Entri Populer

Welcome Guys

Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog

Tampilkan postingan dengan label bedah jantung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bedah jantung. Tampilkan semua postingan

prosedur fontan

Written By iqbal_editing on Senin, 20 Februari 2017 | 13.19

"Prosedur Fontan" atau "prosedur Fontan Kreutzer" adalah paliatif prosedur bedah yang digunakan pada anak-anak dengan hati univentricular. Ini melibatkan mengalihkan vena darah dari IVC dan SVC ke arteri paru tanpa melalui morfologi ventrikel kanan ; yaitu, sirkulasi sistemik dan paru ditempatkan secara seri dengan ventrikel tunggal fungsional. Itu awalnya digambarkan pada tahun 1971 oleh Dr Francois Marie Fontan (1929 -) dari Bordeaux, Perancis dan oleh Dr Guillermo Kreutzer dari Buenos Aires, Argentina (1934 -) secara terpisah sebagai pengobatan bedah untuk atresia trikuspid . [1] [2]

Indikasi

Prosedur Fontan digunakan pada pasien anak yang memiliki hanya ventrikel fungsional tunggal, baik karena kurangnya katup jantung (misalnya trikuspid atau atresia mitral ), kelainan kemampuan memompa jantung (misalnya hipoplasia sindrom jantung kiri atau kanan hipoplasia sindrom jantung ), atau kongenital kompleks penyakit jantung di mana perbaikan bi-ventrikel tidak mungkin atau tidak disarankan. Single ventrikel melakukan hampir dua kali jumlah yang diharapkan dari pekerjaan karena harus memompa darah bagi tubuh dan paru-paru. Pasien biasanya hadir sebagai neonatus dengan sianosis atau gagal jantung kongestif. [3] Fontan selesai biasanya dilakukan ketika pasien 2-5 tahun, tetapi juga dilakukan sebelum usia 2 tahun. [4] [5]

Kontraindikasi

Setelah Fontan selesai, darah harus mengalir melalui paru-paru tanpa dipompa oleh jantung. Oleh karena itu, anak-anak dengan tinggi resistensi pembuluh darah paru mungkin tidak mentolerir prosedur Fontan. Seringkali, kateterisasi jantung dilakukan untuk memeriksa perlawanan sebelum melanjutkan dengan operasi. Ini juga merupakan alasan prosedur Fontan tidak dapat dilakukan segera setelah lahir; resistensi pembuluh darah paru tinggi dalam rahim dan membutuhkan bulan untuk menjatuhkan.

Jenis

Ada tiga variasi dari prosedur Fontan: [6]
  • koneksi Atriopulmonary (teknik asli)
  • Intrakardial Total koneksi cavopulmonary (tunnel lateral)
  • Total koneksi cavopulmonary extracardiac

Pendekatan

CT gambar coronal pada pasien berusia 19 tahun dengan atresia trikuspid diobati dengan dua arah Glenn shunt dan Fontan.
The Fontan biasanya dilakukan sebagai dua dipentaskan perbaikan.
Tahap pertama, juga disebut prosedur dua arah Glenn atau Hemi-Fontan (lihat juga prosedur Kawashima ), melibatkan mengarahkan darah miskin oksigen dari bagian atas tubuh ke paru-paru. Artinya, arteri paru terputus dari suplai darah yang ada (misalnya shunt yang dibuat selama prosedur Norwood , sebuah paten ductus arteriosus , dll). The vena kava superior (SVC), yang membawa darah kembali dari tubuh bagian atas, terputus dari hati dan bukan diarahkan ke arteri pulmonalis. The inferior vena cava (IVC), yang membawa darah kembali dari tubuh bagian bawah, terus terhubung ke jantung.
Tahap kedua, juga disebut Fontan selesai, melibatkan mengarahkan darah dari IVC ke paru-paru. Pada titik ini, darah yang miskin oksigen dari tubuh bagian atas dan bawah mengalir melalui paru-paru tanpa dipompa (hanya didorong oleh tekanan yang menumpuk di pembuluh darah). Ini mengoreksi hipoksia dan meninggalkan ventrikel tunggal bertanggung jawab hanya untuk memasok darah ke tubuh.

Komplikasi pasca operasi

Dalam jangka pendek, anak-anak dapat memiliki masalah dengan efusi pleura (bangunan cairan di sekitar paru-paru). Ini dapat memerlukan tinggal lebih lama di rumah sakit untuk drainase dengan tabung dada . Untuk mengatasi risiko ini, beberapa ahli bedah membuat fenestration dari sirkulasi vena ke atrium. Ketika tekanan dalam pembuluh darah yang tinggi, sebagian dari darah miskin oksigen dapat melarikan diri melalui fenestration untuk mengurangi tekanan. Namun, hasil ini dalam hipoksia , sehingga fenestration akhirnya mungkin perlu ditutup oleh ahli jantung intervensi .
Dalam 2016 review, Dr. Jack Rychik, kepala Program ketahanan hidup Tunggal Ventrikel di Rumah Sakit Anak Philadelphia diringkas konsekuensi jangka panjang dari sirkulasi Fontan sebagai "negara malas dan progresif gagal jantung" dengan konsekuensi jangka panjang diprediksi pada beberapa organ sistem. [7] hipertensi vena kronis dan menurunkan cardiac output diasumsikan menjadi akar dari kelainan limfatik seperti chylothorax , protein kehilangan enteropati dan bronkitis plastik yang dapat terjadi pada periode pasca operasi segera serta dalam jangka menengah. Kekhawatiran tentang kerusakan hati telah muncul baru-baru ini, sebagai sirkulasi Fontan menghasilkan kemacetan di organ ini yang mengarah ke progresif fibrosis hati . protokol skrining dan standar pengobatan yang muncul dalam terang penemuan ini. [7]
Prosedur Fontan adalah paliatif - tidak kuratif - tetapi dalam banyak kasus dapat menghasilkan pertumbuhan yang normal atau mendekati normal, pengembangan, toleransi latihan, dan kualitas hidup yang baik. [8] Namun, pada 20-30% kasus, pasien akan akhirnya memerlukan transplantasi jantung [9] dan diberi konsekuensi jangka panjang hipertensi vena kronis dan kerusakan organ berbahaya, kebebasan dari morbiditas tidak mungkin dalam jangka panjang.
13.19 | 0 komentar | Read More

profil dr teguh santoso

Written By iqbal_editing on Kamis, 19 Januari 2017 | 08.38

a, Bagi Prof Dr Teguh Santoso, SpPD, mengatasi sumbatan di pembuluh darah tidak pernah dirasakannya sebagai pekerjaan melainkan sudah menjadi hobi. Jika pembuluh darah yang terhubung ke jantung diibaratkan sebagai pipa air, maka pekerjaan Prof Santoso ini tidak ubahnya seperti tukang ledeng.

Bagaimana tidak, sehari-hari masalah yang ditangani Prof Santoso tidak pernah jauh dari yang namanya penyumbatan. Bedanya jika tukang ledeng mengurusi sumbatan pada pipa air, pekerjaan Prof Santoso jauh lebih menantang yakni melancarkan sumbatan di pembuluh darah yang bisa memicu stroke dan serangan jantung.

Julukan sebagai tukang ledeng bagi seorang ahli jantung sekelas Prof Santoso terkesan meremehkan, namun secara teknis sangat sesuai dengan keahliannya di bidang intervensi jantung. Bisa dibilang, mengatasi masalah penyumbatan pembuluh darah yang begitu rumit seolah jadi sesimpel membersihkan saluran pipa air ketika dikerjakan oleh Prof Santoso.

Salah satu jenis intervensi jantung yang menjadi keahlian Prof Santoso adalah Percutaneous Coronary Intervention (PCI), yakni tindakan untuk mengatasi berbagai masalah jantung dan pembuluh darah tanpa melalui operasi. Biasanya tindakannya adalah kateterisasi, yakni memasukkan pipa kecil melalui pembuluh darah lalu didorong perlahan hingga mencapai jantung.

Bidang ini ditekuninya sejak lulus pendidikan dokter jantung yang ditempuhnya di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan diperdalam lagi saat kuliah di Belanda. Karena sudah ditekuni lebih dari 30 tahun, urusan melancarkan pembuluh darah ini sudah tidak dirasakan sebagai pekerjaan oleh Prof Santoso melainkan sudah menjadi hobi.

"Kalau kita mulai kerja dan kita merasakan itu menyenangkan, kita nggak akan merasa itu pekerjaan, kita merasakan itu sebagai hobi. Nggak ada hobi yang lebih menarik untuk saya daripada ini," kata Prof Santoso saat ditemui detikHealth di Medistra beberapa waktu lalu, seperti ditulis Senin (12/3/2012).

Saking lamanya menekuni bidang ini, Prof Santoso sudah tidak pernah merasa tegang saat harus menghadapi pasien dengan kondisi sesulit dan sejelek apapun. Baginya selama ada niat baik untuk menyelamatkan nyawa seseorang, maka pertolongan akan datang dengan sendirinya dari Yang di Atas.

"Ada kebahagiaan tersendiri ketika kita menolong pasien dengan kondisi sejelek apapun, lalu pasien itu sembuh. Nggak hanya menolong pasien saja tetapi kita juga menolong keluarganya," kata Prof Santoso.

Sejak Remaja Selalu Berprestasi

Perjalanan panjang untuk menjadi 'tukang ledeng' yang andal telah dirintis Prof Santoso sejak masih duduk di bangku SMA Kristen Pintu Air atau yang sekarang bernama SMA BPK Penabur. Pada tahun 1961, atas prestasinya ia menerima penghargaan sebagai pelajar terbaik tingkat SMA se-Jakarta.

Begitu masuk Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, ketekunan dan kegigihannya dalam menuntut ilmu kembali berbuah manis. Pada tahun pertama dan kedua, Prof Santoso selalu mendapat nilai terbaik dan pada tahun ketiga lulus dengan predikat Cum laude.

Sejak itu, berbagai penghargaan dari dalam negeri maupun internasional didapatkannya berkat kontribusinya di bidang yang ditekuninya yakni intervensi jantung. Namun yang paling membanggakan, ia dipercaya untuk mengajar di berbagai negara melalui live demo atau praktik langsung.

"Hampir tiap bulan saya melakukan live demo. Januari kemarin di Taipei, sekarang di sini (Jakarta) lalu 3 minggu lagi saya ada live demo juga di Beijing," kata Prof Santoso saat ditemui usai melakukan live demo di RS Medistra yang sedianya akan disiarkan langsung ke sebuah pertemuan ahli jantung internasional di New Delhi, namun batal karena gangguan teknis, pertengahan Februari 2012.

Meski menganggap intervensi jantung sebagai hobi yang sangat menyenangkan, Prof Santoso sangat berharap anak-anak muda tidak berharap punya pasien banyak-banyak. Kaum muda yang masih sehat diimbaunya untuk menjalani diet yang seimbang dan tidak merokok, agar kelak tidak harus bertemu dengannya di laboratorium kateterisasi jantung.

BIODATA

Nama:
Prof Teguh Santoso, MD, PhD, FACC, FESC

Tempat dan tanggal lahir:
Purwokerto, 24 Juli 1944

Pendidikan:
1961: Lulus SMA Kristen Pintu Air (Sekarang SMAK 1 PENABUR) Meraih penghargaan Bintang Pelajar se-Jakarta

1967: Lulus Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pada tahun ketiga dengan predikat Cum laude, setelah meraih nilai terbaik di tahun pertama dan kedua

1975: Lulus pendidikan spesialis penyakit dalam Universitas Indonesia

1978: Lulus pendidikan kardiologi Universitas Indonesia

1980: Cardiology, Thoraxcenter, Academisch Ziekenhuis Dijkzigt, Erasmus University, Rotterdam

1986: Magna Cum Laude - Sandwich Program Universitas Indonesia dan Thoraxcentrum Erasmus University Rotterdam

1999: Meraih gelar profesor kedokteran penyakit dalam di Universitas Indonesia

Penghargaan:
1984: Medika Award
1985: Penghargaan Setya Lencana Karya Setia dari Presiden RI
2006: Best Abstract Award 2006 dalam Angioplasty Summit 2006

Organisasi:
Ikatan Dokter Indonesia
Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia
Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia
The Indonesian Association of Ultrasound in Medicineand Biology
The American Heart Association
The American Society of Echocardiography
The International Society of Hypertension
Advisory Board Member of the Asian Pacific Society of Interventional Cardiology
American College of Cardiology
European Society of Cardiology
Editorial Boards of the Indonesian Medical Journal (1981-1995)
Acta Medica Indonesian.

Praktik:
RS Cipto Mangunkusumo - FKUI
RS Medistra.
08.38 | 0 komentar | Read More

[ perawatan pasca bedah jantung

Written By iqbal_editing on Kamis, 25 Agustus 2016 | 17.36

1.      Perawatan di ICU.
a.       Monitoring Hemodinamik.
Setelah penderita pindah di ICU maka serah terima antara perawat yang mengantar ke ICU dan petugas/perawat ICU yang bertanggung jawab terhadap penderita tersebut : Dianjurkan setiap penderita satu perawat yang bertanggung jawab menanganinya selama 24 jam.
Pemantauan yang dikerjakan harus secara sistematis dan mudah :
·         CVP,  RAP,  LAP.
·         Denyut jantung.
·         Wedge presure dan PAP.
·         Tekanan darah.
·         Curah jantung.
·         Obat-obat inotropik yang digunakan untuk support fungsi jantung dosisnya, rutenya dan lain-lain.
·         Alat lain yang dipakai untuk membantu seperti IABP, pacuh jantung dll.
b.      EKG
Pemantauan EKG setiap saat harus dikerjakan dan dilihat irama dasar jantung dan adanya kelainan irama jantung seperti AF, VES, blok atrioventrikel dll.  Rekording/pencatatan EKG lengkap minimal 1 kali dalam sehari dan tergantung dari problem yang dihadapi terutama bila ada perubahan  irama dasar jantung yang membahayakan.
c.       Sistem pernapasan
Biasanya penderita dari kamar operasi masih belum sadar dan bahkan diberikan sedasi sebelum ditransfer ke ICU. Sampai di ICU segera respirator dipasang dan dilihat :
·         Tube dan ukuran yang diapakai, melalui mulut / hidung.
·         Tidalvolume dan minut volume, RR, FiO2, PEEP.
·         Dilihat aspirat yang keluar dari bronkhus / tube, apakah lendirnya normal, kehijauan, kental atau berbusa kemerahan sebagai tanda edema paru ; bila perlu dibuat kultur.
d.      Sistem neurologis
Kesadaran dilihat dari/waktu penderita mulai bangun atau masih diberikan obat-obatan sedatif pelumpuh otot.  Bila penderita mulai bangun maka disuruh menggerakkan ke 4 ektremitasnya.
e.       Fungsi ginjal
Dilihat produksi urine tiap jam dan perubahan warna yang terjadi akibat hemolisis  dan lain-lain. Pemerikasaan ureum / kreatinin bila fasilitas memungkinkan harus dikerjakan.
f.       Gula darah
Bila penderita adalah diabet maka kadar gula darah harus dikerjakan tiap 6 jam dan bila tinggi mungkin memerlukan infus insulin.
g.   Laboratorium
      Setelah sampai di ICU perlu diperiksa   :
·         HB,HT,trombosit.
·         ACT.
·         Analisa gas darah.
·         LFT / Albumin.
·         Ureum, kreatinin, gula darah.
·         Enzim CK dan CKMB untuk penderita bintas koroner.
h.      Drain
Drain yang dipasang harus diketahui sehingga perdarahan dari mana mungkin bisa diketahui. Jumlah drain tiap satuan waktu biasanya tiap jam tetapi bila ada perdarahan maka observasi di kerjakan tiap ½ jam. Atau tiap ¼ jam. Perdarahan yang terjadi lebih dari 200 cc untuk penderita dewasa tiap jam dianggap sebagai perdarahan  pasca bedah dan mungkin memerlukan retorakotomi untuk menghentikan perdarahan.
i.        Foto thoraks
Pemerikasaan foto thoraks di ICU segera setelah sampai di ICU untuk melihat ke CVP, Kateter Swan Ganz.Perawatan pasca bedah di ICU harus disesuaikan dengan problem yang dihadapi seperti komplikasi yang dijumpai.Umumnya bila fungsi jantung normal, penyapihan terhadap respirator segera dimulai dan begitu juga ekstratubasi beberapa jam setelah pasca bedah.
j.        Fisioterapi.
Fisioterapi harus segera mungkin dikerjakan termasuk penderita dengan ventilator.Bila sudah ekstubasi fisioterapi penting untuk mencegah retensi sputum (napas dalam, vibrilasi, postural drinase).
  1. Perawatan setelah di ICU / di Ruangan.
Setelah klien keluar dari ICU maka pemantauan terhadap fungsi semua organ  terus dilanjutkan. Biasanya pindah dari ICU adalah pada hari ke dua pasca bedah.Umumnya pemeriksaan hematologi rutin dan thoraks foto telah dikerjakan termasuk laboratorium LFT, Enzim CK dan CKMB.
Hari ke 3 lihat keadaan dan diperiksa antara lain :
·         Elektrolit thrombosis.
·         Ureum
·         Gula darah.
·         Thoraks foto
·         EKG  12 lead.
Hari ke 4         : lihat keadaan, pemeriksaan atas indikasi.
Hari ke 5          : Hematologi, LFT, Ureum dan bila perlu elektrolit, foto thoraks tegak.
Hari ke 6  -  10 : pemerikasaan atas indikasi, misalnya thrombosis.
*      Obat – obatan ini biasanya diberikan analgetik karena rasa sakit daerah dada waktu batuk akan mengganggu pernapasan klien. Obat-obat lain seperti anti hipertensi, anti diabet, dan vitamin harus sudah dimulai, expectoransia, bronchodilator, juga diperlukan untuk mengeluarkan sputum yang banyak sampai hari ke 7 atau sampai klien pulang.
*      Perawatan luka, dapat tertutup atau terbuka. Bila ada tanda-tanda infeksi seperti kemerahan dan bengkak pada luka apalagi dengan tanda-tanda panas, lekositosis, maka luka harus dibuka jahitannya sehingga nanah yang ada bisa bebas keluar. Kadang-kadang perlu di kompres dengan antiseptik supaya nanah cepat kering. Bila luka sembuh dengan baik jahitan sudah dapat di buka pada hari ke delapan atau sembilan pasca bedah. Untuk klien yang gemuk, diabet kadang-kadang jahitan dipertahankan lebih lama untuk mencegah luka terbuka.
*      Fisioterapi, setelah klien exstubasi maka fisioterapi harus segera dikerjakan untuk mencegah retensi sputum yang akan menyebabkan problem pernapasan. Mobilisasi di ruangan mulai dengan duduk di tempat tidur, turun dari tempat tidur, berjalan disekitar tempat tidur, berjalan ke kamar mandi, dan keluar dari ruangan dengan dibimbing oleh fisioterapis atau oleh perawat.
17.36 | 0 komentar | Read More

cara kerja dan komplikasi bedah jantung terbuka

Cara Kerja Bedah Jantung Terbuka

Bedah jantung terbuka dimulai dengan pembuatan sayatan pada rongga dada sebesar 2-5 inchi. Untuk memasuki jantung, maka otot jantung akan dibelah.
Pasien harus terhubung dengan mesin pintas jantung paru sebelum prosedur operasi berjalan agar darah terpompa ke seluruh organ tubuh pasien saat ahli bedah melakukan prosedur operasi.
Setelah itu, ahli bedah akan memulai perbaikan, penggantian, atau transplantasi sesuai kebutuhan pasien. Setelah operasi selesai, pasien akan dibawa ke ruang perawatan intensif untuk rawat inap. Dada pasien akan dihubungkan pada tabung-tabung yang berguna menyerap kelebihan cairan di sekitar jantung. Pasien dipasangi infus sebagai asupan cairan yang diperlukan, juga kateter yang terhubung pada saluran pembuangan untuk membersihkan sisa kotoran di dalam tubuh. Jantung akan terus dipantau oleh mesin. Malam pertama setelah operasi, pasien akan dipindahkan ke kamar biasa tetapi tidak diperbolehkan meninggalkan rumah sakit selama 7 hari.
Dewasa ini, bedah jantung terbuka jarang dilakukan karena adanya prosedur bedah modern, seperti bedah jantung endoskopik di mana dokter akan membuat empat sayatan kecil pada rongga dada dan melakukan operasi dengan bantuan kamera. Terdapat pula operasi katup jantung dengan bantuan tangan robot yang dikendalikan oleh komputer; metode ini terkenal karena tingkat ketelitiannya dan sejauh ini terbukti memberikan hasil yang lebih baik. Prosedur-prosedur modern ini dikenal hanya meninggalkan sedikit bekas luka dan tidak mengharuskan pasien terhubung dengan mesin pintas jantung paru.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Bedah Jantung Terbuka

Bedah jantung terbuka merupakan prosedur operasi besar dengan beberapa risiko, antara lain:
  • Pendarahan, luka di dada terinfeksi sehingga menyebabkan demam dan radang.
  • Serangan jantung, seringkali disebabkan oleh gumpalan darah yang lepas setelah prosedur selesai
  • Gangguan fungsi otak mendadak (stroke)
  • Kerusakan organ tubuh dapat memengaruhi jantung, ginjal, paru-paru, atau hati
  • Kehilangan darah akut
  • Sulit bernapas
  • Hilang ingatan yang seringkali pulih tanpa pengobatan dalam 6 bulan hingga 1 tahun
  • Kebingungan
  • Nyeri dada
  • Demam rendah
  • Reaksi alergi terhadap jenis obat yang dipakai selama pembedahan

Beberapa tahun setelah operasi pertama dilakukan, pasien memiliki kecenderungan untuk menjalani operasi tambahan atau operasi ulang.
Walaupun risiko kematian sangat kecil, dokter akan mempertimbangkan kondisi kesehatan pasien sebelum merekomendasikan prosedur pembedahan jantung terbuka.
Risiko komplikasi menjadi lebih tinggi jika pembedahan dilakukan dalam keadaan darurat, seperti ketika pasien menderita penyakit serius atau terhadap serangan jantung.
17.20 | 0 komentar | Read More

pengertian dan yang perlu dilakukan bedah janrung terbuka

Bedah jantung terbuka adalah prosedur yang mengharuskan pembukaan rongga jantung. Prosedur yang melibatkan seluruh komponen jantung, mulai dari pembuluh nadi, katup hingga otot jantung dilakukan pada pasien penyakit jantung koroner akut. Prosedur ini disebut sebagai “bedah jantung konservatif” untuk membedakan dengan teknik baru, yang hanya memerlukan sayatan kecil sehingga jantung tidak benar-benar terekspos. Teknik baru ini dikembangkan untuk meminimalisir resiko yang mungkin terjadi karena menjalani bedah jantung terbuka.

Siapa yang Perlu Menjalani & Hasil yang Diharapkan

Bedah jantung terbuka dilakukan sebagai:
  • Pengobatan penyakit jantung koroner – Penyakit jantung koroner merupakan alasan utama untuk menjalani bedah jantung terbuka. Kondisi ini muncul ketika pembuluh darah di dalam jantung menjadi keras dan mengalami penyempitan akibat penumpukan plak pada dinding pembuluh darah. Munculnya plak disebabkan oleh makanan berlemak yang dikonsumsi pasien. Penyakit ini dapat menghambat aliran darah ke jantung dan meningkatkan risiko serangan jantung. Operasi yang dilakukan untuk mengobati penyakit jantung koroner disebut juga sebagai operasi bypass (CABG).
  • Perbaikan katup jantung – Katup-katup jantung kemungkinan mengalami kerusakan, tetapi hal ini dapat diatasi oleh teknik bedah tertentu.
  • Penggantian katup jantung – Jika katup-katup jantung tidak dapat diperbaiki, maka ia akan diganti. Hal ini dapat dilakukan dengan bedah jantung terbuka.
  • Pemasangan alat pacu jantung – Alat pacu jantung adalah alat untuk pengobatan aritmia atau kondisi yang memengaruhi irama elektrik pengatur detak jantung.
  • Transplantasi jantung – Mengganti jantung yang tidak dapat berfungsi normal dengan jantung donor yang sehat.
  • Bedah perbaikan cacat jantung bawaan – Prosedur yang dijalankan pada seseorang atau bayi yang lahir dengan penyakit jantung bawaan.
  • Bedah aorta jantung – Prosedur pembedahan kondisi pembengkakan aorta pada jantung.
Biasanya, bedah jantung terbuka merupakan alternatif terakhir yang dilakukan untuk mengobati penyakit jantung. Prosedur ini diharapkan dapat menjadi solusi dan memperpanjang kemungkinan hidup seseorang yang telah lama menderita penyakit jantung kronis. Karena prosedur ini termasuk operasi besar, pasien membutuhkan waktu cukup lama untuk benar-benar pulih. Kondisi pasien akan mulai menunjukkan perbaikan dalam 6 minggu setelah prosedur. Sementara, hasil yang diharapkan akan terasa setelah 6 bulan.
Sayangnya, prosedur ini tidak menutup kemungkinan kembalinya penyakit. Contohnya, jika bedah jantung terbuka mampu mengatasi penyumbatan arteri koroner, maka pembuluh nadi tetap mempunyai kesempatan untuk kembali tersumbat. Untuk menghindari hal ini, pasien diminta untuk menjaga pola makan dan memperbaiki gaya hidup.
17.18 | 0 komentar | Read More
 
berita unik