Entri Populer

Welcome Guys

Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog

Tampilkan postingan dengan label psikolog. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label psikolog. Tampilkan semua postingan

Pengamatan Psikolog: Bos First Travel Seperti Punya Gangguan Kepribadian

Written By iqbal_editing on Jumat, 25 Agustus 2017 | 17.22

Mengintip rumah Bos First Travel dengan nuansa Timur Tengah dipenuhi warna emas. Rumah pasangan Anniesa Desvitasari Hasibuan dan Andika Surachman ini bak istana megah.

Menanggapi hal ini, psikolog dari Universitas Indonesia, Bona Sardo, MPSi mengatakan bahwa berdasarkan hasil pengamatannya, Bos First Travel ini mengalami gangguan kepribadian histrionik.

"Tapi kok kalau dari gaya rumahnya, pekerjaan yang dia pilih, itu arahnya ke gangguan kepribadian histrionik deh," ujarnya kepada detikHealth, Jumat (25/8/2017).

Gangguan kepribadian hitrionik adalah gangguan kepribadian seseorang yang berfokus pada dirinya sendiri, membutuhkan sesuatu yang meriah, dan harus menjadi pusat perhatian.


Biasanya orang dengan kepribadian seperti ini semua kebutuhannya harus terpenuhi, mulai dari kebutuhan primer hingga tersier seperti barang-barang berharga.

"Kalau nggak terpenuhi jadi apa dong? Kalau sudah melakukan cara halal tapi nggak berhasil? Jangan-jangan otaknya flek-flek sedikit jadi melakukan hal-hal nggak benar, melanggar hukum, mungkin melanggar aturan-aturan," jelas Bona.

Menurut Bona, gangguan kepribadian histrionik merupakan salah satu ciri dari social climber. Yaitu meningkatkan status sosial dengan menggunakan pertemanan.

Psikolog klinis dari Klinik Personal Growth, Veronica Adesla, M.Psi, mengatakan para social climber berteman untuk mencari koneksi orang-orang dari kelas sosial lebih tinggi. Sikapnya sangat bersahabat dengan orang-orang dari kelas sosial lebih tinggi ini.

"Seorang social climber umumnya memiliki kecerdasan sosial yang baik, yang memungkinkannya untuk memanipulasi, menipu, ataupun memanfaatkan orang lain. Bentuk manipulasi dan tipuannya, bisa sangat bervariasi tergantung pada situasi dan kondisi," tuturnya.

Pada akhirnya, Bona tetap menyarankan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut secara langsung terhadap kepribadian si Bos First Travel tersebut.
17.22 | 0 komentar | Read More

Pesan Psikolog Bagi Pelaku Orderan Fiktif Go-Food yang Disebut Patah Hati

Written By iqbal_editing on Sabtu, 08 Juli 2017 | 10.01

Julianto Sudrajat menduga perempuan berinisial A berada di balik 'teror' order fiktif Go-Food yang dialamatkan kepada dirinya. Julianto menduga cinta A yang ditolaknya menjadi sebab serangan order fiktif tersebut.

Pria berkacamata ini memang mengaku dipaksa A untuk menerima cintanya karena diteror melalui telepon hingga WA. A berkeras agar Julianto menerima cintanya hingga mengumumkan hubungan keduanya melalui status di Facebook.

Julianto mengaku terpaksa menuruti permintaan itu karena A mengancam akan bunuh diri. Tak hanya itu, A terus meneleponnya dan minta dipertemukan dengan ibunya.

"Karena dia ngancam akan bunuh diri dengan gunting atau loncat ke rel dan tabrakkan tubuhnya ke kereta, jadi saya turutin," jelas Julianto.


Mengomentari hal ini, psikolog dari Universitas Indonesia, Bona Sardo, MPSi, mengatakan memang orang yang patah hati rentan melakukan hal-hal ekstrem. Hal ini dilakukan untuk menarik perhatian orang yang disukainya, dan berharap agar orang tersebut mau menerima cintanya.

"Ini akan terus-terusan dilakukan, minimal sampai dia lelah. Kalau nggak sampai lelah, ya sampai orang yang dicintainya setuju. Sangat sulit menyadarkannya karena dia nggak sadar kalau perbuatannya itu ekstrem," tutur Bona saat dihubungi detikHealth.



Nota order fiktif go-food yang harus dibayar JuliantoNota order fiktif go-food yang harus dibayar Julianto Foto: Aditya Fajar Indrawan/detikcom

Padahal menurut Bona, melakukan hal-hal ekstrem seperti ini justru berefek jelek bagi pelaku. Pertama, produktivitas harian akan terganggu. Sebabnya, pelaku akan memprioritaskan hal ini daripada rutinitas harian seperti sekolah atau bekerja.

Kedua, pelaku justru bisa mendapat sentimen negatif dari teman-teman dekatnya. Sebabnya, fokus pelaku akan tertuju pada melakukan hal tersebut sehingga abai pada kondisi di sekitarnya.

"Padahal bisa saja teman-temannya ada yang tulus mau membantu, tapi dicuekin dan akhirnya pergi. Selain itu pelaku juga akan terbebani fisik dan mental karena melakukan hal-hal ekstrem itu menguras tenaga dan pikiran," paparnya lagi.



Oleh karena itu menurut Bona, pelaku sebaiknya berhenti melakukan hal-hal ekstrem demi menarik perhatian orang yang dicintainya. Jika cinta sudah ditolak, jangan sedih berlarut-larut. Segera cari calon pasangan lain yang mungkin lebih baik dari yang sekarang.

"Istilahnya masih banyak ikan di laut. Nggak usahlah bertindak ekstrem. Mendingan tenaga dan pikirannya dialihkan untuk yang lain, malah siapa tahu ketemu jodohnya dari situ," tutupnya.
10.01 | 0 komentar | Read More

Kata Psikolog Ketika Anak Pamer Baju Lebaran ke Teman-temannya

Written By iqbal_editing on Sabtu, 01 Juli 2017 | 06.11

Cukup sering menemukan anak kecil yang pamer baju Lebaran. Satu diantaranya bisa jadi anak Anda. Meski pamer pada usia masih sangat kecil sangat wajar terjadi, ada sejumlah hal yang bisa Anda lakukan agar si kecil tidak mendapat kesan negatif dari perilakunya tersebut.

Hal pertama yang harus dilakukan adalah dengan memberikan nasihat pada anak untuk tidak pamer dan bersikap sombong. Ajarkan dia bahwa perilaku sombong adalah perbuatan yang kurang terpuji. Ada baiknya untuk selalu mengingatkan anak ketika mulai pamer pakaian barunya.

Namun, untuk memberinya pengertian jangan lewat perkataan saja. Justru anak akan lebih cepat meniru apa yang dilakukan orang tuanya. "Jika orangtua bersikap sederhana santun dan tidak sombong, anak pun akan meniru perilaku tersebut," ujar psikolog anak, Irma Agustiana SPsi, MPsi., pada kesempatan wawancara via email.


Beberapa waktu lalu, psikolog anak dan keluarga dari Tiga Generasi, Anna Surti Ariani MPsi., menuturkan bahwa anak usia sekolah dasar senang memuji dirinya sendiri. Artinya mereka sedang meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia baik. "Jadi tahap perkembangan moral anak memang nggak langsung mereka bisa jadi dewasa gitu," terangnya.

Wanita yang akrab disapa Nina ini mengatakan, pada anak usia sekolah dasar, mereka melakukan sesuatu karena itu membuat senang orang tuanya. Atau, ia melakukan sesuatu karena itu bisa membuat teman-temannya mau bermain dengannya.

Tapi, jika orang tua khawatir itu akan membuat anaknya dicap sombong, Nina menyarankan orang tua mengajarkan anak untuk mengatakan jika dirinya baik ketika berada di rumah atau sedang bersama orangtuanya saja. Dengan begitu, ada pembatasan di mana dan kepada siapa saja anak bisa mengatakan
06.11 | 0 komentar | Read More

*Usia Bayi dalam Satuan Tahun detikHealthHealth NewsKetika Mudik Jadi Ajang Pamer Para Social Climber, Ini Kata Psikolog Ketika Mudik Jadi Ajang Pamer Para Social Climber, Ini Kata Psikolog

, Mudik bisa dijadikan ajang pamer oleh para 'social climber'. Karena ketika berada di kampung halaman, kebanyakan orang tidak mengetahui keadaan dan status sosial seseorang yang sebenarnya.

Pada dasarnya social climber menunjukkan perilaku seseorang untuk meningkatkan status sosialnya. Caranya dengan melakukan segala hal agar mendapat pengakuan status sosial lebih tinggi dari status yang sebenarnya.

Menurut psikolog Roslina Verauli, M.Psi., pada hakikatnya setiap manusia itu menghayati kehidupan sosialnya, namun ada beberapa orang yang menganggap bahwa kehidupan sosialnya sebagai sebuah kebanggaan untuk dirinya.

"Pada beberapa orang pakai cara yang instan, yaitu menempatkan diri di social circle tertentu. Nah itu adalah kebanggaan buat dia, karena berada di atas dari keadaan sebenarnya," ujarnya saat dihubungi detikHealth, Sabtu (1/7/2017).


Namun ada kalanya, hal ini juga dilakukan seseorang untuk mencapai kepuasan dalam hidupnya karena kecewa atas apa yang diraih atau dimilikinya selama ini.

"Itu merupakan kompensasi dari dirinya yang inferior terhadap lingkungannya," imbuh lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia tersebut.

"Atau dia punya value atau nilai hidup tentang materialisme, sehingga dia menggabungkan materi dan social life-nya," jelas wanita yang akrab biasa disapa Vera ini.

Padahal seharusnya perasaan bangga akan diri sendiri baiknya didapat dari prestasi atau karier yang diraih, bukan karena dirinya menempati tingkat kehidupan atau status sosial yang lebih tinggi.


Banyak pemudik pulang dengan terbebani tuntutan harus 'lebih sukses' dari sanak keluarga di kampung halamanBanyak pemudik pulang dengan terbebani tuntutan harus 'lebih sukses' dari sanak keluarga di kampung halaman (Ilustrasi: Thinkstock)


Di samping itu, orang yang memusatkan kehidupannya pada materialisme akan merasa berhasil bila materi yang ia dapatkan sesuai dengan apa yang diinginkannya dan mendapatkan pengakuan oleh tingkat sosial yang ditempatinya. Maka tidak heran, orang seperti ini gaya hidupnya cenderung glamour dan selalu ingin terlihat mewah.

"Hidup dalam hiper-realitas daripada realitas. Kehidupan hiper-realitas yang hanya mengacu pada apa yang ideal, bukan real," pungkasnya.
05.58 | 0 komentar | Read More

ppendapat psikolog tentang surat cinta kepsek terhadap anak murid

Written By iqbal_editing on Sabtu, 10 Juni 2017 | 00.05

a, Kepala SD Mutiara Persada Bantul, Suwarsana MPd tengah jadi buah bibir di media sosial (medsos). 'Surat cinta' yang ditulisnya kepada orang tua murid kelas 6 menjadi viral karena dianggap sangat menyentuh.

Dalam surat itu, Suwarsana memberikan motivasi kepada orang tua yang mungkin anaknya tidak mendapat nilai bagus untuk mata pelajaran tertentu. Ia berpesan kepada para orang tua untuk selalu mendukung anak-anaknya, berapapun nilai ujian yang diraihnya.

"Saya sampaikan juga kepada orang tua yang menerima tadi, 'Ini Pak Bu, surat cinta dari saya," kata Suwarsana, dikutip dari detiknews, Jumat (9/6/2017).

Baca juga: Suratnya ke Ortu Siswa Viral, Kepsek Suwarsana: Itu Surat Cinta

Perihal surat yang sangat personal tersebut, psikolog anak dan remaja Anna Surti Ariani mengapresiasi sikap sang kepala sekolah. Surat tersebut, kata psikolog yang akrab disapa Nina ini, menyadarkan para orang tua bahwa cara orang untuk sukses bisa berbeda-beda.

"Menurutku sih surat semacam ini penting. Kan nggak semua orangtua melek media. Kalaupun dia melek media, kan bagus juga diingatkan oleh sekolah," kata Nina, saat dihubungi detikHealth.


Kepala Sekolah Dasar Mutiara Persada, Bantul, Suwarsana yang viral karena menulis 'surat cinta'Kepala Sekolah Dasar Mutiara Persada, Bantul, Suwarsana yang viral karena menulis 'surat cinta' (Foto: Sukma Indah P/detikcom)


"Orang tua mungkin juga ingat bahwa dirinya tidak cemerlang dalam akademis tapi tetap bisa berdikari. Dengan harapan yang lebih wajar terhadap anak, diharapkan mereka tidak menuntut anaknya secara berlebihan," lanjutnya.


Namun ia juga mengingatkan bahwa surat semacam ini sebaiknya memang ditujukan bagi orang tua. Jika ditujukan pada anak, dikhawatirkan justru membuat anak-anak tidak terpacu untuk belajar. Anak-anak, bagaimanapun selalu butuh motivasi untuk semakin maju.

"Setelah mereka termotivasi belajar dan masih tetap rendah nilainya, mereka dapat dihibur dengan mencarikan sisi-sisi positif mereka. Contohnya, 'Nak, mungkin nilai matematika kamu masih rendah, padahal kamu sudah belajar keras. Tapi Bunda salut bahwa kamu berusaha keras belajar, juga berusaha tidak menyontek. Kejujuran kamu itu sungguh sisi positif kamu. Kalau kamu mempertahankan kejujuran ini, bekerja di bidang apapun akan bisa sukses'," papar Nina.
00.05 | 0 komentar | Read More

Saran Psikolog Soal Perilaku Anak di Medsos

Written By iqbal_editing on Rabu, 07 Juni 2017 | 06.04

Perilaku di media sosial (medsos) tengah menajadi perhatian terkait maraknya hate speech, yang kemudian berkaitan juga dengan persekusi atau semacam perburuan dan tindakan main hakim sendiri oleh sekelompok orang. MUI (Majelis Ulama Indonesia) sampai harus mengeluarkan pedoman sendiri terkait hal itu.

Khususnya anak-anak, terkadang tidak berpikir panjang ketika mem-posting sesuatu di medsos. Termasuk untuk hal-hal yang bersifat sensitif dan memancing kontroversi.

Orang tua punya peran dalam kondisi seperti itu. Ketika anak menyampaikan argumen bernada negatif seperti 'aku benci hal ini' atau semacamnya, maka orang tua sebaiknya membuka ruang diskusi. Beri kesempatan bagi anak untuk menyampaikan pendapat, sehingga tidak langsung lari ke medsos.

"Jangan langsung disalahkan, Anda bisa bertanya dari mana ia mendapatkan berita tersebut, mengapa hal itu dianggap salah atau benar, dan apa yang dia tahu dari isu tersebut," tambah Anna Surti Ariani, psikolog anak dan remaja dari Universitas Indonesia.

Baca juga: MUI Keluarkan Fatwa Penggunaan Medsos, Apa Saja yang Diharamkan?

Untuk hal-hal yang berhubungan dengan kekerasan, psikolog yang akrab disapa Nina ini mengingatkan adanya dampak negatif terhadap tumbuh kembang anak. Ketika terpapar oleh informasi-informasi negatif, maka otaknya akan bekerja menyimpan dan suatu saat me-recall memori-memori negatif tersebut.

"Bayangkan, disaat anak belum memiliki filter yang baik mereka harus menerima informasi-informasi yang sifatnya radikal. Jika suatu saat anak dihadapkan oleh masalah, data inilah yang diambil untuk pemecahan masalah," kata Nina.
06.04 | 0 komentar | Read More

tindakan psikolog terhadap korban presekusi

Written By iqbal_editing on Sabtu, 03 Juni 2017 | 02.28

Dalam beberapa hari terakhir heboh kabar seorang anak berusia 15 tahun di daerah Jakarta Timur yang mendapat intimidasi dan dipersekusi oleh sekelompok orang. Polisi telah mengamankan sang anak bersama keluarganya dan ia kini dikabarkan tengah menjalani terapi.

Persekusi atau upaya perburuan dan intimidasi tidak hanya terjadi di Jakarta Timur. Kasus-kasus serupa banyak meramaikan pemberitaan di media, dan sebagian besar bermula dari status di media sosial yang menyinggung kelompok tertentu.

Psikolog anak dan remaja Reneta Kristiani, MPsi, dari Klinik Pelangi mengatakan ketika anak-anak mengalami peristiwa traumatis akibat persekusi, maka dibutuhkan apa yang namanya pertolongan pertama psikologis atau Psychological First Aid (PFA). Tujuannya agar reaksi shock bisa dikendalikan sehingga tidak menjadi trauma yang lebih buruk.

Dalam prinsipnya pertolongan pertama psikologi melibatkan tiga hal yaitu memberikan rasa aman, mendengarkan secara aktif, dan mengembalikan keberfungsian. Semua langkah itu penting agar korban bisa segera pulih dan kembali ke masyarakat.


"Pertama kita harus pindahkan dulu ke tempat aman. Misalnya dia baru mengalami kejadian gempa bumi atau bom, kita bawa dia ke tempat lebih aman karena kalau dia masih di situ akan masih merasa takut," kata Reneta ketika dihubungi detikHealth pada Sabtu (3/7/2017).

"Makanya kasus persekusi ini kan polisi memindahkannya ke tempat aman, itu prinsip dasar PFA karena di netralisir dulu," lanjut Reneta.


Infografis kasus persekusiInfografis kasus persekusi Foto: ilustrator Mindra Purnomo/detikcom



Setelah dipindahkan ke tempat aman, maka langkah berikutnya adalah mendengarkan secara aktif. Dalam tahap ini terapis akan mendengarkan cerita dari si korban dengan harapan bisa membantu proses refleksi diri.

"Mendengarkan aktif itu mendengarkan dengan sungguh-sungguh bahwa kita hadir untuknya. Mau mendengarkan dan menerima apapun ceritanya. Sehingga anak merasa diterima, apapun perasaan yang dialami merupakan hal wajar karena peristiwanya yang luar biasa di luar batas kewajaran," ungkap Reneta.

Langkah terakhir adalah mengembalikan keberfungsiannya. Pada anak yang shock seringkali aktivitasnya menjadi terganggu, nah dibantu oleh berbagai pihak anak harus bisa kembali bersekolah atau kembali beraktivitas di tengah masyarakat.

"Pemulihannya sih menurut saya enggak mudah, bisa bertahun-tahun. Kejadian traumatis mungkin sebentar tapi dampaknya bisa lama. Harus segera ditangani karena bisa kebawa terus sampai dewasa dia merasa takut atau bisa juga dendam," pungkas Reneta.
02.28 | 0 komentar | Read More

Saran Psikolog Bagi yang Belum Siap Saat Diajak Nikah Kekasih

Written By iqbal_editing on Selasa, 28 Maret 2017 | 06.41

Memutuskan untuk menikah bukan hanya ditentukan oleh satu pihak, namun dari kedua belah pihak. Lantas, bagaimana saat pihak yang lain belum siap saat diajak menikah?

"Kalau memang pacaran secara baik dan sehat nggak ada masalah untuk ngasih pengertian ke pasangan. Coba komunikasikan secara terbuka mengenai pikiran kita tentang pernikahan," ucap Pustika Rucita MPsi, Psikolog baru-baru ini.

"Kasih tahu pemikiran kita seperti apa, misalnya masih ingin berkarier dulu atau keliling dunia dulu," sambung psikolog dari Tiga Generasi ini.


Namun, Cita melanjutkan, setelah memberikan pengertian atas ketidaksiapan diri terhadap pernikahan, pasangan juga harus menawarkan solusi. Misalnya dengan meminta jeda waktu 'kasih aku waktu dua tahun'.

Nah, dengan begitu pasangan yang pengertian dan sayang akan menuruti keinginan tersebut. Sebab, intinya adalah memberikan pengertian kepada pasangan.

Sementara mengenai usia ideal menikah, wanita berhijab ini mengatakan idealnya menikah dilakukan di usia dewasa muda, yaitu 20-40 tahun. Di mana usia tersebut tugas perkembangan manusia untuk memenuhi kebutuhan intimasi untuk berhubungan dengan lawan jenis termasuk menikah.
06.41 | 0 komentar | Read More

selalu mengalah menurut psikolog

Written By iqbal_editing on Senin, 13 Februari 2017 | 07.41

Mengalah terkadang memang dibutuhkan. Tapi bagaimana jika anak selalu menjadi si pengalah karena begitu menyukai perdamaian? Yuk, simak kata psikolog.

"Terlalu mengalah pada semua hal, saya katakan itu anak yang permisif. Kalau selalu mengajarkan anak untuk mengalah, langsung memberikan sesuatu pada orang lain yang menginginkannya juga nggak baik," tutur psikolog anak, Ajeng Raviando, dalam percakapan dengan detikHealth beberapa waktu lalu di kawasan Balai Kartini, Jl Gatot Soebroto, Jakarta.

Ajeng mencontohkan jika anak ada dalam situasi memainkan mainan tertentu, misalnya mobil-mobilan, lalu muncul temannya yang meminta mobil-mobilan itu, jangan ajarkan untuk serta-merta memberikan mainan itu pada temannya. Sebaiknya ajarkan anak untuk bersikap.

"Kalau semua hal yang diminta orang lain diberikan, nantinya merugikan diri sendiri. Itu nggak baik. Sebaiknya bekali kemampuan komunikasi pada anak, misalnya dengan mengatakan 'mainnya gantian ya, aku dulu yang main baru nanti kamu," papar perempuan berambut panjang ini.

Kemampuan komunikasi yang baik adalah sesuatu yang ditumbuhkan dan dibiasakan. Sehingga anak akan terbiasa untuk menjelaskan sesuatu, termasuk bernegosiasi.

Anak, butuh contoh nyata dari orang tua. Jadi pembekalan komunikasi yang baik juga bisa dilakukan melalui pemberian contoh yang baik.

"Ini termasuk mengajarkan bagaimana untuk berempati dan tidak egois. Jadi memang ada anak yang suka merebut punya orang lain, nah orang tua perlu mengajarkan bagaimana berbagi juga," imbuh Ajeng.
07.41 | 0 komentar | Read More
 
berita unik