Entri Populer

Welcome Guys

Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog

Tampilkan postingan dengan label beda onkologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label beda onkologi. Tampilkan semua postingan

Mengeluh Nyeri Hebat Saat Haid, Ternyata Punya 50 Tumor di Rahim

Written By iqbal_editing on Minggu, 20 Agustus 2017 | 17.14

Seorang wanita di usia awal 30 tahunan asal Itanagar, satu negara bagian India, mengalami perdarahan menstruasi yang berat dan menyakitkan. Setelah datang ke rumah karena kondisinya, ia harus menjalani operasi dan mendapati banyak tumor bersarang di rahimnya.

Yang mengejutkan dari penemuan tersebut adalah bahwa ia memiliki 50 buah tumor. Tim dokter yang kemudian mengoperasinya berhasil mengeluarkan semua tumor tersebut dalam waktu tiga jam.

"Dalam investigasi kami sebelumnya, tumor jinak ditemukan dalam rahimnya. Tumor tersebut disebut myoma," kata ginekolog senior Dr Posting Bayang di Rama Krishna Mission Hospital, seperti dikutip dari Zeenews, Minggu (20/8/2017).


Wanita tersebut diketahui telah mengeluhkan siklus menstruasi yang tak wajar sejak bertahun-tahun lamanya, hingga akhirnya ia anemia dan sampai harus menerima transfusi darah.

Akibat kondisinya, mau tak mau tim dokter harus mengambil langkah yang berisiko. "Wanita ini masih berusia di awal 30-an dan belum menikah. Sementara kita harus melakukan operasi myomektomi yang berisiko bagi kelangsungan rahimnya," kata sang dokter.

Operasi telah berhasil dilakukan pada 15 Agustus lalu. Sebelumnya, pasien selalu mendapat saran dari dokter untuk melakukan histerektomi, yaitu pengangkatan seluruh rahimnya.
17.14 | 0 komentar | Read More

Yuk Hidup 'CERDIK' untuk Cegah Kanker Kepala Leher

Written By iqbal_editing on Minggu, 13 Agustus 2017 | 18.19

kanker merupakan penyakit salah satu penyakit yang dapat menyebabkan kematian. Di Indonesia sendiri kasus kanker masih menjadi masalah serius.

Salah satunya kanker kepala leher, pada tahun 2012 terdapat kasus kanker kepala leher sebesar 15 persen per 100 ribu orang, dan 13 persennya tidak dapat tertolong.

"Masih besarnya angka kematian kanker kepala leher karena deteksinya sudah mencapai stadium lanjut," tutur dokter spesialis telinga hidung tenggorokan (THT), dr Marlinda Adham, SpTHT-KL(K), PhD dalam acara Perayaan Hari Kanker Kepala Leher Sedunia di Aula Departemen Radioterapi RS Cipto Mangunkusumo, Kamis (10/8/2017).


Gejala yang sering tidak disadari membuat pendeteksian penyakit ini sudah sampai stadium lanjut, sehingga penanganan dan terapi yang diberikan cukup terlambat.

Walau penyebab kanker ini adalah papillomavirus (HPV) dan epstein-barr virus (EBV), namun pola hidup yang tidak sehat juga bisa menjadi penyebab pemicunya kanker kepala leher.

"Terus hidup sehat hindari kanker," ujar dokter yang disapa Linda itu.

Ia menyarankan untuk menerapkan hidup 'CERDIK' untuk mencegah penyakit mematikan itu. Yang pertama yaitu cek kesehatan secara rutin. "Minimal satu tahun sekali," imbuh dr Linda.

Kemudian enyahkan asap rokok, asap rokok mengandung lebih dari 40 ribu zat kimia berbahaya yang salah satunya adalah karsinogen yang menyebabkan kanker.

Lalu rajin olahraga fisik dan menerapkan diet seimbang, tubuh harus mendapatkan asupan nutrisi dan gizi seimbang setiap harinya. Tubuh juga harus mendapatkan istirahat yang cukup serta kelola stres dengan baik.
18.19 | 0 komentar | Read More

Aneh! Bukannya Rontok, Rambut Beruban Malah Jadi Hitam Akibat Terapi Kanke

Written By iqbal_editing on Minggu, 23 Juli 2017 | 20.47

Studi yang dipublikasi di jurnal JAMA Dermatology melaporkan sebuah kejadian tak terduga ketika dokter di Spanyol melakukan pengujian obat imunoterapi baru untuk kanker. Sebanyak 14 dari 52 pasien kanker paru memiliki reaksi unik yaitu rambutnya yang beruban kembali menjadi hitam.

Obat kanker sendiri ada beragam, kemoterapi merupakan salah satunya dan terkenal karena memiliki efek samping keras membuat rambut rontok. Namun imunoterapi merupakan obat jenis baru yang berbeda oleh karena itu efek samping penggunaannya masih terus diteliti.



Pada jenis obat imunoterapi yang dipakai di Spanyol, peneliti melihat tampaknya obat dapat mengambalikan pigmen rambut beberapa pasien. dr Noelia Rivera dari Autonomous University of Barcelona mengatakan awalnya tim mengira ini cuma kebetulan, tapi kemudian ternyata jumlah pasien yang mengalaminya cukup banyak.

Pada 13 pasien rambut mereka yang tadinya abu-abu dilaporkan berubah menjadi kecoklatan atau hitam, sementara itu pada satu pasien hanya sebagian rambutnya saja yang menghitam. Menarik ketika obat imunoterapi yang sama pernah dilaporkan dalam studi lain dapat membuat pasien melanoma justru kehilangan warna rambutnya.

dr Noelia mengatakan tim dokter sendiri tidak tahu pasti bagaimana mekanisme kerja obat sehingga bisa menyebabkan fenomena tersebut. Perlu studi lebih lanjut untuk mengkonfirmasinya.

"Ini laporan yang menarik. Salah satu kejadian yang tak pernah bisa diduga," komentar dermatolog June Robinson dari Northwestern University seperti dikutip dari The Guardian, Minggu (23/7/2017).

Menurut Rivera obat imunoterapi yang digunakan dalam studi berbahaya bila dikonsumsi orang sehat. Namun bila memang terkonfirmasi obat dapat menyebabkan perubahan warna rambut maka peneliti bisa mengembangkan obat lain untuk uban.
20.47 | 0 komentar | Read More

Cerita Rachel Amanda, Aktris Muda yang Berjuang Lawan Kanker Tiroid

Written By iqbal_editing on Jumat, 21 Juli 2017 | 19.57

Aktris sekaligus penyanyi cantik tanah air, Rachel Amanda yang akrab disapa Manda pernah terdiagnosis penyakit kanker tiroid. Kanker tiroid adalah salah satu jenis kanker yang menyerang kelenjar tiroid manusia.

Kelenjar tiroid sendiri adalah kelenjar terbesar di tubuh manusia yang menghasilkan hormon tiroid. Hormon ini sangat penting untuk kelangsungan hidup manusia karena berguna untuk mengatur fungsi-fungsi tubuh.

Manda bercerita ia terdiagnosis penyakit tersebut pada tahun 2014 ketika usianya baru 19 tahun. "Pertama kali sadar itu berat badan kok turun terus, tapi leher bengkak. Lama-lama mulai mengganggu. Kalau lagi aktivitas jantung mulai berdebar terus, aku nggak kuat berdiri lama-lama, maunya duduk saja," jelasnya saat acara Press Conference dan Seminar Edukator Sehatkah Tiroidmu? di Hotel Shangri-La, Jakarta, Jumat (21/7/2017).


Awalnya ia didiagnosis hipertiroid, yaitu kelebihan hormon tiroid. Namun setelah beberapa lama Manda mengatakan bahwa tumbuh tumor di tiroid sebelah kanannya yang mengharuskannya melakukan operasi pengangkatan tiroid.

"Ternyata dilihat tiroidku yang kecil sebelah kiri itu ditemukan anak sel. Akhirnya setelah itu diberitahu sama dokter ada kanker tiroid papilari," jelasnya yang termasuk mahasiswi Fakultas Psikologi Universitas Indonesia itu.

Ia mengaku sangat terkejut ketika terdiagnosis kanker itu, karena dibenaknya kanker adalah suatu hal yang mengerikan. "Pokoknya ingat banget aku tuh benci pas pagi dan malam, setiap bangun tidur dan mau tidur, karena sendirian terus mikir lagi 'gue ada kanker ya'. Apalagi tiroid kan masih asing," tuturnya.

Setelah kedua tiroidnya diangkat, ia harus mengonsumsi obat yang merupakan suplementasi hormon buatan setiap hari seumur hidup. Sekarang Manda dapat melakukan aktivitasnya sehari-hari dengan baik.

Kisah Manda jadi tanda bahwa sebetulnya bila ditangani dengan tepat maka kanker tiroid bisa disembuhkan
19.57 | 0 komentar | Read More

kisah ahkir hidup penderita neublastoma

Written By iqbal_editing on Kamis, 13 Juli 2017 | 23.47

a, Eileidh Paterson (5) dari Skotlandia mengidap penyakit kanker langka neuroblastoma dan umurnya diprediksi dokter tidak akan lama. Pada bulan Juni lalu keinginan terbesar Eileidh untuk 'menikahi' sang sahabat Harrison Grier (6) dikabulkan, namun sayang tak lama kemudian pada awal Juli lalu (1/7) ia meninggal dunia.

Kisah perjuangan Eileidh dan keluarga mengkampanyekan kanker neuroblastoma menjadi viral dengan orang-orang berdatangan ke pemakaman. Menariknya mereka datang dengan kostum putri dan super hero sebagai bentuk penghargaan terakhir kepada Eileidh.


"Eileidh menghembuskan napas terakhirnya dikelilingi oleh keluarga sambil berpelukan dengan selimut. Dia memenangkan hati banyak orang yang bertemu dengannya dan akan sangat dirindukan," tulis keluarga dalam halaman Facebook Eileidhs Journey seperti dikutip Kamis (13/7/2017).

Peti mati Eileidh berwarna merah muda dan datang ke pemakaman diangkut oleh iring-iringan kereta kuda. Menurut keluarga hal tersebut sengaja dilakukan untuk merefleksikan pribadi Eileidh yang selama ini diperlakukan seperti putri.

Akhir Perjalanan Eileidh, Bocah 5 Tahun yang 'Menikahi' SahabatnyaFoto: Facebook/Eileidhs Journey

Harrison yang 'menikah' dengan Eileidh tidak menghadiri upacara pemakaman. Ia bersama sekitar 200 orang lainnya menghadiri peringatan duka cita yang diadakan di hotel terdekat.

"Hanya beberapa minggu yang lalu kami merencanakan pesta pernikahan Eileidh, kini kami merencanakan upacara pemakamannya," ujar sang ibu, Gail Peterson (51).

"Beberapa hari ini merupakan hari terberat dalam hidup kami. Kehilangan Eileidh begitu mendadak telah membuat lubang di hati yang tak bisa diisi," pungkasnya.
23.47 | 0 komentar | Read More

Kata Siapa Pasien Kanker Tak Boleh Olahraga? Ini Penjelasan Pakar

Written By iqbal_editing on Sabtu, 08 Juli 2017 | 09.41

Manfaat olahraga tidak hanya bisa dinikmati oleh mereka yang sehat. Pakar mengatakan pasien kanker pun bisa mendapat manfaat dari olahraga, asal dilakukan dengan baik dan dalam pengawasan.

"Kita berdampingan aja (dengan kanker), jangan dimusuhi, tapi kita kontrol. Salah satunya dengan olahraga," kata dr Grace Tumbelaka, SpKO disela-sela acara bulanan Cancer Information and Support Center (CISC), di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (8/7/2017).

Olahraga juga bisa membantu pasien untuk meningkatkan mood sebab dengan olahraga, tubuh akan melepaskan hormon endorfin yang membuat orang bahagia. Selain itu olahraga juga bisa mengurangi kelelahan, kecemasan, dan efek samping terapi lainnya sampai mengurangi dosis kemoterapi.

"Apalagi olahraga sambil ngumpul-ngumpul, auranya makin bagus," terang dokter yang akrab disapa dr Grace ini.

Tujuan berolahraga pun dibagi berdasarkan fase yang dihadapi oleh tiap-tiap pasien. Pada fase pengobatan, olahraga dilakukan untuk mencegah agar kondisi kita tidak menurun lebih lanjut. Jika terapi telah selesai, olahraga dilakukan untuk mengembalikan kondisi tubuh seperti semula.


Lantas, olahraga seperti apa yang disarankan bagi pasien kanker? dr Grace mengatakan pasien kanker yang masih menjalani terapi sebaiknya melakukan diskusi dengan ongkologisnya. Nantinya dokter akan memberikan indikasi dan kontra-indikasi dari jenis olahraga yang ingin dilakukan.

Namun, olahraga pasien dengan kanker yang masih dalam masa kemoterapi atau radiasi membutuhkan perhatian khusus. Ini dikarenakan respon kemoterapi berbeda-beda bagi tiap individu. Sehingga olahraga pun harus disesuaikan.

"Olahraga bukan cuma main basket aja, yang penting dengan keteraturannya, ada periodenya, berkesinambungan, itu juga olahraga. Yang paling gampang apa sih? Jalan misalnya,"

Aktivitas fisik tersebut bisa dilakukan dengan durasi yang tidak terlalu lama, yakni 20 menit. Dengan berolahraga, pastikan juga Anda melakukan istirahat lebih sering dan selalu kontrol efek pengobatan kanker dibantu oleh dokter Anda.

Untuk pasien radiasi, dosis olahraga boleh dikurangi dan pada kasus tertentu latihan juga bisa ditunda. "Misalnya jika terlalu kelelahan," ujar dokter yang aktif menjadi pembicara tersebut. Olahraga pun semampunya, tidak usah melakukan olahraga yang menghasilkan banyak keringat.

Perlu dicatat, olahraga sebaiknya dikurangi apabila pasien mengalami sejumlah kriteria seperti misalnya anemia. Anemia terjadi ketika tubuh kekurangan sel darah merah. Padahal sel darah merah penting untuk mengangkut oksigen yang diperlukan saat olahraga.

Neutropenia disertai demam lebih dari 38 derajat juga menjadi alasan untuk mengurangi aktivitas fisik. Seain itu, jika trombosit rendah sebaiknya juga hindari olahraga kontak atau risiko tinggi cidera.

"Kalau untuk survivor? Rekomendasinya sama dengan orang normal lho, syaratnya dengan bertahap. Kuncinya di apa? Latihan, rutin," tambah dokter yang dikenal modis ini.

Frekuensi latihan minimal 3-5x per minggu dengan intensitas sedang, durasinya cukup 30-60 menit perhari.

Malahan, beberapa penelitian malah dianjurkan aktif bergerak, tapi tentunya ada hal yang harus diperhatikan sesuai kondisi tubuh kita masing-masing. Dengan berolahraga, tak hanya membuat tubuh merasa lebih bugar. Namun bisa juga menjadi upaya pencegahan atau menurunkan risiko berbagai jenis kanker seperti kanker kolon, paru dan lainnya.

Alternatif olahraga yang ditawarkan antara lain jalan, bersepeda, atau aerobik, yoga, pilates hingga Thai Chi. "Sit up tidak dianjurkan karena berdampak pada tulang belakang," tambahnya.

Jangan lupa sertai peregangan sebelum dan sesudah melakukan olahraga. Lakukan selama 10-30 detik dengan frekuensi 3-4 kali.
09.41 | 0 komentar | Read More

CCARA KEMOTERAPI MENGHADAPI SEL-SEL KANKER

Written By iqbal_editing on Selasa, 13 Juni 2017 | 18.45

Salah satu terapi pengobatan yang diberikan untuk pasien kanker adalah kemoterapi. Seperti apa ya cara kerja kemoterapi hancurkan sel kanker?

Menurut DR dr Nugroho Prayogo, SpPD-KHOM dari RS Kanker Dharmais, kemoterapi adalah salah satu dari terapi sistemik yang standar diberikan pada pasien dengan kanker.

"Mekanisme kerja kemoterapi itu sendiri adalah dengan menghancurkan sel dan merusak DNA-nya," ujar dr Nugroho dalam temu media Kalbe di Jakarta Selatan, Selasa (13/6/2017).


Target pada kemoterapi yakni DNA pada sel yang membelah dengan cepat. Sel kanker apabila sudah masuk dalam golongan berat mampu menyebar dalam pembuluh darah, dapat tumbuh lagi (kambuh) serta dapat tumbuh di organ lain alias metastasis.

dr Nugroho juga menjelaskan bahwa secara definisi kemoterapi adalah terapi dengan memasukkan senyawa kimia tertentu yang memiliki dua sifat: sitotoksik (toksik terhadap sel) dan antineoplasma (menghentikan pembentukan sel baru).

Kemoterapi menyerang ke dalam inti sel dan merusak DNA, akibatnya sel tersebut tidak mampu membelah dan akhirnya akan mati. Berbeda dengan terapi hormon dan anti-HER2 yang memiliki target selektif yakni reseptor, obat kemoterapi tidak memiliki reseptor khusus.

Yang menjadi target dari kemoterapi adalah sel kanker dan sel normal yang juga membelah dengan cepat. Termasuk di antaranya sel rambut, sel saluran pencernaan, bakal sel darah dan lain-lain. Inilah yang menyebabkan kemoterapi seringkali menimbulkan 'efek samping' seperti kebotakan.
18.45 | 0 komentar | Read More

kisah penderita kanker naik gunung everest

Written By iqbal_editing on Minggu, 11 Juni 2017 | 01.38

Ian Jadi Pasien Kanker Pertama yang Capai Everest

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Minggu, 11/06/2017 14:53 WIB
Ian Jadi Pasien Kanker Pertama yang Capai EverestIan Toothill, survivor kanker usus (Foto: twitter)
Jakarta, Dua tahun lalu, tepatnya pada bulan Juni 2015, Ian Toothill harus berjibaku dengan kanker usus yang menggerogoti tubuhnya. Ia bahkan sudah diberitahu bahwa umurnya tinggal empat bulan lagi.

Namun Ian membuktikan dirinya masih bertahan hingga saat ini dengan menjalani pengobatan yang diarahkan dokter secara intensif. Setahun kemudian ia pun dinyatakan terbebas dari kanker.

Tetapi siapa sangka kanker itu kembali lagi. Hanya saja jiwa Ian adalah jiwa petualang. Meski didiagnosis dengan kanker, ia justru memutuskan untuk mendaki Gunung Everest. "Ini adalah impian saya sejak kecil," katanya.

Untuk urusan naik gunung, Ian bukanlah pemula. Sebelumnya ia pernah mendaki Pegunungan Himalaya dan menjelajah Islandia seorang diri.

Pria berusia 47 tahun itu juga tak peduli meski 1.700-an perusahaan asuransi menolak untuk memberinya dukungan ketika ia mengaku ingin menaiki Gunung Everest.

Namun Ian tetap nekat. Pendakian dilakukan pada bulan Mei tahun lalu. Dan pria yang kini tinggal di London itu akhirnya berhasil mencapai puncak Everest pada tanggal 5 Juni silam.

Sebagai tanda bahwa ia telah sampai di sana, Ian pun menancapkan bendera tim sepakbola kesayangannya, Sheffield United ke tanah.

Ada kisah menarik di balik perjalanannya ke Everest. Di tengah perjalanan, usahanya nyaris 'diruntuhkan' oleh badai. "Tenda saya hancur dan saya hampir kehilangan segalanya. Jadi kami harus turun dan meminjam perlengkapan baru," kisahnya.

Dengan tekad sekeras baja, Ian naik lagi dan benar-benar memenuhi keinginannya. Lewat keberhasilannya ini, Ian meyakini dirinya sebagai pasien kanker pertama yang sampai di puncak Everest.

"Sesampainya di sana, saya menghabiskan waktu 2-3 menit sendiri, untuk merenungkan tentang banyak hal. Salah satunya tentang ibu saya yang baru meninggal tiga tahun lalu," ujarnya.

Kanker usus tak padamkan semangatnyaKanker usus tak padamkan semangatnya (Foto: twitter)



Dengan pendakian ini, Ian berhasil menggalang dana sebesar 220.000 poundsterling (Rp 3,6 miliar) untuk MacMillan Cancer Support di Inggris.

"Saya juga ingin menginspirasi siapapun yang hidup bersama kanker agar punya keberanian untuk emlakukan apa yang mereka selalu idam-idamkan," tuturnya seperti dilaporkan BBC.
01.38 | 0 komentar | Read More

hubungan keputihan dan kanker serviks

Written By iqbal_editing on Minggu, 14 Mei 2017 | 08.07

Keputihan lumrah dialami wanita. Tapi bagi Elly Mawati (50), selama dua bulan ia mengalami keputihan berkepanjangan, meski tidak berbau. Hingga di bulan Mei 2016, Elly didiagnosis kanker serviks stadium 1B.

"Jadi keputihannya kayak pipis gitu. Kayak pas haid, deras, kan terasa ser-ser gitu ya. Nah ini kayak gitu, cuma cairannya bening dan nggak berbau. Sampai saya pakai pembalut," kata Elly ditemui di Seminar Awam Kanker Serviks yang diselenggarakan CISC dan FISIP UI di kampus FISIP UI, Depok, Jumat (12/5/2017).

Diberi obat antijamur pun keputihan Elly yang dia alami selama dua bulan berturut-turut tak membaik. Terkahir, ada pendarahan yang dialami Elly. Tapi diduga, perdarahan disebabkan Elly mengalami pre menopause. Setelah didiagnosis kanker serviks, Elly menjalani bedah histerektomi.


Tiga hari setelah dioperasi, Elly meminta dokter untuk kembali menjalani terapi kemoterapi oral untuk mengobati kanker usus besar yang dialaminya di bulan Agustus 2015. Karena didiagnosis kanker kolon, Elly juga menjalani bedah pemotongan usus sepanjang 20 cm.

"Waktu itu gejala saya nggak ada BAB berdarah atau apa, cuma berasa benjolan aja di ulu hati. Nanti Agustus 2017 baru selesai kemo oral untuk kanker kolonnya. Kalau untuk kanker serviksnya, udah nggak ada terapi lagi. Cuma kontrol rutin aja," kata ibu tiga anak ini.

Hanya saja, pasca histerektomi, Elly mengalami masalah dengan proses buang air kecilnya. Dikatakan Elly, ia tidak memiliki rasa ingin buang air kecil. Tapi, kini setelah beberapa kali sesi terapi ia mulai merasa membaik. Tiap 2 jam sekalipun Elly pergi ke toilet.

"Untuk ngadepin ini, saya yakin dengan semangat dan keyakinan kita bisa sembuh dan ini nggak terulang lagi. Awalnya memang sempat drop. Tapi dukungan dari keluarga, teman-teman di CISC bikin saya kuat juga. Pesan saya, terutama untuk wanita yang sudah aktif secara seksual baiknya lakukan IVA atau pap smear dan jangan lupa vaksinasi," pungkas wanita yang tinggal di Jakarta Timur ini.
08.07 | 0 komentar | Read More

KISAH PENDERITA TUMOR YANG BUTUH BANTUAN

Written By iqbal_editing on Senin, 08 Mei 2017 | 10.19

Iqbal/detikHealth)
Cilegon, Sejak 3 tahun lalu, Fathurohmat (43) alias Kiyik berjuang melawan penyakit yang dideritanya. Kiyik awalnya tak tahu benjolan yang kian hari semakin membesar adalah tumor ganas.

Awalnya, Kiyik hanya merasakan sakit di bagian gusi dan lidah yang terbelah. Akibatnya, air liur selalu keluar dari mulutnya. Ia mengira gusi bengkak dan lidah terbelah itu hanya penyakit biasa. Namun, seiring berjalannya waktu, Kiyik merasa ada yang berbeda dari penyakitnya.

"Awalnya lidah terbelah, lari ke gusi, gusinya bengkak terus timbul benjolan di gusi sebelah kanan bagian luar," tulisnya dalam secarik kertas lantaran tak kuat menahan sakit saat berusaha membuka mulut.

Pria yang bekerja sebagai office boy di kantor kecamatan Pulo Merak itu hanya bisa terbaring lemah di atas kasur. Jika sakitnya kambuh, yang ia rasakan ialah kepala pusing dan darah mengucur dari mulutnya. Tumor Ganas yang tumbuh di pipi sebelah kanannya itu terus meneteskan cairan putih.

"Kalau darah keluar jadinya lemes, kalau nggak keluar larinya ke kepala pusing, berat," tutur Ibunda Kiyik, Sukriyah saat ditemui di kediamannya.

Kiyik yang tinggal bersama sang Ibu dan istrinya di Lingkungan Babakanseri, Kelurahan Tamansari Kecamatan Pulomerak itu hanya bisa makan makanan yang memiliki tekstur lembut, paling tidak, setiap hari ia hanya mampu memakan bubur.

Sang istri, Sri Nurani (33) menuturkan, gejala awal tumor ganas yang menyerang suaminya saat itu melebihi sakit gigi. Awalnya Sri menduga hanya sakit gigi biasa. Ia kemudian bersama suaminya mendatangi setiap klinik kesehatan dan puskesmas untuk mencabut gigi sang suami.

"Beberapa kali bolak balik ke Puskesmas nggak berani, dokter yang di sini nggak berani nyabut giginya karena rahangnya itu sudah keropos. Karena udah sakit banget, abis itu dicabut sendiri," papar Sri Nurani.

Akibat dari dicabut giginya itu, perlahan benjolan itu tumbuh disertai sakit yang tak tertahankan. Sri menambahkan, sebelum akhirnya Kiyik hanya bisa terbaring di kasur, ia adalah seorang suami yang giat bekerja. Saat benjolan itu masih kecil, ia masih bolak-balik Serang-Cilegon untuk mengantarkan surat.

"Kan dia suka naik motor ke mana-mana, jadi kalau udah kambuh itu, kepala belakangnya itu pusing banget, kalau nggak pusing mulutnya yang berdarah. Dari situ saya bilang ke dia 'udah nggak usah kerja lagi'," kisahnya.

Baca juga: Wanita Ini Mengalami Perubahan Perilaku yang Tak Biasa Akibat Tumor Otak

Foto: Muhammad Iqbal


Semenjak itu lah ia tak lagi bekerja, karena sakitnya tak kunjung sembuh, keluarga mengajaknya untuk berobat ke RS Benggala, Serang. Ia sempat dirawat selama 5 hari, dokter kemudian memeriksa apa yang dideritanya, daging tumbuhnya itu kemudian diambil sebagai sample untuk diperiksa di laboratoium.

"Sempat dioperasi cuma diambil dagingnya doang, kata dokternya di rumah sakit itu nggak ada alatnya sama nggak ada dokternya, jadi dagingnya itu dibawa ke Bandung untuk diperiksa," paparnya.

Keluarga Kiyik diminta menunggu 10 hari untuk mengetahui hasil uji laboratorium. Hasilnya Kiyik menderita apa yang disebut sebagai tumor ganas. Pihak RS Benggala merekomendasikan Kiyik untuk dibawa ke RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta untuk mendapat penanganan lebih lanjut.

"Kata dokter itu harus dioperasi, gadingnya diambil terus tenggorokannya dibolongin terus ditaruh selang biar bisa makan," ujar Sri.

Sri dan keluarganya tak mau jika tenggorokan suaminya itu harus dilubangi. Ia rela jika operasi pengangkatan tumor itu dilakukan, namun jika tenggorokannya dilubangi, ia justru menolak.

Selain tak ada biaya untuk membawa sang suami ke RSCM, Sri mengungkapkan keluarga tak berani jika harus dibedah dengan cara seperti itu. Sri menambahkan pihak kelurahan dan kecamatan sudah mau mengurus kartu BPJS untuk pengobatan ke RSCM.

"Dari pihak kelurahan sudah datang dan mau mengurusi segala sesuatunya buat ke RSCM, mau ngurusi BPJS dan sebagainya," paparnya.

"Kalau biaya buat bolak-balik nganter ke Jakarta sama jagain dia di sana ada. Tapi kalau buat operasi kita angkat tangan. Itu juga biaya dari orang-orang yang ngebantu," tutupnya.
10.19 | 0 komentar | Read More

Kena Tumor Otak Karena Ponsel, Pria Ini Dapat Kompensasi dari Perusahaan

Written By iqbal_editing on Senin, 24 April 2017 | 19.27

, Ketika seorang pegawai mengalami kecelakaan saat bekerja, maka perusahaan akan menanggung biaya pengobatannya. Tetapi ada yang berbeda dengan kisah pria asal Italia ini.

Berawal dari keputusan perusahaan untuk memberi pria bernama Roberto Romeo dengan sebuah ponsel, yang digunakannya setiap tiga jam perhari selama 15 tahun berkarir di perusahaan tersebut. Kebetulan perusahaan di mana Roberto bekerja merupakan sebuah perusahaan raksasa di bidang telekomunikasi di Italia.

Tak dinyana, dari waktu ke waktu, Roberto melapor bahwa di otaknya tumbuh tumor dan ia kehilangan pendengaran di telinga kanannya.

Pria berumur 57 tahun itu kemudian mengajukan tuntutan hukum atas kemalangan yang dialaminya. Baru-baru ini pengadilan kota Ivrea, Italia memutuskan memenangkan tuntutan Roberto dan memerintahkan perusahaan Roberto untuk membayar 7.000 euro pertahun (atau setara dengan Rp 101 juta) kepadanya sebagai bentuk kompensasi.

"Ternyata aturannya hanya boleh dipergunakan selama satu jam tiap harinya dan saya jauh melebihi batasan itu," kata Roberto kepada media setempat, Sky TG24, dikutip dari Daily Mail.

Baca juga: Gemar Kantongi Ponsel di Bra, Wendy Kini Kena Kanker Payudara

Namun Roberto menegaskan, ia tidak sedang berupaya melarang orang lain untuk menggunakan ponsel ataupun melayangkan tuntutan kepada perusahaannya, di mana ia masih bekerja hingga kini.

Dengan tuntutannya itu, ia berharap lembaga yang mengatur keamanan sosial di negaranya ikut memikirkan dan mempertimbangkan keamanan kerja di Italia, terutama bagi mereka yang harus menghabiskan banyak waktu dengan ponselnya.

"Saya percaya, kita harus lebih aware dengan bagaimana cara kita menggunakannya," tutur Roberto dalam pernyataannya seperti dilaporkan The Guardian.

Roberto menambahkan tumornya terdeteksi di tahun 2010. Untungnya, dokter mengatakan jika tumor itu bersifat jinak walaupun pria ini harus kehilangan sebagian pendengarannya.

Seorang saksi yang juga ahli kesehatan memperkirakan penggunaan ponsel tersebut telah mengakibatkan kerusakan fungsi tubuh Roberto sebanyak 23 persen.

Putusan ini diyakini yang pertama di dunia mengakui adanya keterkaitan antara penggunaan telepon seluler secara berlebihan dengan kemunculan tumor otak jinak.

Kabar tentang Roberto sendiri juga menarik perhatian dunia dan ditulis di berbagai media terkemuka seperti ABC News, BBC, Daily Mail, Mirror, The Sunday Times dan beragam media di bidang telekomunikasi semisal Tech Times dan Pulse Headlines.

Sayangnya sejauh ini belum ada penelitian yang bisa memberikan bukti kuat bahwa penggunaan ponsel dapat meningkatkan risiko tumor otak. Sejauh ini, hanya ada beberapa penelitian saja yang mengungkapkan keterkaitannya. Seperti halnya yang dikutip pengacara Roberto, yaitu dari hasil studi National Toxicology Program, AS di tahun 2016.

Studi ini menemukan adanya tumor pada otak dan jantung tikus pejantan diakibatkan oleh radiasi selama 9 jam/hari selama dua tahun. Namun peneliti pun mengungkapkan tingkat insidensinya masih tergolong rendah
19.27 | 0 komentar | Read More

kisah penderita kanker

Written By iqbal_editing on Rabu, 12 April 2017 | 22.46

Menghadapi masalah seperti didiagnosis kanker bisa membuat seseorang merasa terpuruk. Tapi bagi Lady Elisabeth Sebel, dukungan teman dan keluarganya membuat dia semangat meski didiagnosis leukemia.

Lady (15) didiagnosis leukemia saat berusia 12 tahun. Gadis asal Manado ini menjalani perawatan selama dua tahun di RS Kanker Dharmais Jakarta. Awalnya ia tidak mengerti apa yang dimaksud dengan leukemia.

Lantas, Lady baru mengetahui penyakitnya setelah ia pulang dan kembali ke sekolahnya. Ia mengatakan bahwa teman-teman di sekolahnya lah yang perhatian memberi tahunya.

"Awalnya aku nggak ngerti dan nggak tahu. Lalu teman-teman ngasih tahu aku tentang kanker baru aku tahu semua," ucap gadis yang lahir tahun 2001 ini.

Ia menceritakan bahwa teman-teman di sekolahnya sangat memberikan dukungan untuk kesembuhannya. Hal itu ditunjukan dengan informasi yang banyak diketahui teman-temannya mengenai kanker kemudian dibagikan kepada Lady.

Baca juga: Kisah Pengidap Leukemia yang Di-bully karena Penyakitnya

"Teman-teman aku sangat mendukung. Katanya aku juga nggak boleh capek dan olahraga, kalau aku mau olahraga atau aku kelelahan mereka bilang 'duduk saja'," sambung Lady dengan logat khas Manado.

Lady menjelaskan, dukungan yang juga memengaruhi kesembuhannya adalah dukungan dari keluarga khususnya dari sang ibu. Sebab bersama ibunyalah ia berjuang menjalani pengobatan hingga ke Jakarta.

"Kata mama kalau mau sembuh ya dikemoterapi. Jadi aku mau sembuh," imbuh Lady.

"Selain itu aku juga memiliki motivasi aku harus sembuh karena aku harus mengejar cita-cita menjadi perawat. Aku mau menolong banyak orang dan juga memberi support untuk pasien kanker yang lain," ucap Lady.
22.46 | 0 komentar | Read More

SEMANGAT PASIEN CML naik gunung

Written By iqbal_editing on Senin, 10 April 2017 | 19.50

Dulunya, Choirrun Umma Azizah (23) hobi melakukan kegiatan outdoor misalnya wall climbing dan mendaki gunung. Di bulan Mei 2014, Umma didiagnosis Chronic Myeloid Leukemia (CML). Namun, penyakitnya itu tak menghalangi Umma untuk mencapai keinginannya kembali naik gunung.

Umma mengatakan, dia memang sudah hobi mendaki gunung sejak SMA. Di usia 19 tahun, baru Umma menekuni hobinya itu. Bahkan, di tanggal 25 Maret 2014, Umma sempat mendaki Gunung Gede atau kurang lebih 2 bulan sebelum Umma didiagnosis CML.

"Waktu itu gejala yang terasa awalnya saya kok demam pas lagi pendakian. Saya nggak kuat, turun, sampai di pos 2 kayaknya. Pas turun, dari situ sering demam selama 2 bulan, terus berat badan juga turun. Jadi, gejala CML sudah saya rasa sebelum mendaki," kata Umma saat berbincang dengan detikHealth.

Karena diagnosis CML tersebut, Umma pun mengurungkan niatnya ikut pendakian ke tiga gunung yakni Slamet, Sindoro, dan Sumbing. Sebab, saat itu dokter tidak membolehkan Umma mengikuti kegiatan outdoor apapun, termasuk rock climbing yang biasa ia lakukan.


Dikatakan Umma, saat itu dokter tidak menyarankan Umma melakukan kegiatan outdoor karena risiko yang bisa terjadi serta efek samping obat yang dikonsumsi Umma bisa membakar kulit. Kini, Umma sudah berganti obat yang dia konsumsi dua kali sehari dengan jeda 12 jam. Walau memang, kini efek samping obat masih terasa seperti kulit kering dan timbul bintik-bintik.

"Di Januari 2016 saya mulai boleh ikut wall climbing di kampus. Terus tanggal 25-26 Maret ke Curug Cilember. Nah, Mei ini rencana mau daki ke Papandayan tapi sebelumnya saya sudah konsul ke dokter. Kata dokter boleh tapi harus tahu diri, kalau capek jangan dipaksain," kata mahasiswi Universitas Tirtayasa jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia ini.

Persiapan mendaki ke Papandayan yang dilakukan Umma antara lain joging tiap pagi dan sore, kemudian latihan mengatur napas, mengatur pola makan dan rutin cek darah. Umma mengaku ingin bisa mencapai keinginannya mendaki gunung sampai puncak. Lalu, apa yang membuat Umma optimistis dirinya bisa mendaki gunung lagi bahkan sampi puncak meski memiliki CML?

"Dari kecil almarhum om meninggal yang meninggal karena kanker otak, beliau pecinta alam dan jadi tim rescue. Om saya ngajarin saya cara wall climbing. Di situ saya ngerasa kok senang banget, gagah banget bisa bawa carrier gitu. Ndiriin camp juga seru banget. Pokoknya CML nggak menghalangi saya untuk bisa mendaki lagi apalagi udah hampir 3 tahun ini saya udah nggak naik gunung," pungkas Umma yang sudah pernah mendaki ke gunung Gede Pangrango juga Merapi ini.
19.50 | 0 komentar | Read More

studi kanker dan peluang kehamilan

Written By iqbal_editing on Selasa, 28 Maret 2017 | 07.21

Terserang kanker di usia muda memang berat, namun banyak di antaranya yang masih memiliki harapan untuk sembuh dan hidup lebih lama. Mereka lantas dihadapkan pada masalah lain.

Penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal JAMA Oncology menyebut, wanita penyintas kanker yang dialami di usia 15-39 tahun berisiko tinggi untuk mengalami komplikasi saat mengandung maupun melahirkan.

Fakta ini diperoleh dari pengamatan peneliti dari University of North Carolina terhadap 2.598 wanita yang mengidap kanker saat remaja lalu melahirkan, atau mereka yang terdiagnosis kanker saat sedang berbadan dua.

Komplikasi yang banyak ditemui peneliti adalah kelahiran prematur dan berat lahir bayi yang rendah. Risiko penyintas kanker untuk mengalami keduanya lebih tinggi ketimbang wanita yang belum pernah menjalani pengobatan kanker.

Jenis komplikasi yang dialami dengan jenis pengobatan yang dijalani juga ditemukan berkaitan. Misalnya pada partisipan yang menjalani kemoterapi tanpa radiasi, maka risiko komplikasi yang banyak ditemukan adalah kelahiran prematur. Pun dengan mereka yang melahirkan secara caesar.

Sedangkan wanita yang menjalani kemoterapi karena limfoma non-Hodgkin dan kanker payudara berpeluang lebih besar untuk melahirkan secara prematur atau memiliki bayi dengan berat lahir rendah.

Kesemua risiko ini berlaku baik bagi mereka yang didiagnosis kanker saat sedang hamil maupun yang telah berhasil sembuh dari kanker bertahun-tahun kemudian, meski yang didiagnosis kanker saat hamil tetap dianggap memiliki risiko tertinggi.

Namun yang menjadi perhatian peneliti adalah banyaknya pasien kanker wanita yang tidak menyadari jika pengobatan kankernya akan mempengaruhi peluang kehamilannya kelak.

"Banyak yang terkejut, jadi menurut kami, yang terpenting sekarang adalah memberikan wawasan kepada pasien tentang kemungkinan ini," kata salah satu peneliti, Dr Ellie Ragsdale dari University Hospitals Cleveland Medical Center seperti dilaporkan ABC News.

Di antaranya memberikan edukasi sebelum pengobatan diberikan dan mendiskusikan upaya untuk memunculkan peluang kehamilan di masa depan atau ketika kankernya berhasil disembuhkan.

Baca juga: Derajat Keparahan Endometriosis Pengaruhi Cara Pasutri 'Mendapat' Momongan

dr Muhammad Nurhadi Rahman, SpOG dari RSUP Dr Sardjito Yogyakarta mengamini jika radioterapi dan kemoterapi dikatakan dapat menyebabkan kerusakan sel telur. Namun seiring dengan perkembangan teknologi, ada tindakan yang bisa dilakukan untuk 'menyelamatkan' organ reproduksi mereka.

"Ada namanya 'fertility preservation'. Ada beberapa yang menggunakan obat-obatan untuk menyelamatkan indung telur, ada yang menggunakan operasi untuk memindahkan indung telur supaya tidak terkena saat dilakukan radiasi," ungkapnya kepada detikHealth beberapa waktu lalu.

Namun pria yang akrab disapa dr Adi tersebut mengatakan, ada beberapa pemeriksaan laboratorium yang perlu dilakukan sebelum maupun sesudah kemoterapi dan radioterapi, untuk memastikan kondisi ovarium atau indung telur tetap baik.

"Dan yang terpenting pastikan dulu stadium kankernya memang masih memungkinkan untuk dipertahankan tidak indung telur dan rahimnya. Kalau kankernya sudah stadium lanjut, rahim mungkin sudah tidak bisa dipertahankan, tapi indung telurnya mungkin masih bisa," lanjutnya.
07.21 | 0 komentar | Read More

studi huengbungan olahrga teratur dan menghindari kanker

Written By iqbal_editing on Selasa, 21 Maret 2017 | 04.45

Sudah bukan rahasia lagi jika salah satu kunci agar terhindar dari penyakit seberat kanker adalah olahraga teratur. Tetapi kini ditemukan alasan lain mengapa olahraga bisa memiliki manfaat sebesar itu.

Peneliti dari University of California, Berkeley awalnya mengaku penasaran dengan alasan di balik penurunan risiko kanker karena berolahraga.

Mereka memfokuskan pengamatan pada onkogenesis atau proses yang dilalui sel-sel tubuh normal untuk kemudian menjadi sel-sel kanker. Dari studi ini kemudian ditemukan peranan laktat.

Laktat merupakan by-product atau produk sampingan dari tubuh yang dihasilkan dari pengolahan glukosa sebagai sumber energi saat berolahraga. Kemudian peneliti mendasarkan teorinya pada 'efek Warburg' di mana sel-sel kanker diketahui mengonsumsi lebih banyak glukosa dibanding sel-sel normal.

Artinya, ketika sel kanker muncul, tubuh akan menghasilkan lebih banyak laktat. Normalnya, laktat didaur ulang sebagai bahan bakar atau sumber energi tubuh, tetapi peneliti juga menemukan, ketika ada sel-sel kanker, proses daur ulang ini terhenti.

Karena tidak terolah, laktat tadi berubah menjadi bahan bakar bagi sel-sel kanker. Kedua, laktat membantu sel-sel kanker agar bisa menghindar dari 'skrining' sistem imun dan lolos dari pertahanan mereka.

Ketiga, laktat membantu menciptakan sebuah lingkungan yang bersifat asam di luar sel-sel kanker, sehingga memudahkan mereka menyebar ke bagian tubuh lain.


"Untuk itu, jika Anda ingin menghentikan laju pertumbuhan sel-sel kanker, jangan berhenti berolahraga karena ini sama artinya dengan berhenti mengolah laktat," simpul peneliti, Dr Inigo San Millan seperti dilaporkan Medical News Today.

Tak hanya jarang berolahraga, gaya hidup sedenter dikombinasikan dengan banyaknya konsumsi gula juga meningkatkan penumpukan laktat dalam tubuh, sehingga bisa memicu munculnya risiko kanker.

Kerusakan sistem daur ulang ini cenderung jarang terjadi pada atlet karena tubuh mereka terbiasa mengubah laktat menjadi bahan bakar penting bagi tubuh mereka.

Peneliti meyakini temuan ini dapat menginspirasi dunia medis agar meresepkan olahraga dan perubahan pola makan baru untuk pasien kanker.

"Alat diagnosis baru juga bisa dikembangkan untuk mengetahui apakah terjadi gangguan dalam proses daur ulang laktat di dalam tubuh atau tidak, untuk membantu dokter mengidentifikasi ada tidaknya sel kanker," tutupnya.
04.45 | 0 komentar | Read More

MITOS DAN FAKTA MENGENAI MAMOGRAFI

Written By iqbal_editing on Senin, 13 Maret 2017 | 07.57

ammografi dan rontgen dada biasa dilakukan untuk mendeteksi kanker. Di samping itu, informasi lain justru menyebutkan bahwa kedua pemeriksaan ini sebaiknya tak dilakukan karena bisa memicu kanker. Mana yang benar?

Menanggapi informasi ini, dokter spesialis kanker dari RS Mitra Keluarga Bekasi dr Wim Panggarbesi, SpB(K)Onk menegaskan bahwa hal ini sama sekali tidak benar.

"Tingkat radiasinya kan ringan, tidak benar itu. Kalaupun dilakukan rutin misalnya setahun sekali tidak masalah. Radiasi yang bisa merusak itu kan kalau terus-menerus dan setiap hari," tutur dr Wim kepada detikHealth.


Sebagai tambahan informasi, mammografi merupakan salah satu pemeriksaan yang bisa dilakukan untuk mendeteksi kanker payudara. Tes ini disebut-sebut dapat membantu mendeteksi lebih akurat. Ini karena mammografi bisa 'menangkap' tanda-tanda kanker payudara meski belum ada benjolan yang teraba.

Bagi mereka yang memiliki risiko tinggi kanker payudara, misalnya karena ada riwayat keluarga, dr Wim menganjurkan mammografi dilakukan rutin setidaknya satu kali dalam setahun. "Bagi yang tidak high risk, bisa dilakukan lima tahun sekali, terutama kalau sudah berusia 35 tahun ke atas dan sudah menikah," pesan dr Wim.

Senada dengan dr Wim, dokter spesialis paru RS Mitra Keluarga Bekasi, dr Anthony D. Tulak, SpP, FCCP juga menegaskan bahwa informasi rontgen dada memicu kanker juga tidak benar. Menurutnya, kadar radiasi pada tindakan rontgen sudah terukur dan tidak akan menimbulkan risiko kanker jika dilakukan.

"Salah itu, radiasi pemeriksaan foto thorax sudah terukur sehingga tidak akan menyebabkan penyakit walaupun dilakukan rutin sekali setahun. Ya, rontgen ini sebaiknya dilakukan sekali setahun pada mereka yang berisiko tinggi, salah satunya perokok. Kalau tidak, ya bisa dilakukan bergantung kebutuhan ya," pesan dr Anthony.
07.57 | 0 komentar | Read More

ctudi makan kedelai memperpanjang usia pasien kanker payudara

Written By iqbal_editing on Minggu, 12 Maret 2017 | 20.56

Kedelai seringkali disalahartikan sebagai pemicu kanker payudara karena kandungan isoflavonnya. Senyawa ini diklaim dapat merangsang pertumbuhan sel-sel kanker payudara, bahkan mengganggu proses pengobatan kanker.

Namun di sisi lain, ada pula riset yang mengatakan kedelai adalah makanan yang dianjurkan untuk dikonsumsi pasien kanker payudara. Lantas mana yang benar?

Adalah tim peneliti dari Tufts University yang kemudian membuktikan bahwa kedelai tidak membahayakan wanita dengan kanker payudara sama sekali.

Hal ini dibuktikan peneliti dari mengamati data dari 6.200 wanita yang terdiagnosis beberapa jenis kanker payudara (baik yang dipicu hormon estrogen ataupun tidak) dan pola makan mereka.

Peneliti juga mempertimbangkan jenis pengobatan kanker mereka untuk melihat apakah asupan kedelai mereka berpengaruh terhadap respons pengobatannya.

Hasilnya, wanita yang makan banyak kedelai (berkisar setengah hingga satu porsi kedelai dalam sepekan) berpeluang 21 persen lebih kecil untuk meninggal karena faktor apapun dalam kurun 9 tahun ketika studi berlangsung. Demikian seperti dilaporkan Time.

Baca juga: Olahraga Cara Terbaik Mencegah Kanker Payudara Kembali

Tingkat mortalitas atau kematian terendah memang tercatat pada wanita dengan kanker payudara yang tidak dipicu estrogen. Kendati begitu, pada pasien dengan kanker payudara yang dipicu estrogen juga tidak dilaporkan adanya peningkatan risiko kematian, walaupun risiko kematiannya juga tidak menurun.

"Untuk itu dengan studi ini kami belum bisa merekomendasikan kedelai sebagai asupan untuk mencegah kekambuhan, tetapi kami juga tidak menyarankan agar mereka menghindari kedelai sama sekali," kata ketua tim peneliti, Dr Fang Fang Zhang.

Zhang menjelaskan, kedelai seringkali dijadikan kambing hitam di balik kanker payudara karena isoflavonnya yang mirip estrogen. Namun sebenarnya estrogen dari kedelai ini memiliki kinerja yang lebih lemah daripada estrogen pemicu kanker pada umumnya.

"Sejumlah studi juga mengatakan estrogen dari kedelai ini mampu mendesak estrogen pemicu sel-sel kanker di payudara keluar dari tubuh," imbuh Zhang.

Baca juga: Apa Jadinya Kalau Orang Indonesia Tak Bisa Makan Kedelai?

Terlepas dari asupan ini, Dr Yoon Sim Yap dari National Cancer Centre Singapore mengingatkan bahwa telah terjadi peningkatan jumlah penyandang kanker payudara di Asia, utamanya pada pasien muda, yaitu dalam rentang usia 30-39 tahun.

"Bisa Anda lihat, jumlah pasien muda kita jauh lebih tinggi dibanding US," kata Dr Yap kepada detikHealth beberapa waktu lalu.

Padahal di data yang sama juga terlihat insidensi kanker payudara pada kelompok umur lain, yaitu 40-49, 50-59 dan 60-70 tahun tetap didominasi oleh AS atau negara-negara Barat. Namun dengan meningkatnya jumlah pasien kanker payudara muda, ini berarti faktor risiko utama dari kanker tak lagi menopause.

Bila menopause tidak lagi begitu relevan, maka risiko kanker payudaranya bisa jadi lebih besar, dan bisa dipicu oleh apapun juga. Dengan kata lain, siapapun bisa terserang kanker payudara, tak peduli apakah memiliki faktor genetik atau lebih banyak terpapar faktor lingkungan.
20.56 | 0 komentar | Read More
 
berita unik