pada jaringan paru.

GEJALA

Gejala bronkopneumonia dapat terjadi secara mendadak atau perlahan. Bronkopneumonia sering diawali gejala pilek atau batuk berdahak. Gejala kemudian berkembang sehingga terjadi sesak napas, nyeri dada, pernapasan cepat, demam, menggigil, nyeri otot, dan nyeri kepala. Pada anak, gejala yang paling umum adalah napas cepat, sesak, dan demam. Pada bronkopneumonia akibat virus, gejala lebih ringan. Bronkopneumonia yang berat dapat mengganggu pertukaran udara di paru – paru sehingga darah yang dialirkan ke seluruh tubuh menjadi miskin oksigen. Hal ini dapat menyebabkan gangguan berbagai organ dan penurunan kesadaran sampai kematian.

PENYEBAB

Bronkopneumonia disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri yang diawali oleh infeksi saluran pernapasan atas (hidung dan tenggorok). Infeksi dapat didapat dari udara yang tercemar. Infeksi virus lebih sering terjadi dan umumnya disebabkan oleh Cytomegalovirus atau Influenza virus. Bakteri penyebab bronkopneumonia antara lain Staphylococcus aureus, Haemopilus influenza, dan Klebsiella pneumonia. Faktor risiko menderita bronkopneumonia antara lain bayi (< 2 tahun), orang tua (> 65 tahun), penderita penyakit paru kronik, HIV/AIDS, diabetes, penyakit jantung, penerima kemoterapi, merokok, peminum alkohol berat, serta kurang gizi. Bakteri atau virus yang masuk ke jalan napas sampai paru – paru menyebabkan reaksi peradangan yang mengganggu pertukaran oksigen.

PENGOBATAN

Bronkopneumonia akibat virus dapat sembuh secara spontan dalam 1 – 2 minggu. Pengobatan diberikan untuk meringankan gejala, seperti obat untuk mengurangi batuk dan demam. Pada bronkopneumonia bakteri, diperlukan pengobatan dengan antibiotik. Bronkopneumonia ringan dapat diobati secara rawat jalan. Rawat inap diperlukan jika terdapat gejala berat seperti napas cepat, penurunan tekanan darah, penurunan kesadaran, dan kebutuhan pemasangan alat bantu napas.
08.19 | 0 komentar | Read More

pneunomia

9 Gejala Pneumonia – Penyebab dan Pengobatan Pneumonia

ads
Pneumonia merupakan penyakit peradangan yang terjadi pada jaringan di salah satu atau kedua paru-paru. Peradangan tersebut biasanya disebabkan oleh infeksi. Ketika seseorang menderita pneumonia maka sekumpulan kantong-kantong kecil yang ada di ujung saluran pernapasan di dalam paru-paru akan bengkak dan dipenuhi dengan cairan.
Menurut data dari WHO, pneumonia merupakan penyebab kematian terbesar pada anak-anak. Diperkirakan ada 1,1 juta anak di dunia yang meninggal setiap tahunnya akibat penyakit pneumonia ini. Sementara itu, Indonesia menduduki peringkat ke 8 pada tingkat kematian anak-anak akibat penyakit pneumonia. Tahun 2008, penumonia telah merenggut nyawa anak-anak sebanyak 38.000 jiwa.
Pneumonia sangat rentan dialami oleh bay dan juga anak-anak, terutama mereka yang berusia di bawah 2 tahun. Tidak hanya itu saja, orang-orang yang berusia lanjut, orang yang memiliki penyakit paru-paru, orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, dan jga orang-orang yang aktif merokok sangat rentan memiliki penyakit pneumonia.
Gejala Pneumonia
Gejala pneumonia bisa muncul secara tiba-tiba atau secara perlahan-lahan dalam waktu beberapa hari. Gejala pneumonia hampir menyerupai dengan gejala infeksi saluran pernapasan ataupun seperti bronkitis akut. Adapun beberapa gejala yang muncul pada penderita pneumonia adalah sebagai berikut.
1. Sakit Kepala
Penderita pneumonia biasanya akan mengalami sakit kepala. Bahkan gejala ini merupakan gejala paling umum yang dialami oleh penderita pneumonia pada usia anak-anak hingga dewasa. Jika Anda memiliki riwayat penyakit pneumonia dan mengalami gejala sakit kepala maka sebaiknya Anda segera memeriksakan diri ke dokter. Sakit kepala sangat mungkin terjadi pada penderita pneumonia karena kadar oksigen yang masuk ke dalam tubuh relatif kurang sehingga suplai oksigen ke otak juga tidak optimal.
2. Mual dan Muntah
Mual dan muntah merupakan gejala yang akan mengikuti rasa sakit kepala. Kondisi tersebut biasanya muncul sebagai akibat dari penurunan nafsu makan yang dialami oleh penderita pneumonia. Ketika nafsu makan menurun, maka lambung atau sistem pencernaan lainnya akan mengalami gangguan. Produksi asam lambung juga akan meningkat sehingga muncul rasa mual dan muntah.

3. Demam
Selain sakit kepala, mual, dan muntah, pneumonia juga ditandai dengan gejala demam. Demam muncul sebagai akibat adanya infeksi pada paru-paru. Infeksi tersebut memicu produksi antibodi pada sistem kekebalan tubuh sehingga tubuh akan melakukan penyerangan terhadap infeksi. Kondisi itulah yang akan menyebabkan tubuh demam dan juga menggigil.

4. Batuk Kering atau Batuk Berdahak
Penderita pneumonia biasanya juga akan mengalami batuk kering atau batuk berdahak. Namun kebanyakan kasus menunjukkan gejala batuk berdahak sebagai gejala yang lebih sering muncul pada penderita pneumonia. Biasanya dahak akan berwarna kuning atau hijau dan disertai dengan darah.
(
5. Nyeri pada Persendian
Seperti yang kita tahu, pneumonia disebabkan oleh infeksi bakteri atau virus. Infeksi tersebut nyatanya tidak hanya berdampak buruk pada kinerja paru-paru. Infeksi juga akan menyerang area persendian sehingga nyeri sendi akan muncul sebagai akibat adanya infeksi pada tubuh penderita pneumonia.
6. Sesak Napas
Penderita pneumonia memiliki kondisi paru-paru dengan kantong-kantong kecil di dinding paru-paru yang terisi dengan cairan dan dalam keadaan membengkak. Kondisi semacam itu akan menghambat masuknya oksigen ke dalam paru-paru. Alhasil, penderita paru-paru biasanya akan mengalami sesak napas dan tersengal-sengal ketika bernapas. Kondisi semacam itu biasanya tidak akan membaik meskipun penderita sudah beristirahat.
7. Dada Terasa Sakit Ketika Menarik Napas Dalam atau Ketika Batuk
Akibat paru-paru yang terinfeksi oleh bakteri atau virus, dada penderita pneumonia biasanya akan terasa sakit ketika digunakan untuk menarik napas dalam atau ketika batuk. Infeksi tersebut akan menyerang paru-paru dan menyebabkan rasa nyeri.
8. Detak Jantung Lebih Cepat
Seorang penderita pneumonia sudah tentu akan memiliki jumlah oksigen yang relatif sedikit di dalam tubuhnya. Kondisi tersebut membuat jantung harus bekerja lebih keras untuk menyebarkan oksigen dalam jumlah yang terbatas ke seluruh tubuh. Akibatnya, jantung akan berdetak lebih cepat sebagai upayanya untuk menyebarkan oksigen ke seluruh bagian tubuh.
9. Penurunan Suhu Tubuh
Demam merupakan gejala pneumonia yang paling sering dialami oleh anak-anak. Pada orang-orang yang berusia lanjut (biasanya di atas 65 tahun), penurunan suhu tubuh merupakan gejala yang sering menandakan penyakit pneumonia. Kondisi tersebut muncul sebagai akibat kurangnya kadar oksigen di dalam tubuh sehingga tubuh mengalami hipotermia.
(Baca juga: bahaya hipotermia)
Itulah beberapa gejala yang akan dialami oleh penderita pneumonia. Jika Anda mengalami beberapa di antara gejala-gejala di atas maka sebaiknya Anda segera melakukan pemeriksaan medis, terutama ketika gejala yang muncul berupa sesak napas, demam, dan juga kebingungan yang tidak segera reda.
Penyebab Pneumonia
Secara umum, pneumonia seringkali disebabkan oleh adanya infeksi bakteri. Namun pada beberapa kasus, pneumonia juga bisa disebabkan oleh infeksi virus. Pneumonia juga bisa berkembang melalui penularan dari bagian tubuh lain yakni kuman-kuman yang masuk melalui aliran darah. Namun, kebanyakan kasus menunjukkan bahwa pneumonia masuk ke dalam tubuh seseorang melalui aliran udara yang dihirup oleh penderita. Adapun beberapa faktor yang dapat menyebabkan pneumonia adalah sebagai berikut:
1. Pneumonia yang Disebabkan oleh Bakteri
Orang dewasa yang mengalami pneumonia biasanya akan disebabkan oleh sejenis bakteri yang menginfeksi paru-parunya. Bakteri tersebut bernama Streptococcus pneumoniae. Pneumonia yang disebabkan oleh bakteri ini juga sering disebut dengan jenis pneumonia pneumokokus. Selain Streptococcus pneumoniae, masih ada jenis bakteri lain yang menyebabkan pneumonia meskipun masih tergolong sangat jarang terjadi. Beberapa jenis bakteri lain yang bisa menyebabkan pneumonia adalah Staphylococcus aureusHaemophylus influenzae, dan juga pneumonia mikoplasma. Jenis bakteri pneumonia mikoplasma biasanya lebih sering menjangkiti anak-anak dan juga remaja.
2. Pneumonia yang Disebabkan oleh Virus
Pneumonia juga bisa disebabkan oleh infeksi virus. Adapun jenis virus yang paling umum sebagai penyebab pneumonia adalah virus sinsitial pernapasan (RSV) dan juga virus influenza tipe A atau tipe B. Infeksi virus tersebut juga bisa menjadi penyebab utama pneumonia pada anak-anak.
3. Pneumonia yang Muncul Akibat Menghirup Objek Asing
Pneumonia aspirasi merupakan jenis penyakit pneumonia yang muncul sebagai akibat karena menghirup objek asing seperti kacang, muntahan, atau berbagai substansi berbahaya seperti asap dan juga berbagai bahan kimia.
Itulah beberapa faktor yang bisa menyebabkan pneumonia. Pneumonia bisa diderita oleh siapa saja dan pada semua umur. Namun, beberapa orang dengan kondisi tertentu akan lebih rentan terkena penyakit ini. Beberapa orang yang lebih beresiko terkena pneumonia adalah:
  • Bayi dan juga anak-anak yang berusia di bawah 2 tahun.
  • Orang-orang yang berusia lanjut terutama yang berusia di atas 65 tahun.
  • Orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, seperti pengidap HIV, penderita kanker yang sedang menjalani pengobatan kemoterapi, dan juga orang-orang yang baru saja sembuh dari flu.
  • Orang-orang yang memiliki penyakit kronis lainnya, seperti penderita asma, fibrosis sistik, penyakit jantung, dan juga penyakit hati.
Beberapa orang yang menderita penyakit di atas sangat rentan terkena pneumonia. Karena itulah pengobatan biasanya akan dilakukan dengan sangat hati-hati dan juga dengan pengawasan dokter.
Pengobatan untuk Penderita Pneumonia
Penderita pneumonia yang tergolong parah biasanya harus melakukan perawatan di rumah sakit. Akan tetapi untuk penderita yang mengalami gejala yang relatif ringan biasanya akan melakukan perawatan di rumah dengan melakukan pengobatan menggunakan antibiotik dari dokter. Biasanya dokter akan menyarankan kepada pasien untuk banyak beristirahat dan juga mengkonsumsi banyak air putih. (Baca juga: terapi air putih – bahaya akibat terlalu banyak minum air putih)
1. Pengobatan dengan Rawat Inap di Rumah Sakit
Seorang penderita pneumonia dengan gejala yang relatif parah harus menjalani pengobatan melalui rawat inap di rumah sakit. Biasanya dokter akan memberikan antibiotik dan juga memberikan cairan melalui infus. Penanganan medis biasanya juga akan meliputi pemberian oksigen untuk membantu pernapasan penderita. Penderita yang memiliki sistem pernapasan yang lemah bisa jadi juga akan mendapatkan perawatan menggunakan ventilator di ruang ICU.
2. Pengobatan Tanpa Rawat Inap
Seorang penderita pneumonia yang mengalami gejala relatif ringan biasanya tidak perlu melakukan perawatan di rumah sakit. Biasanya dokter hanya akan memberikan resep antibiotik untuk diminum penderita di rumah. Biasanya gejala pneumonia yang relatif ringan akan ditandai dengan gejala batuk yang berlangsung selama 14 hingga 21 hari setelah penderita pneumonia menghabiskan antibiotiknya. Biasanya penderita pneumonia juga akan merasa lemas selama masa pengobatan. Untuk pengobatan yang dilakukan di rumah, perlu Anda perhatikan untuk segera menghubungi dokter apabila kondisi Anda ternyata tidak kunjung membaik setelah dua hari mengkonsumsi antibiotik yang diberikan oleh dokter.
Jika hal tersebut terjadi, kemungkinan besar pneumonia tidak muncul sebagai akibat infeksi bakteri, melainkan disebabkan oleh virus. Dalam hal ini, antibiotik tidak efektif untuk mencegah perkembangan virus. Sistem kekebalan tubuhlah yang harus aktif memproduksi antibodi untuk memerangi virus. Selain itu, kemungkinan besar bakteri yang menyebabkan pneumonia juga resistan terhadap antibotik yang diberikan oleh dokter. Biasanya, dokter akan memberikan obat pengganti atau tambahan untuk Anda konsumsi.
Untuk mengurangi gejala lainnya, Anda juga bisa mengkonsumsi parasetamol atau ibuprofen untuk mengurangi rasa nyeri persendian dan juga untuk menurunkan demam. Namun, bagi Anda yang alergi terhadap aspirin atau obat anti inflamasi non steroid lainnya atau bagi Anda yang menderita asma, tukak pada lambung, gangguan hati, dan juga gangguan pencernaan maka Anda harus menghindari konsumsi ibuprofen.
Untuk mencegah dehidrasi, Anda juga harus memperbanyak asupan air putih. Untuk membantu proses pemulihan fisik Anda juga harus banyak beristirahat. Bagi anda yang memiliki kebiasaan merokok, maka Anda harus segera menghentikan kebiasaan tersebut secepatny
Batuk merupakan gejala yang muncul pada penderita pneumonia. Namun mengkonsumsi obat batuk tidak disarankan sama sekali. Batuk justru akan berguna untuk membantu mengeluarkan dahak dari dalam paru-paru. Jika dahak tidak dikeluarkan dari paru-paru maka kemungkinan infeksi akan bertahan lebih lama di dalam paru-paru. Untuk mengurangi gejala batuk, Anda bisa mengkonsumsi air hangat yang dicampur dengan madu dan lemon.
Umumnya, pneumonia tidak akan menular. Namun bagi Anda yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang relatif lemah sebaiknya menghindari penderita pneumonia sampai si penderita benar-benar sembuh atau membaik.
Demikian beberapa hal yang berkaitan dengan pneumonia. Jika Anda mengalami beberapa atau bahkan keseluruhan gejala seperti yang telah dijelaskan di atas maka sebaiknya Anda segera memeriksakan diri secara medis. Dokter akan memberikan diagnosis serta penanganan yang tepat untuk mengatasi permasalahan kesehatan Anda.
Ditinjau dari definisi, Pneumonia adalah infeksi atau peradangan pada salah satu atau kedua paru-paru, lebih tepatnya peradangan itu terjadi pada kantung udara (alveolus, jamak: alveoli). Kantung udara akan terisi cairan atau nanah, sehingga menyebabkan sesak nafas, batuk berdahak, demam, menggigil, dan kesulitan bernapas. Infeksi tersebut disebabkan oleh berbagai organisme, termasuk bakteri, virus dan jamur. penyakit pneumonia Ilustrasi pneumonia atau paru-paru basah Gejala Pneumonia Tanda-tanda dan gejala pneumonia bervariasi mulai dari yang ringan hingga yang berat, tergantung pada faktor-faktor seperti jenis kuman penyebab, usia penderita dan kondisi kesehatan secara keseluruhan. Tanda-tanda dan gejala pneumonia yang ringan sering kali mirip dengan flu atau common cold (sakit demam, batuk-pilek), namun tak kunjung sembuh atau bertahan lama. Ciri-ciri dan gejala pneumonia antara lain: Demam, berkeringat dan menggigil Suhu tubuh lebih rendah dari normal pada orang di atas usia 65 tahun, dan pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah Batuk berdahak tebal dan kentel (lengket) Nyeri dada saat bernapas dalam atau ketika batuk Sesak napas (nafas cepat) Kelelahan dan nyeri otot Mual, muntah atau diare Sakit kepala Penyebab pneumonia Ada banyak kemungkinan penyebab pneumonia, yang paling sering adalah karena infeksi bakteri dan virus dari udara yang kita hirup. Klasifikasi Pneumonia didasarkan pada jenis kuman penyebabnya itu, dan di mana seseorang mendapatkannya. Berikut penyebab pneumonia beserta klasifikasinya: Community-acquired pneumonia Pneumonia komunitas ini adalah jenis pneumonia yang terbanyak. Terjadi di tengah-tengah masyarakat artinya di luar rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya, jenis pneumonia ini disebabkan oleh: Virus, termasuk beberapa jenis virus yang juga menyebabkan pilek dan flu. Virus adalah penyebab pneumonia pada anak yang paling sering terjadi yakni di bawah usia 2 tahun. Viral pneumonia biasanya ringan. Akan tetapi radang paru-paru yang disebabkan oleh virus influenza tertentu dapat menyebabkan sindrom pernafasan akut (SARS), bisa menjadi sangat serius. Bakteri, seperti Streptococcus pneumoniae dapat terjadi dengan sendirinya (secara langsung) atau setelah mengalami flu atau batuk pilek sebagai komplikasinya. Bakteri lain, seperti Mycoplasma pneumoniae, biasanya menimbulkan gejala pneumonia yang lebih ringan dibanding jenis lainnya. Jamur, biasanya dapat ditemukan di tanah dan kotoran burung. Ini merupakan Jenis pneumonia yang paling sering terjadi pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah seperti HIV-AIDS dan pada orang yang telah menghirup organisme penyebab dalam jumlah yaang besar. Hospital-acquired pneumonia Pneumonia yang didapat di rumah sakit adalah infeksi bakteri yang terjadi pada orang yang selama 48 jam atau lebih dirawat di rumah sakit karena penyakit lainnya. Pneumonia ini bisa lebih serius karena biasanya bakteri penyebab lebih resisten (kebal) terhadap antibiotik. Health care-acquired pneumonia Perawatan kesehatan pneumonia adalah infeksi bakteri yang terjadi pada orang-orang yang tinggal di fasilitas perawatan jangka panjang atau telah dirawat di klinik rawat jalan, termasuk pusat-pusat dialisis ginjal. Seperti didapat di rumah sakit pneumonia. Pneumonia aspirasi Pneumonia aspirasi terjadi ketika seseorang menghirup makanan, minuman, muntahan atau air liur masuk ke dalam paru-paru. Pengobatan pneumonia Pengobatan utama pneumonia tergantung pada jenis pneumonianya (penyebab) dan tingkat keparahannya, sehingga ada yang hanya perlu rawat jalan, namun beberapa perlu perawatan inap di rumah sakit atau klinik. Mengobati Pneumonia yang disebabkan infeksi bakteri Antibiotik digunakan untuk mengobati jenis pneumonia ini. Antibiotik harus diberikan dengan pangarahan. Jika antibiotik berhenti sebelum pengobatan selesai, pneumonia dapat kambuh kembali. Kebanyakan pasien akan membaik setelah 1-3 hari pengobatan. Mengobati Pneumonia yang disebabkan infeksi virus Antibiotik tidak berguna jika virus adalah penyebab pneumonia. Namun, obat antivirus dapat membantu mengatasi kondisi tersebut. Gejala biasanya membaik dalam waktu satu sampai tiga minggu. Pencegahan Pneumonia Untungnya pneumonia ini dapat dicegah yaitu dengan vaksinasi terhadap bakteri penyebab pneumonia dan vaksin influenza. Hal ini penting bagi mereka yang berisiko tinggi seperti orang dengan diabetes, asma, dan masalah kesehatan lainnya yang parah atau kronis. Di samping itu juga harus menjaga kebersihan dengan rajin cuci tangan, tidak merokok, serta istirahat cukup dan diet sehat untuk menjaga daya tahan tubuh.
Bersumber dari: Pneumonia – Pengertian, Gejala, Penyebab, dan Pengobatan | Mediskus
Ditinjau dari definisi, Pneumonia adalah infeksi atau peradangan pada salah satu atau kedua paru-paru, lebih tepatnya peradangan itu terjadi pada kantung udara (alveolus, jamak: alveoli). Kantung udara akan terisi cairan atau nanah, sehingga menyebabkan sesak nafas, batuk berdahak, demam, menggigil, dan kesulitan bernapas. Infeksi tersebut disebabkan oleh berbagai organisme, termasuk bakteri, virus dan jamur. penyakit pneumonia Ilustrasi pneumonia atau paru-paru basah Gejala Pneumonia Tanda-tanda dan gejala pneumonia bervariasi mulai dari yang ringan hingga yang berat, tergantung pada faktor-faktor seperti jenis kuman penyebab, usia penderita dan kondisi kesehatan secara keseluruhan. Tanda-tanda dan gejala pneumonia yang ringan sering kali mirip dengan flu atau common cold (sakit demam, batuk-pilek), namun tak kunjung sembuh atau bertahan lama. Ciri-ciri dan gejala pneumonia antara lain: Demam, berkeringat dan menggigil Suhu tubuh lebih rendah dari normal pada orang di atas usia 65 tahun, dan pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah Batuk berdahak tebal dan kentel (lengket) Nyeri dada saat bernapas dalam atau ketika batuk Sesak napas (nafas cepat) Kelelahan dan nyeri otot Mual, muntah atau diare Sakit kepala Penyebab pneumonia Ada banyak kemungkinan penyebab pneumonia, yang paling sering adalah karena infeksi bakteri dan virus dari udara yang kita hirup. Klasifikasi Pneumonia didasarkan pada jenis kuman penyebabnya itu, dan di mana seseorang mendapatkannya. Berikut penyebab pneumonia beserta klasifikasinya: Community-acquired pneumonia Pneumonia komunitas ini adalah jenis pneumonia yang terbanyak. Terjadi di tengah-tengah masyarakat artinya di luar rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya, jenis pneumonia ini disebabkan oleh: Virus, termasuk beberapa jenis virus yang juga menyebabkan pilek dan flu. Virus adalah penyebab pneumonia pada anak yang paling sering terjadi yakni di bawah usia 2 tahun. Viral pneumonia biasanya ringan. Akan tetapi radang paru-paru yang disebabkan oleh virus influenza tertentu dapat menyebabkan sindrom pernafasan akut (SARS), bisa menjadi sangat serius. Bakteri, seperti Streptococcus pneumoniae dapat terjadi dengan sendirinya (secara langsung) atau setelah mengalami flu atau batuk pilek sebagai komplikasinya. Bakteri lain, seperti Mycoplasma pneumoniae, biasanya menimbulkan gejala pneumonia yang lebih ringan dibanding jenis lainnya. Jamur, biasanya dapat ditemukan di tanah dan kotoran burung. Ini merupakan Jenis pneumonia yang paling sering terjadi pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah seperti HIV-AIDS dan pada orang yang telah menghirup organisme penyebab dalam jumlah yaang besar. Hospital-acquired pneumonia Pneumonia yang didapat di rumah sakit adalah infeksi bakteri yang terjadi pada orang yang selama 48 jam atau lebih dirawat di rumah sakit karena penyakit lainnya. Pneumonia ini bisa lebih serius karena biasanya bakteri penyebab lebih resisten (kebal) terhadap antibiotik. Health care-acquired pneumonia Perawatan kesehatan pneumonia adalah infeksi bakteri yang terjadi pada orang-orang yang tinggal di fasilitas perawatan jangka panjang atau telah dirawat di klinik rawat jalan, termasuk pusat-pusat dialisis ginjal. Seperti didapat di rumah sakit pneumonia. Pneumonia aspirasi Pneumonia aspirasi terjadi ketika seseorang menghirup makanan, minuman, muntahan atau air liur masuk ke dalam paru-paru. Pengobatan pneumonia Pengobatan utama pneumonia tergantung pada jenis pneumonianya (penyebab) dan tingkat keparahannya, sehingga ada yang hanya perlu rawat jalan, namun beberapa perlu perawatan inap di rumah sakit atau klinik. Mengobati Pneumonia yang disebabkan infeksi bakteri Antibiotik digunakan untuk mengobati jenis pneumonia ini. Antibiotik harus diberikan dengan pangarahan. Jika antibiotik berhenti sebelum pengobatan selesai, pneumonia dapat kambuh kembali. Kebanyakan pasien akan membaik setelah 1-3 hari pengobatan. Mengobati Pneumonia yang disebabkan infeksi virus Antibiotik tidak berguna jika virus adalah penyebab pneumonia. Namun, obat antivirus dapat membantu mengatasi kondisi tersebut. Gejala biasanya membaik dalam waktu satu sampai tiga minggu. Pencegahan Pneumonia Untungnya pneumonia ini dapat dicegah yaitu dengan vaksinasi terhadap bakteri penyebab pneumonia dan vaksin influenza. Hal ini penting bagi mereka yang berisiko tinggi seperti orang dengan diabetes, asma, dan masalah kesehatan lainnya yang parah atau kronis. Di samping itu juga harus menjaga kebersihan dengan rajin cuci tangan, tidak merokok, serta istirahat cukup dan diet sehat untuk menjaga daya tahan tubuh.
Bersumber dari: Pneumonia – Pengertian, Gejala, Penyebab, dan Pengobatan | Mediskus
Ditinjau dari definisi, Pneumonia adalah infeksi atau peradangan pada salah satu atau kedua paru-paru, lebih tepatnya peradangan itu terjadi pada kantung udara (alveolus, jamak: alveoli). Kantung udara akan terisi cairan atau nanah, sehingga menyebabkan sesak nafas, batuk berdahak, demam, menggigil, dan kesulitan bernapas. Infeksi tersebut disebabkan oleh berbagai organisme, termasuk bakteri, virus dan jamur. penyakit pneumonia Ilustrasi pneumonia atau paru-paru basah Gejala Pneumonia Tanda-tanda dan gejala pneumonia bervariasi mulai dari yang ringan hingga yang berat, tergantung pada faktor-faktor seperti jenis kuman penyebab, usia penderita dan kondisi kesehatan secara keseluruhan. Tanda-tanda dan gejala pneumonia yang ringan sering kali mirip dengan flu atau common cold (sakit demam, batuk-pilek), namun tak kunjung sembuh atau bertahan lama. Ciri-ciri dan gejala pneumonia antara lain: Demam, berkeringat dan menggigil Suhu tubuh lebih rendah dari normal pada orang di atas usia 65 tahun, dan pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah Batuk berdahak tebal dan kentel (lengket) Nyeri dada saat bernapas dalam atau ketika batuk Sesak napas (nafas cepat) Kelelahan dan nyeri otot Mual, muntah atau diare Sakit kepala Penyebab pneumonia Ada banyak kemungkinan penyebab pneumonia, yang paling sering adalah karena infeksi bakteri dan virus dari udara yang kita hirup. Klasifikasi Pneumonia didasarkan pada jenis kuman penyebabnya itu, dan di mana seseorang mendapatkannya. Berikut penyebab pneumonia beserta klasifikasinya: Community-acquired pneumonia Pneumonia komunitas ini adalah jenis pneumonia yang terbanyak. Terjadi di tengah-tengah masyarakat artinya di luar rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya, jenis pneumonia ini disebabkan oleh: Virus, termasuk beberapa jenis virus yang juga menyebabkan pilek dan flu. Virus adalah penyebab pneumonia pada anak yang paling sering terjadi yakni di bawah usia 2 tahun. Viral pneumonia biasanya ringan. Akan tetapi radang paru-paru yang disebabkan oleh virus influenza tertentu dapat menyebabkan sindrom pernafasan akut (SARS), bisa menjadi sangat serius. Bakteri, seperti Streptococcus pneumoniae dapat terjadi dengan sendirinya (secara langsung) atau setelah mengalami flu atau batuk pilek sebagai komplikasinya. Bakteri lain, seperti Mycoplasma pneumoniae, biasanya menimbulkan gejala pneumonia yang lebih ringan dibanding jenis lainnya. Jamur, biasanya dapat ditemukan di tanah dan kotoran burung. Ini merupakan Jenis pneumonia yang paling sering terjadi pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah seperti HIV-AIDS dan pada orang yang telah menghirup organisme penyebab dalam jumlah yaang besar. Hospital-acquired pneumonia Pneumonia yang didapat di rumah sakit adalah infeksi bakteri yang terjadi pada orang yang selama 48 jam atau lebih dirawat di rumah sakit karena penyakit lainnya. Pneumonia ini bisa lebih serius karena biasanya bakteri penyebab lebih resisten (kebal) terhadap antibiotik. Health care-acquired pneumonia Perawatan kesehatan pneumonia adalah infeksi bakteri yang terjadi pada orang-orang yang tinggal di fasilitas perawatan jangka panjang atau telah dirawat di klinik rawat jalan, termasuk pusat-pusat dialisis ginjal. Seperti didapat di rumah sakit pneumonia. Pneumonia aspirasi Pneumonia aspirasi terjadi ketika seseorang menghirup makanan, minuman, muntahan atau air liur masuk ke dalam paru-paru. Pengobatan pneumonia Pengobatan utama pneumonia tergantung pada jenis pneumonianya (penyebab) dan tingkat keparahannya, sehingga ada yang hanya perlu rawat jalan, namun beberapa perlu perawatan inap di rumah sakit atau klinik. Mengobati Pneumonia yang disebabkan infeksi bakteri Antibiotik digunakan untuk mengobati jenis pneumonia ini. Antibiotik harus diberikan dengan pangarahan. Jika antibiotik berhenti sebelum pengobatan selesai, pneumonia dapat kambuh kembali. Kebanyakan pasien akan membaik setelah 1-3 hari pengobatan. Mengobati Pneumonia yang disebabkan infeksi virus Antibiotik tidak berguna jika virus adalah penyebab pneumonia. Namun, obat antivirus dapat membantu mengatasi kondisi tersebut. Gejala biasanya membaik dalam waktu satu sampai tiga minggu. Pencegahan Pneumonia Untungnya pneumonia ini dapat dicegah yaitu dengan vaksinasi terhadap bakteri penyebab pneumonia dan vaksin influenza. Hal ini penting bagi mereka yang berisiko tinggi seperti orang dengan diabetes, asma, dan masalah kesehatan lainnya yang parah atau kronis. Di samping itu juga harus menjaga kebersihan dengan rajin cuci tangan, tidak merokok, serta istirahat cukup dan diet sehat untuk menjaga daya tahan tubuh.
Bersumber dari: Pneumonia – Pengertian, Gejala, Penyebab, dan Pengobatan | Mediskus
07.58 | 0 komentar | Read More
 
berita unik