Entri Populer

Welcome Guys

Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog

Tampilkan postingan dengan label pskiatri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pskiatri. Tampilkan semua postingan

Selain Pola Makan, Sakit Mag Juga Bisa Kambuh karena Stres

Written By iqbal_editing on Selasa, 12 September 2017 | 06.22

Asam lambung yang berlebihan tentu menjadi masalah dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Biasanya mag seringkali dianggap lantaran telat makan saja, padahal sebenarnya ada pemicu lainnya lho.

Menurut dokter spesialis penyakit dalam, dr Hendra Nurjadin, SpPD-KGEH dari RS Mayapada Tangerang, meningkatnya asam lambung bukan hanya dipicu oleh faktor telat makan atau pola makan yang tidak teratur tetapi juga dipicu oleh makan makanan yang mengandung asam berlebihan.

"Ada banyak hal, di samping pola makan yang tidak teratur, makan berlebihan asam, termasuk juga beberapa minuman yang mengandung asam, makanan yang terlalu pedas, beberapa terlalu berlemak, beberapa hal juga termasuk kopi, coklat, dan teh yang berlebihan," kata dr Hendra dalam video Bincang Sehat.

"Itu semua akan mengganggu dari keseimbangan asam dalam tubuh kita, termasuk menimbulkan rasa begah dan sebagainya," sambung dr Hendra.


Selain dipicu oleh faktor pola makan, faktor yang lebih kompleks lagi memacu produksi asam lambung, dikatakan dr Hendra adalah faktor stres.

"Maka tidak heran orang-orang sakit mag yang berulang-ulang salah satu faktor stres mesti diingat, baik disadari maupun tidak disadari," kata dr Hendra.

Asam lambung umumnya diproduksi oleh banyak hal. Secara alamiah pun, produksi asam lambung akan terjadi. Sebab asam lambung sendiri berguna untuk mencerna makanan dan juga melindungi makanan dari bakteri.

"Di samping untuk mencerna makanan, dia juga mensterilkan makanan yang kita makan dari bakteri, sehingga apapun kita makan kita akan terhindar dari penyakit-penyakit yang ditulari dari makanan, seharusnya dengan kondisi asam lambung yang cukup," imbuh dr Hendra.
06.22 | 0 komentar | Read More

Benarkah Stres Bisa Menyebabkan Kepala Botak?

Written By iqbal_editing on Sabtu, 09 September 2017 | 22.00

Curae canitiem inducunt – Kekhawatiran mendatangkan uban. Begitu pepatah Latin mengatakan. Namun ternyata lebih dari itu, kekhawatiran tidak sekedar membuat rambut kita beruban, tapi juga membuatnya rontok.
Kerontokan rambut merupakan suatu hal yang bisa mengganggu penampilan. Apalagi jika membuat Anda sampai mengalami kebotakan. Nah, banyak yang menduga bahwa stres dapat menghambat pertumbuhan rambut sehingga Anda bisa mengalami kebotakan.
Stres, terutama yang disebabkan psikososial, dilaporkan memiliki peranan penting pada terjadinya kebotakan. Menurut studi, jumlah pasien dengan kebotakan yang dipicu oleh stres tercatat sejumlah 6,7 sampai 96 persen.
Nah, stres psikososial sendiri terjadi ketika Anda merasakan adanya ancaman dari lingkungan sosial. Misalnya ketika Anda merasa sangat tertekan dengan kesuksesan rekan-rekan kerja Anda di kantor sehingga Anda jadi minder dan terpuruk. Atau saat Anda merasa ditinggalkan oleh sahabat-sahabat yang sering pergi bersama tanpa mengajak Anda.
Stres jenis ini biasanya sangat berdampak pada kesehatan. Pasalnya, stres psikososial membuat penderitanya merasa terasing, kesepian, dan tidak ada dukungan. Salah satu dampaknya pada kesehatan yaitu menyebabkan rambut botak karena rontok.
Baca juga: Potongan yang Pas untuk Rambut Nyaris Botak
Bagaimana stres bisa menyebabkan kebotakan? Ada tiga jenis kebotakan yang bisa disebabkan oleh stres berlebihan.
Yang pertama adalah Alopecia areata (kebotakan) merupakan suatu proses peradangan atau penyakit autoimun yang timbul dengan rontoknya rambut. Banyak faktor yang memengaruhi kebotakan diantaranya adalah penyakit autoimun, genetik, emosional, dan lingkungan.
Alopecia areata menyerang kulit kepala, tetapi area tubuh yang dipenuhi rambut juga bisa terkena masalah ini. Rontoknya rambut yang terjadi biasanya berpola melingkar dan bersifat progresif, dapat pula menyebabkan kebotakan pada seluruh area kepala (alopecia totalis).
Meskipun penyebabnya masih tidak jelas, beberapa studi mengatakan adanya hubungan antara stres dengan kebotakan ini.
Salah satu penyebab kedua kerontokan akibat stres adalah melalui telogen effluvium. Normalnya, Anda akan kehilangan sekitar seratus helai rambut dalam sehari. Akan tetapi stres dapat menyebabkan kerontokan rambut lebih banyak dari yang seharusnya.  Nah, rambut rontok yang tidak wajar disebut juga dengan istilah telogen effluvium.
Ilustrasi rambut rontok
Ilustrasi rambut rontok(SIphotography)
Rambut Anda normalnya tumbuh dalam suatu siklus. Pada fase aktif, rambut tumbuh dalam beberapa tahun. Setelah fase aktif, rambut Anda masuk ke dalam fase istirahat. Fase istirahat ini berlangsung kurang lebih tiga bulan setelah rambut Anda rontok. Rata-rata, kerontokan normal sekitar 100 helai rambut per hari. Rambut kemudian akan digantikan dalam enam bulan oleh rambut baru. Ketika Anda stres atau merasakan gejolak emosi negatif, rambut akan menjadi semakin mudah rontok. Saat stres, sebagian besar rambut Anda akan masuk ke dalam fase istirahat sebelum saatnya. Dan tiga bulan kemudian, rambut tersebut akan rontok.
Penyebab ketiga adalah trikotilomania, yakni kebiasaan menarik rambut tanpa disadari karena stres atau cemas. Hal ini bisa merusak rambut dan menyebabkan rambut botak karena terlalu sering ditarik.
Lalu bagaimana cara mencegah rambut botak saat dilanda stres?
Perubahan gaya hidup yang sederhana saja dapat membantu mengurangi kebotakan. Misalnya dengan tidur yang cukup (kurang lebih 7 jam), banyak minum air, dan mengonsumsi makanan kaya protein.
Nutrisi merupakan suatu hal yang penting untuk pertumbuhan rambut. Hubungan antara makanan dan rambut sangatlah erat. Rambut terbuat dari protein yang disebut keratin. Jadi, sebaiknya Anda meningkatkan asupan protein.
Kurangnya konsumsi protein memaksa tubuh Anda untuk menyimpan protein yang ada untuk tujuan lain, seperti membentuk sel. Dipercaya bahwa bayam, kacang-kacangan, tahu, dan susu adalah makanan yang baik untuk kesehatan rambut. Teh hijau juga baik untuk menghambat Dihydrotestosterone (DHT), hormon yang menyebabkan kerontokan rambut.
22.00 | 0 komentar | Read More

Izin Cuti dengan Alasan 'Sakit Mental', Karyawan Ini Dapat Apresiasi dari CEO

Written By iqbal_editing on Jumat, 08 September 2017 | 22.14

Masih banyak tempat kerja yang ada saat ini melihat masalah mental sebagai hal sepele. Oleh karena itu karyawan pun jarang mau terbuka untuk mengaku bahwa dirinya punya masalah dan butuh waktu cuti karena kondisi mental yang tidak sehat.

Berkaitan dengan hal tersebut belakangan ada satu cerita viral di media sosial Twitter dari seorang karyawan Olark Live Chat. Madalyn Parker yang sehari-hari bekerja sebagai pengembang web di Olark suatu hari mengirim surat izin cuti karena merasa dirinya sedang sakit mental.


"Halo tim, hari ini dan besok saya izin cuti untuk fokus pada kesehatan mental saya. Semoga minggu depan saya sudah bisa kembali bugar 100 persen. Terima kasih," tulis Madalyn dalam surat elektronik (email).

Apa yang membuat cerita Madalyn menarik bagi orang-orang adalah karena jarang ada karyawan yang berani meminta izin libur sakit mental. Selain itu email Madalyn juga ternyata mendapat respons apresiasi tak terduga dari CEO Olark, Ben Congleton.

"Saya secara personal ingin berterima kasih pada kamu karena mengirim email seperti ini," tulis Ben.

"Setiap kali kamu mengirim email seperti ini, saya menggunakannya sebagai pengingat bahwa penting menggunakan izin cuti untuk kesehatan mental. Saya tidak percaya bahwa hal seperti ini belum menjadi praktik standar semua organisasi," lanjutnya.


Percakapan antara Madalyn dan Ben tentang kesehatan mental di kantor.Percakapan antara Madalyn dan Ben tentang kesehatan mental di kantor. Foto: Twitter/madalynrose


Pertukaran email tersebut dibagikan oleh Madalyn di Twitter dan hingga kini telah memperoleh sekitar 31 ribu likes dan 9 ribu retweet. Banyak netizen memuji keberanian Madalyn untuk terbuka dan respons dari Ben yang mendukungnya.

"Hal seperti ini benar-benar asing untuk saya. Terakhir saya butuh libur untuk kesehatan mental, saya harus sengaja overdosis dulu supaya bisa ke rumah sakit dan mendapat izin," komentar seorang pengguna Twitter, Rachel.
22.14 | 0 komentar | Read More

Rumah Sakit Ini Gunakan Terapi Hewan untuk Tangani Gangguan Mental

Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Adanya gangguan kesehatan mental seperti stres, depresi, gangguan kecemasan, dan lainnya dapat membuat kualitas hidup seseorang memburuk.

Sebuah rumah sakit di Amerika Serikat, tepatnya Rumah Sakit McLean, menerapkan terapi hewan untuk membantu menangani adanya gangguan kesehatan mental pada pasien-pasiennya.

Direktur medis dari Clinical Evaluation Center (CEC) di rumah sakit tersebut, Beth L. Murphy, MD, PhD mengatakan bahwa psikolog, psikiater, dan perawat kesehatan mental lainnya yang sangat berbakat dibantu dengan relawan berkaki empat, khususnya anjing yang dapat memberikan hasil terbaik bagi pasien.

"Kita telah menemukan bahwa salah satu hal yang paling sering dialami pasien tua adalah terpikir tentang hewan peliharaan mereka. Mereka menganggapnya seperti teman. Dengan menerapkan terapi hewan, itu dapat membangkitkan banyak kenangan, banyak perasaan positif, dan rasa aman pada pasien," ujarnya dikutip dari Huffington Post.

B=
Beth mengaku bahwa banyak pasien yang mengalami gangguan depresi dan kecemasan yang datang dalam program terapi hewan ini. Menurut mereka, terapi ini yang dirasa cukup aman dan nyaman.

"Banyak individu dalam sesi ini memperhatikan bagaimana suasana hati mereka berubah secara drastis saat hewan-hewan itu ada. Perubahan ini sangat penting bagi orang-orang dengan depresi atau gangguan psikotik, karena ini membuat mereka dapat merasa bahagia lagi," imbuh Beth.

Menurut sebuah penelitian, terapi hewan untuk menangani gangguan kesehatan mental ini tidak cukup tinggi manfaatnya untuk jangka panjang. Masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui manfaat lebih besarnya.

"Namun, menurut perkiraan saya, manfaat jangka pendeknya saja sudah termasuk terobosan dalam pengobatan, cukup masuk akal untuk memiliki program terapi hewan," pungkasnya.
21.30 | 0 komentar | Read More

Studi: Sepertiga 'Surat Sakit' dari Karyawan Karena Alasan Mental

Tidak semua karyawan mengajukan surat sakit karena masalah kesehatan fisik. Studi terbaru dari Inggris menyebut karyawan bahkan lebih sering mengajukan surat sakit karena masalah kesehatan mental daripada nyeri otot.

Studi yang dilakukan National Health Services dari Inggris mengatakan terjadi kenaikan persentase surat sakit akibat stres dan gangguan cemas. Tercatat ada kenaikan 14 persen karyawan yang tidak masuk kerja karena masalah kesehatan mental dari tahun 2015 ke 2017.


Dikutip dari BBC, penelitian dilakukan kepada 12 juta surat sakit dari berbagai kantor di Inggris. Penelitian ini dilakukan selama 2 tahun, dan merupakan penelitian pertama yang membahas alasan karyawan tidak masuk kerja karena sakit secara detail.

Hasil penelitian menyebut sekitar 33 persen atau sepertiga alasan karyawan tidak masuk kerja karena sakit adalah karena alasan mental. Hal ini sangat jauh dibandingkan dengan penyakit muskoskeletal dan gangguan pernapasan yang persentasenya berkisar di 10 dan 3 persen.

Karyawan yang mengajukan surat sakit karena alasan mental juga diketahui absen lebih lama, sekitar 12 minggu. Gangguan kecemasan, depresi dan stres merupakan 3 masalah mental utama yang menjadi alasan karyawan tidak masuk kerja karena sakit.

Dr Jed Boardman dari Royal College Psychiatrists mengatakan tingginya angka karyawan yang tidak masuk kerja karena masalah mental ini cukup mengkhawatirkan. Di satu sisi, mereka mendapat istirahat yang dibutuhkan dan menjalani pengobatan.

"Di sisi lain, tidak semua masalah mereka selesai ketika kembali bekerja. Kantor harus sudah mulai mengakomodasi ini, termasuk mengurangi ataupun menyesuaikan target yang dimiliki karyawan," tuturnya.
21.29 | 0 komentar | Read More

Susah Tidur karena Stres? Menurut Penelitian Ini, Obatnya Makan Tebu

Kurang tidur biasanya diakitkan dengan penyakit tertentu termasuk obesitas, penyakit kardiovaskular, depresi dan kecemasan. Saat ini, pil tidur yang tersedia pun tidak bisa mengatasi stres bahkan seringkali memiliki efek samping yang parah.

Namun kabar baiknya, penelitian yang dipimpin oleh seorang ilmuwan asal India telah menemukan komponen aktif pada tebu dan produk alami lainnya yang dapat memperbaiki stres dan membantu seseorang untuk tidur nyenyak.

Peneliti dari Universitas Tsukuba Jepang menemukan bahwa octacosanol yang terdapat dalam tebu dapat mengurangi stres dan mengembalikan tidur bagi mereka yang mengalami stres kembali normal. Senyawa ini banyak hadir dalam berbagai makanan sehari-hari seperti tebu, dedak padi, minyak biji gandum, lilin lebah, dan lain-lain.


Ekstrak kasarnya adalah policosanol, di mana oktacosanol merupakan penyusun utama. Policosanol dan octacosanol telah digunakan pada manusia untuk berbagai kondisi medis lainnya. Dalam studi saat ini yang diterbitkan dalam jurnal Scientific Reports, para peneliti menyelidiki efek octacosanol pada regulasi tidur pada tikus dengan tekanan ringan melalui pemberian oral.

Tim penelitian yang dipimpin oleh Mahesh Kaushik dan Yoshihiro Urade menemukan bahwa octacosanol dapat mengurangi tingkat kortikosteron dalam plasma darah, yang merupakan penanda stres. Tikus yang diberi oktacosanol juga menunjukkan tidur dengan normal yang sebelumnya terganggu karena stres.

Para peneliti menyebut bahwa tidur yang diinduksi oleh oktacosanol serupa dengan tidur alami dan bersifat fisiologis. Hasil ini menunjukkan bahwa oktacosanol adalah senyawa aktif yang berpotensi mengurangi stres dan untuk meningkatkan tidur dan berpotensi bermanfaat untuk terapi insomnia yang disebabkan oleh stres. Octacosanol dapat dianggap aman untuk digunakan manusia sebagai terapi karena merupakan senyawa
07.03 | 0 komentar | Read More

Terapi Insomnia Juga Bermanfaat Bagi Kesehatan Jiwa

Written By iqbal_editing on Rabu, 06 September 2017 | 23.57

Insomnia selama ini hanya dianggap sebagai salah satu gejala gangguan jiwa. Namun studi terbaru menyebut penanganan insomnia yang tepat juga bisa membantu perbaiki kesehatan jiwa.

Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal The Lancet Psychiatry, Daniel Freeman dari Sleep and Circadian Neuroscience Institute, Oxford University Inggris, meneliti dampak terapi insomnia pada pengidap depresi dan gangguan cemas. Hasil penelitian menyebut melakukan terapi bagi gangguan insomnia yang dialami pasien depresi dan gangguan cemas dapat meningkatkan kondisi kesehatan jiwa mereka.

"Selama ini insomnia hanya dilihat sebagai gejala, bukan penyebab seseorang mengalami gangguan jiwa dan masalah kejiwaan. Penelitian ini bertujuan untuk membalik anggapan tersebut, dan membuktikan bahwa dengan mengobati insomnia, kesehatan jiwa seseorang akan membaik," tutur Freeman yang merupakan pakar psikologi klinis, dikutip dari Reuters.


Penelitian dilakukan kepada 3.755 mahasiswa di Inggris. Mereka diminta melakukan terapi insomnia dengan cognitive based therapy (CBT) dan program digital Sleepio.

Hasilnya, mereka yang melakukan CBT dan Sleepio memiliki tidur yang lebih baik. Secara kejiwaan, mereka juga lebih jarang merasa depresi, cemas, mengalami mimpi buruk, dan memiliki mood yang lebih baik.

Studi ini secara langsung membuktikan bahwa kesehatan tidur tidak boleh diremehkan. Jika tidur nyenyak dan cukup, seseorang akan bisa berfungsi normal saat bekerja dan memiliki kondisi kesehatan jiwa yang lebih baik.

"Tidur yang nyenyak dapat memberikan perbedaan yang sangat besar bagi kesehatan jiwa. Membantu orang lain tidur lebih baik adalah langkah pertama mencegah terjadinya masalah kejiwaan dan psikologis," tutupny
23.57 | 0 komentar | Read More

Stres karena Berita Hoax Bisa Bangkitkan Trauma Lama

Written By iqbal_editing on Senin, 28 Agustus 2017 | 18.12

Berita hoax maupun berita yang diterima secara salah saat ini begitu mudah ditangkap masyarakat melalui berbagai media sosial. Stres yang muncul akibat arus informasi yang begitu deras dan kesanggupan seseorang menanggapi hal tersebut bisa memicu gangguan mental, termasuk membangkitkan trauma lama.

Psikiater dari Klinik Psikosomatik RS Omni Alam Sutera, dr. Andri, SpKJ, pernah bertemu pasien dengan kasus seperti itu. Dalam rilis yang diterima DetikHealth, Senin (28/8/2017), dr Andri menuliskan bahwa pasien tersebut pertama kali datang dengan ketakutan yang luar biasa.

"Perempuan usia paruh baya ini datang dengan ketakutan yang luar biasa akibat berita dari media sosial yang berkaitan dengan gejolak demo dan hoax tentang etnis Tionghoa. Itu membuat bayangan traumatik di masa tahun 1998 kembali teringat," tulisnya.


Pada 1998, pasien mengaku dia hampir mengalami dampak dari keberingasan massa. Setelah peristiwa tersebut, dia harus menjalani perawatan psikiatrik karena masalah yang terkait dengan traumatik yang dia alami.

"Ketidakstabilan situasi saat ini dan banyaknya berita hoax berkaitan dengan kondisi sekarang seperti menjadi pemicu buat dirinya. Di satu pihak dia tidak mau membacanya, namun di lain pihak dia merasa susah menghindari informasi yang sangat masif dan berlebihan di media sosial, bahkan grup WhatssApp keluarganya. Gejal-gejala kecemasan yang menyerupai kepanikan timbul kembali dan sering datang," jelasnya.

Menurut dr Andri, itu merupakan dampak dari begitu banyaknya informasi yang membuat kita sulit memilah mana yang benar mana yang salah. Termasuk mana yang merupakan informasi bikinan yang memang sengaja dibuat untuk kepentingan tertentu.

Baca juga: Penelitian Buktikan Kecanduan Medsos Ganggu Kesehatan Mental Remaja

"Saya memang merasa bahwa arus informasi saat ini sangat berlebihan dan kadang kita sendiri tidak mampu untuk mengatasi derasnya arus informasi tersebut. Sayangnya semua orang seolah merasa ingin untuk ikutan menyebarkan berita dan informasi yang belum tentu benar tersebut. Kadang mungkin hanya karena ingin dikatakan update berita," ujarnya.

Oleh karena itu, ia mengingatkan agar masyarakat baiknya mengolah informasi yang disebar melalui internet secara bijak. Caranya, jika mendapatkan broadcast berita jangan terlalu mudah percaya dan langsung meneruskan, terutama yang mengandung unsur SARA dan bisa menimbulkan konflik.

"Jika bermedia sosial di Facebook dan Twitter mungkin tidak selalu harus memberikan komentar. Jaga diri kita untuk lebih bijak dalam memberikan komentar dan menjaga jari kita meneruskan berita yang sepertinya malah bisa menimbulkan konflik di kemudian hari," pesannya.
18.12 | 0 komentar | Read More

ciri-ciri COD Obsesive

Written By iqbal_editing on Minggu, 27 Agustus 2017 | 16.23

Risih dengan kotoran sekecil apapun yang menempel di meja makan atau meja kerja sehingga ingin selalu membersihkannya, jangan dianggap enteng. Sebab kebiasaan itu bisa jadi ada kaitannya dengan kepribadian atau preferensi tertentu, seperti gangguan obsesif kompulsif atau obsessive-compulsive disorder (OCD).

OCD merupakan gangguan mental di mana seseorang tak dapat mengontrol pemikiran-pemikirannya yang bersifat obsesif. Meski sebenarnya hal itu tidak diharapkan dan yang bersangkutan cenderung mengulang aktivitas tertentu selama beberapa kali agar si penderita dapat mengontrol pikirannya atau menurunkan tingkat kecemasannya.

Sayangnya, gejala kondisi ini tak dapat dikenali dengan mudah. Biasanya seseorang baru bisa didiagnosis dengan OCD setelah menemui dokter atau psikiater. Kendati begitu, ada beberapa pola tertentu yang dapat mengindikasikan apakah seseorang mengidap OCD atau tidak. Simak paparannya seperti dikutip dari Foxnews, Kamis (13/6/2013) berikut ini.

1. Mencuci tangan berlebihan

Mencuci tangan dengan air atau penggunaan hand sanitizer secara kompulsif merupakan gejala paling umum pada pasien OCD. Banyak pasien OCD yang takut akan kuman (obsesi yang paling sering ditemukan pada pasien OCD), tapi hal ini juga bisa saja didasari karena pasien takut membuat orang lain sakit, atau ketika pasien merasa dirinya kotor.

Kapan harus meminta bantuan? "Jika Anda selalu berpikir tentang kuman, bahkan setelah mencuci kedua tangan, Anda khawatir tak cukup bersih ketika menggosok kedua tangan atau Anda memiliki ketakutan yang tak rasional tentang suatu penyakit (seperti terkena HIV dari kereta belanjaan), bisa jadi ini tandanya Anda terkena OCD," kata Jeff Szymanski, direktur eksekutif International OCD Foundation yang berbasis di Boston.

Selain itu, kebutuhan untuk mencuci tangan hingga lima kali sehari dan menyabuni setiap ujung dan dasar kuku, misalnya, juga merupakan gejala peringatan adanya OCD.

2. Terlalu semangat bersih-bersih

Pasien OCD juga cenderung membersihkan segala sesuatu secara kompulsif. Selain mencuci tangan, membersihkan rumah seringkali dimanfaatkan pasien OCD untuk meredakan fobia kumannya atau perasaan kotor yang dialami pasien. Kendati bersih-bersih dapat membantu meredakan pemikiran-pemikiran obsesif, namun hal itu takkan bertahan lama. Bahkan keinginan untuk bersih-bersih seringkali makin menguat keesokan harinya.

Kapan harus meminta bantuan? Kalau Anda menghabiskan waktu berjam-jam dalam sehari untuk bersih-bersih, hal ini hampir selalu ada kaitannya dengan OCD. Tapi lain halnya jika Anda punya kebiasaan suka bersih-bersih setiap satu jam sehari, karena itu belum tentu gejala OCD.

"Ada konsekuensi yang begitu terasa ketika Anda berhenti melakukannya. Karena jika Anda tak bersih-bersih maka Anda akan merasa sangat gelisah dan ketakutan," ungkap Dr. Michael Jenike, seorang psikiater dari Massachusetts General Hospital, Boston.

3. Suka memeriksa sesuatu secara berulang-ulang

Pasien biasanya sampai mengecek tiga, empat atau bahkan 20 kali untuk memastikan jika mereka telah mematikan oven atau mengunci pintu rumah. 30 Persen pasien OCD memiliki kecenderungan semacam ini. Namun sama halnya dengan perilaku kompulsif lainnya, kebiasaan mengecek sesuatu ini bisa jadi disetir oleh berbagai obsesi yang dipendam pasien, mulai dari takut disakiti atau merasa sangat tidak bertanggung jawab.

Kapan harus meminta bantuan? Normal-normal saja jika Anda satu-dua kali mengecek atau memastikan sesuatu telah dilakukan dengan benar atau tidak. Tapi jika kebiasaan memeriksa ini mengganggu kehidupan sehari-hari (seperti membuat Anda sering terlambat bekerja) atau menjadi ritual tersendiri yang tak bisa Anda abaikan begitu saja, bisa jadi ini adalah gejala OCD.

4. Berhitung

Sejumlah pasien OCD kerapkali melakukan aktivitas berdasarkan pola numerik tertentu atau menghitung apapun yang mereka lakukan atau temui dalam kehidupan sehari-hari (seperti ketika menaiki tangga atau bersih-bersih). Perilaku ini bisa jadi dipengaruhi oleh kepercayaan terhadap hal-hal magis, tapi bisa juga karena OCD.

Kapan harus meminta bantuan? Berhitung memang kadang bisa jadi pengalih perhatian atau distraksi yang baik saat Anda berjalan menuju kendaraan yang sedang Anda parkir atau menaiki tangga menuju kantor.

"Jika ini tidak mengganggu Anda atau orang lain, maka itu tak jadi soal. Orang-orang biasanya baru datang ke saya jika mereka tak bisa berhenti memikirkan angka-angka," kata Jenike.

5. Tukang atur yang perfeksionis

Pasien OCD cenderung suka mengatur sesuatu tapi dalam level perfeksionis. Biasanya hal ini didasari oleh obsesi si pasien terhadap urutan dan simetri.

Kapan harus meminta bantuan? "Apa yang mereka atur harus terlihat tepat, simetris dan dengan urutan yang benar," tandas Szymanski, yang juga menulis buku The Perfectionist's Handbook.

Banyak orang yang ingin meja kerjanya rapi karena terkadang itu membantu meningkatkan produktivitas atau kinerjanya tapi pasien OCD tak hanya ingin merapikan mejanya tapi juga merasa itu merupakan suatu kewajiban, terutama untuk meredakan kegelisahan mereka.

6. Takut mengalami tindak kekerasan

Hampir setiap orang pasti pernah terpikir akan mengalami tindak kekerasan ataupun kesialan. Namun semakin kita mencoba untuk menghindari pemikiran semacam ini, biasanya semakin sering pemikiran itu muncul di kepala kita. Dan menurut sebuah riset, hal ini tampaknya lebih 'menghantui' pasien OCD.

"Mereka bisa saja berupaya lebih keras untuk menekan pemikiran seperti itu atau memberikan reaksi yang lebih intens karena mereka menganggap hal ini tak dapat diterima," terang Szymanski.

Kapan harus meminta bantuan? "Penting bagi kita untuk menyadari bahwa sesekali akan muncul pikiran buruk dalam kepala kita," tukas Szymanski.

Tapi ini bisa jadi gejala OCD jika bayangan akan dirampok membuat Anda menjauhi taman kota atau kalau Anda mengkhawatirkan keamanan ibu Anda lalu Anda meneleponnya hingga beberapa kali dalam sehari, misalnya.

7. Muncul pemikiran seksual yang tidak diinginkan

Sama halnya dengan pemikiran akan mengalami tindak kekerasan, pemikiran tentang perilaku seksual yang tabu atau tak pantas secara berulang-ulang seringkali terjadi pada pasien OCD. Pasien mungkin membayangkan mereka akan menggerayangi rekan kerja, melecehkan seorang anak atau memiliki orientasi seksual yang berbeda seperti homoseksualitas.

Kapan harus meminta bantuan? "Kebanyakan orang bisa saja mengatakan, 'Oh, saya benar-benar tak ingin melakukannya atau pemikiran ini tidaklah mencerminkan diri saya'. Tapi pasien OCD sampai berpikir, 'Pemikiran ini sungguh mengerikan, takkan ada orang yang berpikir seperti itu'," papar Szymanski.

Apalagi jika Anda sampai mengubah perilaku karena munculnya pemikiran-pemikiran tersebut, termasuk menghindari teman gay atau rekan kerja yang 'masuk' ke dalam pikiran Anda, ini bisa jadi gejala OCD.

8. Memutus relasi
Pasien OCD telah lama diketahui kerap memutus hubungan dengan teman, rekan kerja, pasangan dan anggota keluarga secara obsesif. Tampaknya pasien merasa memiliki tanggung jawab yang berlebihan dan sulit menerima ketidakpastian.

Kapan harus meminta bantuan? "Putus dari pacar bisa saja membuat seseorang menjadi 'terobsesi', tak peduli mereka mengidap OCD atau tidak," ucap Jenike.

Tapi ini bisa jadi gejala OCD jika pemikiran-pemikiran seperti itu tertahan di dalam kepala hingga membuat orang yang bersangkutan meragukan dirinya sendiri atau takut menjadi bad person dalam suatu hubungan.

9. Mencari-cari kepastian

Salah satu cara pasien OCD untuk mencoba meredakan kegelisahannya adalah meminta pendapat dari teman-teman dan keluarganya. Bahkan terkadang mereka sampai rela mempermalukan dirinya sendiri di hadapan publik, misalnya meminta bantuan teman-teman untuk menekankan suatu hal yang negatif tentang dirinya. Hal ini terdengar konyol tapi itu adalah strategi mereka untuk menghindari perilaku kompulsif.

Kapan harus meminta bantuan? Ini bisa jadi gejala OCD jika Anda menyadari Anda terlalu sering mengulang pertanyaan yang sama, berkali-kali atau sampai teman Anda menanyakan mengapa Anda terus mengajukan pertanyaan yang sama. Bahkan jika kepastian itu Anda peroleh dari orang yang Anda cintai biasanya hal itu dapat memperparah perilaku obsesif Anda.

10. Membenci penampilan
Body dysmorphic disorder (BDD) merupakan kondisi yang mempunyai keterkaitan yang erat dengan OCD dimana seseorang menganggap salah satu bagian tubuhnya terlihat abnormal atau tidak menarik, biasanya hidung, kulit atau rambut. Namun BDD berbeda dengan gangguan makan karena pasien BDD tidak memfokuskan diri pada berat badan atau perubahan pola makan.

Tak heran, banyak pasien BDD yang juga mengidap OCD, apalagi kekhawatiran akan kebersihan tubuh mereka semakin melengkapi kebencian pasien terhadap penampilannya.

Kapan harus meminta bantuan? Tak jadi masalah jika seseorang membenci beberapa aspek fisik pada tubuhnya, tapi pasien BDD bisa menghabiskan waktu berjam-jam dalam sehari hanya untuk memandangi cermin.

"Bahkan Anda cenderung memberikan penilaian yang berlebihan tentang seberapa pentingnya hal itu bagi Anda maupun orang lain dan terkadang menghindari berada di tengah-tengah kerumunan," pungkas Szymanski.
16.23 | 0 komentar | Read More

Lebih Halus dan Sulit Terdeteksi, Jangan Remehkan Depresi Ringan

Written By iqbal_editing on Selasa, 22 Agustus 2017 | 03.38

Depresi bisa dialami oleh siapa saja tanpa mengenal usia maupun jenis kelamin. Hanya saja kadang depresi yang dianggap ringan justru lebih mengkhawatirkan. Seperti apa penjelasannya? Simak di sini.

Dikutip dari Times of India, depresi ringan atau dysthymia bisa lebih akut dan parah dibanding depresi mayor. WHO (World Health Organization) mendefinisikan dysthymia sebagai bentuk depresi ringan yang persisten atau kronis, yang gejalanya mirip dengan gangguan depresi mayor namun cenderung kurang intens dan bertahan lebih lama.


Dysthymia sulit untuk didiagnosis karena gejala dan karakteristiknya sangat halus, sehingga sulit diketahui apakah sebenarnya ada masalah yang lebih dalam atau tidak. Orang yang menderita gangguan semacam itu cenderung pandai menyembunyikan gejalanya di depan orang lain yang membuatnya menjadi tantangan untuk memahami dan mengenali hal semacam itu.

Dysthymia bisa disertai dengan beberapa jenis gangguan lainnya, seperti masalah fisik ataupun psikologis. Hal ini membuat semua semakin sulit ditangani karena tingkat kerumitan dalam pikiran orang yang terkena dampak.

Menurut psikiater, Dr dr Suzy Yusna Dewi, SpKJ, beberapa waktu lalu dysthymia bisa ditangani dengan pemberian obat antidepresan. Hanya saja sebelumnya jangan lupa untuk berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu.

"Orang yang depresi dysthmic itu depresinya ringan tapi berlangsung lama bisa sampai dua tahun. Dia misalnya masih bisa sekolah tapi ya itu moodnya kerasa enggak enak terus," kata dr Suzy.
03.38 | 0 komentar | Read More

Riset: Lebih Sehat Menganggur Daripada Punya Pekerjaan Tapi Selalu Stres

Written By iqbal_editing on Minggu, 13 Agustus 2017 | 18.12

Tidak punya pekerjaan memang sangat membebani pikiran. Tapi jangan salah, punya pekerjaan juga tidak lebih sehat jika pada akhirnya jadi sering stres.

Sebuah penelitian di University of Manchester membuktikan bahwa orang-orang yang memiliki pekerjaan dengan kualitas buruk lebih banyak mengalami masalah kesehatan yang berhubungan dengan stres. Orang-orang tersebut memiliki tekanan darah dan kadar kolesterol lebih tinggi.

Peningkatan tekanan darah dan kadar kolesterol berhubungan dengan gangguan kesehatan pada sistem kardiovaskular. Risiko mengalami stroke dan serangan jantung termasuk di dalamnya.

Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan menganalisis 1.116 orang berusia 35-75 tahun yang menganggur pada 2009-2010. Para partisipan diamati hingga 2 tahun kemudian, sambil diukur beberapa indikator kesehatannya. Di antaranya meliputi tes darah.


Hasil pengamatan menunjukkan, perubahan status dari menganggur menjadi punya pekerjaan tetapi tidak berkualitas, berdampak pada berbagai indikator kesehatan. Termasuk di antaranya adalah kadar gula darah dan kolesterol yang memburuk.

"Sama halnya dengan pekerjaan yang baik akan berdampak baik bagi kesehatan, pekerjaan yang buruk juga bisa berdampak buruk bagi kesehatan," kata Prof Tarani Chandola yang memimpin penelitian tersebut, dikutip dari Dailymail.
18.12 | 0 komentar | Read More

Jangan Diam Saja, Ada yang Bisa Dilakukan untuk Cegah Bunuh Diri

Written By iqbal_editing on Rabu, 19 Juli 2017 | 21.00

Meskipun terhimpit masalah, bunuh diri bukanlah jawaban. Setelah mengenali perubahan pada perilaku dan perkataan yang bisa mengarah kepada bunuh diri, ada hal lain yang bisa dilakukan untuk mencegahnya.

Dikatakan dr Tun Kurniasih Bastaman, SpKJ(K), setelah meyakini jika seseorang memperlihatkan kecenderungan depresi yang bisa mengarah ke bunuh diri ini, janganlah acuh tak acuh.

"Pendekatan, dengarkan dan dampingi," pinta dr Tun kepada detikHealth saat dihubungi, Rabu (19/7/2017).

Baca juga: Catat! Ini Tanda-tanda Seseorang Akan Bunuh Diri

Senada dengan dr Tun, psikiater dari RS Jiwa Dr Soeharto Heerdjan, dr Nova Riyanti Yusuf, SpKJ meminta agar yang bersangkutan diajak bicara. Namun tak perlu sampai memaksa orang ini untuk membicarakan persoalan yang dihadapinya.

Menurut wanita yang akrab disapa Noriyu itu, dengan diajak bicara saja, seseorang yang memiliki kecenderungan bunuh diri akan merasa mendapatkan tambahan energi atau semangat hidup.

Baca juga: Putus Asa Sampai Ingin Bunuh Diri, Baca Dulu Saran Dokter Ini

Seperti kita tahu, mereka yang memiliki kecenderungan ini rata-rata berawal dari depresi yang dialaminya. Depresi membuat seseorang merasa putus asa, tidak berdaya dan merasa tak ada gunanya lagi melanjutkan hidup.

"Jadi nggak ada salahnya kita selalu berusaha baik ke orang lain. Be nice to other people itu penting sekali. Jangan cuek banget," ujarnya dalam kesempatan terpisah.
21.00 | 0 komentar | Read More

Seniman Ini Gambarkan Rasanya Mengidap Gangguan Kecemasan Lewat Komik

Written By iqbal_editing on Selasa, 18 Juli 2017 | 20.51

Terkadang sulit bagi lingkungan sekitar untuk memahami bagaimana perasaan atau persepsi pasien gangguan kejiwaan terhadap lingkungannya. Orang-orang terdekat seperti keluarga dan kerabat saja belum tentu mampu mengerti betul apa yang dirasakan oleh pasien gangguan jiwa.

Hal inilah yang mendorong Sow Ay, seorang seniman asal Prancis, untuk menggambar komik dan ilustrasi tentang bagaimana rasanya mengidap gangguan jiwa. Ya, seniman yang memilih untuk merahasiakan identitasnya ini merupakan pengidap gangguan kecemasan yang rutin melakukan terapi.

"Aku selalu merasa cemas sejak dahulu. Dan beberapa waktu lalu aku didiagnosis mengalami gangguan panik. Aku sangat takut untuk membicarakan hal ini namun ada kalanya aku tak tahan dan memilih menggambar," tutur Sow, dikutip dari Independent.

Tak hanya soal gangguan kecemasan, Sow juga menggambar komik dan ilustrasi soal gangguan jiwa lainnya seperti depresi dan gangguan bipolar. Sebabnya, antara satu gangguan jiwa dengan gangguan jiwa lainnya memiliki keterkaitan yang sama.


Komik Sow Ay memiliki misi untuk mengenalkan bagaimana rasanya menjadi pasien gangguan jiwaKomik Sow Ay memiliki misi untuk mengenalkan bagaimana rasanya menjadi pasien gangguan jiwa Foto: Sow_Ay/Tumblr

Sow menggunakan media sosial seperti Instagram, Tumblr dan Twitter untuk membagikan hasil karyanya. Tak disangka, komik dan ilustrasi buatannya mendapat perhatian dari pengidap gangguan jiwa dan masalah kejiwaan lainnya.

Ia mengaku menangis ketika mengetahui banyak pembaca komiknya yang memiliki 'periode kelam' seperti yang ia alami. Menurutnya, gangguan kecemasan membuatnya selalu merasa tidak berguna, tidak bermanfaat untuk orang lain, dan panik ketika harus berinteraksi secara sosial.

"Pada awalnya, aku tak ingin membagikan karyaku. Namun aku melakukannya juga, dengan harapan mereka mau mengerti dan mendukungku. Aku sangat beruntung karena mendapat respons yang sangat baik dari berbagai macam kalangan," tuturnya.


Sow merupakan pengidap gangguan kecemasan yang juga memiliki gejala depresi dan bipolarSow merupakan pengidap gangguan kecemasan yang juga memiliki gejala depresi dan bipolar Foto: Sow_Ay/Tumblr

Sow juga memiliki misi khusus lewat komik dan ilustrasinya. Ia ingin mematahkan kesalahpahaman soal gangguan jiwa yang dikatakan 'hanya terjadi di pikiranmu saja'. Adanya kesalahpahaman inilah yang membuat pasien gangguan jiwa sulit terbuka dan mencari pertolongan.

"Gangguan jiwa tidak bisa dikalahkan hanya dengan kemauan yang kuat. Kekuatan besar justru dibutuhkan untuk meminta bantuan orang lain dan berbicara kepadanya tentang masalah yang Anda alami," tutupnya.
20.51 | 0 komentar | Read More

hhubungan depresi dan aktifitas sehari-hari

Written By iqbal_editing on Jumat, 14 Juli 2017 | 01.33

WN Jepang sekaligus manajer JKT 48, Inao Jiro, bunuh diri dengan cara menggantung diri di kamar mandi rumahnya. Pengakuan dari rekan kerjanya, Jiro dikenal sebagai sosok yang periang.

"Jiro ini sosoknya periang. Optimistik orangnya. Baik sih kalau bertemu. (Dia) bergaul kok," tutur Clement, GM Operational Hits Record yang mengaku kenal cukup baik dengan Jiro, dikutip dari detikHot.

Secara terpisah, dr Andri, SpKJ, FAPM dari Klinik Psikosomatik RS Omni Alam Sutera mengatakan kecenderungan untuk melakukan bunuh diri berawal dari gangguan kejiwaan depresi yang dialami seseorang. Depresi membuat seseorang merasa putus asa, tidak berdaya dan tidak ada gunanya lagi melanjutkan hidup.

B

Meski begitu, hal-hal tersebut tidak selalu muncul ke permukaan. Sehingga sangat wajar jika ada seseorang yang terlihat periang namun sejatinya sedang dalam keadaan putus asa dan tidak lagi memiliki harapan hidup.

"Yang harus diperhatikan oleh kita adalah jika ada teman, kerabat atau keluarga yang sebelumnya periang dan outgoing, tiba-tiba tertutup dan menarik diri, tidak ada lagi motivasi untuk melakukan kegiatan sehari-hari. Gejala ini sering ditemukan pada orang depresi," tambahnya lagi.



Dalam tahap lanjut, depresi akan membuat seseorang memiliki keinginan untuk bunuh diri. Pikiran-pikiran negatif seperti 'untuk apa lagi saya hidup' atau 'jika saya mati mungkin keadaan akan lebih baik' mulai memasuki otak.

"Orang yang bunuh diri sudah sampai seperti itu. Jadi dia anggap bunuh diri bisa membuat keadaan lebih baik, bukan hanya untuk dirinya sendiri, namun juga bagi orang lain di sekitarnya," tandasnya lagi.

Apalagi, depresi masih dianggap sebagai bentuk kelemahan pribadi seseorang dan sering kali diabaikan. Padahal depresi merupakan gangguan jiwa serius yang harus segera ditangani sebelum bertambah parah.

"Maka dari itu kita harus berempati dengan orang-orang yang mengalami kondisi seperti ini. Jangan dianggap lemah atau malah dibully, tapi dirangkul dan biarkan dia cerita. Kalau perlu, segera bawa ke profesional terlatih seperti psikolog klinis atau psikiater untuk mendapatkan bantuan," paparnya.
01.33 | 0 komentar | Read More

Putus Asa Sampai Ingin Bunuh Diri, Baca Dulu Saran Dokter Ini

Bunuh diri yang dilakukan pria asal Cilacap, Sumanto (34) menggegerkan netizen. Keputusan yang diambil Sumanto untuk meninggalkan istri dan anaknya dengan seutas tali sangat disayangkan oleh banyak orang.

Sumanto adalah satu dari sekian orang yang telah memutuskan untuk mengakhiri hidup dengan jalan pintas. Motif dari tiap pelaku tindakan bunuh diri pun berbeda-beda.

Namun, secara garis besar, ketika seseorang melakukan bunuh diri biasanya hal ini terjadi karena dua hal, menurut Bona Sardo, MPsi, ketika dihubungi detikHealth via telepon, Jumat (14/7/2017). Dua hal lain antara lain karena regulasi emosi dan pemahaman diri yang kurang baik.

Pemahaman diri sendiri menyangkut mengenai kemampuan seseorang memahami kelebihan dan kekurangan diri, termasuk di dalamnya mengenal kemampuan diri sendiri dalam mencari diri sendiri.


Ketika kemampuannya mengenal konsep diri kurang baik, maka seseorang tidak akan berhenti mencari jati diri. "Nanti jadi bertanya-tanya 'saya tuh siapa, sih?'. Kalau dikasih stimulus sedikit ngikut-ngikut, kalau ada masalah 'eh nyilet-nyilet tangan aja,' dia ikut," ujar psikolog dari RS Mitra Keluarga, Depok.

Sedangkan, regulasi emosi adalah kemampuan seseorang dalam mengatur emosi. Seseorang dengan tingkat regulasi emosi yang rendah biasanya cenderung berpikiran pendek karena kesulitan dalam melampiaskan diri. Hal ini juga berkaitan dengan lingkungan dalam keluarga seseorang.

"Nggak boleh lupa dia tumbuh di keluarga yang seperti apa, kalau keluarga yang penyelesaiannya dangkal, dia jadi ikut nggak mikir panjang," terang psikolog yang merupakan lulusan Universitas Indonesia ini.


Saat orang terdekat atau bahkan diri sendiri memutuskan bunuh diri, Bona Sardo memberikan satu permintaannya. "Jangan lakukan," katanya. Sebab katanya, ketika seseorang gelap mata yang diinginkan sebenarnya adalah sebuah bentuk perhatian.

Menurut sebuah riset, orang yang mau melakukan tindakan upaya bunuh diri, hampir semuanya adalah sebuah bentuk upaya meneriakkan ingin diperhatikan. "Rasanya seperti masuk lubang terdalam, merasakan hollowness yang besar. Ini hanya upaya dia untuk meneriakan 'eh perhatiin gue dong," tuturnya.

Karenanya, penting bagi seseorang yang merasa ingin bunuh diri menemukan orang yang paling ia percaya untuk membagikan emosi yang ia punya. Jika dirasa kurang efektif mengatasi gejolak emosi, jangan ragu untuk menemui psikolog. "Banyak kok klien saya yang datang dan cerita pernah melakukan upaya bunuh diri," pungkasnya.
01.15 | 0 komentar | Read More

terapi stress dengan berjalan di hutan

Written By iqbal_editing on Kamis, 29 Juni 2017 | 05.10

Shinrin yoku berarti 'forest bathing'. Terdengar aneh namun sebenarnya mandi yang ini tidak memakai air ataupun sabun, tetapi kegiatan ini sendiri berarti jalan-jalan menembus hutan.

Metode ini diklaim dapat meredakan stres dari berbagai hal, bisa pekerjaan atau kehidupan urban yang serba cepat.

Namun kegiatan ini juga bukan sembarang jalan-jalan. Mengingat tujuannya sebagai terapi stres, tiap kegiatan shinrin yoku akan didampingi seorang pemandu yang telah terakreditasi.

Dewasa ini, baru ada tiga pemandu shinrin yoku terakreditasi di Australia. Satu di antaranya adalah Alex Gaut dari Lembaga Konservasi Australia Selatan.

Menurut Gaut, metode ini terinspirasi dari istilah karoshi yang berarti kematian akibat kerja berlebihan yang banyak terjadi pada orang-orang Jepang.

Dalam pelaksanaannya, peserta diajak bermeditasi sembari mencoba memfokuskan pikiran pada suara burung atau angin maupun aroma rerumputan.

Peserta juga diajak berjalan pelan menyusuri hutan sembari jemari-jemari mereka menyentuh dedaunan dan batang-batang pohon yang dilewati, sedangkan mata peserta dimanjakan oleh hijaunya pepohonan dan pemandangan gunung.

"Dengan benar-benar berkonsentrasi pada momen dan perasaan yang ada, hal-hal lainnya akan terlupakan barang sejenak," kata Gaut seperti dilaporkan ABC Australia.

Karena berada di tengah hutan, peserta juga tidak akan terganggu dengan dering suara ponsel atau update media sosial. Kemudian mereka akan menyudahi kegiatan itu dengan minum teh bersama.

Salah satu peserta yang ikut dalam panduan Gaut, Palitja Moore mengaku pengalaman ini begitu unik. Padahal ia sudah sering naik turun gunung dan menjelajahi hutan.

"Kegiatan ini membuat Anda benar-benar berhenti dari segala kesibukan dan saya kira sesekali melupakan hal-hal duniawi itu ada baiknya," ujarnya.


Sejumlah penelitian di Jepang menyebut kegiatan 'forest bathing' ini dapat menurunkan tekanan darah dan tingkat stres seseorang.

Satu di antaranya dilakukan oleh Qing Li, presiden Japanese Society of Forest Medicine. Dengan mengamati profil mood sejumlah partisipan, ia menemukan bahwa perasaan stres, cemas dan marah yang dimiliki partisipan menurun drastis setelah mengikuti kegiatan ini.

Dalam studi terpisah, Li dan timnya mengirim beberapa pria dan wanita muda untuk melakukan 'forest bathing' dan membandingkannya dengan meminta mereka menginap di sebuah hotel yang kebetulan letaknya di tengah hutan. Masing-masing selama tiga hari.

Sampel darah mereka juga diambil sebelum dan sesudah perjalanan tersebut, dan di situ ditemukan adanya peningkatan jumlah sel pembunuh alami yang memainkan peran penting dalam sistem kekebalan manusia, utamanya di saat melawan penyakit.

Li menduga ini karena saat 'forest bathing' berlangsung, peserta dapat menghirup udara segar yang mengandung minyak esensial yang dihasilkan pepohonan. Minyak esensial ini sendiri memiliki komponen aktif seperti limonene yang bersifat antimikroba dan meningkatkan kekebalan.

Peneliti menambahkan shinrin yoku tidak harus dilakukan di hutan lebat. Yang terpenting adalah jangan memilih rute yang berat. Durasi yang direkomendasikan tak boleh lebih dari empat jam dan Anda hanya diperkenankan berjalan kaki tak lebih dari 4 km.

Jangan pula dipaksakan karena ini bukan latihan ketahanan fisik, sehingga Anda diperkenankan beristirahat sewaktu-waktu. Saat rehat itulah Anda bisa duduk-duduk menikmati alam, bermeditasi, membaca buku atau menikmati segelas teh.
05.10 | 0 komentar | Read More

TIPS SAAT BERPAPASAN DENGAN PELAKU EKSIBISI0ONISME

Written By iqbal_editing on Selasa, 06 Juni 2017 | 03.45

, Demi mendapatkan kepuasan seksual, pelaku eksibisionisme tak segan untuk memperlihatkan kemaluannya kepada orang asing. Tak heran jika kemudian 'korbannya' merasa kaget, panik ataupun ketakutan.

Menurut ahli, ekspresi ketakutan atau terkejut inilah yang justru diharapkan oleh si pelaku eksibisionisme, bahkan ada yang mengatakan inilah yang membuat mereka merasa fantasi seksualnya terpenuhi.

Itulah mengapa biasanya pada kasus tertentu, ada pelaku eksibisionisme yang sampai bermasturbasi di hadapan 'korbannya'. Selain itu, pada dasarnya eksibisionis tidak sampai melakukan kontak seksual secara langsung dengan si 'korban'.

Lantas bagaimana sebaiknya bersikap ketika bertemu dengan pelaku eksibisionisme? Menurut dr Andri, SpKJ, FAPM dari Klinik Psikosomatik, RS Omni Alam Sutera menuturkan, karena yang diharapkan si eksibisionis adalah kaget atau terkejutnya orang lain terhadap perilakunya, sehingga ada baiknya si 'korban' tidak terkejut.

"Jadi biasa saja sikapnya. Kalau kita biasa saja, malah membuat dia akan lebih tidak nyaman karena tujuannya tidak berhasil," sarannya saat berbincang dengan detikHealth, Senin (5/6/2017).

dr Andri menambahkan, bisa juga dengan berpaling atau tidak mau melihat saja, tetapi yang terpenting upayakan untuk tidak terlalu heboh menanggapinya, apalagi sampai berteriak-teriak karena seolah-olah 'menuruti' hasrat si pelaku eksibisionisme.

Baca juga: Pemicu Eksibisionisme: Merasa Inferior dengan Lawan Jenis

Cuplikan video eksibisionis lain yang beredarCuplikan video eksibisionis lain yang beredar (Foto: Screenshot dari video yang beredar)

Untungnya dr Andri juga mengatakan eksibisionisme sebenarnya dapat disembuhkan. "Pertama-tama kita lakukan psikoanalitik, utamanya mencari dasar dari perbuatan eksibisionisme yang dilakukan sehingga orang tersebut akhirnya bisa menyadari apakah memang karena inferioritasnya ataukah karena masalah lainnya," paparnya.

Ada beberapa jenis terapi yang bisa diberikan kepada seseorang dengan kecenderungan eksibisionisme, salah satunya terapi perilaku dan pemberian obat-obatan yang sifatnya mengubah hormon si pelaku.


Sedangkan apakah eksibisionisme dapat dicegah atau tidak, psikolog seksual Zoya Amirin, M.Psi mengatakan ini dikembalikan kepada pribadi masing-masing.

"Yang paling mungkin adalah sekarang cobalah ketika Anda sudah mulai keluar hasrat untuk memamerkan hal tersebut, Anda harus bayangkan bahwa Anda tidak akan pernah mendapatkan hubungan atau membina hubungan yang sehat dengan perempuan," katanya dalam rubrik konsultasi detikHealth beberapa waktu lalu.

Bila yang bersangkutan merasa tidak butuh dengan perasaan seperti itu tapi sebaliknya hanya ingin menikmati saja, maka Zoya menyarankan yang bersangkutan agar berkonsultasi dengan pakarnya sebab dapat dipastikan ini adalah eksibisionisme, sehingga perlu mendapatkan penanganan segera.
03.45 | 0 komentar | Read More

Pesan Dokter Jiwa: Stop Viralkan Aksi Telanjang di Jalanan

Viralnya video wanita nyaris bugil yang belanja di apotek dan berjalan-jalan di daerah Mangga Besar menarik perhatian dokter jiwa. Jika benar wanita yang ada di video tersebut mengidap gangguan jiwa, maka merekamnya dan mengunggah video ke internet malah akan memperburuk stigma terhadap orang dengan ganggguan jiwa (ODGJ).

"Memang masalahnya di zaman sekarang ini ya, orang selalu ingin mengabadikan peristiwa di dekat mereka dengan smartphone, lalu menyebarkannya dengan segera, supaya dianggap orang pertama yang tahu, apalagi jika kejadiannya heboh, kontroversial dan menarik seperti wanita setangah telanjang di Mangga Besar itu," tutur dr Andri, SpKJ, dari Klinik Psikosomatik RS Omni Alam Sutera.

ODGJ yang telanjang dikatakan dr Andri berbeda dengan pengidap eksibisionisme. Meskipun keduanya sama-sama dikategorikan sebagai gangguan jiwa, alasan telanjang di tempat umumnya sangat berbeda.



Misalnya pada pengidap skizofrenia, pergi ke luar rumah tanpa busana dilakukan karena penilaian tentang realitanya yang sudah terganggu. Sehingga mereka tidak sadar jika ke luar rumah dalam keadaan bugil atau tanpa busana.

Berbeda dengan pengidap eksibisionisme di mana mereka sengaja melespaskan pakaian atau berjalan bugil di jalanan karena dorongan fantasi seksual. Pengidap eksibisionisme melakukannya untuk mencari kepuasan.


Itulah mengapa biasanya pada kasus tertentu, ada pelaku eksibisionisme yang sampai bermasturbasi di hadapan 'korbannya'. Selain itu, pada dasarnya pelau eksibisionisme tidak sampai melakukan kontak seksual secara langsung dengan si 'korban'.

"Jadi biasa saja sikapnya ketika bertemu eksibisionis. Kalau kita biasa saja, malah membuat dia akan lebih tidak nyaman karena tujuannya tidak berhasil," sarannya saat berbincang dengan detikHealth.

Lain halnya jika di jalanan bertemu dengan ODGJ yang bugil namun tidak menyadari keadaan di sekitarnya. Jika bertemu dengan ODGJ seperti ini, dr Andri mengatakan lebih baik kita membantu dengan memberikan pakaian untuk menutupi tubuhnya.

"Lebih baik diberikan pakaian. Jangan divideokan. Kita berikan pakaian atau penutuplah minimal untuk menutup alat vitalnya. Baru hubungi pihak berwajib untuk cari pertolongan. Fokus utamanya adalah membuat mereka merasa lebih baik dulu, bukan langsung videokan dengan alasan ini seru lalu diviralkan," tegasnya.
03.41 | 0 komentar | Read More

BAHAYA BLUE WHALE CHALLENGGE BAGI REMAJA

Written By iqbal_editing on Kamis, 04 Mei 2017 | 01.24

Blue Whale Challenge merupakan sebuah permainan online yang berasal dari media sosial. Permainan ini sangat kontoversial dan berbahaya karena mengajak pesertanya untuk melukai diri sendiri hingga bunuh diri.

Permainan ini menghebohkan publik dunia setelah sebuah laporan menyebut 130 remaja di Rusia bunuh diri karena mengikuti permainan ini. Pakar kesehatan jiwa dari Klinik Psikosomatik RS Omni Alam Sutera, dr Andri, SpKJ, FAPM pun mengingatkan para remaja untuk tidak ikut-ikutan permainan ini.

"Memang tidak semua remaja bisa dan melakukan hal ini, karena kan tugasnya melukai diri sendiri. Namun mereka yang memiliki gangguan depresi atau gangguan kepribadian ambang (borderline personality disorder -red) sangat rentan, bukan hanya menyakiti diri sendiri namun juga bunuh diri," tutur dr Andri kepada detikHealth.


Secara ringkas, Blue Whale Challenge merupakan permainan yang menuntut pesertanya melakukan 50 tugas. 50 Tugas tersebut terdiri dari menggambar ikan paus di pergelangan tangan atau kaki menggunakan benda tajam seperti silet, menonton film horor sepanjang hari, dan selanjutnya di hari ke-50, mereka dituntut untuk mengakhiri hidup.

Bagi pengidap gangguan kepribadian ambang, menyakiti diri sendiri merupakan cara untuk mengurangi sakit hati akibat banyaknya penolakan yang terjadi. Tanpa ditantang pun menurut dr Andri, pasien gangguan kepribadian ambang bisa menyakiti dirinya sendiri.

Dikatakan dr Andri, Blue Whale Challenge sejatinya adalah ajakan bunuh diri yang dibalut permainan. Dilihat dari tugas-tugas yang diberikan, peserta akan melukai diri sendiri dan perlahan-lahan membuat dirinya menjadi depresif sehingga di hari terakhir mau melakukan bunuh diri.

"Ini kan tidak benar karena yang dianggap menang adalah mereka yang berhasil bunuh diri. Padahal Hari Kesehatan Sedunia tahun ini mengambil tema Depression: Let's Talk," tambah dokter yang aktif di twitter lewat akun @mbahndi ini.

Ia pun menekankan kepada para remaja yang memiliki gejala depresif untuk tidak ragu mencari pertolongan profesional dengan pergi ke psikiater atau psikolog. Dengan begitu, gejala depresi yang muncul bisa ditangani sebelum terlambat.
01.24 | 0 komentar | Read More

Bukan Asal 'Sodok', Biliar Diklaim Tingkatkan Kesehatan Mental

Written By iqbal_editing on Selasa, 02 Mei 2017 | 20.21

Sama halnya dengan catur, biliar bukanlah olahraga yang banyak menghabiskan tenaga, tetapi lebih kepada kepandaian mengatur strategi dan fokus saat menyorongkan bola.

Namun siapa sangka, sebuah penelitian yang dilakukan di Inggris mengatakan bahwa biliar dapat meningkatkan kesehatan mental.

Peneliti sampai pada kesimpulan tersebut setelah melakukan survei terhadap 1.029 responden dewasa yang mengaku hanya bermain biliar sebagai hobi atau untuk mengisi waktu luang mereka.

Secara mengejutkan, lebih dari separuh atau 53 persen responden mengaku kesehatan mentalnya membaik setelah rutin bermain biliar. Mereka merasa lebih rileks tetapi tetap bisa tangkas saat beraktivitas. Bahkan beberapa responden mengklaim kesehatan fisik mereka juga ikut merasakan dampaknya.

Sebagian lainnya mengaku permainan ini membantu meningkatkan konsentrasi, kemampuan untuk menilai dan memanajemen risiko serta melatih kesabaran.

"Riset ini memastikan bahwa ketika seseorang bermain biliar, maka permainan ini dapat memberikan efek positif yang luar biasa dalam mempertahankan atau meningkatkan fungsi kognitif. Padahal responden hanyalah bermain untuk senang-senang saja," kata peneliti Rohit Sagoo dari Anglia Ruskin University.

Alasannya karena biliar tergolong sebagai 'mind sport' atau olahraga otak, sehingga memberikan dampak yang signifikan terhadap kemampuan kognitif pemainnya.


Sebuah contoh nyata manfaat biliar ditunjukkan para dokter yang bertugas di instalasi bedah di RSUD Waled Cirebon. Mereka diberi fasilitas berupa meja biliar dan ruang karaoke untuk relaksasi.

"Kadang kita harus operasi jam 12 malam. Dokter sudah datang semua, peralatan sudah siap, tapi operasi belum bisa dilakukan. Nah sambil nunggu kita bisa main bilyard atau karaoke," ungkap dr Iskandar Sarumpaet, SpB kepada detikHealth beberapa waktu lalu.

dr Iskandar mengakui keberadaan kedua fasilitas itu cukup membantu mengingat tindakan medis seperti bedah sangat menguras energi fisik serta mental, termasuk membantu meredakan stres.

Beban kerja para dokter di instalasi bedah RSUD Waled Cirebon dikatakan cukup tinggi mengingat ia adalah satu-satunya rumah sakit besar di wilayah perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah dan melayani sekitar 500 tindakan operasi untuk setiap bulannya.
20.21 | 0 komentar | Read More
 
berita unik