Entri Populer

Welcome Guys

Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog

Tampilkan postingan dengan label paru-paru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label paru-paru. Tampilkan semua postingan

Hewan Kurban Terinfeksi Cacing dan TB, Amankah Dagingnya Dikonsumsi?

Written By iqbal_editing on Minggu, 03 September 2017 | 05.25

Beberapa hari usai perayaan Idul Adha muncul sejumlah laporan hewan kurban yang terjangkit parasit cacing hati dan kuman tuberkulosis (TB). Sebagai contoh di Bantul dilaporkan ada 154 hewan yang terinfeksi cacing hati sementara di Trenggalek ada 17 hewan terinfeksi TB.

Cacing hati dan TB keduanya adalah penyakit yang diketahui bisa diderita manusia. Lalu apakah daging dari hewan yang terinfeksi tersebut aman untuk dikonsumsi atau berbahaya?


Menurut Sekda DIY, Gatot Saptadi, daging sapi yang ditemukan terkena cacing hati didaerahnya tetap aman untuk dikonsumsi. Hal tersebut diutarakan atas rekomendasi petugas pusat kesehatan hewan (Puskeswan) yang menyebut hati dari hewan yang terinfeksi cukup dikubur saja.

"Meskipun dalam pemeriksaan Post mortem ditemukan cacing hati, dagingnya tidak membahayakan untuk dikonsumsi," kata Gatot.

Cacing jenis fasciola sp yang teridentifikasi pada hewan di Bantul disebut jarang bermigrasi ke daging.

Sementara itu untuk bakteri tuberkulosisnya spesialis dr Frans Abednego Barus, SpP, mengatakan bahwa TB pada sapi berbeda dengan TB pada manusia. Pada sapi bakteri penyebab penyakit adalah jenis Mycobacterium bovis sedangkan pada manusia jenisnya adalah Mycobacterium tuberculosis.

"Aman itu... tidak bisa saling infeksi. Mungkin saja kena tapi tidak menimbulkan TB paru," ujar dr Frans kepada detikHealth dan ditulis Minggu (3/9/2017).

Dokter dari Persatuan Dokter Paru Indonesia (PDPI) ini menambahkan warga cukup masak daging kurban dengan matang saja maka bakteri akan mati.

"Tetap masak dengan keadaan well done (matang penuh -red) akan membunuh kuman," pungkasnya.
05.25 | 0 komentar | Read More

Bayinya Meninggal Kena Pneumonia Akibat Asap Rokok, Curhatan Ibu Muda Ini Viral

Written By iqbal_editing on Selasa, 15 Agustus 2017 | 20.49

Sebuah postingan ibu muda asal Tangerang viral di Facebook. Postingan yang diunggah oleh akun Fitria Indah Lestari ini memuat curahan hati sang ibu karena anaknya meninggal akibat pneumonia.

Dalam postingan berjudul Jagoanku Pergi ke Surga, Fitria menceritakan bagaimana acara cukur rambut dan aqiqah anaknya, Muhammad Hafizh Syawal, menjadi kala pertama anaknya mendapat paparan asap rokok. Setelah acara itu, diketahui Hafizh yang belum genap berusia 1 bulan mulai menunjukkan tanda-tanda sakit.


"Akhirnya pada malam acara itu putraku Hafizh ku bawa ke ruang tamu. Karena banyak tamu yang ingin melihat hafizh, aku terlalu sibuk dengan tamu, sampai-sampai aku tak menyadari kalau ada orang yang sedang merokok. Awalnya Hafizh baik-baik saja tak ada kendala. Sampai 2 hari sesudah acara itu, hafizh batuk-batuk dan nafasnya tersendat sendat (sesak)," tulis Fitria, dalam unggahannya tertanggal 9 Agustus 2017.

Batuk-batuk dan sesak yang dialami Hafizh berlanjut hingga akhirnya Fitria dan suaminya membawa anaknya untuk pergi ke dokter. Di rumah sakit, dokter mengatakan Hafizh mengalami pneumonia berat dan harus dirawat inap.


Kurang lebih 2 hari mendapat perawatan, Fitria menyebut kondisi Hafizh terus memburuk. Bahkan dokter mengatakan hasil rontgen paru-paru Hafizh sangat jelek akibat pneumonia berat yang dialaminya.


"Setiap panggilan dari dokter pasti kondisi Hafizh selalu menurun, air mata selalu hadir setiap waktu dan detik," ungkap Fitria lagi.

Selang 3 hari, tepatnya pada 30 Julit 2017, Hafizh pun dinyatakan meninggal dunia. Fitria pun mengaku sangat sedih dan tak bisa berhenti menangis. Ia menyesal mengapa anaknya yang masih bayi harus diberi penyakit yang demikian berat, bahkan hingga meninggal dunia.

Foto-foto Hafizh yang mengalami pneumonia akibat asap rokok saat dirawat di rumah sakitFoto-foto Hafizh yang mengalami pneumonia akibat asap rokok saat dirawat di rumah sakit (Foto: facebook/fitria indah lestari)

Postingan yang sudah dibagikan lebih dari 44 ribu kali ini pun mendapat banyak reaksi dari netizen. Hampir seluruhnya meminta Fitria untuk tetap sabar. Ada juga yang mengingatkan netizen lain untuk tidak merokok terutama di dekat anak kecil.

Fitria pun membuat unggahan baru pada tanggal 12 Agustus 2017. Ia mengucapkan terima kasih atas perhatian dan doa yang diberikan untuk anaknya. Tak lupa, ia juga berpesan bahwa bahaya asap rokok untuk anak sangat nyata dan jauhkan anak dari asap rokok.

"Makasih ya untuk teman fb yang sudah mendoakan dd Hafizh. Saya senang ternyata banyak yg mendoakan anak saya. Semoga kejadian yang dialami anak saya bisa dijadikan sebuah pelajaran buat orang tua yg punya anak kecil. Jauhkan anak kalian dari bahayanya asap rokok. Terima kasih banyak untuk kepedulian teman fb semuanya. Maaf gabisa bales satu-satu, doa dan support dari kalian sangat berharga sekali bagi saya," tutupnya.
20.49 | 0 komentar | Read More

faktor yang meningkatkan resko anak terkena pneunomia

Written By iqbal_editing on Jumat, 10 Maret 2017 | 01.52

Pneumonia rentan terjadi pada balita. Jika tak segera ditangani, pneumonia bisa menyebabkan kematian. Nah, dalam keseharian, ada beberapa faktor yang meningkatkan risiko anak terkena pneumonia.

Diungkapkan dr Nastiti Kaswandani SpA(K), Ketua UKK Respirologi PP IDAI, kualitas udara yang buruk mempermudah kejadian pneumonia dan kematian akibat pneumonia. dr Nastiti menekankan kualitas udara yang buruk tidak hanya karena polusi di luar ruangan.

"Di dalam ruangan juga bisa. Yang paling jahat itu asap rokok. Diameter saluran napas bayi kan kecil ya. Nah, kita saja orang dewasa kalau mengisap asap rokok sesak, apalagi bayi," tutur dr Nastiti dalam Forum Ngobras 'Harapan Baru Eradikasi Pneumonia di Indonesia' di D'Lab, Menteng, Jakarta pusat, Jumat (10/3/2017).



Baik rokok konvensional ataupun elektrik dikatakan dr Nastiti sama-sama meningkatkan risiko anak terkena pneumonia. dr Nastiti menjelaskan paparan asap rokok juga polusi udara lainnya pada dasarnya bisa merusak kerja daya tahan tubuh di sal pernapasan sehingga menyebabkan kuman yang menyebabkan pneumonia akan lebih mudah masuk.

Faktor risiko lain yang meningkatkan risiko seorang anak terkena pneumonia adalah gizi buruk, imunisasi yang tidak lengkap, tinggal di area padat penduduk, dan tidak mendapatkan ASI eksklusif.

Hadir dalam kesempatan sama, Direktur Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular Langsung (P2PML) Kemenkes RI, Dr Wiendra Woworuntu MKes, mengatakan UNICEF menyebutkan di tahun 2015 hampir 6 juta kematian balita, 16 persennya disebabkan pneumonia.

Di Indonesia sendiri, setiap jam 2-3 balita meninggal karena pneumonia. Sementara, data Pusdatin tahun 2009 menunjukkan pneumonia termasuk 8 penyebab kejadian rawat inap dengan angka kematian 6,63 persen.

"Berdasarkan Riksesdas 2013, prevalensi pneumonia 4,5 persen dan insiden pneumonia 1,8 persen. Data SRS tahun 2014 menunjukkan 24 balita meninggal setiap jam, 4 di antaranya karena pneumonia," kata dr Wiendra.
01.52 | 0 komentar | Read More

hubungan asma dan daging olahan

Written By iqbal_editing on Rabu, 08 Februari 2017 | 15.29

, Kecuali vegetarian, daging olahan menjadi salah satu santapan favorit bagi banyak orang. Namun pengidap asma ternyata juga harus menjadikan daging olahan sebagai makanan pantangan.

Mengapa demikian? Penelitian terbaru menungkap mengonsumsi daging olahan dapat memperburuk gejala asma.

Pengamatan dilakukan terhadap terhadap 1.000-an orang Prancis dalam kurun 10 tahun, yaitu sejak tahun 2003-2013. Kebetulan sekitar separuh dari mereka merupakan pasien asma, sedangkan sisanya tidak memiliki riwayat asma.

Peneliti mengamati gejala asma yang diperlihatkan responden, seperti sesak napas, mengi dan dada terasa sempit. Hal ini kemudian dibandingkan dengan asupan daging responden. Satu porsi daging olahan berarti dua iris ham, satu sosis atau dua iris salami.

Faktanya, pada responden yang memiliki asma, makin banyak daging yang mereka konsumsi, makin buruk pula gejala asmanya. Pada penelitian terungkap, mereka yang mengaku biasa mengonsumsi empat porsi dalam sepekan memperlihatkan gejala yang terburuk.


Seperti dilaporkan BBC, peneliti meyakini bahwa penyebabnya adala bahan pengawet yang biasa dipakai pada daging, yaitu nitrit. Nitrit diduga memperburuk gejala gangguan pernapasan pada pasien asma.

Namun peneliti sendiri belum yakin dengan temuan ini, sebab mereka beranggapan makanan saja tak dapat memicu pemburukan gejala asma.

"Ada banyak faktor lain yang bisa memperburuk gejala ini. Namun dalam penelitian, kami memang sengaja mengesampingkan faktor risiko yang paling jelas, seperti obesitas, dan dari situ terungkap adanya keterkaitan antara konsumsi daging olahan dan pemburukan gejala asma," tulis peneliti dalam jurnal Thorax.

Terlepas dari itu, daging olahan juga telah lama dikaitkan dengan risiko kanker jika dikonsumsi secara berlebihan. Alih-alih begitu, konsumsi makanan secara bervariasi, terutama yang menyehatkan.

Idealnya, daging juga hanya dikonsumsi kurang dari 70 gram perhari atau sama dengan satu sosis dan satu lembar bacon saja.

"Efek makanan pada penderita alergi ataupun asma hanya berlaku pada orang-orang tertentu saja. Untuk itu selalu disarankan makan makanan sehat, seperti halnya pasien penyakit lain, termasuk menghindari makanan yang telah diproses, serta rendah gula, garam maupun lemak jenuh," timpal Dr Erika Kennington dari Asthma UK menanggapi studi ini.
15.29 | 0 komentar | Read More

hubungan asma dan insomia

Asma biasanya muncul pada mereka yang memang sejak lahir rentan mengalami alergi ini atau memiliki riwayat alergi. Tetapi pada mereka yang terlahir sehat, risiko asma juga bisa muncul ketika mereka kurang tidur.

Hal ini diungkap tim peneliti dari Norwegian University of Science and Technology dengan melakukan pengamatan terhadap 17.927 partisipan berusia 20-65 tahun.

Segala aspek tentang pola tidur mereka 'dibedah' oleh peneliti, mulai dari kapan mereka berangkat tidur setiap harinya hingga kualitas tidur yang dimiliki. Yang kalah penting, mereka juga ditanya tentang ada tidaknya gejala asma selama studi berlangsung.

Hasilnya menunjukkan, mereka yang 'sering' sulit tidur berisiko 65 persen lebih tinggi untuk terserang asma dalam kurun 11 tahun kemudian. Sedangkan mereka yang 'hampir setiap malam' susah tidur memiliki risiko yang lebih besar, yaitu mencapai 108 persen.

Artinya, makin 'kronis' insomnianya, makin besar pula risiko asma yang mereka miliki. Kondisi serupa juga terjadi pada partisipan yang kerap bangun terlalu dini tanpa bisa tidur lagi. Risiko asmanya mencapai 92 persen.


Peneliti juga menemukan, partisipan yang dilaporkan memiliki kualitas tidur yang buruk lebih dari satu kali dalam sepekan mempunyai risiko asma hingga 94 persen.

Ketika peneliti mengamati partisipan yang mengalami insomnia kronis, mereka melihat adanya risiko terserang asma hingga tiga kali lipat. Demikian seperti dilaporkan Telegraph.co.uk.

Mereka meyakini bahwa perubahan yang terjadi pada tubuh akibat insomnia atau kurang tidur akan terus terjadi dan terakumulasi sehingga mengakibatkan efek yang berbahaya terhadap saluran pernapasan, yang kemudian salah satunya memicu asma.

"Di satu sisi, insomnia lazim ditemukan pada pasien asma, tetapi selama ini kita tidak tahu apakah mereka yang punya kebiasaan ini berisiko sebaliknya. Ternyata benar demikian," kata peneliti, Dr Linn Beate Strand.

Namun Dr Linn meyakinkan bahwa insomnia dapat diatasi dan dikelola dengan baik agar tidak menjadi kebiasaan hingga menimbulkan kerugian pada kesehatan yang bersangkutan, termasuk mencegah asm
15.27 | 0 komentar | Read More

makanan untuk penderita pneunomia

Written By iqbal_editing on Senin, 09 Januari 2017 | 07.56

Daftar Makanan untuk Penderita Pneumonia

Daftar Makanan untuk Penderita Pneumonia

DISEBABKAN oleh bakteri, virus atau jamur, penyakit ini menyerang saluran pernapasan, memicu batuk, lendir berdarah, demam, menggigil, dan sesak napas. Untuk itu, perawatan yang tepat adalah hal penting yang perlu diperhatikan oleh mereka yang mengalami pneumonia.
Sementara makanan tidak menyembuhkan, makan sehat dan diet seimbang dapat membantu memastikan pemulihan penyakit. Makanan tertentu dalam diet terbukti bisa sangat bermanfaat, tetapi tetap konsultasi dengan dokter untuk mengetahui diet yang tepat untuk Anda.
Berikut adalah beberapa saran diet yang bisa bermanfaat baik untuk penderita pneumonia, seperti dilansir dari Livestrong, Rabu (5/8/2015).
Buah dan sayuran berwarna-warni
Buah-buahan dan sayuran yang berwarna cerah dan beragam adalah sumber antioksidan yang akan membantu tubuh Anda melawan infeksi dan penyakit. Meningkatkan asupan diet ini juga dapat membantu mencegah komplikasi infeksi.
Sebuah studi yang diterbitkan dalam Public Health Nutrition pada 2010 yang melibatkan 1.034 wanita menunjukkan bahwa wanita yang mengonsumsi diet kaya buah-buahan dan sayuran tidak mudah mengembangkan infeksi saluran pernapasan, seperti pneumonia, selama kehamilan.
Makanan dari biji-bijian utuh
Makanan dari biji-bijian utuh (whole grain) memberikan karbohidrat, sumber bahan bakar utama tubuh Anda, serta sejumlah vitamin, mineral, dan antioksidan dalam jumlah yang tinggi. Vitamin B dalam biji-bijian memainkan peran penting dalam produksi energi dan kontrol suhu tubuh, yang penting ketika Anda lelah dan demam.
Biji-bijian juga merupakan sumber selenium, yaitu mineral yang mendukung fungsi sistem kekebalan tubuh. Contoh bahan biji-bijian utuh meliputi gandum dan beras merah yang bisa dimakan dalam bentuk sereal, roti, dan lainnya.
Makanan kaya protein rendah lemak
Protein memainkan peran penting dalam perbaikan jaringan dan fungsi kekebalan tubuh. Pilih sumber protein rendah lemak jenuh, seperti kacang-kacangan, lentil, daging unggas tanpa kulit, dan ikan. Hindari sumber lemak jenuh, seperti daging merah dan daging olahan yang dapat meningkatkan peradangan.
Ikan air dingin, seperti salmon dan sarden, memberikan tubuh Anda jumlah protein dan lemak omega-3 yang tinggi, yang berperan sebagai anti-inflamasi yang dibutuhkan tubuh Anda.
Cairan tambahan
Jaga tubuh Anda tetap berhidrasi dengan baik untuk memulihkan kondisi pneumonia. The University of Maryland Medical Center merekomendasikan untuk minum enam sampai sepuluh gelas cairan, seperti air, jus, kaldu, dan teh per hari. Hindari minuman yang dapat memperburuk kondisi paru-paru dan tubuh Anda secara keseluruhan.
07.56 | 0 komentar | Read More

benarkah baking soda bisa membersihkan paru-paru

Written By iqbal_editing on Senin, 12 Desember 2016 | 05.21

Soda susu adalah salah satu minuman yang cukup mudah ditemui di warung-warung pinggir jalan. Biasanya, soda susu dibuat dari campuran sirup, soda, dan juga susu yang akan terasa manis jika dikonsumsi. Tahukah anda, salah satu minuman yang menjadi favorit masyarakat ini dianggap bisa menjadi pembersih paru-paru, khususnya bagi para perokok berat yang memang sangat mudah ditemui Indonesia. Apakah mitos ini memang benar adanya?
doktersehat-cedera-paru-efusi-pleura

Mitos bahwa soda susu akan mampu membersihkan paru-paru memang beredar luas di berbagai kalangan masyarakat. Namun, mitos ini sendiri diyakini mulai menyebar di kalangan para perokok. Sayangnya, bagi pakar kesehatan, mitos ini ternyata salah kaprah dan sama sekali tidak benar. Meminum soda susu tidak akan berhubungan dengan pembersihan paru-paru dan tetap saja kandungan nikotin dan racun lain dari rokok akan tetap membahayakan kesehatan tubuh.
Pakar kesehatan menyebutkan jika soda sama sekali tidak akan berfungsi layaknya deterjen bagi tubuh manusia. Uniknya, konsumsi susu pada soda susu ini justru bisa memicu munculnya banyak lendir pada tenggorokan yang tentu akan membuat tubuh menjadi tidak nyaman. Secara logika, bagaimana mungkin sebuah minuman bisa memenuhi paru-paru untuk membersihkan berbagai macam kotoran dan kemudian keluar lagi dari paru-paru tanpa adanya gangguan kesehatan, khususnya dalam hal proses pernafasan. Melihat adanya fakta ini, para perokok pun tampaknya akan kembali kecewa karena masih belum ada solusi bagaimana agar para perokok tetap bisa mampu menjaga kesehatannya.
Andai anda ingin membersihkan paru-paru anda, pakar kesehatan menyarankan kita untuk benar-benar berhenti merokok secara total. Rokok, apalagi yang dikonsumsi secara berkala setiap hari akan secara efektif memberikan banyak dampak buruk bagi kesehatan layaknya terkena penyakit jantung, otak, ginjal, masalah pada sistem pencernaan, atau bahkan bagi tulang kita.
05.21 | 0 komentar | Read More

olahraga yang baik untuk asma

Written By iqbal_editing on Sabtu, 03 Desember 2016 | 02.02



Orang yang menderita penyakit asma sering kali khawatir untuk berolahraga karena takut akan gejala asma kambuh kembali. Penderita asma yang ringan atau berat padahal tidak perlu takut untuk berolahraga. Orang yang menderita asma justru akan dapat manfaat jika melakukan olahraga yang bersifat aerobik, menurut peneliti dari University of  Sao Paulo di Brazil. Dari hasil yang diamati para peneliti adalah hyperresponsiveness bronkial atau reaksi paru-paru ketika dihadapkan dengan stimulus kimia yang dapat menyempitkan saluran udara. Zat kimia tersebut dapat disebut histamin yang memicu terjadinya alergi dan mengukur zat dalam darah yang berhubungan dengan peradangan kemudian beberapa hari mereka dapat bebas dari gejala asma.

Olahraga yang Baik untuk Penderita Asma


Olahraga yang Baik untuk Penderita Asma
Obat Flek Paru Paru – Tidak ada larangan penderta asma untuk melakukan olahraga. Namun, pemilihan jenis olahraga sebaiknya harus dipertimbangkan dengan baik agar tidak dapat memicu terjadinya sesak napas kambuh. Berikut ini beberapa jenis olahraga yang aman untuk penderita asma, diantaranya :
1. Renang
Berenang dapat membuat seluruh tubuh bekerja tanpa resiko terkena cedera sendi, sehingga cocok untuk semua usia. Anda harus memilih kolam renang di dalam ruangan agar udaranya hangat dan lembab, sehingga saluran udara tidak akan mengering dan memicu terjadinya asma. Dr. Holbreich mengatakan bahwa olahraga yang ideal untuk pengidap asma adalah berenang karena bisa bernapas di udara yang lembabdan kadang hangat. Berada dalam posisi horizontal ketika berenang juga bisa membebaskan mukus atau lendir yang mengendap di dasar paru-paru. Namun anda juga perlu waspada akan kandungan klorin dalam kolam renang yang terlalu banyak dapat memicu terjadinya asma.
2. Yoga
Dalam melakukan yoga akan terjadi kontrol napas, latihan napas ini dapat mengaktifkan ruangan yang lebih besar di paru-paru. Meskipun pada umumnya berintensitas rendah, yoga mampu untuk melatih tubuh denganbaik, menenangkan pikiran dan membantu memerkuat otot anda. Pada umumnya, sebagian besar yoga dilakukan di dalam ruangan sehingga kemungkinan terjadinya serangan asma lebih kecil daripada berolahraga di luar ruangan.
3. Jalan Kaki
Udara dingin dan kering sering disebut sebagai salah satu pemicu terjadinya asma. Ini akan bermasalah bagi anda yang suka jogging dan berjalan kaiki. Namun, ada kabar baik yang menyebutkan bahwa jogging dan berjalan kaki aman dilakukan untuk penderita asma. Cara melakukan yang terbaik adalah dengan melakukannya di treadmil dalam ruangan, sehingga dapat memicu terjadinya serangan asma.
4. Bersepeda Santai
Mengayuh sepeda untuk balapan mungkin dapat menjadi sebuah pemicu penyakit asma anda kambuh, tetapi tidak akan terjadi jika mengayuh sepeda dilakukan dengan santai. Asma pada penderita akan kambuh saat bersepeda biasanya dipicu karena napas yang ngos-ngosan tidak terkontrol sehingga saluran napas mengalami kekeringan dan asma pun kambuh kembali.
5. Lari
Lari di jarak yang dekat jarang menyebabkan terjadinya asma kambuh. Namun, lari maraton seringkali pemicu terjadinya kekeringan ada saluran napas, pada saat kelelahan sehingga napas menjadi tidak terkontrol. Lari marathon bukan berarti tidak boleh dilakukan oleh penderita asma, namun jika memang hobi yang terpenting keadaanya harus terkontrol dan mendapatkan pengobatan yang diperlukan.
 6. Tenis
Olahraga yang menggunakan raket ini memungkinkan penderita asma berolahraga dengan jeda istirahat yang teratur serta dapat mudah untuk mengambil minuman. Asma kambuh terjadi bila saluran napas mengalami kekeringan karena terjadi penguapan pada saat ngos-ngosan. Untuk itu, olahraga ini dapat dilakukan penderita asma namun jangan berlebihan dan dengan jeda istirahat yang cukup.
Olahraga di atas bukan berarti berisiko rendah untuk terjadinya asma yang kambuh, namun olahraga diatas berisiko lebih rendah. Pada saat berolahraga, anda juga harus tetap membawa inhaler untuk menjaga jika tiba-tiba anda terserang asma. Jika hal ini terjadi, sebaiknya hentikan terlebih dahulu olahraga apa pun yang anda lakukan dan segera mencari bantuan medis jika anda kesulitan untuk mengendalikan asma yang anda derita.
02.02 | 0 komentar | Read More

silikosis

Written By iqbal_editing on Kamis, 10 November 2016 | 07.43

Silikosis adalah salah satu jenis penyakit yang terjadi pada paru-paru yang disebabkan oleh menghirup serpihan  kecil dari silika, mineral, batu, dan bijih mineral seperti kuarsa.Penyakit ini sebagian besar terjadi pada pekerja yang terpapar debu silika dalam pekerjaan pertambangan seperti, manufaktur kaca, dan pekerjaan pengecoran. Secara perlahan, dari waktu ke waktu, paparan partikel silika menyebabkan jaringan parut di paru-paru, yang dapat menggangu dan mempersulit untuk bernapas.

Ada tiga jenis silikosis yaitu silikosis akut, silikosis kronis, dan silkosis terakselerasi. Silikosis akut, yang menyebabkan batuk, penurunan berat badan, dan kelelahan dalam beberapa minggu atau tahun paparan inhalasi silika. Sedangkan Silikosis kronis, yang muncul 10 sampai 30 tahun setelah paparan dan dapat mempengaruhi paru-paru atas dan kadang-kadang menyebabkan luasnya jaringan parut. Sementara Silikosis terakselerasi, yang terjadi dalam 10 tahun paparan tingkat tinggi.

Silikosis dapat terjadi dalam beberapa minggu hingga puluhan tahun setelah tubuh kita terkena silika. Hal ini terjadi ketika orang menghirup debu silika, mereka menghirup partikel kecil dari silika mineral. Debu silika ini dapat menyebabkan penumpukan cairan dan jaringan parut dalam paru-paru yang dapat menghambat kemampuan kita untuk bernapas. Hal ini dapat menyebabkan jaringan parut paru-paru dan batuk, penurunan berat badan, dan kelelahan.

Gejala Penyakit Silikosis

Gejala silikosis dapat muncul dari beberapa minggu hingga bertahun-tahun setelah paaru paru kita terkena debu silika. Gejala biasanya memburuk dari waktu ke waktu sebagai jaringan parut di paru-paru terjadi. Orang yang menderita silikosis biasanya kan mengalami batuk pada awal terjadinya penyakit ini dan berkembang dari waktu ke waktu sejalan dengan bertambahnya silika yang dihirup. Selain itu, orang yang mengalami silikosis akut, mungkin akan merasakan beberapa permasalahan seperti demam dan nyeri dada yang tajam disertai kesulitan bernapas.
Gejala semacam  ini dapat menyerang  secara tiba-tiba.

Sementara itu, orang yang menderita silikosis kronis,  mungkin mengalami toraks yang abnormal pada awal terjadinya penyakit ini dan kemudian secara perlahan-lahan mengembangkan batuk dan kesulitan bernapas. Lebih dari sepertiga orang dengan silikosis memiliki produksi dahak dan batuk. Gejala yang juga dapat dialami oleh orang yang menderita silikosis kronis mungkin akan mengalami hal yang samap seperti yang terjadi pada bronkitis kronis, selain itu paru-paru memiliki suara tambahan yang disebut mengi dan ronki. Jaringan parut  meluluas berlangsung dari waktu ke waktu. Selain itu, penderita juga akan mengalami tanda-tanda seperti gejala yang terjadi pada penyakit paru-paru kronis seperti kaki bengkak, peningkatan denyut, dan perubahan warna kebiruan pada bibir bernapas.

Penyebab Penyakit  Silikosis

Silikosis terjadi disebabkan karena adanya paparan kristal silika, yang berasal dari kepingan, pemotongan, pengeboran, atau menggiling tanah, pasir, granit, atau mineral lainnya. Setiap pekerjaan di mana kerak bumi terganggu dapat menyebabkan silikosis. Beberapa jenis  pekerjaan diketahui dapat memberikan risiko bagi pekerja untuk menghirup kristal silika. Jenis pekerjaan tersebut diantaranya adalah pertambangan batu bara, pekerjaan konstruksi, tukang batu, penambangan pasir, pakbrik kaca, pembuatan keramik, industri baja, dan pemotongan batu.

Pengobatan Penyakit  Silikosis

Hingga saat belum ada pengobatan khusu untuk penyakit Silikosis. Pemberian pengobatan adalah untuk mengurangi gejala. Pengobatan bisa menggunakan obat batuk untuk meringankan gejala batuk, sementara antibiotik diberikan untuk mengatasi infeksi saluran pernapasan. Penggunaan Inhaler disarankan untuk memperlancar saluran udara. Beberapa pasien memakai masker oksigen untuk mensuplay oksigen dalam darah.

Orang yang sudah menderita silikosis sebaiknya menghindari paparan silika lebih lanjut. Selain itu, jika penderita adalah seorang perokok, sebaiknya kebiasaan merokoknya harus dihentikan.

Karena pasien silikosis memiliki resiko lebih tinggi untuk memiliki tuberkulosis, dokter dapat meresepkan obat untuk mengobati TB. Pasien dengan silikosis parah mungkin memerlukan operasi untuk transplantasi paru-paru.
07.43 | 0 komentar | Read More

pneunomia nasominial

Written By iqbal_editing on Kamis, 13 Oktober 2016 | 08.15

Pencegahan PN berkaitan erat dengan prinsip umum pencegahan infeksi dengan cara penggunaan peralatan invasif yang tepat. Perlu dilakukan terapi agresif terhadap penyakit pasien yang akut dan dasar. Pada pasien dengan gagal organ multipel (multiple organ failure) dan penyakit dasar yang dapat berakibat fatal perlu diberikan terapi pencegahan.
Terdapat berbagai faktor resiko terjadinya PN antara lain:
1.      Faktor resiko di ruangan umum:
  • Usia > 70 tahun
  • Penyakit paru kronik
  • Penurunan kesadaran
  • Posisi pasien
  • Aspirasi dalam jumlah banyak
  • Trauma dada
  • Pemantauan tekanan intrakranial
  • Penghambat histamin tipe II
  • Gangguan aliran ventilator
  • Musim dingin
  • Nebulizer langsung
  • Nasogastric feeding
  • Endotracheal tube
2.      Faktor Resiko di Ruangan ICU:
  • Ventilator mekanik
  • Perawatan ICU yang lama
  • Intubasi yang lama
  • Malnutrisi pada pasien sakit berat
  • Penyakit paru kronik
  • Antasida dan penghambat histamin tipe II
  • Usia lanjut
  • Obesitas
  • Gangguan refleks respirasi
  • Pelembab udara
  • Enteral feeding
Beberapa faktor resiko dapat dikoreksi untuk mengurangi terjadinya PN:
  • Mengobati penyakit dasar
  • Menghindari antasida dan penghambat histamin tipe II
  • Meninggikan posisi kepala/setengah duduk
  • Pengangkatan selang nasogastrik dan endotrakeal
  • Mengontrol pemakaian antibiotik
  • Menghindari stress bleeding
  • Mengontrol infeksi: pengawasan, pendidikan, mencuci tangan, desinfektan peralatan dan perawatan saluran nafas yang benar
  • Dekontaminasi selektif saluran cerna
PROGNOSIS
Pneumonia Komunitas
Angka morbiditas dan mortalitas pneumonia menurun sejak ditemukannya antibiotik. Faktor yang berperan adalah patogenitas kuman, usia, penyakit dasar dan kondisi pasien. Adanya leukopenia, ikterus, terkenanya 3 atau lebih lobus paru dan komplikasi ekstraparu merupakan petanda prognasis yang buruk. Kuman gram negatif menimbulkan prognosis yang lebih jelek. Prognosis pada anak kurang baik, karena itu perlu perawatan di rumah sakit kecuali bila penyakitnya ringan.
Pneumonia Nosokomial
Pneumonia nosokomial merupakan penyebab kematian utama yng diakibatkan oleh infeksi nosokomial.
08.15 | 0 komentar | Read More

pemeriksaan fisik pasien pneunomia

tatus kesehatan umum
Pasien dalam kondisi dasar, CGS 456, tampak lemah, gelisah, dispnea, napas cepat dan dangkal, RR 35x/menit, nadi 110x/menit, regular, suhu 39,50C.
  • Sistem integument
Sianosis sekitar mulut dan hidung.
  • Kepala
tidak dipengaruhi
  • Muka
Sianosis sekitar mulut dan hidung
  • Mata
Terdapat konjungtiva anemis
  • Telinga

  • Hidung
Sianosis sekitar mulut dan hidung. Pernapasan cuping hidung.
  • Mulut dan faring
Sianosis sekitar mulut dan hidung.
  • Leher
Tidak dikaji
  • Thoraks
Retraksi pada daerah supraklavikular, ruang2 intercostalis dan sternocleidomastoideus. Batuk produktif dengan secret tidak bias dikeluarkan. Auskultasi ditemukan suara napas bronchial, ronkhi basah halus, bronkofoni. Rontgen toraks: gambaran multiple infiltrate pada paru sebelah kanan.
  • Jantung
Tidak dikaji
  • Abdomen
Perut tampak distended.
  • Inguinal-Genitalia-Anus
Tidak dikaji
  • Ekstrimitas
Tidak dikaji
  • Tulang belakang
Tidak dikaji
08.12 | 0 komentar | Read More

diagnosis banding abses paru

Written By iqbal_editing on Rabu, 21 September 2016 | 05.43

Diagnosis Banding Prinsipil Abses Paru












 Infeksi melalui darah yang menyebabkan abses paru sering terjadi dengan S. Aureus. Pengguna obat intra vena mungkin mengalami abses metastasis dalam hubungannya dengan endokarditis katup trikuspid. Penyakit ini terkadang disebabkan oleh infeksi fusobacterium nechphorum namun sering salah diagnosa dan gambaran klinis yang keliru. Khususnya pada orang muda mengalami infeksi kerongkongan yang diikuti dengan penyakit septikemia bersama abses paru, yang sering mendahului empiema, disfungsi hati dan ginjal, dan kadang-kadang osteomielitis dan infeksi di tempat lain.
Embolisme nonseptik terhadap paru mungkin menyebabkan infark paru dimana, jika merupakan infeksi sekunder, mungkin membentuk kavitas menjadi bentuk abses paru.
Trauma merupakan penyebab abses paru yang jarang. Luka tusuk mungkin menyebabkan implantasi bahan infeksi, atau hematoma di dalam parenkim paru mungkin menjadi infeksi melalui cabang bronkus. Penyebaraan transdiafragmatik bisa terjadi bersama dengan abses subfrenikus atau abses hepar. Hal ini mungkin merupakan kista hidatid pyogenik, amoebik atau infektif. Yang terakhir seharusnya diduga terdapat pada pasien yang pernah tinggal di daerah dimana penyakit hidatidosa sedang atau pernah endemik.

Tabel 37.3 Penyebab Utama Aspirasi Orofaring
Ø  Gangguan Kesadaran
o   Obat
o   Alkohol
o   Epilepsi
o   Anestesi
Ø  Gangguan Inervasi Atau Muskulatura
o   Faring
o   Laring
o   Esofagus
Ø  Nasal
o   Penyakit Sinus
Ø  Oral
o   Caries Dentis, Penyakit Gusi
Ø  Faringeal
o   Pouch
Ø  Laringeal
o   Tumor
Ø  Esofagus
o   Striktura
o   Hernia Hiatus
o   Akalasia
 
 




Tumor ganas sangat mungkin menjadi penyebab pada semua perokok usia pertengahan dan perokok yang lebih tua yang menunjukkan adanya lesi kavitasi pada foto toraks. 50 tahun lalu telah Dinyatakan bahwa pada pasien yang berusia lebih dari 45 tahun, sekitar sepertiga abses paru berhubungan dengan keganasan dan hal itu cenderung menjadi lebih tinggi saat ini. Sekitar dua per tiga lesi kavitasi yang berhubungan dengan keganasan disebabkan oleh likeufaksi pada pusat nekrosis tumor, dan sekitar sepertiga merupakan abses sejati yang terletak di dista obstruksi bronkus oleh tumor. Dengan membatasi definisi, bula infektif dan kista bronkogenik bukan merupakan abses paru karena nekrosis biasanya tidak muncul, tetapi kemunculan ini dan penanganan klinisnya pada beberapa senter kesehatan sama seperti abses paru. Air fluid level pada hernia hiatus, atau usus yang mengherniasi melalui diafragma, mungkin mengaburkan abses paru. Granulomatosis wegener’s, penyakit hidatidosa, rheumatoid lung dan pneumokoniosis pada penambang seluruhnya mungkin berhubungan dengan lesi parenkim nekrotik yang menunjukkan kavitasi. Hal ini akan didiskusikan di bagian lain, sebagai apergiloma dan bronkiekrtasis seluler
05.43 | 0 komentar | Read More

patofisiologis, komplikasi dan prognosis abses paru

Patofisiologis Garry tahun 1993 mengemukakan terjadinya abses paru meliputi :
  1. Abses paru merupakan proses lanjutan pneumonia akibat inhalasi bakteri pada penderita dengan factor predisposisi. Bakteri bermultifikasi dan merusak jaringan parenkim paru dengan proses nekrosis. Bila berhubungan dengan bronchus, maka terbentuklah air fluid level. Bakteri yang masuk ke parenkim paru, selain karena inhalasi bias juga dengan penyebaran hematogen (septic emboli) atau dengan perluasan langsung dari proses abses ditempat lain ( nesitatum) misalnya abses hepar.
  2. Kavitas yang mengalami infeksi. Pada beberapa penderita tuberculosis dengan kavitas, akibat inhlasi bakteri mengalami proses peradangan supurasi. Pada penderita emfisema paru atau polisistik paru yang mengalami infeksi sekunder.
  3. Obstruksi bronchus dapat menyebabkan pneumonia berlanjut sampai proses abses paru. Hal ini sering terjadi pada obstruksi karena kanker bronkhogenik. Gejala yang sama juga terlihat pada aspirasi benda asing yang belum keluar. Kadang-kadang dijumpai juga pada obstruksi karena pembesaran kelenjar limfe peribronkhial.
  4. Pembentukan kavitas pada kanker paru. Pertumbuhan massa kanker bronkhogenik yang cepat tidak diimbangi peningkatan suplai pembuluh darah, sehingga terjadi likufikasi nekrosis sentral. Bila terjadi infeksi, dapat trjadi abses.

       Komplikasi dan Prognosis Beberapa komplikasi yang muncul:
  1. Empiema
  2. Abses otak
  3. Atelektasis
  4. Sepsis
  5. Prognosis Beberapa factor yang memperbesar angka mortalitas pada abses paru sebagai berikut:
    1. Anemia dan hipoalbuminemia
    2. Abses yang besar
    3. Lesi obstruksi
    4. Bakteri aerob
    5. Immunocompromised
    6. Usia tua
    7. Gangguan intelegensia
    8. Perawatan yang terlambat
05.31 | 0 komentar | Read More

DIAGNOSIA DAN KLASIFIKASI PPOK

Written By iqbal_editing on Rabu, 31 Agustus 2016 | 03.03

Diagnosis dan Klasifikasi (Derajat) PPOK
Dalam mendiagnosis PPOK dimulai dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang (foto toraks, spirometri dan lain-lain). Diagnosis berdasarkan
anamnesis, pemeriksaan fisik dan foto toraks dapat menentukan PPOK Klinis.
Apabila dilanjutkan dengan pemeriksaan spirometri akan dapat menentukan
diagnosis PPOK sesuai derajat (PPOK ringan, sedang dan berat)
Diagnosis PPOK Klinis ditegakkan apabila:
1. Anamnesis:
a. Ada faktor risiko
– Usia (pertengahan)
– Riwayat pajanan
§ Asap rokok
§ Polusi udara
§ Polusi tempat kerja
b. Gejala:
Gejala PPOK terutama berkaitan dengan respirasi. Keluhan respirasi
ini harus diperiksa dengan teliti karena seringkali dianggap sebagai
gejala yang biasa terjadi pada proses penuaan.
– Batuk kronik
Batuk kronik adalah batuk hilang timbul selama 3 bulan yang tidak
hilang dengan pengobatan yang diberikan
– Berdahak kronik
Kadang kadang pasien menyatakan hanya berdahak terus menerus
tanpa disertai batuk
– Sesak nafas, terutama pada saat melakukan aktivitas
Seringkali pasien sudah mengalami adaptasi dengan sesak nafas
yang bersifat progressif lambat sehingga sesak ini tidak dikeluhkan.
Anamnesis harus dilakukan dengan teliti, gunakan ukuran sesak
napas sesuai skala sesak
Skala Sesak
Skala sesak Keluhan sesak berkaitan dengan aktivitas
0 Tidak ada sesak kecuali dengan aktivitas berat
1 Sesak mulai timbul bila berjalan cepat atau naik tangga 1 tingkat
2 Berjalan lebih lambat karena merasa sesak
3 Sesak timbul bila berjalan 100 m atau setelah beberapa menit
4 Sesak bila mandi atau berpakaian
2. Pemeriksaan fisik:
Pada pemeriksaan fisik seringkali tidak ditemukan kelainan yang jelas
terutama auskultasi pada PPOK ringan, karena sudah mulai terdapat
hiperinflasi alveoli. Sedangkan pada PPOK derajat sedang dan PPOK
derajad berat seringkali terlihat perubahan cara bernapas atau perubahan
bentuk anatomi toraks.
Secara umum pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan hal-hal sebagai
berikut:
Inspeksi
– Bentuk dada: barrel chest (dada seperti tong)
– Terdapat cara bernapas purse lips breathing (seperti orang meniup)
– Terlihat penggunaan dan hipertrofi (pembesaran) otot bantu nafas
– Pelebaran sela iga
Perkusi
– Hipersonor
Auskultasi
– Fremitus melemah,
– Suara nafas vesikuler melemah atau normal
– Ekspirasi memanjang
– Mengi (biasanya timbul pada eksaserbasi)
– Ronki
3. Pemeriksaan penunjang:
Pemeriksaan penunjang yang diperlukan pada diagnosis PPOK antara
lain :
– Radiologi (foto toraks)
– Spirometri
– Laboratorium darah rutin (timbulnya polisitemia menunjukkan telah
terjadi hipoksia kronik)
– Analisa gas darah
– Mikrobiologi sputum (diperlukan untuk pemilihan antibiotik bila terjadi
eksaserbasi)
Meskipun kadang-kadang hasil pemeriksaan radiologis masih normal pada
PPOK ringan tetapi pemeriksaan radiologis ini berfungsi juga untuk
menyingkirkan diagnosis penyakit paru lainnya atau menyingkirkan
diagnosis banding dari keluhan pasien.
Hasil pemeriksaan radiologis dapat berupa kelainan :
– Paru hiperinflasi atau hiperlusen
– Diafragma mendatar
– Corakan bronkovaskuler meningkat
– Bulla
– Jantung pendulum
Dinyatakan PPOK (secara klinis) apabila sekurang-kurangnya pada anamnesis
ditemukan adanya riwayat pajanan faktor risiko disertai batuk kronik dan
berdahak dengan sesak nafas terutama pada saat melakukan aktivitas pada
seseorang yang berusia pertengahan atau yang lebih tua.
Catatan:
Untuk penegakkan diagnosis PPOK perlu disingkirkan kemungkinan adanya
asma bronkial, gagal jantung kongestif, TB Paru dan sindrome obstruktif
pasca TB Paru. Penegakkan diagnosis PPOK secara klinis dilaksanakan di
puskesmas atau rumah sakit tanpa fasilitas spirometri. Sedangkan penegakan
diagnosis dan penentuan klasifikasi (derajat) PPOK sesuai dengan ketentuan
Perkumpulan Dokter Paru Indonesia (PDPI) / Gold tahun 2005, dilaksanakan
di rumah sakit / fasilitas kesehatan lainnya yang memiliki spirometri.
b. Penentuan klasifikasi (derajat) PPOK
Penentuan klasifikasi (derajat) PPOK sesuai dengan ketentuan
Perkumpulan Dokter Paru Indonesia (PDPI) / Gold tahun 2005 sebagai
berikut :
1. PPOK Ringan
Gejala klinis:
– Dengan atau tanpa batuk
– Dengan atau tanpa produksi sputum.
– Sesak napas derajat sesak 0 sampai derajat sesak 1
Spirometri:
– VEP1 • 80% prediksi (normal spirometri) atau
– VEP1 / KVP < 70%
2. PPOK Sedang
Gejala klinis:
– Dengan atau tanpa batuk
– Dengan atau tanpa produksi sputum.
– Sesak napas : derajat sesak 2 (sesak timbul pada saat aktivitas).
Spirometri:
– VEP1 / KVP < 70% atau
– 50% < VEP1 < 80% prediksi.
3. PPOK Berat
Gejala klinis:
– Sesak napas derajat sesak 3 dan 4 dengan gagal napas kronik.
– Eksaserbasi lebih sering terjadi
– Disertai komplikasi kor pulmonale atau gagal jantung kanan.
Spirometri:
– VEP1 / KVP < 70%,
– VEP1 30% dengan gagal napas kronik
Gagal napas kronik pada PPOK ditunjukkan dengan hasil pemeriksaan analisa
gas darah, dengan kriteria:
– Hipoksemia dengan normokapnia atau
– Hipoksemia dengan hiperkapnia
03.03 | 0 komentar | Read More

contoh ronsen pasien pendirta pneunomo thorax


02.36 | 0 komentar | Read More

pneunomothorax

Pengertian Pneumothorax Pneumothoraks adalah keadaan terdapatnya udara atau gas dalam rongga pleura. Pada keadaan normal rongga pleura tidak berisi udara, supaya paru-paru leluasa mengembang terhadap rongga dada.
Pneumothorax dapat terjadi secara spontan / akibat trauma tembus atau tidak tembus. pneumothorax disebabkan oleh penyakit dasar seperti tuberkulosis paru disertai fibraosis atau emfisema lokal, bronkitis kronis dan emfisema.

  1. B.       Etiologi
Pneumothoraks dapat terjadi secara spontan atau traumatik dan klasifikasi pneumothoraks berdasarkan penyebabnya dibagi sebagai berikut :
  1. Pneumothoraks spontan
Pneumothoraks spontan adalah setiap pneumothoraks yang terjadi tiba-tiba tanpa adanya suatu penyebab
  • Pneumothoraks spontan primer (PSP)
Adalah suatu pneumothoraks yang terjadi tanpa ada riwayat penyakit paru yang mendasari sebelumnya, umumnya pada individu sehat, dewasa muda, tidak berhubungan dengan aktivitas fisis yang berat tetapi justru terjadu pada saat istirahat dan sampai sekarang belum diketahui penyebabnya.
  • Pneumothoraks spontan sekunder (PSS)
Adalah suatu pneumothoraks yang terjadi karena penyakit paru yang mendasarinya (tuberkulosis paru, PPOK, asma bronkial dsb)
  1. Pneumothoraks traumatik
Pneumothoraks traumatik adalah pneumothoraks yang terjadi akibat suatu penetrasi kedalam rongga pleura karena luka tusuk atau luka tembak atau tusukan jarum. Pneumothoraks traumatik juga ada 2 jenis yaitu
  • Pneumothoraks traumatik bukan iatragenik
Adalah pneumothoraks yang terjadi karena jelas kecelakaan misalnya jajar dinding dada terbuka / tertutup.

  • Pneumothoraks traumatik iatragenik
Adalah pneumothoraks yang terjadi akibat tindakan medis. Penumothoraks jenis ini masih dibedakan menjadi 2. pneumothoraks traumatik iatragenik aksidental dan pneumothoraks traumatik iatrogenik arti fisial (deliberate)

  1. C.       Patofisiologi
 1. gangguan pemenuhan nutrisi
2, traumatik
3, spontan
4. gangguan pada nafas
5. ketidakefektifan jalan nafas
6. nyeri dada
7,  peningkatan ekanan intra plumonia
8. perobekan pleula
9.  expansi paru menurun
10. obstruksi check value
11. alveouli pecah
12. udara masuk dalam kavum pleura
  1. D.       Gejala Klinis
Keluhan subyektif
  1. Nyeri dada pada sisi
  2. Sesak dapat sampai berat kadang bisa hilang dalam 24 jam apabila sebagian paru kolaps sudah mengembang kembali.
  3. Kegagalan pernapasan dan mungkin pula disertai sianosis.
  4. Kombinasi keluhan dan gejala klinis pneumothoraks sangat tergantung pada besarnya lesi penumothoraks.
Menurut Mills dan Luce pasien pneumothoraks spontan dapat asistomatik atau menimbulkan kombinasi nyeri dada batuk dispnea.

  1. E.     Komplikasi
Pneumothoraks tension ( terjadi pada 3-5% pasien pneumothoraks ), dapat mengakibatkan kegagalan respirasi akut, pio, pneumothoraks, hidro-pneumothoraks / hema – pneumothoraks, henti jantung paru dan kematian (sangat jarang terjadi) pneuma mediastinum dan emfisema subkutan sebagai akibat komplikasi pneumothoraks spontan.
Biasanya karena pecahnya esofagus atau bronkusi sehingga kelainan tersebut harus ditegakkan (insidennya sekitar 1%), pneumothoraks simulran bilateral, insidennya sekitar 2%; pneumothoraks kronik, bilateral ada selama waktu lebih dari 3 bulan, insidennya sekitar 5%.
  1. D.       Gejala Klinis
Keluhan subyektif
  1. Nyeri dada pada sisi
  2. Sesak dapat sampai berat kadang bisa hilang dalam 24 jam apabila sebagian paru kolaps sudah mengembang kembali.
  3. Kegagalan pernapasan dan mungkin pula disertai sianosis.
  4. Kombinasi keluhan dan gejala klinis pneumothoraks sangat tergantung pada besarnya lesi penumothoraks.
Menurut Mills dan Luce pasien pneumothoraks spontan dapat asistomatik atau menimbulkan kombinasi nyeri dada batuk dispnea.

  1. E.     Komplikasi
Pneumothoraks tension ( terjadi pada 3-5% pasien pneumothoraks ), dapat mengakibatkan kegagalan respirasi akut, pio, pneumothoraks, hidro-pneumothoraks / hema – pneumothoraks, henti jantung paru dan kematian (sangat jarang terjadi) pneuma mediastinum dan emfisema subkutan sebagai akibat komplikasi pneumothoraks spontan.
Biasanya karena pecahnya esofagus atau bronkusi sehingga kelainan tersebut harus ditegakkan (insidennya sekitar 1%), pneumothoraks simulran bilateral, insidennya sekitar 2%; pneumothoraks kronik, bilateral ada selama waktu lebih dari 3 bulan, insidennya sekitar 5%.

  1. F.        Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pneumothoraks tergantung dari jenis pneumothoraks, derajat kolaps berat ringan gejala, penyakit dasar dan penyulit yang terjadi untuk melaksanakan pengobatan tersebut dapat dilakukan tindakan medis atau tindakan bedah.
  1. a.        Tindakan medis
Tindakan observasi, yaitu dengan mengukur  tekanan intra pleural menghisap udara dan mengembangkan paru. Tindakan ini terutama di tujukan pada penderta pneumothoraks tertutup atau terbuka sedangkan untuk pneumothoraks ventil tindakan utama  yang harus dilakukan dekompresi terhadap tekanan intra plura yang tinggi tersebut yaitu dengan membuat hubungan dengan udara luar.
  1. Tindakan dekompresi
Membuat hubungan rongga pleura dengan dunia luar dengan cara :
  1. Menusukkan jarum melalui dinding dada terus masuk kerongga pleura dengan demikian tekanan udara yang positif di rongga pleura akan berubah menjadi negatif karena udara yang positif di rongga pleura akan berubah menjadi negatif karena udara keluar melalui jarum tersebut.
  2. Membuat hubungan dengan udara luar melalui kontra ventil :
  • Dapat memakai infus set
  • Jarum abbocath
  • pipa water sealed drainage (WSD)
Pipa khusus (thoraks kateter) steril, dimasukkan ke rongga pleura dengan perantara troakar atau dengan bantuan klem penjepit (pean) pemasukan pipa plastik (thoraks kateter) dapat juga dilakukan me;lalui celah yang telah dibuat dengan bantuan insisi kulit dari sela iga ke 4 pada garis aksila tengah atau pada garis aksila belakang. Selain itu dapat pula melalui sela iga ke 2 dari garis klavikula tengah. Selanjutnya ujung selang plastik didada dan pipa kaca WSD dihubungkan melalui pipa plastik di dada dan pipa kaca WSD di hubungkan melalui pipa plastik lainnya posisi ujung pipa kaca yang berada  di botol sebaiknya berada 2 cm dibawah permukkaan air supaya gelembung udara dapat dengan mudah keluar melalui perbedaan tekanan tersebut.
  1. Tindakan bedah
Dengan pembukaan dinding thoraks melalui operasi duicari lubang yang menyebabkan pneumothoraks dan dijahit.
  • Pada pembedahan, apabila dijumpai adanya penebalan pleura yang menyebakan paru tidak dapat mengembang, maka dilakukan pengelupasan atau dekortisasi.
  • dilakukan reseksi bila ada bagian paru yang mengalami robekan atau bila ada fistel dari paru yang rusak. Sehingga paru tersebut tidak berfungsi dan tidak dapat dipertahankan kembali.
  • pilihan terakhir dilakukan pleurodesis dan perlekatan antara kedua pleura ditempat fistel.

  1. G.       Pemeriksaan Penunjang
Analisa gas darah arteri memberikan gembaran hipoksemia meskipun pada kebanyakan pasien sering tidak diperlukan pneumotoraks primer paru kiri sering menimbulkan perubahan aksis QRS dan gelombang T, prekardial pada gambaran rekaman elektro kardiografi (EKG) dan dapat ditafsirkan sebagai infark mionard akut (IMA). Pada pemeriksaan foto dada tampak gambaran sulkus kostafrenikus radiolusen, sedang pneumothoraks tension pada gambaran foto dadanya tampak jumlah udara hemotoraks yang cukup besar dan susunan mediastinum kontralateral bergeser.
Pada foto dada PA, terlihat pinggir paru yang kollaps berupa garis pada pneumothoraks parsialis yang lokalisasinya di anterior atau porterior batas pinggir paru ini mungkin tidak terlihat.
Mediastinal ships” dapat dilihat pada foto PA atau fluoroskopi pada saat penderita inspirasi atau ekspirasi, terutama dapat terjadi pada “tension pneumothoraks”














      



                                                                                                                                                                                                                                                           
                                                                         
02.30 | 0 komentar | Read More

penyebab bronkientasis

Written By iqbal_editing on Jumat, 26 Agustus 2016 | 23.37

Penyebab

Bronkiektasis bisa disebabkan oleh:
  1. Infeksi pernapasan
    • Campak
    • Pertusis
    • Infeksi adenovirus
    • Infeksi bakteri contohnya Klebsiella, Staphylococcus atau Pseudomonas br>- Influenza
    • Tuberkulosa
    • Infeksi jamur
    • Infeksi mikoplasma
  2. Penyumbatan bronkus
    • Benda asing yang terisap
    • Pembesaran kelenjar getah bening
    • Tumor paru
    • Sumbatan oleh lendir
  3. Cedera penghirupan
    • Cedera karena asap, gas atau partikel beracun
    • Menghirup getah lambung dan partikel makanan
  4. Keadaan genetik
    • Fibrosis kistik
    • Diskinesia silia, termasuk sindroma Kartagener
    • Kekurangan alfa-1-antitripsin
  5. Kelainan imunologik
    • Sindroma kekurangan imunoglobulin
    • Disfungsi sel darah putih
    • Kekurangan koplemen
    • Kelainan autoimun atau hiperimun tertentu seperti rematoid artritis, kolitis ulserativa
  6. Keadaan lain
    • Penyalahgunaan obat (misalnya heroin)
    • Infeksi HIV
    • Sindroma Young (azoospermia obstruktif)
    • Sindroma Marfan.
23.37 | 0 komentar | Read More

pengertian bonkientasis

Bronkientasis adalah suatu perusakan dan pelebaran (dilatasi) abnormal dari saluran pernapasan yang besar.
Bronkiektasis bukan merupakan penyakit tunggal, dapat terjadi melalui berbagai cara dan merupakan akibat dari beberapa keadaan yang mengenai dinding bronkial, baik secara langsung maupun tidak, yang mengganggu sistem pertahanannya. Keadaan ini mungkin menyebar luas, atau mungkin muncul di satu atau dua tempat.
Secara khusus, bronkiektasis menyebabkan pembesaran pada bronkus yang berukuran sedang, tetapi bronkus berukuran kecil yang berada dibawahnya sering membentuk jaringan parut dan menyempit. Kadang-kadang bronkiektasis terjadi pada bronkus yang lebih besar, seperti yang terjadi pada aspergilosis bronkopulmoner alergika (suatu keadaan yang disebabkan oleh adanya respon imunologis terhadap jamur Aspergillus).
Dalam keadaan normal, dinding bronkus terbuat dari beberapa lapisan yang ketebalan dan komposisinya bervariasi pada setiap bagian dari saluran pernapasan. Lapisan dalam (mukosa) dan daerah dibawahnya (submukosa) mengandung sel-sel yang melindungi saluran pernapasan dan paru-paru dari zat-zat yang berbahaya. Sel-sel ini terdiri dari:
  • sel penghasil lendir
  • sel bersilia, yang memiliki rambut getar untuk membantu menyapu partikel-partikel dan lendir ke bagian atas atau keluar dari saluran pernapasan
  • sel-sel lainnya yang berperan dalam kekebalan dan sistem pertahanan tubuh, melawan organisme dan zat-zat yang berbahaya lainnya.
Struktur saluran pernapasan dibentuk oleh serat elastis, otot dan lapisan kartilago (tulang rawan), yang memungkinkan bervariasinya diameter saluran pernapasan sesuai kebutuhan. Pembuluh darah dan jaringan limfoid berfungsi sebagai pemberi zat makanan dan sistem pertahanan untuk dinding bronkus.
Pada bronkiektasis, daerah dinding bronkus rusak dan mengalami peradangan kronis, dimana sel bersilia rusak dan pembentukan lendir meningkat. Ketegangan dinding bronkus yang normal juga hilang. Area yang terkena menjadi lebar dan lemas dan membentuk kantung yang menyerupai balon kecil. Penambahan lendir menyebabkan kuman berkembang biak, yang sering menyumbat bronkus dan memicu penumpukan sekresi yang terinfeksi dan kemudian merusak dinding bronkus.
Peradangan dapat meluas ke kantong udara kecil (alveoli) dan menyebabkan bronkopneumonia, jaringan parut dan hilangnya fungsi jaringan paru-paru. Pada kasus yang berat, jaringan parut dan hilangnya pembuluh darah paru-paru dapat melukai jantung.
Peradangan dan peningkatan pembuluh darah pada dinding bronkus juga dapat menyebabkan batuk darah. Penyumbatan pada saluran pernapasan yang rusak dapat menyebabkan rendahnya kadar oksigen dalam darah.
23.36 | 0 komentar | Read More
 
berita unik