Entri Populer

Welcome Guys

Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog

Tampilkan postingan dengan label jantung anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jantung anak. Tampilkan semua postingan

jenis-jenis aritimia 2

Written By iqbal_editing on Selasa, 23 Agustus 2016 | 18.42

RITME YANG BERASAL DARI VENTRIKEL
Ritme yang berasal dari ventrikel (aritmia ventrikel ) mempunyai karakter sebagai berikut :
1. Kompleks QRS yang lebar dan tidak biasa
2. Arah gelombang T berlawanan dengan kompleks QRS
3. Secara acak, kompleks QRS didahului dengan gelombang P, jika ada.


Premature Ventricular Contraction
Gambaran
Premature Ventrikular contraction (PVC) muncul karena adanya focus ectopik pada ventrikel yang muncul lebih awl dari irama dasarnya. Pada EKG terlihat kompleks QRS yang lebar, terdapat perubahan segmen ST sekunder, dan terdapat pause kompensasi penuh (full compensatory pause).




Berdasarkan frekuensi dan bentuknya, PVC dapat dibagi menjadi 1-3,6 :
1. Ventrikular bigeminy atau coupling, jika tiap satu QRS kompleks normal diikuti dengan satu kompleks PVC.
2. Ventrikular trigeminy , jika tiap dua kompleks QRS normal diikuti dengan satu komlpleks PVC.
3. Couplets , jika dua kompleks PVC muncul secara serangkai
4. Triplets , jika tiga kompleks PVC muncul secara serangkai. Tiga atau lebih berturut-turut muncul PVC, dapat disebut dengan ventrikular takikardi.

Penyebab
PVC dapat muncul pada anak sehat. Didapati 50 %– 70 % dari anak normal muncul PVC pada pemantauan 24 jam EKG ambulatory. Bebepara penyebab yang dapat menimbulkan PVC pada anak seperti miokarditis, miokardia infark, kardiomiopati, MVP, post operatif, obat-obatan seperti digitalis, teofilin, kafein.

Penatalaksanaan
Pada anak dengan jantung yang normal, jika muncul PVC baik itu bigeminy atau PVC jenis yang lain, namun tidak menunjukkan gejala yang serius dan dari hasil pemeriksaan lainnya seperti echokardiography, exercise sress tests hasilnya normal, maka tidak diperlukan pengobatan khusus.
Namun pada anak yang mengalami PVC dan memberikan gejala, maka pengobatan sudah harus dilakukan 1.
a. β-bloker sepert atenolol, 1-2 mg/kgbb oral, single dose memberikan hasil yang baik jika penyebabnya adalah kardiomiopati.
b. Antiaritmia, seperti fenitoin dapat diberikan. Namun antiaritmia yang dapat memperpanjang QT interval seperti prokainamide, kuinidine, amiodaron harus dihindari.
c. PVC yang sering, dapat diberikan dengan suntikan intravaskular lidokain, 1 mg / kgbb/ kali beri diikuti dengan pemberian drip lidokain 20 – 50 µg/kgbb/ menit.



Ventrikular Takikardi
Gambaran
Ventrikular Takikardi (VT) merupakan bentuk PVC triplets atau lebih, dengan denyut jantung antara 120- 200 kali / menit. Kompleks QRS yang melebar, durasi QRS yang memanjang ( > 0,12 detik ), gelombang P yang tidak terlihat.



Penyebab
Ventrikular takikardi dapat muncul pada pasien-pasien dengan gangguan penyakit jantung bawaan (seperti TOF, AS), miokarditis, hipertensi pulmonal, hipoksia, asidosis, gangguan elektrolit, tumor jantung, pada pasien-pasien postoperative CHD, obat-obatan seperti digitalis 1,2,13.

Penatalaksanaan.
Pada pasien-pasien dengan VT harus dilakukan pengobatan segera dengan syncronized-DC cardioversion (0,5 – 1 joule /kg) jika pasien tidak sadar penuh ataupun pada pasien-pasien yang mengalami gangguan kardiovaskular yang tampak dari rendahnya cardiac output. Terapi farmakologis berupa pemberian intra vena amiodaron ( 5 mg/kg ) selama 20-60 menit 1,2,8 .


Ventrikular fibrilasi
Gambaran
Ventrikular fibrilasi (VF) jarang terjadi pada anak. Ini ditandai gambaran kompleks QRS yang dengan variasi dan konfigurasi yang aneh. Denyut yang cepat dan tidak teratur.





Penyebab
Ventrikular fibrilasi dapat disebabkan oleh gangguan elektrolit, obat-obatan anti aritmia, peningkatan aktivitas simpatik, hipoksia, riwayat operasi kelainan jantung.

Penatalaksanaan 1,2,8 :
Penatalaksaan dari VF harus segera dilakukan. Jika pasien terlalu lama dalam kondisi fibrilasi maka akan sulit untuk mengembalikannya ke irama sinus.
Pada keadaan akut,
a. Segera lakukan tindakan resusitasi kardio pulmonal, nilai ABC (airway, breathing, circulation ), penatalaksanaan jalan nafas dengan oksigen 100 % dan monitoring irama jantung sangat penting.
b. Jika dibutuhkan, dapat dilakukan defibrilasi dimulai dengan 2 joule/kgbb, 4 joule/ kgbb, dan 6 joule /kgbb.
c. Pemberian epineprin secara intarvena maupun intraoseus dimulai 0,01 mg/kgbb ( larutan 1 : 10.000, dosis 0,1mL/kg).
d. Segera cari dan atasi penyebabnya, seperti asidosis, hipoksia.
e. Antiaritmia yang dapat digunakan:
• Amiodaron bolus, 5 mg/kgbb  IV, IO
• Lidokain 1 mg/kgbb  IV,IO,IE (endotrakea).
• Magnesium sulfat, 25 – 50 mg/kg dapat diberikan pada keadaan torsades de pointes atau keadaan hipomagnesia.


Long QT Syndroma
Gambaran
Long QT syndroma (LQTS) adalah suatu bentuk gangguan repolarisasi miokard yang ditandai dengan interval QT yang memanjang. QT interval yang terbaik dinilai pada lead II. Untuk mengukur interval QT dapat digunakan formula Bazzet (QTc = Qt /MRR). Nilai QTc antara 420-460 ms adalah nilai borderline, jika lebih dari 460 ms dapat dikatakan LQT 1-3,5,7,10-12,15.
Angka kejadian dari LQTS ini diperkirakan 1: 10.000 sampai 1 : 15.000 dan mengakibatkan 3000 sampai 4000 kematian mendadak pada anak yang terjadi di Amerika. LQTS umumnya terjadi pada anak usia 9 – 15 tahun, dengan episode sinkop yang berulang 2.
Pasien-pasien dengan LQTS akan mengeluhkan sinkope, kejang, palpitasi yang berhubungan dengan aktivitas, faktor emosi bahkan dengan suara yang besar. Manifestasi awal mungkin dapat menyebabkan henti jantung 2.

Penyebab
LQTS dapat dikelompokkan menjadi primer (kongenital ) maupun sekunder (didapat) 1,2,7,10-12,15. Primer LQTS termasuk didalamnya akibat adanya mutasi gen yang mengakibatkan gangguan fungsi dari ion channel. Berdasarkan latar belakang genetik, didapati 2 tipe dari Jervell- Lange- Nielsen syndroma dan 6 tipe dari Romano-Ward syndroma yang dapat diidentifikasi yang berhubungan dengan LQTS. Angka kejadian dari LQTS ini diperkirakan 1: 10.000 sampai 1 : 15.000 dan mengakibatkan 3000 sampai 4000 kematian mendadak pada anak yang terjadi di Amerika. LQTS umumnya terjadi pada anak usia 9 – 15 tahun, dengan episode sinkop yang berulang.
Sedangkan penyebab sekunder yang dapat menimbulkan LQTS adalah pemakaian obat-obatan,kelainan elektrolit seperti hipokalemia, hipokalsemia, hipomagnesia.




Penatalaksanaan LQTS termasuk didalamnya penangan akut aritmia, menghentikan obat-obatan yang dapat menimbulkan LQTS, koreksi metaboli abnormalities. Langkah selanjutnya ditujukan untuk mengurangi aktivitas jantung. β-bloker dapat merupakan terapi pilihan. Efek protektif dari β-bloker dapat mengurangi kejadian sinkope maupun suddent cardiac death. Suatu kesepakatan, pasien dengan gejala LQTS sebaiknya diberikan pengobatan dengan propanolol atau β-bloker lainnya. β-bloker yang paling banyak digunakan adalah propanolol (2-4 mg/kgbb/hari, maksimal 60mg/hari). Propanolol efektif dalam mencegah gejala pada tahun pertama pengobatan. Namun pemberian β-bloker juga harus hati-hati karena dapat menimbulkan bradikardi, bahkan bisa menimbulhan sudden death. Pada pasien-pasien dengan adanya kontra indikasi diberikan β-bloker, pemasangan ICD dapat dipertimbangkan.



Selain aritmia yang diakibatkan oleh gangguan pembentulan impuls, disini akan disinggung sedikit mengenai aritmia yang diakibatkan adanya gangguan pada penghantaran impuls.
1. Atrioventrikular blok derajat satu (AVB derajat 1) 1-3,5,7
Ditandai adanya jarak PR interval yang memanjang. Yang diakibatkan oleh adanya perpanjangan waktu penghantaran impuls dari atrium menuju ventrikel. Hal ini dapat muncul pada anak normal. Penyebab lain yang dapat menimbulkan AVB derajat satu ini antara lain demam rematik, penyakit-penyakit infeksi, ASD, Ebstens anomali.
Tidak ada pengobatan khusus untuk kasus ini.



2. Atrioventrikular blok derajat dua 1-3,5,7.
Dibagi menjadi dua
a. Mobitz tipe I : ditandai dengan adanya PR interval yang semakin memanjang, dan pada satu saat gelombang P menghilang.
Hal ini juga dapat muncul pada anak normal. Penyebab lai yang dapat menimbulkan hal ini antara lain cardiomiopati, operasi jantung, keracunan digitalis, miokarditis.
Pengobatannya ditujukan pada penyakit yang mendasarinya.


b. Mobitz II : ditandai dengan adanya hambatan impuls dari atrium yang intermiten, sehinga kadang kala impuls dari atrium tidak dapat disampaikan ke ventrikel



Pengobatan ditujukan pada penyakit yang mendasarinya. Pemasangan
Pacemaker dapat dilakukan bila sudah terdapat indikasinya.

3. Atrioventrikular derajat tiga (AVB derajat 3) 1-3,5,7 .
Terjadi bila hantaran impuls dari atrium sama sekali tidak dapat mencapai ventrikel. Pada gambaran EKG didapati jarak P-P regular, jarak QRS juga regular dengan denyut lebih lambat dari denyut P.





Hal ini dapat disebabkan kelainan kongenital, baik dengan maupun tanpa kelainan dar sturuktur jantung, kelainan pada ibunya seperti SLE,Sjőgren syndrome, demam rematik akut, adanya tumor pada sistem konduksi. Operasi jantung juga merupakan penyebab umum yang menimbulkan blok komplit. Penatalaksanaan awal dapat diberikan atropin aau isoproterenol pada keadaan yang bergejala sampai menunggu pemasangan pacemaker. Pacemaker diindikasikan pada pasien dengan gangguan blok jantung kongenital,jika :
a) Pasien bergejala , pusing, berkunang-kunang, mengarah ke CHF.
b) Pada bayi bila denyut ventrikel kurang dari 50 -55 x/ menit.

Pada pasien yang asymptomatik congenital heart block tidak memerlukan terapi.



KESIMPULAN

Penilaian EKG pada anak sama pentingnya dengan penilaian klinis. Pada keadaan akut, penilaian yang cepat dan tepat diperlukan untuk mengambil langkah berikutnya dengan tepat pula. Penegakkan diagnosa aritmia menjadi suatu tantangan karena banyak gejala yang tidak spesifik yang ditimbulkan oleh aritmia ini. Namun, walau dengan gejala yang sering tidak khas ini, seharusnya diagnosa dapat ditegakkan dan penanganan yang tepat dapat segera dilakukan.
18.42 | 0 komentar | Read More

jenis-jenis atrimia 1

Dalam membicarakan aritmia, kita harus mengetahui asal ritme yang muncul sehingga kita dapat menilai aritmia itu berasal dari mana.

I. RITME YANG BERASAL DARI NODUS SINUS 1-3,6,7.
Semua irama yang berasal dari nodus sinus atrial mempunyai 2 karakteristik yang harus dipenuhi untuk menghasilkan suatu irama sinus, yaitu ;
1. Gelombang P mendahului kompleks QRS dengan interval PR yang reguler.
2. Gelombang P positif pada lead II dan terbalik pada aVR.

Sinus Takikardi
Gambarannya :
Bila didapati irama dasar dari EKG adalah sinus ritme dengan frekuensi denyut jantung yang lebih cepat dari batas normal sesuai umur. Denyut jantung lebih cepat dari 140 x/menit untuk anak dan lebih dari 170 x / menit untuk bayi, ini bermakna untuk dikatakan sebagai suatu sinus takikardi. Denyut jantung umumnya dibawah 200 x /menit untuk dikatakan sebagai suatu sinus takikardi 1-3.



Penyebabnya :
Umumnya penyebab dari takikardi pada anak dapat disebabkan oleh karena cemas/ ketakutan, demam, anemia, congestive heart failure (CHF), syok hipovolemik yang sering diakibatkan oleh dehidrasi akibat diare maupun muntah 2,9.


Penatalaksanaan :
Umumnya sinus takikardi tidak memerlukan penatalaksanaan khusus. Tatalaksana dari sinus takikardi ditujukan pada tatalaksana penyakit yang mendasarinya, sebab takikardi umumnya adalah merupakan suatu mekanisme kompensasi untuk mempertahankan curah jantung yang mencukupi.


Sinus Bradikardi
Gambarannya :
Didapati irama dasarnya adalah sinus, namun frekuensi denyut jantung adalah lebih lambat dari batas paling bawah denyut jantung sesuai umur. Denyut jantung dibawah 80 x/ menit untuk bayi, dan dibawah 60 x / menit pada anak sudah dapat dikatakan sebagai suatu sinus bradikardi 1-3.




Penyebabnya :
Sinus bradikardi biasa terjadi pada orang normal atau pada atlit maupun pada saat tidur 7. Bradikardi ini juga dapat muncul akibat stimulasi vagal, peningkatan tekanan intrakranial, hipotermi, hipoksia, hiperkalemi, ataupun akibat dari pemakaian obat-obatan seperti digitalis dan β-Bloker 1,2.

Penatalaksanaan
Bila sinus bradikardi tidak menimbulkan keluhan bagi pasien, umumnya tatalaksana tidak diperlukan. Tatalaksana ditujukan untuk mengatasi penyakit yang mendasarinya.

Sinus Aritmia
Gambarannya
Pada sinus aritmia, didapati variasi dari denyut jantung, meningkat pada saat inspirasi dan melambat pada saat ekspirasi. Hal ini dapat muncul sebagai suatu gambaran dari sinus ritme 1-3,7.



Penyebabnya
Hal ini adalah fenomena normal dan berhubungan dengan pengaturan syaraf autonomic jantung pada saat fase respirasi 1,3,6.

Penatalaksanaan
Tidak ada pengobatan yang diindikasikan untuk kasus tersebut.


II. RITME YANG BERASAL DARI ATRIUM 1-3
Irama yang berasal dari atrium mempunyai karakteristi, yaitu :
3. Gelombang P mempunyai bentuk yang tidak biasa, yang diakibatkan oleh aksis P yang abnormal, dan atau adanya jumlah gelombang P yang abnormal pada setiap kompleks QRS.
4. Kompleks QRS biasanya berbentuk normal, namun sering muncul kompleks QRS yang tidak biasa yang dapat disebabkan oleh aberans.
Atrial Flutter
Gambarannya :
Karakteristik dari Atrial Flutter adalah adanya atrial rate yang terjadi sekitar 300 (antara 240 – 360) x / menit. Pada EKG didapati gambaran ”sawtooth” dengan perbandingan antara gelombang P dengan QRS biasanya 4:1, 3:1, 2:1, dengan gambaran gelombang QRS biasanya normal 1-3,6,7.



Penyebab
Umumnya atrial flutter pada anak disebabkan akibat adanya kelainan struktur jantung, walaupun pada fetus dan neonatus dengan atrial flutter umumnya memiliki struktur jantung yang normal. Penyebab lain yang dapat menimbulkan atrial flutter antara lain seperti penyakit infeksi akut, perikarditis, miokarditis, keracunan digitalis, dan dapat juga muncul akibat adanya riwayat post operatif koreksi terutama yang melibatkan atrium seperti koreksi Atrial Septum Defek (ASD), prosedur Mustard untuk D-transposition of the great artery , atau prosedur Fontan 1,2,7,14. Prosedur ini dapat menyebabkan atrial flutter karena adanya gangguan pada sistem konduksi yang terjadi apabila terdapat jahitan luka melewati septum atrium. Atrial flutter juga dapat terjadi pada Duschenne’s muscular dystrophy serta trauma pada susunan syaraf pusat.


Penatalaksanaan:
Penatalaksanaan dari atrial flutter dapat mencakup penatalaksanaan pada kondisi akut, kronik, mengontrol rate, mencegah kejadian berulang 1.
1. Pada kondisi akut,
a. Adenosin tidak dapat mengkonversikan aritmia menjadi sinus, walaupun dapat membantu konfirmasi diagnosa dari atrial flutter dengan menghambat konduksi AV.
b. Kardioversi dengan DC syncronize merupakan pilihan untuk penatalaksanaan atrial flutter dengan durasi singkat, bila pasien bayi atau anak dalam kondisi gagal jantung yang berat.
c. Temporary pacing juga ada tempat untuk dilakukan
d. Pada anak, pemberian injeksi amiodaron atau procainamide mungkin efektif untuk mengatasi atrial flutter.
2 . Pada kasus kronik
Dengan pemberian antikoagulan, warfarin, dapat menunda untuk dilakukannya kardioversi sampai 2 -3 minggu. Setelah kembali ke irama sinus, pemberian antikoagulan dapat dilanjutkan sampai 3 – 4 minggu.
3. Rate kontrol
Untuk mengontrol rate ventrikel, CCB merupakan pilihan. Propanolol juga sama efektifnya. Pada waktu lalu, digoksin sering dipakai.
4 . Mencegah kekambuhan
Pemberian anti aritmia kelas I dan III, tampak berhasil dalam mencegah kekambuhan dari atrial flutter.
Atrial Fibrilasi.
Gambaran :
Karakteristik dari atrial fibrilasi yaitu adanya gambaran kecepatan dari atrium yang ekstrim, berkisar 350 – 600 x / menit dan ritme yang muncul umumnya bersifat “irregularly irregular”, dengan gambaran kompleks QRS yang normal.



Penyebab :
Atrial fibrilasi (AF) jarang terjadi pada anak. Umumnya kejadian AF ini berhubungan dengan gangguan dari susunan struktural jantung seperti pada Rheumatik Heart Disease (RHD), Eibstein’s anomaly, atresia tricuspid, ASD, adanya riwayat intra-atrial surgery. Tiroktosikosis, emboli pulmonal, dan perikarditis juga merupakan keadaan yang mungkin dapat menimbulkan atrial fibrilasi 1,4,5.

Penanganan 1
Penanganan dari atrial fibrilasi hampir menyerupai penanganan pada atrial flutter, yaitu :
1. Jika atrial fibrilasi muncul lebih dari 48 jam, antikoagulan seperti warfarin direkomendasikan diberikan selama 2 – 3 minggu untuk mencegah kejadian emboli sistemik, jika konversi dapat ditunda. Pemberian antikoagulan dapat dilanjutkan selama 3 – 4 minggu setelah irama sinus dicapai. Jika kardioversi tidak dapat ditunda, maka pemberian injeksi heparin dapat dimulai dan kardioversi dapat dilakukan jika nilai aPTT berkisar 1,5 – 2,5 lebih besar dari kontrol dalam 5 -10 hari.
2. Propanolol, verapamil, maupun digoksin dapat diberikan untuk mengurangi rate ventrikel.
3. Antiaritmia kelas I seperti quinidine, procainamide, flecainide dan Kelas III seperti amiodaron juga ada tempat untuk diberikan.
4. Pada pasien dengan kronik atrial fibrilasi, pemberian antikoagulan dapat dipertimbangkan untuk mengurangi kejadian tromoemboli. Pada kasus kronik, kontrol rate lebih meningkat penggunaannya dari pada konversi.

Supra Ventrikular Tachycardia
Gambaran
Supraventrikuler Takikardi (SVT) adalah suatu aritmia yang paling sering dijumpai pada bayi dan anak. Denyut jantung sangat cepat dan teratur. Biasanya denyut jantung berkisar 240±40 x /menit, dengan gelombang P yang umumnya sulit dinilai 1-8,13. Namun jika gelombang P dapat dinilai, akan didapati aksis dari gelombang P yang tidak normal, dapat mendahului ataupun mengikuti kompleks QRS. Durasi kompleks QRS umumnya normal.

Terdapat tiga tipe SVT, yaitu tipe atrial takikardi, nodal takikardi, dan AV reentrant takikardi 1,2. Tipe yang paling sering didapati adalah AV reentrant takikardi. AV reentrant takikardi (AVRT), bukan saja merupakan mekanisme yang paling umum muncul pada SVT, namun juga merupakan takiaritmia yang paling sering didapati pada anak. Pada AVRT, didapati jalur ”by pass” tambahan lain menuju AV-node. Jalan lain ini secara secara anatomis terpisah, seperti bundle of Kent yang dapat dilihat pada sindroma Wolf-Parkinson-White (WPW). Konduksi jalur pintas ini lebih cepat dibandingkan dengan jalur normal, dan menghasilkan suatu pola siklus reentry yang independen dari nodus SA. Temuan yang khas pada WPW adalah dijumpainya PR interval yang memendek, QRS yang melebar dan dijumpai upstroke kompleks QRS yang dikenal sebagai gelombang delta. Namun hal ini hanya akan dapat dijumpai jika irama jantung telah menjadi irama sinus.



Ectopic atrial tachycardia merupakan mekanisme yang jarang terjadi pada SVT. Ditandai dengan adanya tembakan yang cepat pada suatu fokus ektopik di atrium, dimana dijumpai adanya morfologi gelombang P yang muncul dengan morfologi yang berbeda.

Nodal ectopik takikardi , dapat mengarah ke atrial takikardi karena P wave tertanam pada gel T pd denyut sebelumnya shg menjadi tidak kelihatan. Tetapi denyutnya relatif lebih lambat 120-200 x/i jika dibandingkan dengan EAT 1.

Penyebab
Pada kejadian SVT, kebanyakan tidak ditemukan kelainan jantung yang mendasarinya. Serangan pertama sering terjadi sebelum usia 4 bulan, dan lebih sering terjadi pada anak laki-laki dari pada perempuan. Hampir setengahnya adalah idiopatik, sebahagian lain disebabkan kelainan jantung kongenital ( paling sering anomali Eibstein, single ventricle, dan L-transposisi), 10 -20 % diakibatkan oleh sindroma WPW, serta dapat juga muncul setelah adanya operasi jantung 1,2.
Alasan orang tua membawa bayinya ke dokter karena mendadak gelisah, tidak mau menyusu, bayinya bernafas dengan cepat, pucat, bahkan mungkin muntah-muntah. Nadi diraba sangat cepat, berkisar 200-300 kali/ menit. Sedangkan pada anak yang lebih besar, alasan mereka dibawa ke dokter adalah perasaan berdebar-debar, nyeri dada, pusing, dan kadang sesak nafas 2.

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan dari SVT harus cepat dilakukan. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi SVT yakni 1,2,5,7,8:
1. Lakukan maneuver vagal, yakni lakukan masase pada sinus karotis, gagging, melakukan penekanan pada kedua bola mata umumnya berhasil pada anak yang lebih besar, namun jarang berhasil pada bayi. Kompres air dingin diwajah selama 10 detik sering berhasil pada bayi.
2. Pemberian adenosine dapat dipertimbangkan sebagai obat pilihan. Adenosine diberikan dengan suntikan bolus cepat dan diikuti dengan dibilas larutan saline, dimulai dosis 50 µg/kg, dapat ditingkatkan 50 µg/kgbb tiap 1 -2 menit. Umumnya efektif pada dosis 100 -150 µg/ kgbb dengan dosis maksimal 250 µg/ kgbb
3. Pada bayi dengan CHF yang berat, pengobatan emergensi ditujukan dengan kardioversi segera, dengan dosis inisial 0,5 joule/kgbb dan dapat ditingkatkan sampai dosis 2 joule /kgbb.
4. Esmolol, β-bloker lainnya, verapamil, dan digoksin dapat juga diberikan. Pemberian propanolol intravena dapat diberikan pada SVT yang diikuti dengan sindroma WPW. Pemberian verapamil secara intravena pada anak dibawah 12 bulan sebaiknya dihindari karena dapat menimbulkan bradikardi yang berat dan hipotensi.
5. Jika tatalaksanaan farmakologis gagal, ablasi kateter radiofrekuensi dapat dijadikan pilihan, sesuai indikasi.

Pencegahan kekambuhan 1
Pada bayi tanpa sindroma WPW, pemberian oral propanolol selama 12 bulan memberikan hasil yang baik. Pada bayi dengan riwayat CHF dan sindroma WPW dapat dimulai pemberian digoksin, namun setelah CHF berhasil diatasi, pemberian digoksin dapat diganti dengan pemberian propanolol. 

18.39 | 0 komentar | Read More

pendahuluan aritimia pada anak

PENDAHULUAN

Frekuensi dan tanda klinis aritmia yang terjadi pada anak berbeda dengan yang terjadi pada orang dewasa. Walaupun aritmia pada bayi dan anak frekuensi terjadinya lebih jarang, namun ini memerlukan perhatian dari klinisi untuk dapat mengenali dan melakukan penanganan yang tepat terhadap aritmia yang terjadi tersebut. Sebab manifestasi dari aritmia itu sendiri serta pendekatan klinisnya berbeda antara pada anak dibandingkan pada orang dewasa 4.

Aritmia dapat juga didefinisikan sebagai variasi dan abnormalitas pada pembentukan impuls, perambatan impuls, dan pengaruh otonomik 6.

Aritmia pada anak terjadi pada 55,1 per 100.000 kasus di unit gawat darurat anak. Arimia yang sering terjadi pada anak secara berurutan adalah sinus takikardi (50%), Supraventrikular takikardia ( 13 %), bradikardi (6 %), dan atrial fibrilasi (4,6% ) 2.

Penegakkan diagnosa aritmia pada anak menjadi suatu tantangan bagi para klinisi karena banyaknya gejala yang tidak spesifik yang dikeluhkan oleh anak, seperti tidak mau makan, gelisah, pusing. Namun, dengan gejala yang tidak khas ini hendaknya diagnosa tetap dapat ditegakkan sehingga penanganan dapat segera dilakukan.



”Tujuan dari penulisan ini agar kita dapat mengenali dan melakukan penatalaksanaan terhadap aritmia yang sering terjadi pada anak sehingga angka kematian yang diakibatkan aritmia ini dapat diminimalisasikan”.




ELEKTROKARDIOGRAFI PADA ANAK
Alasan yang sering untuk dilakukan EKG pada anak adalah nyeri dada, dugaan aritmia, kejang, pingsan,luka bakar akibat listrik, gangguan elektrolit, serta adanya kelainan pada pemeriksaan fisik 6.
Pengukuran dasar dengan menggunakan EKG termasuk diantaranya denyut jantung, irama jantung, aksis jantung, interval PR, dan kompleks QRS, segmen ST serta gelombang T.
18.36 | 0 komentar | Read More

operasi jantung bawaan pada bayi

Dibagi menjadi 3 bagian besar, yaitu terapi medikamentosa, operatif (operasi jantung terbuka) dan kateterisasi. Terapi medikamentosa merupakan terapi tambahan untuk mencegah perburukan PJB dan untuk menjaga stabilitas organ jantung setelah tindakan operasi atau kateterisasi. Namun perlu diingat bahwa terapi medikamentosa bukan terapi definitif untuk penanganan PJB. Metode operatif merupakan terapi definitif yang utama, namun dengan perkembangan teknik kateterisasi jantung yang semakin maju, saat ini kateterisasi lebih banyak dilakukan oleh para dokter, mengingat risiko yang lebih minimal pada pasien (meskipun metode operatif juga sangat aman). Banyak ahli menyatakan lebih menyukai metode kateterisasi karena lebih nyaman untuk pasien (terutama pada masa setelah operasi dilakukan) dan tidak menimbulkan bekas operasi yang cukup besar di daerah dada. Namun tidak semua PJB dapat ditangani dengan kateterisasi dan tetap membutuhkan metode operatif.

Terapi yang tepat untuk penanganan PJB penting untuk mencegah kematian bayi. Untuk PJB sianotik, biasanya tindakan operatif / kateterisasi harus dilakukan dalam 1 tahun pertama kehidupan, setelah organ-organ dalam tubuh bayi dianggap telah mampu untuk menjalani tindakan. Namun, untuk kebanyakan PJB non sianotik terapi operatif / kateterisasi dapat ditunda sampai usia pasien lebih besar karena dianggap lebih aman untuk dilakukannya operasi dan pembiusan.

Namun diketahui pula bahwa beberapa jenis PJB tidak memerlukan tindakan koreksi apapun, terutama untuk kelainan struktur jantung yang ringan dan tidak menimbulkan gejala. Kebanyakan dari kasus-kasus ini dapat diatasi hanya dengan obat-obatan atau bahkan tanpa obat-obatan sekalipun. Tetapi sangat disayangkan sebagian besar PJB pada kenyataannya harus mendapatkan tindakan terutama apabila gejala-gejala gagal jantung sudah terlihat, seperti cepat lelah, sesak nafas atau nafas yang cepat, dan pembesaran ruang jantung tertentu.

Di samping penanganan medikamentosa dan operatif/kateterisasi, penanganan nutrisi juga harus diperhatikan untuk mencegah keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan pada penderita PJB. Tambahan susu formula dengan kalori tinggi dan suplemen untuk air susu ibu sangat dibutuhkan bayi dengan PJB, terutama untuk bayi-bayi yang lahir prematur, memilki kelainan jantung berat (seperti defek jantung yang besar), dan bayi-bayi yang cepat lelah saat menyusui. Artikel ini tidak membahas terapi medikamentosa dan nutrisi lebih lanjut, namun penulis akan membahas terapi operatif dan kateterisasi secara umum.

Metode operatif
Operasi jantung terbuka diperlukan pada kelainan jantung yang tidak bisa ditangani dengan medikamentosa atau pada kelainan jantung yang menunjukkan perburukan pada pasien yang hanya mendapatkan terapi medikamentosa saja. Metode operatif juga dilakukan pada beberapa kelainan jantung yang kompleks, terutama yang mencakup kelainan struktur yang besar dan multipel, seperti pada tetralogi fallot, transposition of great arteries, dan kelainan septum jantung yang sangat besar.

Setelah pembiusan umum dilakukan, dokter akan membuat sayatan pada dada, menembus tulang dada atau rusuk sampai jantung dapat terlihat. Kemudian fungsi jantung digantikan dengan sebuah alat yang berfungsi untuk memompa darah ke seluruh tubuh yang dinamakan heart-lung bypass yang juga menggantikan fungsi paru-paru untuk pertukaran oksigen. Setelah itu jantung dapat dihentikan detaknya dan dibuka untuk memperbaiki kelainan yang ada, seperti apabila terdapat lubang pada septum jantung yang normalnya tertutup, maka lobang akan ditutup dengan alat khusus yang dilekatkan pada septum jantung.

Bagi masyarakat awam, prosedur operasi yang demikian sangat menakutkan, namun pada kenyataannya operasi ini sangat aman. Angka kematian pada saat operasi relatif rendah dan waktu pemulihan juga relatif singkat. Hanya dalam waktu 1 hari setelah operasi dilakukan (untuk pasien anak dan dewasa), pasien dapat langsung dipindahkan ke ruang perawatan biasa dari ruangan ICU. Namun, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, metode operatif ini memiliki beberapa kelemahan, antara lain waktu operasi yang lama dan ketidaknyamanan pasien, karena sebelum dilakukan operasi terdapat beberapa persiapan yang harus dilakukan, dan setelah operasi dilakukan seringkali bekas  tempat sayatan masih terasa sakit. Di samping itu, bekas luka operasi juga akan menimbulkan bekas di dada pasien. Dengan demikian, kebanyakan orang lebih menyukai metode kateterisasi (apabila memungkinkan) daripada metode operatif tersebut.

Kateterisasi
Selama 10 tahun terakhir, kemajuan terapi PJB sangatlah pesat khususnya dalam kemajuan teknik kateterisasi. Saat ini, selain digunakan sebagai alat diagnostik, kateterisasi juga dapat digunakan sebagai salah satu cara pengobatan definitif untuk beberapa jenis PJB seperti defek septum serambi jantung (ASD), Patent Ductus Arteriosus (PDA), Pulmonary stenosis, Aorta Stenosis, dan defek septum bilik jantung tipe muskular (mVSD). Bahkan pada sebuah penelitian di Polandia tahun 2007 tercatat bahwa metode kateterisasi ini juga mampu untuk menangani bentuk VSD tersering yaitu tipe perimembaranosa yang sebelumnya harus diterapi dengan metode operatif. Penemuan ini sangat bermanfaat mengingat VSD adalah penyebab penyakit jantung bawaan tersering dan 70% di antaranya adalah tipe perimembranosa. Defek septum ventrikel ini berhasil ditutup dengan penutup septum jantung yang baru yang disebut dengan Amplatzer. Penutup defek jantung lainnya dikenal dengan Cardioseal yang juga memiliki efektivitas yang baik. Kedua penutup defek jantung di atas (Amplatzer dan Cardioseal) memiliki mekanisme penutupan defek jangka panjang yang berbeda.

Prosedur kateterisasi umumnya dilakukan dengan memasukkan kateter atau selang kecil yang fleksibel didalamnya dilengkapi alat seperti payung yang dapat dikembangkan untuk menutup defek jantung.

Kateter dimasukkan  melalui pembuluh darah balik atau vena di pangkal paha atau di lengan. Untuk membimbing jalannya kateter, dokter menggunakan monitor melalui fluoroskopi angiografi atau dengan tuntunan transesofageal ekokardiografi (TEE)/ekokardiografi biasa sehingga kateter dapat masuk dengan tepat menyusuri pembuluh darah, masuk ke dalam defek atau lubang, mengembangkan alat di ujung kateter dan menutup lubang dengan sempurna. Prosedur ini dilakukan dalam pembiusan umum sehingga anak tidak merasakan sakit.

Dengan kateterisasi, penyembuhan akan lebih cepat dan mudah karena hanya membutuhkan sayatan yang sangat kecil di tempat memasukkan kateter, serhingga tidak menimbulkan bekas luka operasi yang besar dan nyeri yang dirasakan setelah prosedur kateterisasi relatif singkat. Keberhasilan prosedur kateterisasi ini untuk penanganan PJB ini dilaporkan lebih dari 90%. Namun, tetap diingat bahwa tidak semua jenis PJB dapat diintervensi dengan menggunakan metode ini. Pada kasus defek septum jantung yang terlalu besar dan kelainan struktur jantung tertentu seperti jantung yang berada di luar rongga dada (jantung ektopik) dan tetralogi fallot yang parah tetap membutuhkan meote operatif terbuka.
18.30 | 0 komentar | Read More

mengenal jantung bawaan pada bayi

“ Bayi anda terindikasi menderita penyakit Jantung bawaan kritis “ kata Dokter, orang tua mana yang tidak syok mendengar vonis dokter. Padahal sudah berbulan-bulan menunggu kelahiran si buah hati. Sebagai orang tua tentu saja menjadi bingung harus berbuat apa, dengan mengenali gejala-nya berarti sudah memperkecil peluang kematian bayi anda.

Kejadian Penyakit Jantung Bawaan – Kritis sebenarnya tidak ada data yang pasti tetapi dilaporkan antara 1 dari 100 bayi yang lahir menderita PJB atau jika diasumsikan ada 5 juta bayi per tahun maka 50 ribu bayi menderita PJB. Sekitar sepertiga di antaranya menunjukan gejala yang berfariasi mulai teringan sampai level berat yang bisa menyebabkan kekritisan pada awal minggu pertama bayi mengirup kehidupan. Nah bila di awal kelahiran bayi tidak terdeteksi dan tidak tertangani dengan baik biasanya 50% kasus ini terjadi kematian. 
Padahal saat ini fasilitas diagnosis sudah cukup baik hanya saja masih kurang dan hanya tersedia di rumah sakit di kota besar. Belum meratanya fasilitas dan tenaga ahli khususnya ahli jantung anak sehingga banyak masyarakat yang belum tertangani. Apalagi banyak ketidaktahuan pasien menambah daftar kematian bayi. 
Masalah lain yang cukup membuat orang tua merasa terbebani adalah harga obat yang masih cukup mahal, lihat saja harga 1 ampul setara 1 cc/ml harganya berkisar 8-9 juta untuk bayi yang kecil bisa cukup untuk satu bulan, sementara untuk bayi yang agak besar untuk 3 minggu. Karena keterbatasan ini banyak orang tua yang putus asa sehingga cenderung membiarkan anak-nya tidak tertangani dan akhirnya meninggal. Lihat saja di Indonesia ada sekitar 50 ribu kasus PJB per tahun yang berhasil dioperasi hanya sekitar 3 ribu per tahun yang tertangani sisanya tidak terdeteksi. 
Khusus RSCM setiap tahun sekitar 500 – 600 operasi sehingga baru sedikit saja yang tertangani oleh tenaga kesehatan. PJB- Kritis terjadi biasanya dokter atau bidan yang membantu proses persalinan dan yang merawat salah mengenali. Misalnya kalau ada anak yang berat-nya tidak naik-naik dan hasil rontgen paru-parunya agak putih karena ada aliran darah ke jantung sehingga menyebabkan bengkak ini bukan flek paru maka segera lakukan pemeriksaan nafas bayi. 
Besarnya biaya pengobatan anak memang cukup mahal, melihat biaya operasi yang berkisar puluhan juta rupiah mulai 20 juta hingga ratusan juta rupiah ( tergantung jenis Penyakit Jantungnya ) membuat dahi berkerut apalagi bagi mereka yang memiliki keterbatasan ekonomi. Tapi orang tua tidak perlu khawatir, panik dan stres memikirkan biaya pengobatan apalagi saat ini alatnya sudah cukup maju dan keberhasilan-nya cukup tinggi. Anak tetap harus di bawa berobat. jangan sudah diketahui terjadinya kebocoran jantung maka anak di bawa ke pengobatan alternatif. Karena PJB ada masa emas ( gold periode ) yaitu umur 0 tahun hingga 5 tahun. Setelah masa itu sudah sulit dilakukan operasi atau tindakan. 
Ada beberapa rumah sakit rujukan seperti R.S. Jantung Harapan Kita atau alternatif lain Pelayanan Jantung Terpadu RSCM. Memang di beberapa rumah sakit daerah sudah ada tapi belum smpai pada level operasi jantung yang cukup sulit Khusus di Pelayanan Jantung Terpadu RSCM berlaku surat jaminan seperti Jamksesnas, jamkesda dan Askes dengan jaminan ini pasien yang tidak mampu bisa membayar sesuai dengan kemampuan-nya sisanya di bayar oleh pemerintah. Bahkan orang miskin bisa berobat dan operasi gratis. 

PJB Kritis

Apakah bayi saat lahir keadaan-nya baik-baik saja seperti menangis, skor avgar-nya cukup bagus seperti layaknya bayi normal tapi beberapa jam kemudian bayi anda menampakan ciri-ciri jari tangan, sekitar bibir, gusi dan bawah lidah berwarna biru, waspadailah dan segera konsultasikan kepada Dokter dan segera memeriksakan buah hati anda sesegera mungkin. Karena peluang bayi anda mengalami penyakit jantung bawaan kritis cukup besar. 
PJB – Kritis biasanya terjadi pada bayi yang baru lahir apalagi terjadi kelainan jantung yang dapat mengancam jiwa sehingga menyebabkan kematian pada bayi sebelum usia 1 tahun bila tidak segera di kenali dan dilakukan tindakan dengan tepat. 
Penyakit Jantung Bawaan Kritis pada bayi baru lahir menurut Dr. Piprim B. Yanuarso Sp.A adalah suatu penyakit jantung bawaan yang biasanya terjadi pada usia beberapa jam sampai beberapa hari setelah lahir yang memerlukan tindakan intervensi segera baik berupa pemberian obat-obatan atau tindakan intervensi berupa pemasangan ballon, pen atau operasi yang sifatnya menyelamatkan nyawa. Jika hal ini tidak dilakukan maka akan berakibat fatal atau kematian pada bayi tersebut. 
Terjadinya kondisi yang buruk pada PJB dengan sirkulasi yang tergantung pada Ductus Arteriosus yaitu dimana duktus menutup secara spontan pada awal kehamilan. Sekedar informasi duktus arteriosus adalah suatu pembuluh darah yang menghubungkan aorta ( pembuluh arteri besar yang mengangkut darah ke seluruh tubuh) dengan arteri pulmonalis (arteri yang membawa darah ke paru-paru), yang merupakan bagian dari peredaran darah yang normal pada janin. 
Duktus arteriosus memungkinkan darah untuk tidak melewati paru-paru. Pada janin, fungsi ini penting karena janin tidak menghirup udara sehingga darah janin tidak perlu beredar melewati paru-paru agar mengandung banyak oksigen. Janin menerima oksigen dan zat makanan dari plasenta (ari-ari). 
Tetapi pada saat lahir, ketika bayi mulai bernafas, duktus arteriosus akan menutup karena darah harus mengalir ke paru-paru agar mengandung banyak oksigen. Pada 95% bayi baru lahir, penutupan duktus terjadi dalam waktu 48-72 jam. Ada tiga kelompok PJB Kritis yaitu: 
  • Kelompok Sirkulasi paru tergantung duktus 

Kelompok bayi yang hidupnya tergantung pada satu saluran yang disebut Ductus arteriosus. Kelompok ini termasuk abnormalitas dimana sirkulasi paru tergantung pada pirau kiri ke kanan melalui duktus Maka hidupnya tetap berlangsung tergantung ductus arteriosus agar tetap terbuka untuk mempertahankan aliran darah ke-paru-paru. Akibatnya kekurangan darah ke paru-paru mak tidak ada darah yang dibersihkan di paru-paru sehingga jantung-pun tidak menerima darah kembali lama-lama bisa meninggal. 
Gejalanya badan biru, nafas menjadi sesak jika terus di biarkan akhirnya meninggal karena kekurangan darah di paru-paru. Jenis ini misalnya atresia pulmonal, dimana duktus menyuplai sirkulasi paru. 
Defek lain dengan fisiologi yang mirip antara lain Stenosis Pulmonal kritikal, beberapa kasus Tetralogy of Fallot, Atresia Trikuspid dan anomali Ebstein. Pada neonatus tertentu dengan kelainan tersebut terdapat jalur alternativ untuk mempertahankan sirkulasi paru Segera di berikan obat untuk membuka Ductus Arteriosus agar saluran tadi tetap terbuka agar bayi tetap hidup karena ada sumbatan total pada saluran darah atau pembuluh darah ke paru-paru atau arteri pulmonal.
  • Kelompok Sirkulasi sistemik tergantung duktus

Apabila bayi ( ductus arteriosus ) sudah terbuka; untuk mempertahankan aliran darah ke seluruh tubuh. Pada kelompok ini darah yang mengalir ke bilik dan serambi kurang sehingga anak akan terlihat syok, tidak ada kencing akibatnya wajah kelihatan jelek. Pada kelompok ini misalnya atresia aorta.  
Kelompok kelainan ini sebagian atau seluruh aliran darah kesirkulasi sistemik tergantung pada pirau kanan ke kiri melalui duktus. Pada masa neonatus keadaan ini dimungkinkan karena tekanan di pulmonal masih tinggi seperti tekanan di sistemik dan ventrikel kanan sudah beradaptasi dengan baik untuk mendukung sirkulasi sistemik yang sudah terjadi sejak masa fetus. 
Neonatus dengan sindrom koarktasio tidak dapat mempertahankan perfusi yang cukup pada bagian bawah tubuh setelah duktus menutup, demikian pula pada neonatus dengan interupsi arkus aorta. Seluruh sirkulasi sistemik terganggu begitui duktus menutup pada stenosis aorta berat atau atresia aorta, khususnya pada “hypoplastic left heart syndrome”, dimana ventrikel kiri, katup mitral dan aorta sangat hipoplastik dan tidak dapat mendukung sirkulasi sistemik. 
  • Kelompok Mixing tergantung duktus

Bayi yang mengalami percampuran darah kaya oksigen dan miskin oksigen, kasus ini masuk kategori PJB biru atau sianotik. Misalnya Transposisi Arteri Besar (Transposition of the Great Arteries/TGA), yaitu tertukarnya pembuluh darah besar yang keluar dari jantung. Pembuluh darah paru yang seharusnya berada di posisi bilik kanan jantung ternyata muncul dari bilik kiri, sedangkan pembuluh aorta yang mestinya dari bilik kiri ternyata keluar dari bilik kanan. Dapat diartikan fungsinya terbalik sehingga darah yang kurang oksigen yang seharusnya ke paru-paru justru langsung di edarkan kembali keseluruh tubuh begitu sebaliknya ketika darah yang sudah mendapatkan oksigen dari paru-paru yang seharunya di edarkan ke seluruh tubuh, malah kembali lagi ke-paru. 
Ini masing-masing terjadi sirkulasi yang sifatnya paralel atau tidak ada hubungan-nya sama sekali Kelainan ini menyebabkan konsekuensi klinis yang berat karena darah yang mengalir ke seluruh tubuh memiliki kadar oksigen yang rendah. Pada kasus ini harus di lakukan Ballon (Ballon atrial septostomy) yang bertujuan untuk membuka atau merobek sekat antara bilik dan serambi agar terjadi percampuran darah yang baik. 

Penanganan Dini PJB Kritis 

Setelah melahirkan bayi di sarankan para orang tua dibantu dengan dokter atau bidan melakukan pemeriksaan terhadap bayi tersebut. Ketika bayi beberapa menit setelah lahir berwarna biru patut di curigai. Segera berikan oksigen murni dalam tekanan yang tinggi kemudian di lihat apakah birunnya hilang atau tidak. Jika birunya hilang kemungkinan besar bukan penyakit jantung bawaan. Mungkin kelainan paru tetapi jika bayinya tetap biru kemungkinan besar PJB yang kritis. Ketika ada kecurigaan yang perlu di lihat adalah PJB Biru atau tidak biru. Gejalanya Biru terjadi di sekitar gusi, laktosa mulut di bawah lidah gusi bukan di sekitar mulut. 
Sementara PJB tidak biru biasanya bayi mengalami gangguan pada saat menyusu pada ibunya dimana pada saat menyusu sering kali terhenti karena bayi mengalami sesak nafas dimana bayi tidak kuat menyedot puting susu ibunya karena jantungnya bermasalah bahkan berat badanya tidak naik cukup bagus atau gagal tumbuh karena mengalami gizi kurang. 
Jika ada kecurigaan segera di bawa ke ahli jantung anak jangan di bawa ke tim medis, tapi ia harus segera merujuk ke- Rumah Sakit jangan sekali-kali dokter mengatakan anak ibu tidak kenapa-kenapa tanpa melakukan pemeriksaan. Masingmasing kasus penyakit jantung memiliki startegi pengobatan yang berbeda-beda. Ada yang di biarkan dulu dengan memberikan obat dengan sendirinya akan menutup sendiri atau ada yang harus segera di operasi.
Penanganan awal pada setiap kasus sangat berperan dalam mencegah memburuknya kondisi kesehatan hingga menyebabkan kematian.Bila kondisi memungkinkan langsung dirujuk ke pusat pelayanan jantung yang terjangkau. Biasanya dilakukan pemeriksaan ekokardiografy apakah ada kelainan atau tidak pada jantung bayi anda ” Ikhtiar saja bagaimana anak yang sakit bisa di obati secara maksimal karena sebagian besar penyakit jantung bawaan saat ini bisa di obati dengan obat, operasi atau tanpa operasi seperti pemasangan ballon dan pemasangan ring pada duktus arteriosus.
Jika ada jantung anak yang bocor, maka akan kita tutup dengan alat lewat kateter ( lubang sekat antara bilik atau serambi ” ujar Dr. Piprim B. Yanuarso Sp.A. Tapi selain itu yang terpenting adalah bersabar, berusaha dan berserah diri kepada Sang Pencipta, bukankah sebagai orang yang beragama tidak boleh putus asa apalagi menyesali nasib.

Ada beberapa tindakan yang dilakukan ketika bayi kita di diagnosa menderita salah satu jenis PJB-kritis seperti : 

  •  Terapi medik

Misalnya pada kasus PJB kritis yang bergantung kepada terbukanya duktus (ductus dependent systemic circulation atau ductus dependent pulmonary circulation), maka meneruskan pemberian prostaglandin E1 dengan dosis minimal. 
  • Intervensi non bedah

Pemasangan balon dapat memperbaiki hipoksemia secara dramatis khususnya pada transposisi pembuluh darah besar dengan percampuran darah sistemik dan pulmonal yang tidak adekuat. 
  • Tindakan bedah

Dapat berupa bedah paliatif dimana tindakan ini bertujuan untuk meningkatkan aliran darah ke paru seperti tindakan mengikat arteri pulmonalis untuk mengurang aliran darah ke paru, dan bedah de nitif untuk menjamin siologi yang normal dengan melakukan koreksi anatomik.
18.22 | 0 komentar | Read More

gejala pembengkakan jantung pada bayi

Pembengkakan jantung bisa terjadi pada siapa saja. Penyakit ini tidak memandang umur dan bisa terjadi pada usia dewasa atau anak, bahkan bayi.
Pada bayi yang baru lahir, gejala jantung bengkak tersebut biasanya ditandai dengan gejala seperti nafas yang semakin cepat, detak jantung meningkat, cepat lelah, dan adanya perubahan warna kulit pada bayi. Mari kita simak uraian berikut!
  • Nafas semakin cepat
    Pada bayi, pernafasan yang standar biasanya mencapai 40 kali nafas dalam satu menit. Namun bayi yang mengalami pembengkakan jantung akan bernafas lebih cepat. Nafas yang semakin cepat ini disebut dengan istilah tachypnea dalam istilah medis. Percepatan nafas tersebut disebabkan karena jantung yang membengkak tidak bisa bekerja secara normal untuk memompa darah ke seluruh tubuh sehingga membuat bayi bernafas lebih cepat untuk memenuhi kebutuhan oksigennya. Fenomena tachypnea ini bisa juga terjadi saat bayi mengalami gagal ginjal kongestif. 
  • Detak jantung yang cepat
    Bayi yang mengalami pembengkakan jantung memiliki detak jantung yang semakin cepat. Hal itu disebabkan oleh jantung yang tidak mampu memompa darah secara maksimal, maka jantung harus bekerja lebih cepat untuk mencoba memenuhi kebutuhan tersebut. Percepatan detak jantung ini juga mungkin terjadi akibat penyakit lainnya. Namun, biasanya hal tersebut tidak terihat saat bayi baru lahir. Hal tersebut baru dirasakan dalam hitungan bulan setelah bayi itu lahir. 
  • Cepat lelah
    Bayi yang mengalami pembengkakan jantung juga akan merasa mudah lelah meski untuk kegiatan-kegiatan kecil seperti makan dan mandi. Hal itu terlihat dari bayi yang mudah berkeringat walau hanya melakukan kegiatan kecil. Pada kondisi yang lebih parah bahkan ditemukan bayi yang berkeringat meski tidak melakukan apa-apa. Biasanya bayi yang mengalami jantung bengkak ini juga sulit untuk meningkatkan berat badan.
  • Perubahan warna
    Bayi dengan pembengkakan jantung biasanya kulitnya akan berwarna kemerahan, kebiruan, atau berwarna pucat. Bayi akan bewarna kemerahan di sekujur tubuhnya jika dilahirkan oleh ibu yang menderita diabetes. Bayi yang terlihat berwarna biru di seluruh tubuh atau hanya di sekitar mulutnya, menandakan kalau bayi tersebut hanya menerima sedikit oksigen. Sementara, bayi yang berwarna pucat menandakan kalau bayi tersebut kemungkinan juga menderita gagal jantung kongestif. Perubahan warna pada tubuh bayi itu bisa terjadi sepanjang hari atau hanya pada waktu melakukan aktivitas tertentu saja, seperti makan.
Efek dari pembengkakan jantung bagi bayi, selain dapat menyebabkan pembekuan darah dan membuat sulit bernafas, juga dapat menyebabkan terjadinya gagal jantung kongestif.
Ini merupakan jenis penyakit jantung yang cirinya ditandai seperti nafas menjadi pendek, terjadi pembengkakan di daerah perut, batuk, dan mudah lelah.
Untuk mengobati pembengkakan jantung pada bayi dan anak kecil, biasanya akan diberikan obat yang berfungsi untuk menurunkan tekanan kerja pada jantung atau obat seperti digitalis yang membantu menurunkan detak jantung yang terlalu cepat.
Selain itu, biasanya akan ditambahkan obat untuk memperkuat fungsi jantung. Obat tersebut kadang juga diberikan kepada penderita gagal jantung kongestif.
Di samping itu, bayi biasanya akan diberi asupan nutrisi yang memadai agar jantung memiliki cukup energi guna memompa darah. Karena pemberian tambahan nutrisi tersebut biasanya sulit dilakukan melalui mulut bayi, maka pemberian nutrisi biasanya dilakukan melalui selang yang dihubungkan ke perut bayi.
Jika melalui perawatan tersebut kondisi bayi tidak kunjung sembuh, biasanya akan dilakukan operasi jantung. Operasi yang dilakukan bisa dengan memperbaiki pembuluh darah atau bahkan dengan melakukan transplantasi jantung.
18.15 | 0 komentar | Read More
 
berita unik