Entri Populer

Welcome Guys

Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog

Tampilkan postingan dengan label anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label anak. Tampilkan semua postingan

Demi Masa Depan si Kecil, Waspadai Berat Badannya

Written By iqbal_editing on Rabu, 16 Agustus 2017 | 18.13

, Masa tumbuh kembang si kecil adalah saat yang terpenting bagi Ibu. Ibu pasti menginginkan si kecil dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal sehingga menjadi generasi yang maju di masa depannya.
Akan tetapi, terkadang ada kondisi tumbuh kembangnya tidak optimal karena si kecil mengalami berat badan kurang. Berat badan kurang adalah kurangnya berat badan si kecil dibandingkan usianya, yang mengacu pada kurva pertumbuhan dari Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Masalah berat badan kurang saat ini masih menjadi persoalan serius di tingkat dunia. Menurut laporan WHO pada 2013, jumlah si kecil dengan berat badan kurang, yakni sekitar 99 juta (17%). Sedangkan menurut data Penilaian Status Gizi 2015, jumlah balita yang mengalami berat badan kurang di Indonesia mencapai 18,8%, terdiri dari 3,9% gizi buruk dan 14,9% gizi kurang.

Berat badan kurang disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain: faktor genetik/keturunan, penyakit, lingkungan, sosial ekonomi, dan nutrisi. Di antara faktor-faktor tersebut, faktor nutrisi bisa terjadi karena kurang baiknya pola makan yang berdampak pada tidak optimalnya asupan harian dan dapat memicu terjadinya berat badan kurang pada si kecil.

Berat badan kurang pada si kecil dapat menimbulkan dampak yang serius, baik untuk masa sekarang, maupun masa depannya. Kekurangan nutrisi merupakan penyebab langsung dan tidak langsung dari 45% kematian balita, sehingga si kecil yang mengalami berat badan kurang dapat dikatakan memiliki risiko kematian lebih besar.

Hal ini disebabkan karena si kecil mengalami penurunan sistem kekebalan tubuh sehingga rentan mengalami penyakit infeksi. Dalam jangka panjang, berat badan kurang dapat menyebabkan si kecil tidak dapat tumbuh optimal dan cenderung pendek (stunting).

Selain itu, berat badan kurang dapat berdampak pada gangguan perkembangan otak dan fisik si kecil yang berpengaruh pada kemampuan daya pikir, interaksi sosial dan kemampuan kerjanya di masa depan.

Untuk mengenali tanda berat badan kurang pada si kecil, ibu dapat mengecek kenaikan berat badannya setiap bulan melalui Kartu Menuju Sehat (KMS) yang tersedia di fasilitas kesehatan.

Si kecil dikatakan sehat ketika berat badannya naik mengikuti garis pertumbuhan, dan dikatakan mengalami berat badan kurang bila berat badannya berada di bawah garis hijau dengan tren tidak naik sesuai garis pertumbuhan atau bahkan menurun.

Perhatikan bila si kecil mengalami tanda-tanda tersebut, ibu harus segera berkonsultasi ke tenaga kesehatan untuk mendapatkan saran nutrisi tepat agar si kecil dapat tumbuh dengan optimal.
(adv/adv)
18.13 | 0 komentar | Read More

ppenyebab umum alergi pada anak di indonesia

Written By iqbal_editing on Selasa, 15 Agustus 2017 | 06.27

Ketika anak diserang alergi, kebanyakan orang tua di Indonesia menyepelekan kondisi ini. Kecuali jika kondisinya memburuk atau berlangsung hingga berhari-hari.

Padahal diperkirakan jumlah anak di Indonesia yang mengidap alergi mencapai 15 persen. Dan tidak banyak orang yang sadar bahwa alergi saja mampu memberikan pengaruh yang signifikan terhadap tumbuh kembang anak.

Dijelaskan Prof Dr dr Budi Setiabudiawan, SpA(K), M.Kes., konsultan alergi imunologi anak dari Universitas Padjajaran, penyebab alergi pada anak bisa berasal dari dua hal, yaitu zat yang dimakan dan zat yang terhirup.

"Kalau makanan, salah satu penyebab yang paling sering itu susu sapi," tandasnya dalam Media Workshop Bunda Tanggap Alergi dengan 3K bersama alergianak.com di Boncafe Surabaya, Kamis (20/7/2017).

Angka kejadian alergi susu sapi di Indonesia sendiri mencapai 7,5 persen. Ini masih cukup rendah bila dibandingkan angka kejadian alergi susu sapi di seluruh dunia yang berkisar antara 10-40 persen, tetapi bukan berarti bisa disepelekan.

Selain susu sapi, telur juga disebut Prof Budi sebagai bahan makanan yang kerap memicu alergi pada pada anak Indonesia.

Baca juga: Bayi Alami Diare Saat Minum Susu, Intoleransi Laktosa atau Alergi Susu Sapi?
Lantas seberapa jauh kesadaran dan pengetahuan orang tua Indonesia terhadap gejala atau penanganan alergi anak? Ditambahkan Zeinda Rismandari, Allergy Care Manager PT Nutricia Sarihusada, pengetahuan orang tua Indonesia tentang alergi rata-rata sudah memadai.

"Cuma kadang informasinya kurang lengkap. Semisal ada orang tua-orang tua yang sudah tahu gejalanya (alergi, red) tapi tidak tahu penanggulangannya seperti apa," katanya dalam kesempatan yang sama.

Tetapi ada pula yang cenderung menganggap remeh karena umumnya alergi dianggap sebagai sebuah kondisi kesehatan yang bisa pulih dengan sendirinya.

"Biasanya ini karena mereka tidak tahu dampak yang bisa terjadi bila alergi pada anak tidak tertangani dengan tepat," imbuh Zeinda.

Menariknya, banyak juga orang tua yang memperlihatkan sikap berlebihan atau parno saat anak ketahuan mengalami alergi. Akibatnya, anak dilarang makan ini itu atau menjauhi hal-hal yang bisa memicu alerginya kambuh.

"Ini sama halnya membatasi anak. Pada akhirnya nggak bagus juga untuk anak sendiri," tutupnya.
06.27 | 0 komentar | Read More

*Usia Janin dalam Satuan Minggu detikHealthHealth NewsMenyentuh! Pesan Ibu yang Anaknya Terinfeksi Herpes Menyentuh! Pesan Ibu yang Anaknya Terinfeksi Herpes

Written By iqbal_editing on Senin, 31 Juli 2017 | 20.32

Ibu dari seorang anak berusia satu tahun, Samantha Rodgers, memperingatkan seluruh orangtua agar mewaspadai anaknya terjangkit herpes seperti yang dialami anaknya.

Walau tidak mengetahui dengan pasti apa penyebab anaknya tertular virus tersebut, Samantha menyarankan untuk memperhatikan siapa saja yang menyentuh anak-anak mereka.

Samantha mengatakan bahwa terdapat luka lepuh merah pada mulut anaknya, Juliano. Awalnya gejala tersebut dikira sebagai flu atau penyakit yang menyerang kaki, tangan dan mulut. Namun lama-kelamaan luka-luka tersebut mulai menyebar.

"Luka itu tumbuh di tangan, leher, dan perutnya, ujar Samantha dikutip dari New York Post, Selasa (1/7/2017).


Juliano kemudian dinyatakan positif terkena virus herpes simpleks tipe 1 (HSV-1), yaitu virus yang menyerang kebanyakan anak usia dini. Virus ini menyerang bagian atas tubuh, dada, wajah, mulut, mata, kepala dan lainnya.

"Ini menyebalkan karena bisa menjadi masalah seumur hidup," kata Samantha.

Bagi bayi, virus ini bisa memperparah kondisi tubuh dan bahkan bisa menyebabkan kematian. Biasanya virus ini menular dari kontak dekat dengan seseorang yang juga terinfeksi HSV-1.

"Saya tidak tahu bagaimana menangani ini. Saya mencoba yang terbaik. Ini menghancurkan hati dan saya tidak dapat melakukan apapun untuk membantunya," tuturnya.

"Jika Anda melihat orang dengan gejala flu atau apapun, jangan biarkan bersentuhan dengan bayi Anda
20.32 | 0 komentar | Read More

Mengintip Kehidupan Anak-anak Tunagrahita di Panti Sosial Kalideres

Tunagrahita memang belum populer terdengar di telinga masyarakat luas. Apa itu tunagrahita? Yaitu keadaan keterbelakangan mental atau biasa disebut retardasi mental.

Penyandang tunagrahita biasanya memiliki IQ (Intelegence Quotient) di bawah rata-rata anak normal sehingga menyebabkan fungsi kecerdasan dan intelektualnya terganggu. Dan beberapa dari mereka juga dibarengi dengan keterbatasan fisik (cacat fisik).

Mirisnya, ternyata masih banyak anak-anak penyandang tunagrahita. Beberapa berada di Panti Sosial Bina Grahita Belaian Kasih, Jl Peta Utara II, RT 02 RW 06, Pegadungan, Kalideres, Jakarta Barat.


Staf layanan Panti Sosial Bina Grahita Belaian Kasih, Asep (38) mengatakan bahwa terdapat 256 penyandang tunagrahita di panti tersebut. Rentang usianya dari 5-25 tahun.

"Mereka dari jalanan, yang kena Satpol PP. Ada juga yang ditinggal sama orangtuanya," ujar kepada detikHealth, Minggu (30/7/2017).


Lebih dari setengah anak-anak penyandang tunagrahita juga memiliki keterbatasan fisikLebih dari setengah anak-anak penyandang tunagrahita juga memiliki keterbatasan fisik (Foto: Wiwid/detikHealth)


Lebih dari setengahnya juga memiliki keterbatasan fisik (cacat fisik). "Nggak bisa jalan, kakinya kayak menciut dari lahir," imbuhnya.

Para penyandang tunagrahita ditampung dan dibina di panti sosial ini, selain itu mereka juga disekolahkan di sekolah luar biasa. Mereka juga diberi kebebasan untuk bermain dan berekreasi.

"Kita ajarkan sebisanya dia apa, kita ada sekolah SLB di belakang, yang bisa diajarin ya kita ajarin. Mereka untuk buang air ke kamar mandi saja sangat sulit," ungkap Asep.
07.20 | 0 komentar | Read More

Anak Alergi Perlu Tambahan Makanan Khusus? Ini Kata Dokter

Written By iqbal_editing on Jumat, 21 Juli 2017 | 17.29

Alergi mengharuskan seseorang untuk menghindari faktor pencetus, misalnya makanan tertentu. Nah, jika alergi dialami anak, untuk memenuhi gizinya apakah anak alergi perlu tambahan makanan khusus?

"Dicek dulu anak alergi makanan apa dan jangan asal pantang. Setelah tahu, baru cari pengganti makanan," ucap dokter spesialis alergi anak, Dr dr Zakiudin Munasir SpA(K) kepada detikHealth baru-baru ini.

Ia memberi contoh, ketika anak mengalami alergi telur maka orang tua bisa memberikan makanan lain yang memiliki protein yang kandungannya sama seperti pada telur. Namun, dr Zaki mengingatkan sekali lagi bahwa hal tersebut harus melalui proses pemeriksaan terlebih dahulu.

Baca juga: Jika Tak Mau Anak Kena Alergi, Trik Ini Bisa Dilakukan Orang Tua Sejak Awal

Ditemui dalam kesempatan sama, dr Mally Dumakuri dari RS Metropolitan Medical Centre (MMC) mengamini pernyataan dr Zaki. Ia menyebutkan sebelum orang tua memutuskan mencari protein dari makanan lain sebaiknya orang tua sudah memastikan jenis pemicu alergi sang anak.

"Misalnya anak alergi protein susu sapi maka nanti olahan makanannya juga harus bebas dari protein susu sapi. Tapi tergantung anaknya juga, karena ada yang perlahan-lahan toleran tubuhnya," ucap dr Mally.

"Nah, untuk menghindari alergi protein sapi bisa diatasi dengan pemberian air susu ibu (ASI) secara eksklusif enam bulan pada bayi ya," pungkas dr Mally.
17.29 | 0 komentar | Read More

Di Indonesia, Dua Hal Ini yang Paling Sering Picu Alergi Anak

Ketika anak diserang alergi, kebanyakan orang tua di Indonesia menyepelekan kondisi ini. Kecuali jika kondisinya memburuk atau berlangsung hingga berhari-hari.

Padahal diperkirakan jumlah anak di Indonesia yang mengidap alergi mencapai 15 persen. Dan tidak banyak orang yang sadar bahwa alergi saja mampu memberikan pengaruh yang signifikan terhadap tumbuh kembang anak.

Dijelaskan Prof Dr dr Budi Setiabudiawan, SpA(K), M.Kes., konsultan alergi imunologi anak dari Universitas Padjajaran, penyebab alergi pada anak bisa berasal dari dua hal, yaitu zat yang dimakan dan zat yang terhirup.

"Kalau makanan, salah satu penyebab yang paling sering itu susu sapi," tandasnya dalam Media Workshop Bunda Tanggap Alergi dengan 3K bersama alergianak.com di Boncafe Surabaya, Kamis (20/7/2017).

Angka kejadian alergi susu sapi di Indonesia sendiri mencapai 7,5 persen. Ini masih cukup rendah bila dibandingkan angka kejadian alergi susu sapi di seluruh dunia yang berkisar antara 10-40 persen, tetapi bukan berarti bisa disepelekan.

Selain susu sapi, telur juga disebut Prof Budi sebagai bahan makanan yang kerap memicu alergi pada pada anak Indonesia.


Lantas seberapa jauh kesadaran dan pengetahuan orang tua Indonesia terhadap gejala atau penanganan alergi anak? Ditambahkan Zeinda Rismandari, Allergy Care Manager PT Nutricia Sarihusada, pengetahuan orang tua Indonesia tentang alergi rata-rata sudah memadai.

"Cuma kadang informasinya kurang lengkap. Semisal ada orang tua-orang tua yang sudah tahu gejalanya (alergi, red) tapi tidak tahu penanggulangannya seperti apa," katanya dalam kesempatan yang sama.

Tetapi ada pula yang cenderung menganggap remeh karena umumnya alergi dianggap sebagai sebuah kondisi kesehatan yang bisa pulih dengan sendirinya.

"Biasanya ini karena mereka tidak tahu dampak yang bisa terjadi bila alergi pada anak tidak tertangani dengan tepat," imbuh Zeinda.

Menariknya, banyak juga orang tua yang memperlihatkan sikap berlebihan atau parno saat anak ketahuan mengalami alergi. Akibatnya, anak dilarang makan ini itu atau menjauhi hal-hal yang bisa memicu alerginya kambuh.

"Ini sama halnya membatasi anak. Pada akhirnya nggak bagus juga untuk anak sendiri," tutupnya.
16.37 | 0 komentar | Read More

Ciuman Mematikan: Ketika Bayi Meninggal Kena Virus dari Sariawan

Sambil berduka pasangan Nicole dan Shane Ifrit memperingatkan kepada para orang tua untuk berhati-hati mengizinkan orang lain mencium anak. Alasannya karena baru-baru ini anak mereka, Mariana Reese Sifrit, meninggal dunia setelah terinfeksi oleh virus HSV-1 (herpes simplex virus 1) yang diduga berasal dari orang sekitar.

Mariana sendiri lahir 1 Juli lalu dengan kondisi yang sehat-sehat saja sampai beberapa hari kemudian Mariana mendadak lesu dan kehilangan nafsu makan. Di rumah sakit Mariana didiagnosa dengan kondisi meningitis atau pembengkakan pada membran otak akibat HSV-1.

Pada akhirnya nyawa Mariana tidak tertolong dan ia meninggal di usia 18 hari. Dokter curiga bahwa virus HSV-1 yang menyerang Mariana datang dari orang lain karena kedua orang tuanya setelah dites terbukti bersih.


Pada orang dewasa HSV-1 memang cenderung tidak berbahaya karena hanya menimbulkan sariawan saja. Namun bagi anak-anak, terutama bayi baru lahir, dengan sistem imun yang belum sempurna HSV-1 dapat menyebabkan komplikasi serius.

"Tolong jaga bayi kalian tetap terisolasi... Jangan biarkan semua orang bebas mengunjungi anak kalian. Pastikan orang-orang mencuci tangannya. Jangan biarkan orang lain mencium anak, pastikan mereka minta izin dulu sebelum menggendongnya," kata Nicole seperti dikutip dari ABC News, Jumat (21/7/2017).

Menurut studi yang dipublikasi di jurnal The Lancet Global Health sekitar 85 persen bayi baru lahir bisa terkena virus herpes dalam proses persalinan. Selain itu sekitar 10 persen lainnya terkena virus dari orang sekitar dan lima persen terkena virus saat masih di dalam rahim.

Untuk bayi yang terkena virus dari orang lain, biasanya secara tidak sadar virus ditransmisikan ketika orang yang terinfeksi mencium bayi.

"Anda (para orang tua) memang harus sangat hati-hati dan waspada bahwa tidak ada orang dengan infeksi apapun berada di dekat bayi," kata dr Otto Ramos dari Nicklaus Children's Hospital.
16.27 | 0 komentar | Read More

Keceriaan Dilla, Pengidap Kanker Anak yang Bercita-cita Jadi Dokter

Written By iqbal_editing on Senin, 17 Juli 2017 | 23.44

Dilla Rina Ariyanti (8) dan ibunya Ratna Wati (30) berjalan cepat menuju ke rumah singgah di kawasan Lampriet, Banda Aceh, Aceh. Mentari siang bersinar terang. Peluh membasahi wajah mereka. Keduanya baru saja pulang dari Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin yang berjarak sekitar 750 meter.

Begitu tiba di rumah singgah milik Children Cancer Care Community (C-Four Aceh), Dilla masuk ke dalam. Baju daster bergambar Cinderella membalut tubuh mungilnya. Rambut anak semata wayang pasangan Safari Rangkuti dan Ratna ini sudah dicukur habis.

Setelah istiharat sejenak, Dilla menghampiri kulkas yang terletak di ruang dapur. Tangannya meraih satu botol plastik berisi air putih dan satu botol sirup. Kedua benda itu dia pegang di tangan kiri dan kanan. Dengan suara pelan, bocah asal Aceh Tamiang, Aceh ini memanggil ibunya yang tengah duduk di ruang tamu.

"Mak mau sirup," kata Dilla lirih, Selasa (18/7/2017).

Sejak dua tahun lalu, Dilla divonis menderita kanker Fibrosarcoma. Benjolan muncul di bawah mata kanannya. Sempat membesar, kini benjolan itu kembali mengecil setelah dilakukan pengobatan rutin. Dilla sudah menjalani tiga kali kemoterapi.


Akibat kemo, rambut Dilla terpaksa dicukur. Meski mengidap kanker, tapi keceriaan Dilla tak pernah padam. Selama berada di rumah singgah, ia bermain dan kadang belajar bersama orangtuanya. Di sana, ia bergabung dengan anak-anak lain yang juga mengidap kanker.

"Sekarang kami masih menunggu dokter bedah dulu untuk operasi. Tapi belum ada info kapan operasinya," kata Ratna kepada wartawan.


Dilla tetap ceria meski bergelut dengan penyakit seriusDilla tetap ceria meski bergelut dengan penyakit serius Foto: Agus Setyadi


Ini bukan kali pertama Dilla mengidap kanker. Di usia sekitar 2,5 tahun, Dilla terserang kanker pada mulutnya. Proses pengobatan dilakukan hingga Dilla menjalani operasi di Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin Banda Aceh, Aceh. Usai operasi, Dilla sempat tak sadarkan diri selama empat hari.


Keluarga khawatir dengan kondisi anak mereka kala itu. Setelah operasi, penyakit yang diidap Dilla sembuh. Berselang beberapa tahun kemudian, benjolan baru kembali muncul di bawah mata. Dilla yang sudah duduk di bangku Sekolah Dasar terpaksa berhenti mengenyam pendidikan karena harus menjalani pengobatan.

Orangtua kembali membawa Dilla ke Rumah Sakit Zainoel Abidin, Banda Aceh. Selama menunggu proses pengobatan itulah, ibunda Dilla bertemu dengan Founder Children Cancer Care Community (C-Four Aceh) Ratna Eliza. Dilla dan ibunya dipersilahkan menginap di rumah singgah yang lokasinya tak jauh dari rumah sakit.

"Sudah hampir dua tahun kami di sini. Kalau lagi berobat, singgah di sini untuk tinggal," jelas Ratna.

Menurut Ratna, anaknya Dilla sangat ingin kembali ke bangku sekolah. Buah hati semata wayangnya itu juga punya cita-cita tinggi layaknya anak-anak lain.

"Saya pengin jadi dokter," ungkap Dilla.
23.44 | 0 komentar | Read More

Agar si Kecil Lebih Aman dari Virus Berbahaya, Kurangi Cium-cium Bayi

Di samping tokso dan rubella, infeksi TORCH lain yang tak boleh dikesampingkan adalah cytomegalovirus (CMV) dan herpes. Penyakit yang sama-sama tergolong dalam kelas virus herpes atau identik dengan penyakit kelamin ini ternyata juga bisa menular ke janin dan menimbulkan kecacatan.

Selama ini CMV sudah menyandang 'gelar' sebagai penyebab infeksi kongenital (bawaan lahir) yang paling sering terjadi di seluruh dunia. Secara umum, penularannya bisa melalui berbagai cara, seperti kontak langsung lewat urine, ludah, feses atau tinja, air mata, transfusi darah atau cangkok organ.

"Namun yang paling sering ditemukan adalah kontak langsung saat persalinan. Masalahnya gejalanya sering tidak kelihatan. Hanya saja terkadang ibu hamil yang terserang CMV biasanya mengeluh sering tengeng (pegal-pegal) dan meriang," papar Prof dr Sunartini Hapsara, Sp.A (K), Ph.D., dalam Seminar Sehari 'Yuk Kenali Ciri-ciri Gangguan TORCH pada Anak' di RS Akademik UGM Yogyakarta dan ditulis pada Rabu (2/4/2014).

Sedangkan untuk Herpes, Prof Sunartini mengatakan penularan biasanya terjadi pada ibu hamil yang mengidap herpes. "Dari vagina yang luka atau terinfeksi, virusnya naik dan masuk ke tubuh si janin. Bisa juga dengan kontak yang dilakukan si ibu dengan bayinya pasca persalinan. Gejalanya juga sering tak tampak," terangnya.

Untuk kelainan bawaan, CMV paling banyak menyebabkan gangguan pendengaran, di samping rubella (campak jerman). Kendati begitu secara umum kelainan bawaan dari CMV dan Herpes hampir sama dengan infeksi TORCH lainnya seperti katarak, kelainan jantung, kelainan neurologis, mikrosefali dan keterbelakangan mental.

Seorang pakar dari Prancis pun sepakat besarnya risiko kelainan bawaan akibat CMV ini bisa mencapai 80-90 persen.

Ngeri ya? Untuk itu agar tak terserang CMV dan herpes, apalagi sampai menular ke janin, para ibu disarankan untuk menghindari kontak langsung, terutama yang lewat cairan tubuh seperti air mata, ludah, urin dan ASI dan membiasakan cuci tangan.

"Salah satu yang terpenting, hindari kebiasaan menciumi bayi. Ibu-ibu mungkin menyelepekan hal ini karena gemes dengan anaknya tapi kebiasaan ini perlu diubah," tegas dokter spesialis saraf anak dari RSUP Dr Sardjito dan RS Akademik UGM Yogyakarta tersebut.

Wanita penderita herpes yang tengah mengandung juga perlu mendapat pengawasan lebih dari dokter. Mereka juga dilarang memakai alat makan, alat mandi dan handuk atau sapu tangan yang sama dengan bayi atau seluruh anggota keluarganya.

"Dan bila terdapat herpes genitalis pada saat persalinan dan ketuban belum pecah, persalinan sebaiknya dilakukan dengan cara operasi," sambung Prof Sunartini.
01.25 | 0 komentar | Read More

kisah anak tampa kaki bermain gulat

Written By iqbal_editing on Sabtu, 15 Juli 2017 | 23.32

Meskipun terlahir tanpa kaki, Isaiah Bird tak membuktikan kondisinya itu akan menghalangi impiannya untuk menjadi seorang pegulat.

"Saya terus saja berlatih. Saya bisa melakukannya. Tak ada alasan. Jika suatu hari saya dikalahkan, saya akan bangkit lagi dan berlatih lagi untuk makin baik dari waktu ke waktu," tuturnya seperti dilaporkan ABC News.

Di belakang Isaiah, ada satu tim pendukung yang tak lelah-lelahnya memberikan semangat bagi bocah berusia 9 tahun ini.

Mereka adalah sang ibu, Bernadette Hopton; pelatihnya, Miguel Rodriguez, teman-temannya di sekolah serta rekan-rekan setimnya di gulat. Miguel juga merupakan seorang pelatih gulat profesional di bawah tim Long Beach Gladiators.

Isaiah sendiri 'terbakar' oleh motivasi Miguel yang juga selalu meyakinkan bahwa Isaiah bisa melakukan apa yang anak-anak lain bisa lakukan.

"Tak ada alasan. Apapun yang terjadi, tetap lakukan ini. Yang terpenting kamu menikmatinya," tambah Isaiah mengutip sang pelatih.

Malas Olahraga? Malu Dong Sama Pegulat Cilik Tanpa Kaki IniSaat pertandingan, Isaiah Bird tampak tak terganggu dengan kekurangannya. (Foto: YouTube/BBC)

Bocah asal Long Beach, New York ini kemudian mengisahkan bagaimana Miguel 'menemukannya'. Saat itu Isaiah masih duduk di bangku taman kanak-kanak.

Sejak saat itu Miguel menjadi pelatih sekaligus tangan kanannya, menemani kemanapun Isaiah pergi, termasuk ke sekolah. Keduanya seolah tak terpisahkan.

Tak hanya gulat, segala jenis olahraga pun dilakoni bocah yang tak bisa diam ini. Tercatat ia aktif bermain sepakbola, football, lari track, berenang, surfing dan bermain skateboard.


Bahkan setelah video Isaiah bergulat viral di YouTube beberapa waktu lalu, bocah ini mengaku menerima banyak panggilan, video, dan email dari berbagai tempat di AS. Tua muda, anak kecil orang dewasa mengaku terinspirasi dengan kegigihan Isaiah.

"Tak heran ia bisa menginspirasi. Karena banyak dari kita yang mengeluh tentang berbagai hal dalam hidup dan tidak menyadari betapa mudahnya kita melakukannya. Pada
23.32 | 0 komentar | Read More

Menyoal Rubella Kongenital, Penyakit Bawaan yang Diidap Balita Ubii

Written By iqbal_editing on Jumat, 14 Juli 2017 | 02.57

Putri dari blogger Grace Melia (28), Aubrey Naiym Kayacinta atau Ubii (5) didiagnosis Congenital Rubella Syndrome atau rubella kongenital. Sampai saat ini, Grace rutin berbagi kisahnya saat membesarkan Ubii. Seperti apa fakta dari penyakit ini?

Menurut dokter spesialis anak dari RS Soetomo Surabaya, dr Meta Hanindita, SpA, Congenital Rubella Syndrome atau sindrom rubella kongenital adalah suatu kumpulan gejala penyakit yang terdiri atas katarak, penyakit jantung bawaan, gangguan pendengaran, dan keterlambatan perkembangan, termasuk keterlambatan bicara dan disabilitas intelektual.

Baca juga: Viral Pesan Grace Melia, Ibu Ubii yang Terkena Rubella Saat Hamil

Penyakit ini disebabkan oleh infeksi virus rubella pada janin selama masa kehamilan. Ini adalah efek dari ibu yang tidak memiliki kekebalan terhadap virus rubella.

Seperti diberitakan sebelumnya, dalam blognya www.gracemelia.com, blogger yang akrab disapa Gesi ini menuliskan bahwa dirinya terkena Rubella saat sedang mengandung Ubii. "Di usia Ubii yang mendekati 6 bulan, baru saya tahu bahwa Ubii terdiagnosis dengan Congenital Rubella Syndrome karena saya kena Rubella saat hamil," tulis Gesi.

Setelah diperiksa, ditemukan kadar IgG dan IgM dalam tubuh Ubii menandakan memang ada virus Rubella. Ubii juga sempat menjalani USG kepala, USG jantung, serta tes BERA untuk memeriksa pendengarannya. Ubii pun terlahir tuli, punya kebocoran jantung, pengapuran otak, retardasi psikomotorik atau cerebral palsy.

Baca juga: Kata Dokter, Ini Daftar Penyakit yang Bisa Dicegah dengan Imunisasi

"Jika infeksi terjadi pada bulan pertama kehamilan, risiko terkena sebesar 43 persen. Risiko tersebut meningkat menjadi 51 persen jika infeksi terjadi pada tiga bulan pertama kehamilan dan dapat terjadi keguguran, bayi lahir mati atau kelainan bawaan berat yaitu sindrom rubella kongenital," imbuh dr Meta.

Ia melanjutkan, risiko ini bisa menurun jika infeksi terjadi setelah tiga bulan pertama kehamilan, yakni 23 persen. Kelainan bawaan sangat jarang ditemukan jika infeksi terjadi di atas usia kehamilan 5 bulan.

"Kenapa demikian? Karena di atas usia kandungan 5 bulan, biasanya proses pembentukan organ janin sudahlah lengkap," ujar dr Meta.

Pada kasus Ubii, Gesi menceritakan bahwa dirinya belum tahu sedang hamil kala terkena Rubella. Namun ia memperkirakan usia kehamilannya saat itu berada pada trimester pertama, yakni sekitar dua atau tiga bulan.

"Waktu pertama kali sakit, saya belum tahu lagi hamil, tapi itu kemungkinan di trimester pertama. Sempat tanya ke dokter juga tidak disebut-sebut Rubella, ke dokter kandungan saat tahu hamil pun tidak dianjurkan untuk cek darah," tutur wanita yang akrab berbagi kisahnya lewat Instagramnya, @grace.melia ini kepada detikHealth.
02.57 | 0 komentar | Read More

Dukungan yang Dibutuhkan Saat Mengandung Anak dengan Potensi Disabilitas

Written By iqbal_editing on Senin, 10 Juli 2017 | 23.08

Banyak ibu yang takut melahirkan anak dengan kecacatan atau disabilitas. Sedikit banyak ini juga dipengaruhi oleh tenaga medis yang kerap berbicara tentang bahaya atau risiko melahirkan anak dengan kondisi tertentu seperti itu.

Namun cara tenaga medis mengutarakan kekhawatiran ini nyatanya tidak disepakati oleh seorang ibu dari Inggris bernama Sarah Roberts. Sarah sendiri memiliki seorang anak laki-laki yang terlahir dengan down syndrome bernama Oscar.

Wanita asal Woking, Surrey itu pun menyampaikan apa yang menjadi uneg-unegnya tentang hal itu lewat media sosial, yaitu Facebook.

"Jika Anda melihat di kamus, risiko adalah situasi yang memunculkan kemungkinan bahaya. Tetapi setahu saya, memiliki Oscar tidak memberikan bahaya pada siapapun, apalagi saya," tulisnya seperti dikutip dari laman Facebook-nya, Dont' Be Sorry.

Dukungan yang Dibutuhkan Saat Mengandung Anak dengan Potensi DisabilitasKomentar Sarah begitu tahu postingan-nya menuai banyak komentar positif. (Foto: Facebook/Don't Be Sorry)

Sarah mengaku terdorong untuk menulis demikian setelah mendengar cerita dari salah seorang rekannya. Rekan Sarah itu bercerita bahwa ia baru saja meminta bidannya untuk mengganti kata 'risiko' yang digunakannya ketika berbicara tentang tes yang baru saja dilakoninya.

Kebetulan rekan Sarah tersebut baru saja menjalani tes skrining untuk mengetahui risiko down syndrome pada janin yang dikandungnya.

"Jadi saya kira, dan saya yakin banyak orang tua dari anak down syndrome juga sepakat, jika sebaiknya mereka mengganti kata 'risiko' dengan 'kesempatan' saja," imbuh Sarah.

Ia berharap postingannya ini akan mengingatkan para tenaga medis tentang kata-kata apa saja yang baik digunakan ataupun tidak di hadapan pasiennya, sebab bagaimanapun itu juga mempengaruhi psikis mereka.Salah satu dari sekian banyak komentar di laman Facebook Sarah tentang postingan-nya. Rata-rata berasal dari tenaga medis. (Foto: Facebook/Don't Be Sorry)

Tak disangka-sangka oleh Sarah, postingan yang disertai dengan foto Oscar (5) dan baru diunggah pada 4 Juli lalu itu menuai pujian dari banyak pihak. Tak hanya sesama orang tua tetapi juga para profesional di bidang kesehatan. Bahkan postingan tersebut telah dibagi hingga lebih dari 4.000 kali.

Salah satu dari sekian banyak komentar yang masuk datang dari seorang dokter anak. "Saya dokter anak (dan orang tua). Sejujurnya belum pernah terpikirkan oleh saya tentang hal ini sebelumnya tetapi saya sangat setuju. Saya akan lebih bijak dalam berbicara setelah membaca ini. Terima kasih telah mengingatkan," tulisnya.

Komentar lain datang dari seorang perawat. "Postingan Anda membuat saya berpikir bahwa 'risiko' adalah kata yang sulit dan tidak terdengar menyenangkan sama sekali. Postingan Anda telah membuat saya ingin mempertimbangkan kembali apa yang harus saya katakan kepada pasien saya kelak. Pesan Anda akan berguna bagi seluruh tenaga medis," tuturnya.
23.08 | 0 komentar | Read More

Kapan Seharusnya Bayi Perempuan Boleh Ditindik?

Written By iqbal_editing on Sabtu, 08 Juli 2017 | 10.58

Enedina Vance dari Ohio, Amerika Serikat, awalnya merasa muak ketika berdebat dengan orang tua lain tentang kebiasaan menindik dan menyunat anak baik laki-laki maupun perempuan. Akhirnya ia iseng mengupload foto bayinya sendiri dengan apa yang tampak seperti tindikan di pipi sebagai bentuk sarkasme.

"Jadi saya menindik lesung pipit si bayi!! Lucu bukan? Saya yakin dia pasti juga senang!! Dia akan berterima kasih pada saya ketika dewasa nanti," tulis Enedina di Facebook seperti dikutip dari CNN, Jumat, (7/7/2017).


Bayi perempuan Enedina yang fotonya diunggah tersebut diketahui baru berusia enam bulan. Tindikan yang ada pada pipi sang bayi tidak asli hanya sebuah editan dan dilakukan oleh Enedina sebagai cara meledek orang-orang yang menurutnya bertindak semena-mena pada anak.

"Saya orang tuanya, dia anak saya. Saya yang akan menentukan pilihannya sampai usia 18 tahun, saya yang membuatnya, dia milik saya," sindir Enedina.

Namun tak disangka foto itu menjadi viral di internet dan mengundang berbagai macam reaksi dari orang tua di seluruh penjuru dunia. Ungkapan kemarahan, kebencian, bahkan ancaman dilaporkan ke pihak berwajib diterima oleh Enedina.

Enedina mengaku banyak orang salah paham terhadap keaslian foto. Namun dengan respons yang diterima Enedina mengatakan bahwa bahwa memang isu ini penting untuk dibahas.

"Reaksi dari para orang tua yang ketika melihat bayi cantik sempurna ini... dimutilasi. Saya ingin rasa terkejut, reaksi kemarahan itu akan terus mereka ingat," kata Enedina.

"Saya sebetulnya benar-benar tidak mengerti mengapa banyak orang gagal melihat kalau ini murni satire. Saya bahkan menggunakan tag #sarkasme," pungkasnya.
10.58 | 0 komentar | Read More

ppengaruh cerai pada sistem imun anak

Written By iqbal_editing on Jumat, 07 Juli 2017 | 01.01

Ketika orang tua bercerai, sudah bukan rahasia lagi kalau dampak buruknya juga bisa dirasakan oleh anak. Terkait hal tersebut studi terbaru melihat tidak hanya kondisi mental anak saja yang terpengaruh tetapi juga sistem imunnya bahkan hingga dewasa.

Psikolog dari Carnegie Mellon University mengetahui hal tersebut setelah melakukan penelitian terhadap 201 responden orang dewasa sehat. Data menunjukkan responden yang dulu waktu masih anak-anak orang tuanya bercerai akan jadi cenderung lebih mudah sakit.


"Ada bukti bahwa anak yang orang tuanya bercerai akan memiliki peningkatan risiko jadi mudah sakit. Saat mereka anak-anak hingga dewasa," kata pemimpin studi Michael Murphy seperti dikutip dari Reuters, Jumat (7/7/2017).

Dalam studi para responden diisolasi dan sengaja dipaparkan terhadap virus penyebab pilek. Selama lima hari responden diamati untuk melihat bagaimana sistem imunnya bereaksi.

Hasilnya diketahui para responden yang dulu saat masih anak-anak orang tuanya bercerai dengan buruk memiliki kemungkinan 3,3 kali lebih tinggi mengembangkan gejala pilek. Menariknya hal ini tidak ditemukan pada responden yang dulu orang tuanya bercerai namun masih bisa tetap berhubungan.

Peneliti melihat responden yang orang tuanya bercerai dengan buruk memang lebih mudah mengalami inflamasi. Peneliti lain David Sbarra dari University of Arizona berkomentar kemungkinan ini karena perceraian yang buruk membawa tekanan mental hingga berdampak pada gaya hidup tidak sehat.

"Meski mungkin kita secara alami bisa melihat seperti ada proses sebab akibat dari perceraian orang tua terhadap kesehatan anak di kemudian hari, ada kemungkinan juga bahwa anak dari orang tua yang bercerai tidak berbicara satu sama lain punya perilaku yang tidak jauh berbeda," kata David.
01.01 | 0 komentar | Read More

Bayi Terlilit Tali Pusat Tapi Lahir Selamat Berkat Kebiasaan Unik Sang Ibu

Written By iqbal_editing on Kamis, 06 Juli 2017 | 05.36

Sejak usia kandungannya memasuki 28 pekan, atas arahan dokter, Emily Eekhoff (26) diminta memastikan apakah pergerakan janinnya baik-baik saja dengan menghitung tendangannya.

Dalam sehari, Emily harus memastikan si janin menendang sedikitnya 10 kali dalam satu jam. Untuk apa ya?

"Ini mengindikasikan bahwa bayinya hidup dan baik-baik. Bila saya sudah memastikannya, saya pun bisa tenang," ungkap ibu asal Waukee, Iowa tersebut.


Namun akhir Mei lalu, Emily tak lagi merasakan 10-15 tendangan seperti biasanya. Ia pun segera menghubungi dokter.

Dari hasil monitor di rumah sakit, janin Emily menunjukkan detak jantung yang normal tetapi tidak bergerak sama sekali. Karena itu, janin Emily terpaksa harus dilahirkan melalui operasi caesar saat usia kandungan wanita ini baru 33 minggu 5 hari.

Janin Emily berjenis kelamin perempuan dan kemudian diberi nama Ruby. Ruby rupanya terlahir dengan tali pusar melilit erat di lehernya. Menurut dokternya, ini adalah kondisi yang membahayakan nyawa si bayi.

Untunglah Emily rajin menghitung kebiasaan menendang si janin. Dan meskipun lahir prematur, Ruby dinyatakan sehat dengan berat mencapai 1,8 kg.

"Saya tidak merasa melakukan sebuah keajaiban. Saya hanya bersyukur karena dokter meminta saya melakukannya," tutur Emily seperti dilaporkan Today.


Hal ini diamini Dr Neil Mandsager dari Mercy Medical Center, Des Moines, Iowa yang menangani Emily. "Kemungkinan besar si janin bisa lahir mati, dalam kurun satu, dua atau tiga hari setelah dilahirkan. Tetapi sang ibu menyelamatkan nyawa bayinya dengan memperhatikan aktivitas janin sejak dalam kandungan," katanya.

Neil pulalah yang menyarankan agar Emily mengecek pergerakan janin putrinya sejak usia kandungan Emily memasuki 28 pekan. "Metodenya memang tidak harus seperti ini, tetapi yang pasti ini bertujuan agar para ibu mengenali pola pergerakan janin, apa yang normal dan apa yang tidak," jelasnya.

Metode ini, lanjut Neil, dapat dimanfaatkan untuk mendeteksi adanya gangguan atau komplikasi seperti masalah pada tali pusar dan plasenta. Sebab bila dibiarkan, risiko bayi lahir mati masih bisa terjadi, bahkan pada kehamilan yang sehat sekalipun.

"Ketika pergerakan janin berkurang, ada indikasi bayinya bermasalah, dan jika tidak segera diintervensi, ada kemungkinan untuk stillbirth (bayi lahir mati, red)," imbuhnya.


Meski demikian, Ruby masih harus dirawat intensif di rumah sakit selama 20 hari. Namun begitu diperbolehkan pulang, Emily yakin kondisi putrinya sudah jauh lebih baik dan siap.

"Senang sekali rasanya mengetahui dia bisa dibawa pulang," tutupnya.(lll/up)
05.36 | 0 komentar | Read More

Pentingnya Mengasah Minat dan Bakat Anak Sejak Dini

Written By iqbal_editing on Rabu, 05 Juli 2017 | 10.07

Ada alasan mengapa pakar psikologi dan pendidikan anak selalu menekankan pentingnya pemberian stimulus pada anak sejak usia dini. Hal ini dikarenakan pemberian stimulus berpengaruh terhadap masa depan anak.

Jovita Maria Ferlina, MPSi, Psikolog dari Little Shine Daycare mengatakan anak wajib mendapatkan berbagai macam stimulus sejak dini untuk mengasah bakat dan minatnya. Jika bakat dan minat tak diasah, anak bisa kehilangan arah hidup hingga tak memiliki tujuan.

"Kalau anak nggak tahu bakatnya apa, dia akan kesulitan menentukan goals dan kebingungan saat beranjak dewasa. Makanya kita lihat ada anak sudah mau lulus SMA tetapi bingung menentukan jurusan dan pilihan kuliah," tutur Jovita, dalam acara penutupan daycare PT Amerta Indah Otsuka di Pondok Indah Office Tower I, Jl Sultan Iskandar Muda, Pondok Indah, Jakarta Selatan, Rabu (5/7/2017).

Hal inilah yang membuat Jovita mengambil tema creativpreneur saat menjalankan daycare di kantor produsen pocari sweat ini. Creativpreneur mengenalkan anak kepada bermacam-macam jenis kecerdasan, yang diharapkan mampu membuat anak bersaing di masa depan.

Dengan creativpreneur, anak akan mampu menemukan dan mengungkapkan ide dan gagasan yang dimilikinya. Ide dan gagasan tersebut muncul sesuai dengan bakat dan minat serta jenis kecerdasan yang menonjol pada diri anak.

"Misalnya anak tidak suka bernyanyi, tapi pintar masak. Nah, bagaimana dia mengolah kemampuan memasaknya ini menjadi sesuatu yang menghasilkan. Intinya adalah tidak ada bakat anak yang sia-sia.

Direktur Corporate Affair PT Amerta Indah Otsuka, Pratiwi J, mengatakan daycare yang diselenggarakan adalah solusi bagi karyawan yang ditinggal mudik lebaran. Dengan begitu, karyawan bisa bekerja tanpa harus mengkhawatirkan anaknya.

Daycare diadakan selama 6 hari. Selama 6 hari itulah Jovita dan rekan-rekannya mengenalkan berbagai macam bentuk kecerdasan. Hari ini merupakan hari terakhir daycare, dan diadakan pertunjukan yang seluruhnya diisi oleh anak-anak yang diasuh di daycare.

"Kami ingin agar anak tak sekadar dititipkan, tapi juga melakukan kegiatan yang bermanfaat, salah satunya ya dengan mengikuti berbagai kegiatan yang dilakukan di daycare ini," ungkap Pratiwi.

(mrs/ajg)
10.07 | 0 komentar | Read More

Dari 4 Juta Pasangan Tak Subur, Cuma 5 Persen yang Butuh Bayi Tabung

Diperkirakan ada 4 juta pasangan di Indonesia yang mengalami masalah susah punya momongan. Dari sekian banyak, tidak semua membutuhkan prosedur bayi tabung untuk bisa berketurunan.

"Sebenarnya hanya 5 persen yang butuh bayi tabung," kata dr Yassin Yanuar Mohammad, SpOG dari RS Pondok Indah, dalam temu media di Jakarta Selatan, baru-baru ini.

Salah satu alternatif untuk meningkatkan peluang hamil adalah inseminasi intrauterine. Berbeda dengan bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF) yang mengawinkan sel telur dan sperma di luar tubuh, inseminasi dilakukan dengan menyuntikkan sperma yang sudah dipilih langsung ke dalam rahim.

"Prinsipnya memperpendek jarak menuju sel telur," jelas dr Yassin.

Inseminasi bisa dilakukan untuk masalah ketidaksuburan yang disebabkan oleh kondisi tertentu seperti endometriosis ringan. Bisa juga dilakukan pada masalah disfungsi seksual pada pria, seperti gangguan ereksi dan ejakulasi.

Kondisi khusus yang membutuhkan pencucian sperma juga bisa diatasi dengan inseminasi. Misalnya pada pengidap HIV (Human Imunodeficiency Virus), atau infeksi hepatitis kronis.

Soal peluang kehamilan, inseminasi dikombinasilan dengan terapi folicle stimulating hormone (FSH) memberikan success rate sebesar 15-18 persen tiap siklus. Sebagai pembanding, success rate untuk IVF atau bayi tabung berkisar antara 30-40 persen.

"Namun secara kumilatif, peluang hamil pada inseminasi intrauterine bisa mencapai 40-50 persen dalam 4-6 siklus," kata dr Yassin.
10.05 | 0 komentar | Read More

Usia Pria Pengaruhi Peluang Keberhasilan Bayi Tabung

Tingkat keberhasilan pasangan yang menjalani IVF (in fitro vertilization) atau bayi tabung tidak hanya dipengaruhi oleh sang istri tapi dipengaruhi juga oleh usia suami. Berdasarkan penelitian di Amerika Serikat pria yang lebih tua disebut memiliki peluang lebih rendah untuk menjalani program bayi tabung.

Dikutip dari BBC, peneliti Harvard mempresentasikan studi mereka tentang hampir 19.000 siklus IVF di European Society of Human Reproduction and Embryology. Temuan ini bertentangan dengan gagasan yang menyatakan bahwa kesuburan pria berlangsung selamanya.

Penelitian sebelumnya pun menunjukkan bahwa sperma yang dihasilkan oleh pria yang lebih tua lebih rentan terhadap kesalahan genetik. Selain itu hal ini juga dikaitkan dengan perkembangan autisme dan skizofrenia pada anak-anak.


Para ilmuwan menemukan bahwa pria berusia 40 sampai 42 tahun memiliki kemungkinan 46 persen lebih rendah melahirkan bayi tabung, dibandingkan dengan pria berusia 30-35 tahun saat pasangan wanita berusia di bawah 30 tahun.

Dr Laura Dodge, dari Israel Deaconess Medical Center dan Harvard Medical School, mengungkapkan bahwa belum ada alasan jelas di balik berkurangnya kesuburan pria di usia tua.

"Sementara pengaruh usia wanita terhadap kesuburan banyak disebabkan oleh meningkatnya kelainan kromosom. Sedangkan efek usia pria pada kehamilan tidak terlihat," pungkas Dr Laura Dodge.

Dr Raj Mathur, konsultan ginekolog dan pemimpin klinis untuk obat reproduksi di Manchester Fertility juga menyampaikan bahwa masalah usia pria dan dampak pada IVF perlu diteliti lebih lanjut.

"Kita harus mulai memperhitungkan usia pria," kata Dr Raj Mathur.
10.05 | 0 komentar | Read More

Umurnya Baru 3 Tahun, Bocah 'Laba-laba' Ini Hobinya Merayap di Tembok

Written By iqbal_editing on Jumat, 30 Juni 2017 | 03.44

*Usia Janin dalam Satuan Minggu

Umurnya Baru 3 Tahun, Bocah 'Laba-laba' Ini Hobinya Merayap di Tembok

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Jumat, 30/06/2017 07:30 WIB
Umurnya Baru 3 Tahun, Bocah Laba-laba Ini Hobinya Merayap di TembokArat belum genap 4 tahun, tapi punya ketrampilan seperti ninja (Foto: viral IG @arat.gym)
Jakarta, Tidak heran julukan 'spider boy' disematkan padanya. Bocah ini belum genap 4 tahun, tapi hobinya merayap di tembok dan juga salto jungkir balik.

Ialah Arat Hosseini, bocah asal Babol di Iran, yang punya lebih dari 900 ribu followers di instagram. Belakangan ia menjadi viral karena video yang menampilkan kemampuannya yang luar biasa dalam memanjat tembok.

Tidak hanya itu, ia juga punya kemampuan akrobatik layaknya ninja. Mulai dari menyeimbangkan diri, salto atau flip, push ups, hingga pull up di atap kamarnya.



Ayahnya, Mohammad, dikabarkan tahu bakat ini sejak si bocah baru berusia 4 bulan. Namun baru pada usia 1 tahun, sang ayah berani melatih Arat lebih serius. Sekitar 20 menit per hari, bocah ini berlatih keras.

Seiring bertambahnya usia, Mohammad meningkatkan porsi latihan untuk anaknya tersebut. Dikutip dari Dailymail, porsi latihan Arat saat ini sekitar satu jam tiap hari.

Mau lihat kemampuan Arat si 'bocah laba-laba'? Simak di sini:



L




(up/up)
03.44 | 0 komentar | Read More

pertolongan pertama diare pada anak saat puasa

Written By iqbal_editing on Selasa, 20 Juni 2017 | 02.50

Diare menjadi salah satu gangguan di bulan Ramadan, apalagi bila terjadi pada anak-anak yang tengah bersemangat menjalankan puasa. Bagaimana mengatasinya?

dr Hendra Nurjadin, SpPD-KGEH dari RS Mayapada Tangerang menjelaskan bahwa puasa sebenarnya tidak berkaitan dengan diare. Biasanya diare disebabkan oleh makanan atau minuman yang terkontaminasi oleh bakteri atau virus.

Diare adalah keluarnya tinja yang berbentuk cair dengan frekuensi yang lebih sering dari biasanya. Apabila frekuensi buang air besar masih normal, anak dapat melanjutkan berpuasa hingga berbuka. Namun yang perlu dikhawatirkan adalah jika frekuensinya sudah di atas normal.


"Kalau sekali sih tidak apa-apa, tapi kalau lebih dari 4 kali lebih baik dibatalkan," tutur dr Roy kepada detikHealth.

Jika semakin parah, diare dapat menyebabkan dehidrasi, apalagi saat puasa tidak ada asupan cairan yang masuk ke dalam tubuh. Dehidrasi memiliki konsekuensi yang fatal dan berpotensi merenggut nyawa seseorang, terutama jika terjadi pada anak-anak. Karena sistem kekebalan tubuh anak-anak lebih rentan dari pada orang dewasa.

"Segera beri obat diare," pungkasnya.

Selain harus diobati, cairan dan ion yang hilang karena diare juga harus segera diganti. Berikan beberapa teguk air putih atau larutan oralit dengan dosis yang cukup. Sarankan anak untuk beristirahat agar daya tahan tubuhnya kembali pulih seperti sedia kala.
02.50 | 0 komentar | Read More
 
berita unik