Entri Populer

Welcome Guys

Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog

Tampilkan postingan dengan label psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label psikologi. Tampilkan semua postingan

Studi: Filter Foto di Instagram Petunjuk Kesehatan Mental Seseorang

Written By iqbal_editing on Senin, 28 Agustus 2017 | 17.37

Jepret! Sebelum foto diunggah ke media sosial biasanya banyak yang menggunakan filter untuk mempercantiknya. Tapi ternyata, filter yang dipilih bisa mengungkap kesehatan mental seseorang, menurut penelitian dari Harvard dan University of Vermont.

Studi yang melibatkan 166 orang dan lebih dari 44.000 foto di dalamnya menunjukan hasil orang dengan atau beriwayat depresi biasanya memasukan foto dengan pencahayaan yang gelap atau tidak memiliki banyak warna, seperti dikutip dari Body & Souls, Senin (28/8/2017).

"Foto yang diunggah oleh orang yang depresi biasanya lebih biru, abu-abu atau lebih gelap," demikian yang tertulis dalam abstrak penelitian 'Instagram photos reveal predictive markers of depression'.


Meskipun begitu, tidak selalu berarti orang-orang yang memakai filter gelap adalah orang yang memiliki depresi. Butuh penelitian dan pengamatan lebih jauh untuk mengetahui apakah orang tersebut benar mengalami depresi atau tidak.

Tapi, tidak ada salahnya kan untuk menanyakan kabar dan apa yang sedang orang lain rasakan? Yuk lebih peduli dengan kesehatan jiwa orang sekitar.
17.37 | 0 komentar | Read More

Yuk Keluar Rumah! Paparan Sinar Matahari Bikin Kita Bahagia

Written By iqbal_editing on Minggu, 27 Agustus 2017 | 16.43

Sinar matahari yang bersinar sepanjang tahun di Indonesia perlu disyukuri. Pasalnya, studi terbaru menunjukkan bahwa sinar matahari bisa membuat kita bahagia

Studi Universitas Brigham Young (UBM) mengungkapkan bahwa jumlah waktu antara matahari terbit dan terbenam mempengaruhi suasana hati semua orang, bahkan lebih dari faktor seperti suhu, polusi, dan hujan.

Dilansir dari Medicaldaily, Jumat (25/8/2017), periset menyelidiki bagaimana suasana hati seseorang berhubungan dengan cuaca dan faktor terkait. Mereka menemukan bahwa orang melaporkan lebih banyak tekanan mental saat sinar matahari lebih sedikit dan siang terlalu pendek. Hasil studi menunjukkan bahwa panjang siang hari lebih mempengaruhi suasana hati orang daripada jumlah sinar matahari yang diserap.

Baca juga: 5 Manfaat Paparan Sinar Matahari untuk Kesehatan

Kesimpulan ini dibuat setelah menganalisis data meteorologi dari Stasiun Cuaca Fisika dan Astronomi UBM dan data polusi dari Badan Perlindungan Lingkungan AS. Mereka juga menilai cuaca di Pusat Pelayanan Konseling dan Psikologi Brigham Young.

"Ini adalah salah satu hasil penelitian kami yang mengejutkan. Pada saat hari hujan atau hari yang penuh polusi, orang-orang merasa memiliki lebih banyak tekanan, tapi kami tidak melihatnya. Yang kami lihat adalah radiasi matahari, atau jumlah sinar matahari yang benar-benar menyentuh tanah. Kami mencoba untuk mengukur faktor hari berawan, hari hujan, polusi, tapi mereka semua terkalahkan. Satu hal yang sebenarnya penting adalah jumlah waktu antara matahari terbit dan terbenam," ungkap Mark Beecher, penulis studi.

Baru-baru ini, beberapa penelitian lain juga telah mencoba untuk melihat efek cuaca pada suasana hati, namun hasilnya beragam.
16.43 | 0 komentar | Read More

mengatasi depresi dengan olahraga

Written By iqbal_editing on Minggu, 23 Juli 2017 | 20.37

elakangan banyak figur terkenal dikabarkan mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri dilatarbelakangi oleh depresi berlebih yang tak terkontrol. Perlu diketahui sebenarnya ada beragam cara yang bisa dilakukan untuk menangani depresi ini.

Praktisi gaya hidup sehat Jemima Djatmiko mengatakan salah satu cara tersebut adalah dengan rutin berolahraga. Jemima sendiri bercerita bahwa dulu ia pernah berjuang melawan depresi.

Saat itu, wanita yang pernah mewakili Indonesia di kompetisi kebugaran Test of Will 2017 Asia Tenggara yang digelar di Malaysia ini tengah berada pada titik terendah dalam hidup. Banyak masalah yang harus ia hadapi seorang diri.

"Banyak hal yang saya alami, yang benar-benar merasa di bawah. Ya ada masalah keluarga, masalah pribadi juga. Waktu itu memang harus melalui proses perceraian yang susahnya luar biasa dan itu buat saya jadi depresi," tutur Jemima saat berbincang dengan detikHealth.

"Waktu itu saya juga nggak punya siapa-siapa di sekitar saya, keluarga saya juga menentang itu. Ya kejadiannya adalah saya sudah putus asa, udah mau give up sebenarnya, cuma kita percaya masih ada Tuhan ya. Tuhan yang masih jaga kita, Tuhan masih sayang sama kita," kenang Jemima.

Baca juga: Ini Alasan Mengapa Olahraga Bisa Hilangkan Stres


Dalam sebuah kontes kebugaran, Jemima sanggup menarik mobil seberat 1,5 ton dengan tenaganya sendiri/ Foto: Instagram @jemimajobeDalam sebuah kontes kebugaran, Jemima sanggup menarik mobil seberat 1,5 ton dengan tenaganya sendiri/Foto: Instagram @jemimajobe


Diakui Jemima saat depresi, ia cenderung ingin menyakiti diri secara fisik. Namun, tak ingin terlalu dalam alami depresi dengan bantuan seorang psikolog akhirnya Jemima pun bangkit. Ia mengatakan ketimbang menyakiti diri ia mengalihkannya dengan hal yang lebih positif yaitu olahraga seperti lari atau angkat beban.

"Karena di olahraga itu kan rasanya ngos-ngosan, badan rasanya capek, cuma dengan cara tersebut kita tidak menyakiti diri tapi kita melakukan sesuatu yang lebih baik, lebih berguna dan justru malah ada hasilnya," kata Jemima.

"Sudah gitu kan ada hormon endorfin, ya sudah saya lebih happy lebih seneng," pungkasnya.

Hormon endorfin adalah hormon yang dapat membantu mengatur suasana hati seseorang. Berolahraga diketahui dapat memicu tubuh untuk memproduksinya sehingga orang yang sedang stres, sedih atau depresi memang sering disarankan melakukan aktivitas fisik.
20.37 | 0 komentar | Read More

Mengenali Gejala Depresi pada Orang dengan Kepribadian Tertutup

Written By iqbal_editing on Jumat, 21 Juli 2017 | 18.08

Seseorang dengan kepribadian introvert sering kesulitan untuk mengekspresikan mengenai perasaannya. Sehingga, apabila muncul gejala depresi mungkin saja kita tidak begitu menyadarinya.

Memang butuh kepekaan yang bagus untuk menyadarinya. Benny Prawira, SPsi, ketua komunitas pencegahan bunuh diri, Into The Light, membagikan tipsnya kepada detikHealth saat ditemui di Plaza Semanggi, Jakarta.

Menurutnya, sependiam apapun introvert pasti memiliki 1-2 teman terdekat yang bisa dipercaya untuk jadi tempat cerita. "Permasalahannya, ketika intensitasnya terlepas dari dia introvert atau ekstrovert dia tidak mau bergaul, intensitasnya menurun drastis. Jadi sama teman dekatnya pun dia tidak bisa dihubungi tiba-tiba," tuturnya.



Selain itu, pria yang menjadi satu-satunya perwakilan Indonesia dalam 'Youth Advisory Board dari National Center for The Prevention of Youth Suicide' periode 2013-2014 tersebut menjelaskan biasanya ada perubahan lainnya yang dialami oleh pelaku. Seperti misalnya, penggunaan narkoba atau menjadi sering mabuk-mabukan.

Apabila Anda menemukan gejala ini pada orang terdekat, maka membantunya adalah hal yang harus dilakukan. Caranya bagaimana? "Berikan apa yang ia butuhkan. Kalau dia memang butuh dipeluk, peluk. Senyamannya dia aja," tutupnya.
18.08 | 0 komentar | Read More

Psikolog: Dikeluarkan dari Sekolah Bukan Sanksi Tepat untuk Pelaku Bullyin

Written By iqbal_editing on Selasa, 18 Juli 2017 | 21.18

Ada dua kasus bullying atau perundungan yang belakangan terjadi di Indonesia dan membuat heboh. Kasus pertama melibatkan mahasiswa di Universitas Gunadarma, Depok, sementara kasus lainnya melibatkan siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Thamrin City, Jakarta.

Dari kasus bullying tersebut, banyak orang menuntut agar para pelaku dikeluarkan dari sekolahnya sebagai sanksi. Hal ini diketahui terjadi untuk para pelaku siswa SMP di Thamrin City.

Psikolog peneliti bullying Dra Ratna Djuwita, Dipl, Psych, dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia namun menyayangkan tindakan sekolah yang mengeluarkan para pelaku. Menurutnya sanksi itu tidak akan menyelesaikan masalah, malah bisa semakin memperburuk keadaan terutama dari sisi pelaku.


"Tidak (tepat -red). Itu pendekatan yang dipakai beberapa waktu lalu di Eropa, mungkin 20 tahun yang lalu kalau orang melakukan kesalahan tidak ada toleransi apapun. Sekarang kita harus yang namanya institusi pendidikan mendidik dan tidak boleh pilih-pilih," kata Ratna ketika ditemui detikHealth pada Selasa (18/7/2017).

"Mengeluarkan pelaku dari sekolah hanya memindahkan masalah. Penelitian menunjukkan pelaku bullying yang dikeluarkan itu nanti dewasanya akan lebih banyak terlibat tindakan kriminal, susah mencari kerja, susah bersosialisasi," papar Ratna.

Lalu apa sanksi yang tepat? Menurut Ratna pelaku harus mendapatkan peringatan tegas dan bimbingan konseling secara intensif. Dalam bimbingan tumbuhkan rasa empati sehingga pelaku bisa mengerti hal yang dialami oleh para korban.

Dengan demikian maka bisa ada kesempatan bagi pelaku untuk memperbaiki dirinya.

"Memang pasti enggak gampang, tapi bukankah itu tugasnya institusi pendidikan?," pungkas Ratna.
21.18 | 0 komentar | Read More

Ingin Bullying Diberantas? Psikolog: Kuncinya Sejak dari Keluarga

Written By iqbal_editing on Senin, 17 Juli 2017 | 01.42

Bullying atau perundungan nyata-nyata tidak hanya dialami oleh anak atau remaja berkebutuhan khusus, tetapi mungkin hampir semua orang pernah mengalaminya.

Lantas bagaimana memutus mata rantai ini? "Wah ini sih never ending problem ya. Jangankan anak berkebutuhan khusus, anak biasa juga mengalaminya," tandas psikolog anak dan remaja Ratih Zulhaqqi, M.Psi.

Apalagi bullying di Indonesia rata-rata bersifat sistematis, dan seringkali tidak disadari, kecuali mungkin oleh korban.


Untuk itu bila ingin bullying diberantas, maka edukasinya harus dilakukan secara luas. Namun yang terpenting adalah memberikan pemahaman yang tepat sejak seseorang berada di unit terkecil dalam masyarakat, yaitu keluarga.

"Children see, children do. Anak melihat orang tua menghalalkan segala cara, termasuk fisik untuk menyelesaikan masalah. Di situ mereka akan meniru," terangnya kepada detikHealth baru-baru ini.

Dengan melihat orang tua yang seperti ini, anak merasa begitulah caranya memecahkan masalah yang benar. "Ingat, kekerasan itu beda tipisnya dengan galak. Orang tua sendiri sering tidak menyadari itu," imbuhnya.

Psikolog yang berpraktik di RaQQi - Human Development & Learning Centre tersebut menambahkan, dengan penanaman dan pembentukan perilaku di keluarga sangatlah krusial karena akan menentukan perilaku masyarakat.


Lagi-lagi Ratih mengingatkan secara umum bullying tidak dapat dibenarkan. Bagaimanapun, tindakan ini menimbulkan efek negatif, baik pada pelaku maupun korban bullying itu sendiri.

"Perlu diingat, pelaku bullying itu juga bermasalah. Dari sisi pelaku, ia jadi cenderung mengembangkan perilaku negatif kemudian sulit berinteraksi dengan orang lain," pesannya.

Hanya saja pada korban, efeknya memang lebih buruk dari pelaku bullying itu sendiri.
01.42 | 0 komentar | Read More

Trauma Karena Bullying, Risikonya Depresi Hingga Bunuh Diri

Jangan sampai niat bercanda berubah menjadi bullying seperti yang terjadi di Universitas Gunadarma. Studi menyebut risiko gangguan jiwa hingga bunuh diri mengintai para korban bullying.

Riset yang dilakukan National Institute of Occupational Health menyebut bullying merupakan penyebab bunuh diri yang paling sering dilupakan. Sebabnya, bullying bisa memicu depresi, gangguan jiwa yang berhubungan erat dengan kecenderungan untuk bunuh diri.

Penelitian dilakukan kepada 1.850 partisipan. Secara umum, 4,2 hingga 4,6 persen partisipan mengaku pernah mengalami bullying. Dari partisipan yang pernah mengalami bullying, sekitar 3,9 sampai 4,9 persennya memiliki keinginan untuk bunuh diri.


Peneliti mengatakan bullying bisa menyebabkan bunuh diri karena korban merasa terkucilkan. Korban yang merasa terkucilkan akhirnya mengalami depresi dan memilih bunuh diri sebagai jalan keluar dari keadaannya yang sekarang.



Dihubungi terpisah, dr Andri SpKJ, FAPM dari Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera, korban bullying memang bisa mengalami masalah kejiwaan hingga gangguan jiwa. Depresi, rasa ketakutan berlebih hingga gangguan cemas merupakan beberapa di antaranya.


"Banyak pasien saya yang mengalami gangguan kecemasan, tidak pede hingga ketakutan biasanya terkait dengan masa lalu yang tidak baik, salah satunya adalah karena bullying," tutur dr Andri.

Dikatakan dr Andri, penyebab terjadinya bullying sendiri sangat beragam. Namun biasanya, bullying muncul karena korban dianggap berbeda dengan kondisi di sekitarnya.

"Orang bisa saja dibully tanpa sebab, tapi biasanya karena korban berbeda dari orang kebanyakan. Ada hal-hal yang membuatnya tampak aneh dan tidak sesuai dengan sekitar. Ini bisa menimbulkan ide untuk bully," tuturnya.
01.37 | 0 komentar | Read More

ppendapat psikolog tentang pernikahan nenek dan abg

Written By iqbal_editing on Senin, 03 Juli 2017 | 18.08

Seorang ABG (Anak Baru Gede) di Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan, Selamet Riyadi (16) menikahi nenek Rohaya yang sudah berusia 71 tahun. Pernikahan 'lintas generasi' ini menjadi heboh karena perbedaan usianya terbilang tidak lazim.

Dikutip dari detikNews, orang tua Selamet punya riwayat bercerai dan ibunya kembali menikah. Kemudian Selamet tinggal dan dirawat saat sakit oleh Rohaya selama enam bulan. Dari situlah benih-benih cinta tumbuh di antara keduanya.

Baca juga: Begini Kisah Cinta ABG dan Nenek 71 Tahun Sebelum Akhirnya Nikah

Menanggapi hal ini, psikiater dr Andri SpKJ, FAPM mengatakan ada banyak hal yang mungkin melatarbelakangi pernikahan tersebut. Salah satunya adalah Selamet 'menemukan' sosok ibu pada diri Rohaya.

"Karena Selamet pernah kehilangan ibu jadi dia mungkin melihat sosok ibunya pada diri Rohaya saat dirawat. Jadi nenek ini merawatnya begitu baik dan memberikan kebutuhan Selamet saat sakit," kata dr Andri kepada detikHealth baru-baru ini.

Namun, dr Andri melanjutkan pernikahan tersebut dapat menyulitkan kedua belah pihak suatu hari nanti karena dapat menimbulkan berbagai macam konflik. Salah satunya dari kebutuhan yang berbeda.

Ia mencontohkan seorang nenek dengan usia 71 tahun pasti menginginkan kehidupan yang bahagia dan tenang sehingga tidak berkutat dengan masalah kehidupan. Sedangkan untuk remaja berusia 16 tahun dinilai masih mencari kepribadian dan perlu memikirkan masa depan yang masih panjang.

Walaupun begitu, dokter yang praktik di RS Omni Alam Sutera ini mengatakan bahwa setiap orang memiliki pemaknaan pernikahan yang berbeda. "Jadi apapun yang terjadi kita nggak lebih tahu daripada mereka," pungkas dr Andri.
18.08 | 0 komentar | Read More

DDEPRESI PADA ORANG INSOMIA DAN TIDUR NGOROK

Written By iqbal_editing on Rabu, 21 Juni 2017 | 04.40

Risiko depresi tidak hanya muncul akibat trauma atau rasa sedih berkepanjangan. Studi terbaru dari Australia menyebut depresi juga mengintai orang-orang yang memiliki gangguan tidur seperti sleep apnea dan insomnia.

dr Carol Lang dari Basil Hetzel Institute, University of Adelaide Queen Elizabeth Hospital Campus, melakukan penelitian kepada 700 partisipan pria. 323 Partisipan memiliki gangguan tidur sleep apnea, yang ditandai dengan ngorok hebat saat tidur, 37 mengidap insomnia, dan 47 lainnya memiliki dua gangguan tersebut.

Hasil penelitian menyebut hanya 8 persen dari pengidap sleep apnea yang mengalami depresi. Sementara pasien insomnia yang mengalami depresi sedikit lebih tinggi, yakni 22 persen.


Namun pada pria yang memiliki sleep apnea dan insomnia sekaligus, persentasi pengidap depresinya cukup tinggi, 43 persen. Peneliti menduga hal ini ada kaitannya dengan kurangnya jam tidur sekaligus buruknya kualitas tidur yang dapat menyebabkan masalah pada kesehatan jiwa.

"Sleep apnea dan insomnia merupakan dua jenis gangguan tidur yang paling banyak ditemui di masyarakat. Hasil penelitian menyebut memiliki dua gangguan ini sangat menurunkan kesehatan fisik dan jiwa seseorang," papar Lang, dikutip dari Reuters.


Sleep apnea merupakan gangguan tidur yang membuat pasiennya kesulitan bernapas karena saluran pernapasan yang menyempit atau terganggu, sehingga menimbulkan suara ngorok yang sangat terasa. Pasien sleep apnea bisa tidur lebih nyenyak jika menggunakan alat continous positive airway pressure (CPAP) yang dijual di pasaran.

Sementara insomnia adalah gangguan tidur yang membuat pasiennya kesulitan untuk tidur di malam hari, mudah terbangun saat tidur, atau tak bisa tidur dalam waktu lama. Hal ini membuat pengidapnya kurang istirahat dan sering merasa lemas di siang hari.

"Jika mengalami gangguan tidur, sebaiknya segera periksakan ke dokter atau klinik spesialis tidur agar tidak merusak kesehatan jiwa Anda," tutupnya.
04.40 | 0 komentar | Read More

srategi sederhana mengatasi stress

Written By iqbal_editing on Kamis, 01 Juni 2017 | 05.54

Cemas yang dialami seseorang bukan tak mungkin membuat konsentrasi buyar. Nah, untuk meredakan cemas yang dirasakan, ada strategi yang bisa dilakukan.

Diungkapkan salah satu pendiri Anxiety and OCD Treatment Center of Ann Arbor di Michigan, Laura Lokers, dalam mengatasi kecemasan, proses ironis yang bisa terjadi adalah semakin seseorang mencoba mengendalikan kecemasannya, rasa cemas itu justru makin terasa.

Lokers, yang juga pekerja sosial berlisensi kerap meminta pasiennya tidak melakukan teknik relaksasi dan justru memintanya mengamati situasi. Ia mengatakan, strategi ini bisa dilakukan seperti Anda tengah melakukan eksperimen sains. Caranya, lihatlah sekitar Anda dan tanyakan pada diri sendiri bagaimana kecemasan yang dirasakan, seberapa cepat detak jantung Anda, kemudian tulis jawaban dengan skala 1-10. Kemudian, cek kembali apa yang Anda rasakan tiap menit ke depan dan lihat apakah ada perubahan pada skor tersebut.


"Cara ini bisa terlihat simpel tapi sebenarnya ini teknik yang luar biasa. Sebab, dengan fokus pada jawaban, sebenarnya Anda sedang melibatkan korteks prefrontal atau pusat logika di otak, yang mengalihkan energi dari amygdala yang merupakan pusat emosi di otak," tutur Lokers kepada Today.

Ketika seseorang panik atau cemas, amygdala akan lebih banyak mengambil kontrol. Inilah yang menyebabkan orang sering tidak bisa berpikir jernih ketika mereka cemas. Lokers menambahkan, secara logika orang bisa sadar jika mereka tidak dalam kondisi bahaya. Namun, mereka sulit mewujudkan pemikiran logis itu ketika berada dalam situasi yang mencemaskan.

"Dengan mengajukan pertanyaan sederhana seperti tadi, otak bisa memperlambat dan mengalihkan energi dari kepanikan yang dirasakan. Seperti saat Anda meeting dan cemas, tanyakan apa buktinya jika Anda sekarang dalam kondisi yang membahayakan? Apakah Anda akan diserang secara fisik jika melakukan kesalahan, atau mungkin dipecat? Sebetulnya, bisa saja yang dirasakan hanyalah malu dan tidak nyaman," tambah Lokers.

Ketika cemas mulai dirasa, Lokers menekankan pentingnya melakukan trik yang dapat 'menipu' otak dari situasi panik dengan mengajukan pertanyaan sederhana dan melibatkan korteks prefrontal. Sebab, kata Lokers, otak dirancang untuk bertahan hidup, bukan untuk kualitas hidup.

Sehingga, penting melawan naluri alami dengan berbagai cara demi menyeimbangkan kegelisahan yang dirasa, terutama bagi mereka yang cenderung bersikap waspada berlebihan.
05.54 | 0 komentar | Read More

hubungan bermain golf dan mengatasi ptsd

Written By iqbal_editing on Minggu, 28 Mei 2017 | 23.17

Kejamnya medan dan kerasnya hidup saat perang membuat para veteran perang rentan mengalami post traumatic stress disorder (PTSD). Akibatnya, mereka sering kali mengasingkan diri dan berisiko tinggi bunuh diri karena depresi.

Hal itulah yang dialami oleh Bobby Colletti, veteran perang Irak dan Afghanistan dari satuan angkatan darat Amerika Serikat. Ketika pulang ke rumah, Bobby mulai menggunakan narkoba untuk meredakan trauma dan ingatan buruk ketika perang.

"Pertamanya aku mengira narkoba bisa membantu. Tapi narkoba malah membuat masalahku makin rumit, dan bahkan membuatku ingin bunuh diri karenanya," tutur Bobby, dikutip dari Reuters.


Bobby pun mendengar soal program golf yang disponsori oleh Professional Golfers' Association's (PGA). Program yang bernama Helping Our Patriots Everywhere (HOPE) ini membantu Bobby memulihkan diri dari kecanduan narkoba dan PTSD-nya.

Pengakuan senada dikatakan oleh Sylvan Olivieri, seorang veteran perang Vietnam dari satuan angkatan laut AS. Bersama dengan sejumlah veteran lainnya, Sylvan rutin mengunjungi lapangan golf setiap minggunya.

"Golf membuat diriku lebih baik. Aku bahagia dan lebih ceria sekarang. Ketika bermain golf, Anda berkonsentrasi dengan permainan dan tidak memikirkan ingatan-ingatan buruk. Bisa dikatakan aku terbebas dari PTSD ketika bermain golf," ungkapnya.

PTSD merupakan gangguan jiwa yang disebabkan oleh rusaknya aktivitas otak yang mengatur rasa takut. Akibatnya, pengidap PTSD sering merasa ketakutan berlebihan dan tidak wajar, serta membuatnya lebih mudah curiga terhadap sesuatu.

Gangguan jiwa ini bisa menyerang siapa saja, terutama orang-orang yang pernah mengalami trauma mengerikan. Veteran perang, korban bencana alam, korban kecelakaan hingga korban pelecehan seksual memiliki risiko tinggi mengalami PTSD.

Sadar akan hal tersebut, Department of Veterans Affairs Amerika Serikat bekerja sama dengan PGA meluncurkan program HOPE dengan harapan golf mampu membuat para veteran kembali ceria dan bermasyarakat. Golf merupakan olahraga yang cocok karena mengandung unsur interaksi sosial, stimulasi mental sekaligus aktivitas fisik.

"PGA HOPE memberikan kesempatan pada para veteran untuk kembali menjalani kehidupan normal mereka melalui golf," tutur Andy Crane dari PGA West Point Golf Course.
23.17 | 0 komentar | Read More

solusi badmood saat puasa

Stres lumrah terjadi dalam keseharian kita, tak terkecuali di bulan Ramadan. Tetapi masih saja ada yang bimbang bagaimana cara meredakannya.

Daripada pahala berpuasa berkurang karena marah-marah atau stres berkepanjangan, lebih baik olahraga ringan saja.

Sebuah penelitian terbaru dari University of Connecticut menyebut, keluar rumah lalu jalan-jalan santai di mal sudah mampu mengembalikan mood dan meredakan gejala depresi yang dirasakan seseorang.

Peneliti membuktikannya dengan mengamati 419 orang dewasa sehat yang dipakaikan accelerometer atau pengamat aktivitas fisik di tubuhnya selama empat hari. Kemudian partisipan juga diminta mengisi kuesioner tentang kondisi mental, tingkat depresi, dan tinggi rendahnya toleransi rasa sakit mereka.


Menariknya, peneliti juga mengatakan bahwa jalan santai seperti di mal jauh lebih efektif meredakan stres ketimbang jogging.

Menurut temuan peneliti, mereka yang meluangkan waktunya untuk jalan kaki barang sebentar setiap hari dilaporkan memiliki tingkat kesejahteraan psikis yang lebih baik. Sebaliknya, mereka yang kebanyakan duduk justru sering terlihat tidak bahagia.

Apalagi jika yang bersangkutan berkenan meningkatkan intensitas aktivitas fisiknya dari ringan ke sedang, sebab juga akan terjadi peningkatan kesejahteraan fisik yang lebih besar daripada yang mulanya hanya duduk-duduk saja lalu memperbanyak jalan kaki.

"Nyatanya kita tak butuh olahraga yang berat untuk melihat manfaatnya, karena justru yang berdampak langsung adalah aktivitas fisik dengan intensitas ringan maupun sedang seperti ini," kata peneliti, Gregory Panza seperti dilaporkan Health.com.

Tetapi jangan jadikan ini alasan untuk sering ke mal ya. Sebab demi menjaga kesehatan tubuh dan pikiran, yang ideal adalah berolahraga selama 30 menit saja setiap harinya.
19.45 | 0 komentar | Read More

5 fakta soal hormon kortisol

Written By iqbal_editing on Jumat, 05 Mei 2017 | 23.58

Sering disebut-sebut sebagai hormon penyebab stres, kortisol sejatinya punya banyak fungsi di tubuh manusia. Kortisol merupakan salah satu hormon adrenal dengan fungsi mengatur ritme tubuh.

Tingginya kadar kortisol sering dikaitkan dengan perut yang membuncit, stres hingga gangguan tidur. Lalu, apa saja fakta unik soal kortisol? Dirangkum dari berbagai sumber, berikut 5 di antaranya:

1. Tinggi di pagi hari

Peredaran hormon kortisol di dalam tubuh mengikuti sistem diurnal. Artinya, kadar kortisol memuncak di pagi hari, kurang lebih 30 menit setelah bangun tidur dan berkurang di malam hari ketika menjelang tidur.

2. Pengatur ritme tubuh

Kortisol, layaknya melatonin, merupakan hormon yang turut berperan dalam mengatur ritme tubuh. Fungsi kortisol adalah membuat tubuh tetap bangun dan terjaga. Maka dari itu, stres berat yang melanda membuat hormon kortisol membuncah dan menyebabkan sulit tidur.

3. Berkaitan dengan berat badan

Kadar kortisol dalam tubuh berperan erat dalam penambahan berat badan. Kortisol yang terlalu tinggi menyebabkan nafsu makan bertambah. Di sisi lain, kortisol yang terlalu rendah membuat tubuh malas bergerak.

4. Dapat dikontrol dengan olahraga

Salah satu cara mengontrol peradaran hormon kortisol adalah dengan rutin melakukan olahraga. Yoga, pilates, jogging dan olahraga dengan intensitas rendah hingga sedang merupakan jenis olahraga yang baik untuk mengontrol kadar kortisol.

5. Dipengaruhi pola makan

Tinggi-rendahnya kadar hormon kortisol juga dipengaruhi oleh pola makan. Pola makan gizi seimbang dengan protein, karbohidrat dan sayuran diketahui dapat mencegah kenaikan hormon kortisol secara tiba-tiba.



23.58 | 0 komentar | Read More

PENDAPAT PSIKOLOG TENTANG ORANG GEMAR MEMBACA RAMALAN ZODIAK

Written By iqbal_editing on Rabu, 03 Mei 2017 | 22.56

Ramalan zodiak sampai sekarang masih bisa ditemui. Beberapa orang pun ada yang masih tertarik membacanya dengan alasan beragam. Mulai dari hiburan bahkan sebagai pegangan hidup.

Seperti survei yang dilakukan detikHealth baru-baru ini, dari 267 orang, sebanyak 57 persen menjawab membaca ramalam zodiak untuk seru-seruan saja, 33 persen membacanya untuk hiburan, dan 10 persen mengaku membaca ramalan zodiak untuk menjadikannya sebagai referensi hidup.

Menanggapi hasil survei ini, psikolog sosial dari Ikatan Psikolog Sosial Wahyu Cahyono, S.Psi, M.Si mengungkapkan ini menunjukan sebagian besar responden melihat zodiak sebagai seru-seruan dan menghibur, namun ada sekitar 10 persen yang menjadikannya referensi hidup. Wahyu mengatakan, membaca zodiak dianggap seru-seruan terutama jika ramalannya cenderung positif atau sebagaimana yang kita harapkan.

"Ditambah lagi biasanya ramalan yang ditulis itu adalah sesuatu yang samar. Misalnya kamu akan bertemu orang menyenangkan minggu ini, jika merasa happy maka ini akan berlanjut," kata Wahyu saat berbincang dengan detikHealth.

"Karena ini samar kapan dan di mana tepatnya bertemu, atau bagaimana ciri-cirinya maka ketika bertemu orang kita cenderung menebak-nebak yang ini bukan ya?" tambahnya.


Lalu, bagaimana dengan responden yang menjadikan ramalan zodiak sebagai referensi hidup? Wahyu mengatakan, kecenderungan kita sebagai manusia adalah menghindari ketidakpastian. Bagi orang yang locus of control atau kendali diri (keyakinan individu terhadap mampu atau tidaknya mengontrol apa yang dilakukannya sendiri) eksternal, dia akan melihat bahwa apa yang terjadi pada dirinya dipengaruhi oleh sesuatu yang di luar diri atau di luar kendalinya.

"Dalam situasi seperti ini, tidak jarang zodiak digunakan sebagai referensi, misalnya ketika akan memulai kencan atau wawancara kerja. Jadi setidaknya jika ada hasil yang tidak diharapkan dia bisa mendapat penjelasannya. Misalnya, 'Tuh kan endingnya gitu... gini deh kalau Aries ketemu Taurus'," kata Wahyu.

Percaya atau tidak pada ramalan zodiak atau bagaimana memanfaatkan ramalan zodiak ini kembali lagi pada masing-masing individu. Nah, jika Anda para pembaca, apa sih yang membuat Anda tertarik membaca ramalan zodiak? Yuk bagikan pendapat Anda di kolom komentar.
22.56 | 0 komentar | Read More

hhubungan kedekatan orang tua dan anak dan pengaruh respons stress pada anak

Written By iqbal_editing on Senin, 01 Mei 2017 | 20.53

Kedekatan emosional anak dengan orang tua sangat berpengaruh terhadap perkembangan psikologisnya. Studi menyebut anak dari keluarga miskin yang dekat dengan orang tua lebih tahan banting saat menghadapi stres.

Data dari Strong at the Broken Places: The Resiliency of Low-Income Parents menyebut sekitar 14 juta keluarga di dunia hidup di bawah garis kemiskinan. Stres karena kemiskinan ini bisa berdampak negatif pada perkembangan psikologis anak dan meningkatkan risiko perilaku agresif, depresi, kecemasan hingga rasa takut dan ketidakmampuan mengekspresikan emosi.

Meski begitu, Renee Wilson-Simmons, direktur National Center for Children in Poverty (NCCP), mengatakan anak dari keluarga miskin yang dekat dengan orang tuanya memiliki kemampuan menghadapi stres yang lebih baik. Hal ini membuat potensi mereka untuk keluar dari kemiskinan semakin besar.


"Ketika membicarakan keluarga miskin, yang menjadi perhatian adalah bagaimana mereka selalu kekurangan. Padahal, anak yang lahir dari keluarga miskin yang harmonis memiliki kemampuan sosial dan emosional yang baik untuk mengajari kita soal bertahan di tengah kekurangan," tutur Renee, dikutip dari EurekAlert!.

Untuk membuktikannya, Renee melakukan penelitian kepada 2.210 anak berusia 9 tahun yang berasal dari keluarga miskin. Penelitian dilakukan selama 3 dan 5 tahun untuk melihat bagaimana keharmonisan dan kedekatan orang tua memengaruhi psikologis anak.

Hasil penelitian menyebut orang tua yang mengenal teman anak, datang ke acara penting di sekolah dan berlaku adil untuk anak-anaknya mengalami penurunan risiko memiliki anak yang berperilaku negatif. Penurunan risiko pun cukup tinggi, hingga dua kali lipat.

Sekitar 92 persen anak dengan perilaku baik mengaku sangat dekat dan dekat dengan ibunya. 68 Persen anak pun mengaku orang tua (terutama ibu) mengenal teman bermain mereka.

"Kabar baiknya, stres karena kemiskinan yang dihadapi orang tua bisa tidak memengaruhi perkembangan sosial dan emosional anak jika tidak ditunjukkan dengan cara negatif," tutur Yang Jiang, PhD, peneliti lainnya dari NCCP.

Peneliti juga mengatakan keharmonisan dan kedekatan antar anggota keluarga bisa ditingkatkan meskipun berasal kalangan ekonomi rendah. Caranya dengan memaksimalkan akses kesehatan dan pendidikan yang berasal dari bantuan pemerintah.

"Akses orang tua menuju fasilitas kesehatan, skrining depresi, pelatihan keterampilan bagi orang tua dan bantuan pendidikan bagi anak dair keluarga miskin merupaka
20.53 | 0 komentar | Read More

VIDEO IBU MENDAMAIKAN ANAK BERANTEM

Written By iqbal_editing on Rabu, 26 April 2017 | 23.10

Masing-masing orang tua punya cara tersendiri mendamaikan anak-anaknya yang tengah berkelahi. Seperti ibu bernama Alexis Tillman yang mengandalkan 'Kaos I Love You'. Siapa sangka, cara yang dilakukan Alexis jadi viral.

Dalam video berdurasi yang diunggah di akun Facebook-nya, tampak dua anak Alexis, Dominique Brown (10) dan adiknya, Tyler Tillman (8) berada di satu kaos berwarna putih berukuran besar hingga bisa dipakai mereka berdua. Inilah cara yang disebut Alexis 'Kaos I Love You'.

"Waktu itu anak saya berebut tablet dan mengatakan kata yang menyakitkan satu sama lain. Saya minta mereka berhenti dan meletakkan mereka di kaos yang saya sebut kaos I Love You. Kemudian saya meminta mereka berpegangan tangan dan melakukan tarian lambat sampai mereka tenang," kata Alexis.

Kepada Fox 13, Alexis mengaku hanya ingin melakukan yang terbaik dalam mengajarkan sang anak pentingnya mencintai satu sama lain. Dalam keterangan video yang diunggahnya, Alexis menegaskan dirinya tidak ingin sang anak berkelahi setiap hari. Ini bukan tanpa alasan ia lakukan.

Di tahun 2013, Alexis kehilangan ibunya. Berangkat dari hal itu, ia menegaskan kepada anak-anaknya bahwa setelah kepergian seorang ibu, saudara adalah salah satu yang dimiliki dan penting untuk dicintai. Selain berpegangan saat memakai 'kaos I love You', kadang Alexis juga meminta Tyler dan Dominique saling peluk selama 30 menit.

Sejak diunggah pada 27 Maret lalu, video ini sudah dilihat lebih dari 5,6 juta kali dan dibagikan oleh lebih dari 76 ribu netizen. Nampaknya, video Alexis bisa jadi inspirasi beberapa netizen. Meski, ada pula yang menganggap ide ini lucu.

"Tolong buat Ashley dan Justin melakukan ini," ujar Princess Jasmine. Kemudian, Letty Valadez mengatakan ini adalah ide yang baik dan ia amat menyukainya.

Baca juga: Punya Saudara 'Menyebalkan' Bisa Bermanfaat untuk Kesehatan Anak

Nah, sebenarnya ampuhkah cara seperti ini mendamaikan anak yang sedang berkelahi dengan keluarganya? Psikolog anak dari Tiga Generasi, Saskhya Aulia Prima, M.Psi., Psikolog mengatakan ampuh tidaknya cara seperti itu untuk mendamaikan anak yang berkelahi akan berbeda-beda pada tiap anak.

"Mungkin ini value dari orang tuanya, dibiasain kalau pakai kaos itu anaknya lama-lama akan baikan. Cuma sebetulnya metode apapun sebaiknya tetap dibarengi dengan masing-masing anak tahu salahnya apa, atau berantemnya kenapa dan perasaan masing-masing apa," kata Saskhy saat dihubungi detikHealth.

Terlebih untuk anak di usia sekolah, jika hanya dilakukan metode simbolisasi yakni memakai kaos bersama dan diminta berpelukan, dikatakan Saskhy bisa jadi di suatu titik tertentu anak akan melakukan hal itu karena hanya disuruh, tapi masalah di antara keduanya tidak selesai. Sehingga, menurut Sakshy metode ini bisa dipakai setelah kedua anak sudah tenang.

"Yang bisa kita lakukan waktu anak berantem, mereka dilerai dulu dan kasih space sendiri-sendiri. Lalu ditenangin, ini beda-beda sesuai kebutuhan anak. Misalnya yang satu lebih mudah tenang kalau dikasih minum dulu, yang satu kalau dielus-elus. Nah, pas udah tenang ditanya dulu baik-baik tadi ada apa, perasan masing-masing anak gimana, sedih atau marahnya kenapa. Baru habis itu masuk ke proses baikan dan kalau udah ademan, bisa masuk tuh metode-metode simbolisasi gitu," tutur Saskhy.
23.10 | 0 komentar | Read More

akibat diberi permen jika menangis

Salah satu cara ampuh menenangkan anak yang menangis yakni memberi mereka permen, es krim, atau sesuatu yang manis yang notabene disukai anak. Jika Ayah dan Ibu kerap melakukan itu, ada risiko yang bisa terjadi lho.

Menurut studi yang dilakukan di Norwegia baru-baru ini, ketika makan permen, cokelat, atau es krim untuk mengatasi suasana hati yang tidak baik, secara tidak sadar seseorang sudah memberi reward untuk otak. Nah, ketika hal ini sering dilakukan, asupan kalori akan lebih banyak bahkan ketika seseorang tidak membutuhkannya.

"Hal ini juga berlaku pada anak-anak. Kebiasaan seperti itu bisa memicu emotional eating yang kita ketahui bisa berpengaruh pada risiko obesitas kelak. Jika kita tahu bagaimana terbangunnya emotional eating pada anak-anak, setidaknya orang tua bisa melakukan pencegahan," tutur salah satu peneliti, Dr Silje Steinsbekk yang juga associate professor of psychology di Norwegian University of Science.

Dalam studinya, Steinsbekk dan tim mengamati kebiasaan makan 801 anak usia 4 tahun. Kemudian, si anak diamati kembali saat usianya 8 dan 10 tahun. Diketahui, anak yang orang tuanya sering menjadikan makanan sebagai penenang si kecil, lebih sering mengalami emotional eating di kemudian hari.

Baca juga: Lucu! Bayi Ini Langsung Berhenti Menangis Saat Cium Baju Ibunya

Sebaliknya, ketika anak jarang diberi makanan agar dia tenang, perilaku emotional eating lebih sedikit dialami. Steinsbekk mengingatkan emotional eating bukan diturunkan, tetapi dipengaruhi lingkungan. Sehingga, anak juga bisa mengembangkan emotional eating ketika melihat ayah dan ibunya melakukan hal itu.

"Kami sarankan lebih baik peluk anak ketika dia menangis atau sedih, ketimbang memberinya permen, cokelat, atau es krim. Cara ini mungkin berhasil tapi akan ada efek negatif di kemudian hari," kata Steinsbekk, dikutip dari Essential Kids.

Saat anak menangis, Steinsbekk lebih menyarankan Anda memangku anak, kemudian bicara padanya. Tenangkan anak dengan mengajaknya bicara dari hati ke hati dan hindari memberi makanan sebagai pelega suasana hati anak yang sedang tidak baik.

Kepada detikHealth beberapa waktu lalu, psikolog anak dari Tiga Generasi Anastasia Satriyo M.Psi., Psikolog mengatakan jika anak ngambek, ajak ia bicara. Jangan sampai menjadi pengalaman berulang jika anak ngambek, keinginannya akan dituruti. Hal terpenting, orang tua membicarakan apa penyebab anak boleh atau tidak boleh melakukan sesuatu.

"Kalau anak belum bisa diajak ngomong, biarkan dia sebentar. Lalu katakan ke anak nggak masalah kalau dia nangis atau kesal seperti itu. Tapi nanti ayah dan ibu akan mengajak dia bicara. Pesan yang disampein ke anak adalah kita sayang ke mereka, tapi kita nggak akan ngasih sesuatu yang memang nggak boleh. Patut diingat juga bahwa nggak semua sesuatu yang dia mau bisa kita penuhi. Karena pada prinsipnya ketika kita membelikan sesuatu ke anak, itu harus ada tujuannya, ada ceritanya. Jadi anak punya rasa memiliki terhadap benda itu," papar Anas.
03.15 | 0 komentar | Read More

hal yang perlu diperhatikan ketika anak mencari informarsi

Written By iqbal_editing on Minggu, 23 April 2017 | 15.54

Anak bisa memiliki berjuta pertanyaan terkait sesuatu yang ingin ia ketahui. Untuk mencari jawabannya, berbagai cara bisa dilakukan anak. Termasuk dengan membaca buku atau bahkan 'berselancar' di internet.

Nah, terkait hal ini, psikolog dra Ratih Andjayani Ibrahim M.Psi mengatakan, anak mencari informasi sendiri dengan membaca buku maupun browsing di internet merupakan bagian dari pembelajaran. Dikatakan Ratih, kegiatan itu juga bisa menjadi ajang interaksi anak dengan dunia luar.

Namun sebagai orang tua, Ratih mengingatkan agar ayah dan ibu tetap menemani si kecil ketika ia membaca buku ataupun browsing di internet guna mencari informasi soal sesuatu yang ingin ia ketahui. Dengan begitu, anak bisa terarahkan.

"Makanya jadi ibu harus open minded dan banyak ilmu. Jangan lihat anak browsing dikit langsung ngelarang padahal belum tentu itu nggak baik," tutur Ratih dalam acara peluncuran buku 'I Am Me' di Kinokuniya Book Strore, Plaza Senayan, Jakarta Selatan, baru-baru ini.


"Nah ketika anak sudah banyak membaca, dia jadi punya banyak pertanyaan. Di situ ibu harus dapat menjelaskan," sambung psikolog sekaligus CEO Personal Growth ini.

Ratih juga mengatakan anak akan menjadi pribadi yang penakut ketika orangtua tidak memiliki banyak informasi dan open minded saat anak bertanya. Oleh karena itu ia mengingatkan kepada orang tua untuk terus menambah informasi.

"Bekali diri dengan amunisi seperti pengetahuan. Jadi rajin-rajin datang ke toko buku bersama anak, membaca bersama. Selain itu orang tua juga harus open minded dan open hearted agar anak dapat melihat orang tua sebagai pribadi yang cool," pungkas Ratih.
15.54 | 0 komentar | Read More

hbungan gaya penerapan makan dan rasa percaya diri

Written By iqbal_editing on Sabtu, 22 April 2017 | 01.04

Menumbuhkan rasa percaya diri anak bisa dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya melalui gaya penerapan makan pada anak.

Psikolog anak dan keluarga, Gisella Tani Pratiwi MPsi menjelaskan gaya penerapan makan pada anak akan berpengaruh pada kebiasaan makan seorang anak. Nah, menurutnya, gaya terbaik menerapkan pola makan pada anak adalah gaya moderat.

"Penerapan makan yang baik itu gaya moderat yaitu peraturan makan yang teratur dengan gizi yang terpenuhi serta seimbang. Ini penting agar anak memiliki tumbuh kembang yang baik," ucap wanita yang akrab disapa Ella dalam acara lomba memasak yang digelar SGM Eksplor Buah dan Sayur di PAUD Tunas Harapan, Jalan Sawo, Cipete, Jakarta Selatan, Sabtu (22/4/2017).



Lebih lanjut, Ella menjelaskan saat orang tua menerapkan gaya moderat, selain bermanfaat sehat secara fisik anak juga mendapatkan manfaat psikologis. Seperti anak belajar mengenai pola pikir, rasa percaya diri, serta konsep diri.

Sebab saat orang tua menerapkan gaya moderat anak akan lebih merasa dihargai. Di mana orang tua akan mengerti apakah anak lapar atau kenyang, sehingga tidak memaksakan anak untuk makan.

"Selain itu anak juga akan merasa excited sehingga anak akan memiliki kontrol diri dan tidak mudah stres," pungkas wanita berambut pendek ini.

Sementara itu, dalam acara yang sama Diana Beauty, selaku brand manager SGM Eksplor Buah dan Sayur mengatakan acara SGM eksplor ini bertujuan untuk mengedukasi orang tua mengenai pentingnya gizi anak. Ia berharap setelah ini orang tua dapat menerapkan makan sehat dan seimbang.
01.04 | 0 komentar | Read More

Bahayanya Menjelek-jelekkan Mantan Pasangan di Depan Anak

Written By iqbal_editing on Senin, 17 April 2017 | 01.51

Rasa benci, kesal, atau kecewa pada mantan pasangan mungkin dirasakan oleh mereka yang mengalami perceraian. Namun, lebih baik tidak menjelekkan pasangan di depan sang anak.

"Kalau bete sama mantan atau kecewa, upayakan membahasnya dengan orang lain seperti psikolog, teman deket, atau sahabat jangan didepan anak," kata Kristi Poerwandari, ahli psikologi Klinis Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, saat ditemui dalam acara dalam Diskusi: Bagaimana Menjelaskan Perceraian pada Anak, di gedung Komnas Perempuan, Menteng, Jakarta Pusat.

Hal tersebut menurut Kristi dapat mengganggu emosi sang anak. Anak dapat merasa dirinya seperti dievaluasi oleh salah satu orang tua yang menjelekkan orang tua lainnya.

"Misalnya ibu menjelekan ayah di depan anak, kemudian anak akan merasa bersalah banget dan membuat anak menjadi bingung," tutur Kristi.

Baca juga: Ini Dampak Psikologis yang Dialami Anak Saat Orang Tua Bercerai

Sementara itu, Denia Putri prameswari, praktisi pendidikan anak usia dini, berpendapat bahwa kondisi tersebut merupakan kompetisi yang terjadi pada kedua orang tua. Hal tersebut untuk membuat anak menjadi lebih nyaman untuk bersama salah satu orang tua saja.

"Sebenarnya itu menjadi naluri dan tujuannya bukan untuk menjelekkan sang mantan. Namun, anak menangkap justru lain misalnya 'oh iyak bapaknya engga bertanggung jawab'," lanjut Denia saat ditemui dalam acara yang sama.

Maka dari itu Denia menyarankan agar orang tua sepakat untuk tidak menjelekkan satu sama lain.

"Saat ibu saya menjelekkan ayah saya, setengah tubuh saya juga ikut dijelek-jelekin sebaliknya begitu karena saya kan produk keduanya. Ibu misalnya jelekin saya berarti dia menjelekkin saya dan di depan mata saya," tutup Denia.
01.51 | 0 komentar | Read More
 
berita unik