Entri Populer

Welcome Guys

Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog

Tampilkan postingan dengan label andrologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label andrologi. Tampilkan semua postingan

Kecanduan Operasi Plastik, Pria Ini Malah Mengalami Ereksi Permanen

Written By iqbal_editing on Jumat, 08 September 2017 | 07.12

Seorang pria asal Kroasia mengalami kecanduan operasi plastik. Saat hendak memperbaiki hidungnya yang bengkok, ia malah mengalami efek samping berupa ereksi tanpa henti.

Neven Ciganovic, pria 45 tahun tersebut, dilaporkan terbang ke Iran untuk menjalani rhinoplasty. Ini adalah prosedur operasi untuk memodifikasi bentuk maupun struktur hidung.

Saat pulang ke rumahnya di Serbia, Neven mengalami efek samping yang tidak diharapkan. Tiba-tiba saja ia mengalami ereksi yang lama dan menyakitkan.

"Mereka memberiku anestesi dan aku bereaksi sangat buruk terhadapnya," katanya, dikutip dari The Sun.
bat Bius

Dokter menyebut, Neven mengalami kondisi langka yang disebut priapism. Neven tekah menjalani operasi untuk melancarkan aliran darah yang terjebak di Mr P, dan kini kondisinya telah membaik.

Dikutip dari Mayo Clinic, priapism merupakan kondisi yang menyebabkan ereksi terjadi dalam waktu lama. Biasanya disertai juga dengan rasa sakit. Tidak selalu ada rangsang seksual yang memicunya.
07.12 | 0 komentar | Read More

hhubungan polusi dan gangguan kesuburan pria

Written By iqbal_editing on Sabtu, 01 Juli 2017 | 05.45

Salah satu konsekuensi yang harus dihadapi ketika tinggal di kota besar adalah suara bising yang ada, baik dari lalu lintas maupun suara mesin industri.

Namun suara bising itu sendiri tanpa diduga dapat berdampak pada tingkat kesuburan seseorang lho, utamanya pada pria.

Temuan ini dikemukakan tim peneliti dari Seoul National University dengan melibatkan 206.492 pria berusia 20-59 tahun. Studi dilakukan dalam kurun tahun 2006-2013.

Dalam studi ini, peneliti menghitung tingkat kebisingan beberapa wilayah dan membandingkannya dengan prevalensi tingkat ketidaksuburan atau kemandulan pria yang tinggal di wilayah-wilayah tersebut. Di akhir studi, 3.293 partisipan dilaporkan mengalami kemandulan.

Peneliti kemudian menyimpulkan bahwa polusi suara di malam hari, dengan tingkat kebisingan minimal 55 desibel (setara dengan tingkat kebisingan di pinggiran kota besar), dapat meningkatkan risiko kemandulan pada pria secara signifikan.

Fakta ini terbukti konsisten sebab peneliti telah mempertimbangkan faktor risiko kemandulan lainnya seperti BMI (indeks massa tubuh) partisipan atau kebiasaan merokok mereka.


Namun kaitannya bukan pada kebisingan itu sendiri, melainkan pada gangguan pola tidur akibat kebisingan tersebut. Kurang tidur, utamanya kurang dari enam jam dalam semalam, terbukti menurunkan peluang seorang pria untuk bisa menghamili pasangannya hingga 43 persen.

Kurang tidur juga dilaporkan mempengaruhi jumlah sperma, mengubah bentuk sperma dan mengurangi kadar hormon testosterone.

"Polusi suara telah dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan, namun kemandulan nampaknya menjadi dampak yang tak terduga dari fenomena ini," kata peneliti, Jin Young Min seperti dilaporkan The Independent.

Min menambahkan, bila tren ini berlanjut atau tidak segera ditangani, generasi di masa depan akan kesulitan untuk menghasilkan keturunan yang sehat atau bahkan mengalami kesulitan ketika ingin mendapatkan keturunan.

Apalagi studi sebelumnya menyebut, tiap penambahan polusi suara dari kemacetan lalu lintas dengan tingkat kebisingan sebanyak 10 desibel, dapat meningkatkan risiko wanita untuk susah hamil sebesar 8 persen. Yang dimaksud susah hamil di sini adalah ketika seorang wanita dilaporkan butuh waktu lebih dari enam bulan untuk bisa hamil setelah berhubungan.

Menurut peneliti, polusi suara juga mempengaruhi siklus ovulasi wanita sehingga menjadi tidak beraturan, yang kemudian mempengaruhi peluang wanita tersebut untuk bisa mengandung.
05.45 | 0 komentar | Read More

pemeriksaan lab mengukur kesuburan pria

Written By iqbal_editing on Rabu, 04 Januari 2017 | 07.54

5 Tes Laboratorium untuk Mengetahui Kesuburan Pria

tes-laboratorium-mengetahui-kesuburan-pria

Infertilitas atau ketidaksuburan merupakan kondisi ketidakmampuan pasutri untuk mendapatkan kehamilan setelah melakukan hubungan seksual secara teratur selama 1-2 tahun.

Faktor utama pemicu sebagian besar kasus infertilitas yang terjadi pada pria saat ini adalah gaya hidup dan lingkungan. Kedua faktor tersebut sangat berpengaruh pada fungsi reproduksi pria atau sperma, seperti misalnya pola makan, obesitas, polusi udara atau paparan zat beracun, kebiasaan minum alkohol dan merokok, banyak duduk berjam-jam karena pekerjaan, dan bersinggungan dengan radiasi tinggi, serta kebiasaan memangku laptop.

Faktor lain yang bisa menjadi penyebab infertilitas pada pria, yaitu genetik, usia, gangguan hormon, kelainan organ reproduksi, penyakit infeksi, dan penyakit tertentu lainnya. Mengetahui penyebab infertilitas pada pria sangat perlu untuk dapat segera mengatasi kondisi sulit mendapatkan keturunan. Infertilitas memang tidak menyebabkan kematian, namun bila tidak kunjung teratasi bisa menjadi hubungan dalam keluarga tidak harmonis.

Untuk mengetahui pria subur atau tidak dapat diketahui dengan melalui pemeriksaan riwayat medis dan fisik oleh dokter, dilanjutkan dengan pemeriksaan laboratorium. Berikut ini tes laboratorium yang umumnya dilakukan untuk mengetahui kesuburan pria :

1. Analisa sperma
Pemeriksaan sperma merupakan bagian utama yang harus dijalankan. Pada analisa sperma, ada tiga hal yang diperiksa untuk mengevaluasi fertilitas atau kesuburan pria adalah jumlah, kualitas gerakan dan bentuk sperma.

Pemeriksaan analisa sperma diperlukan persiapan khusus sebelumnya, yaitu tidak boleh mengalami ejakulasi, baik melalui aktivitas seksual, masturbasi atau pun pengeluaran sperma pada saat mimpi dalam waktu 2-7 hari sebelum pemeriksaan. Hal ini wajib dipatuhi karena akan mempengaruhi kuantitas dan kualitas sperma.

2. Urinalisis
Pemeriksaan urin lengkap paska ejakulasi dilakukan untuk menunjang dugaan retrogade ejaculation, yaitu suatu keadaan kelainan pada saluran keluarnya sperma yang mengakibatkan sperma tidak keluar sebagaimana mestinya, melainkan masuk dan keluar melalui saluran kemih.
 
3. Folicle stimulating hormone (FSH)
Folicle stimulating hormone (FSH) diproduksi oleh kelenjar pituitari, organ berukuran anggur yang ditemukan pada dasar otak. Pada pria, FSH menstimulasi testis untuk memproduksi sperma yang matang. Kadar FSH relatif konstan setelah masa remaja atau pubertas.

Pemeriksaan FSH kerap kali dilakukan bersama dengan pemeriksaan hormon lain yaitu luteinizing hormone (LH) untuk evaluasi infertilitas pada pria. Pengukuran kadar FSH berguna untuk menentukan penyebab jumlah sperma yang sedikit pada pria.

4. Luteinizing hormone (LH)
Sama seperti FSH, luteinizing hormone (LH) juga diproduksi oleh kelenjar pituitari dan kadarnya relatif konstan setelah masa remaja atau pubertas. LH pada pria akan merangsang tipe sel tertentu (sel Leydig) dalam testis untuk memproduksi testosteron.

Pemeriksaan FSH juga kerap kali dilakukan bersama dengan pemeriksaan hormon lain yaitu luteinizing hormone (LH) untuk evaluasi infertilitas pada pria. Pengukuran kadar LH berguna untuk diagnosis penyakit pituitasri atau penyakit terkait testis.

5. Prolaktin
Prolaktin adalah hormon yang diproduksi oleh bagian depan dari kelenjar pituitari. Secara normal, prolaktin terdapat dalam jumlah yang sedikit pada pria dan wanita tidak hamil. Hormon prolaktin memiliki peran utama pada proses laktasi (produksi ASI).

Pemeriksaan prolaktin bersama dengan pemeriksaan hormon lain dapat digunakan untuk membantu diagnosis infertilitas dan disfungsi ereksi pada pria. Peningkatan kadar prolaktin pada pria dapat menyebabkan penurunan libido dan fungsi seksual atau kemandulan secara bertahap.

Dalam periode 24 jam kadar prolaktin bervariasi, meningkat selama tidur dan mencapai puncak pada pagi hari. Secara ideal, sampel darah untuk pemeriksaan prolaktin sebaiknya diambil segera setelah bangun tidur di pagi hari dan beristirahat tenang selama 30 menit sebelumnya, atau sesuai dengan petunjuk dokter.

Pemeriksaan infertilitas bagi pria lebih mudah, tidak menyakitkan, dan biayanya lebih terjangkau dibandingkan pemeriksaan untuk wanita. Ketika satu pasutri mengalami kesulitan mendapatkan keturunan, lebih baik bila pihak pria yang melakukan pemeriksaan inertilitas terlebih dahulu.

07.54 | 0 komentar | Read More

mitos mengenai kesuburan pria

Written By iqbal_editing on Senin, 02 Januari 2017 | 17.58

Mitos adalah pendapat yang diyakini tapi sebenarnya tidak mengandung kebenaran sama sekali atau mungkin belum terbukti kebenarannya secara ilmiah. Mitos ada dimana-mana atau di semua sisi kehidupan kita. Nah, di seputar kesuburan priapun beberapa mitospun ada dan ternyata tidak terbukti kebenarannya. Yuk, kita ketahui mitos apa saja yang ada.
1. PRIA TIDAK PERNAH MENJADI SEBAB DARI KETIDAKMAMPUAN PUNYA ANAK.
Mitos yang satu ini merupakan mitos yang cukup kuat beberapa dekade yang lalu, sebelum pemeriksaan sperma menjadi petunjuk umum bagi penilaian kesuburan pria. Wanita selalu disalahkan jika belum punya keturunan. Suami dengan enak saja menceraikan istri jika tidak punya anak.Tetapi sebenarnya apa yang terjadi..? Survei internasional menunjukkan bahwa faktor suami dan faktor istri sekarang seimbang. Artinya pria dan wanita punya kans yang sama untuk menyebabkan tidak punya anak.
2. PRIA MASKULIN PETANDA SUBUR
Mitos ini bermuara dari tampilan fisik semata. Bukankah untuk menilai kesuburan pria haruslah dengan menjalani pemeriksaan sperma dilaboratorium terlebih dahulu..? Bisa jadi seorang pria punya tampilan macho, gagah dan dengan aktifitas seksual yang memuaskan, tetapi semua itu bukan menjadi bukti kesuburan lho.
3. CAIRAN SPERMA YANG BANYAK PETANDA SUBUR
Sebenarnya cairan sperma yang dikeluarkan seorang pria saat ejakulasi terdiri dari 90-98% air yang berasal dari kelenjar prostat dan vesikula seminalis. Nah, spermatozoa atau sel benih pria hanya sedikit kan.. Sehingga bisa terjadi sperma yang volumenya banyak tapi sel spermanya sangat sedikit lho, misalnya kasus azoospermia atau tak ada sel sperma di dalam cairan sperma.
4. SPERMA KENTAL PETANDA SUBUR
Ini merupakan keyakinan yang menyesatkan. Kekentalan sperma harusnya ditentukan saat pemeriksaan di laboratorium dengan menggunakan metode tertentu. Tidak bisa seorang pria terus mengklaim sperma saya kental atau encer. Sperma yang super kental justru dicurigai hasil dari proses infeksi di seputar organ reproduksi
Tentunya masih banyak mitos diseputar kesuburan pria. Semoga hal ini menjadikan kita sadar bahwa pemeriksaan sperma sangat penting untuk mengetahui tingkat kesuburan pria, apalagi jika pernikahan sudah cukup lama dan buah hati belum muncul juga diantara pasangan suami istri.
17.58 | 0 komentar | Read More

ASA bagian 2

3
DETEKSI ANTIBODI PADA PASANGAN INFERTIL
Deteksi antibodi antisperma dapat dilakukan secara langsung terhadap antibodi yang
terikat pada sperma atau tidak langsung mengukur antibodi dalam cairan (serum,
semen, sekret vagina atau serviks atau cairan lain ). Diantara metode lain uji Kibrick,
uji Isojima, uji Kremer & Jager, imunobead assays (IBD), mixid antiglobulin reaction
(MAR) test, ELISA, tray agglutination test (TAT), Sperm immobilization assay test,
flow cytometry, dan radiolabeled agglutinin assays.
3,11
Uji Kibrick ( sperm aglutination test)
Pemeriksaan ini untuk menentukan adanya aglutinasi sperma dalam serum. Semen
normal yang segar diencerkan dengan Baker’s buffer sampai tercapai kepekatan 40
juta per mil. Suspensi sperma ini kemudian dicampur dengan 10% larutan gelatin
dalam Baker’s buffer dalam jumlah yang sama, keduanya dalam suhu 37
0
C. Serum
yang akan diperiksa dan serum kontrol negatif dipanaskan pada suhu 56
0
C selama 30
menit untuk menginaktifkan komplemen. Kemudian dibuat pengenceran serum yang
diperiksa, dimulai dengan 1:4, 1:8, 1:16, dan seterusnya. Sebanyak 0,2 ml suspensi
sperma dalam gelatin dicampur dengan 0,2 ml serum inaktif. Campuran tersebut
kemudian dipindahkan pada tabung Kibrick yang berukuran 5 x 65 mm dan
diinkubasi pada suhu 37
0
C selama 2 jam. Secara mikroskopis, suatu reaksi positif
terlihat sebagai gumpalan-gumpalan putih diantara media yang bening, yang berasal
dari sperma yang teraglutinasi.
11
Uji Isojima (Sperm immobilization test)
Immobilisasi sperma yang tergantung komplemen merupakan dasar dari test antibodi
sperma ini. Interaksi antara molekul antibodi dan antigen sperma mengaktifkan
sistem komplemen dan mengganggu permeabilitas dan integritas membran sel sperma (akrosom dan bagian tengah). Pengaruh yang dapat dilihat secara mikroskopik adalah
hilangnya motilitas sperma diikuti kematian sel. Aktivitas immobilisasi sperma
terletak pada faksi IgG dan IgM dari semen yang positif yang dapt digunakan sebagai
dasar pemeriksaan aktivitas antisperma humoral. Tes immobilisasi sperma ini adalah
suatu metode pilihan untuk skrining antibodi serum wanita dan juga dapat dikerjakan
pada pemeriksaan antibodi serviks. Spermatozoa yang digunakan dalam tes
immobilisasi ini haruslah sperma yang baru diejakulasikan dengan kualitas yang baik.
Serum yang digunakan masih segar.
2
Serum penderita dipanaskan pada suhu 56
0
C selama 20 menit untuk
mengaktifkan komplemen, kedalam 0,25 ml serum percobaan yang inaktif tersebut
dimasukkan 0,025 ml semen yang segar yang telah disesuaikan jumlah spermanya
sebanyak 60 juta per ml. Kedalamnya ditambahkan pula 0,05 ml serum manusia
sebagai komplemen. Campuran tersebut diinkubasi dalam penangas air pada 32
0
C
yang lebih sesuai dengan temperatur testis dalam skrotum. Sebagai kontrol 0,025 ml
serum manusia inaktif tanpa aktivitas imobilisasi 0,05 ml larutan komplemen dan
0,025 ml suspensi sperma dicampurkan dan diinkubasi.
Setelah 60 menit, 1 tetes dari campuran diletakkan pada gelas objek dasn motilitas
sperma dilihat dibawah mikroskop, dihitung jumlah sperma motil diantara 50
spermatozoa. Cara ini diulangi sampai 40 lapangan pandangan. Persentase sperma
motil diantara 200 spermatozoa dihitung sebagai T% dan kontrol sebagai C%. Nilai
ini imobilitas dihitung sebagai C/T. Hasil dianggap positif apabila T kurang dari ½
C.
11
Uji Kremer & Jager ( Tes kontak sperma-cairan serviks)
Tes ini pertama kali dilakukan oleh Kremer dan Jager untuk melihat antibodi lokal
pada pasangan infertil. Hasil positif menunjukkan adanya antibodi antisperma baik
pada seman, cairan serviks atau keduanya. Tas ini sangat bernilai untuk mendeteksi
antibodi lokal dan juga cocok untuk uji silang. Setetes lendir istri praovulasi dengan
tanda-tanda pengaruh estrogen yang baik dan pH lebih dari 7 diletakkan pada sebuah
gelas objek disamping stetes air mani suami. Kedua tetesan itu dicampur dan diaduk
dengan sebuah gelas penutup, yang kemudian dipakai untuk menutup campuran itu. Setetes air mani yang sama diletakkan pada gelas objek itu juga, kemudian ditutup
dengan gelas penutup. Penilaian dilakukan dengan membandingkan mobilitas
spermatozoa dari kedua sediaan itu. Sediaan itu kemudian disimpan kedalam tatakan
peetri yang lembab, pad suhu kamar selama 30 menit, untuk kemudian diamati lagi.
Menurut Kremer & Jager, pada ejakulat dengan autoimunisasi, gerakan maju
spermatozoa akan berubah menjadi terhenti atau gemetaran ditempat (shaking
movement) kalau bersinggungan dengan lendir serviks. Perangai gemetar ditempat ini
terjadi juga kalu air mani yang normal bersingggungan dengan lendir serviks wanita
yang serumnya mengandung antibodi terhadap spermatozoa.
2,11
Indirect immunobead binding (IBD) test
Tes ini menggunakan butir (bead) poliakrilimida yang berikatan dengan
antiimunoglobulin spesifik butir tersebut kemudian dicampur dengan sperma segar
yang viabel dan dicuci atau tidak dicuci. Sampel semen dengan antibodi antisperma
(+) dari donor dan disiapkan dengan cara/metode renang atas untuk mendapatkan
sperma yang mengandung ± 50 x 10
6
/ml sperma motil. Sepuluh mikroliter plasma
semen masing-masing dilarutkan dalam 40 μL phosphate buffered saline (PBS)
ditambah dengan 5% (50g/L) albumin serum sapi (BSA) dalam tabung Effendorp,
dan 50 μL suspensi sperma ditambahkan pada masing-masing tabung dan dicampur
secara hati-hati. Sampel kemudian diinkubasi pada suhu 37
0
C selama 60 menit dan
kemudian disentrifus selama 5 menit pada putaran 500 putaran permenit. Supernataan
dibuang dan endapan sperma dicampur lagi dengan 500 μL PBS + 0,4% BSA dan
disentrifus selama 5 menit pada 500 ppm. Supernatan dibuang dan enadpan sperma
dilarutkan lagi dengan 50 μL PBS segar ditambah 5% BSA.
16,18
Dengan 2 slide yang berbeda 5 μL suspensi sperma tadi dicampur dengan 5 μL
immunobead GAM yang mengandung campuran imunoglobulin antihuman
immunobead (IgG, IgA, dan IgM). Slide kemudian diinkubasi selama 10 menit dan
kemudian diperiksa dengan pembesaran 400 kali dengan mikroskop kontras.
Setidaknya 200 sperma motil dihitung, dikelompokkan menjadi 2, yang dengan
dempet imunobead (immunobead attached) dan tanpa dempet imunobead. Lokalisasi
band bead juga diperiksa (misalnya kepala, midpiece, ekor an ujung ekor).
16,18 Peersentase sperma yang motil dengan GAM imunobead dihitung. Tes dikatakan
positif bila ≥ 20% sperma motil mempunyai bead attache dan secara klinik bermakna
bila ≥ 50% dilapisi bead. Keuntungan tes ini adalah bersifat semikuantitaf, mampu
mendeteksi isotif dan lokasi fisik ASA, baik dalam hal sensitivitas dan spesifisitas.
Sedangkan kerugiannya yaitu membutuhkan staf yang trampil, mahal, memerlukan
waktu yang banyak, dan sulit dalam interpretasi. Beberapa metode lain yang
dikembangkan dari metode ini yaitu modifikasi metode imunobead (modified
immunobead method), dan mixed immunobead screen.
3,16,18,19
Mixed antiglobulin reaction (MAR) test
Eritrosit golongan darah O dengan Rh-positif dilapisi oleh IgG atau IgA, dicampur
dengan sperma viabel yang dicuci ataupun tidak dicuci. Antiserum yang spesifik
terhadap imunoglobulin pada eritrosit ditambahkan, dan akan terjadi aglutinasi
sperma eritrosit bila ada antibodi antisperma. Aglutinasi ini dapat dinilai secara
semikuantitatif dengan menggunakan mikroskop.
3
Elisa (enzym linked immunosorbent assay)
Antibodi spesifik dapat diikat oleh suatu enzim. Komplek antibodi-enzim
imunoglobulin adpat dideteksi dengan menambahkan subsrat enzim spesifik, yang
biasanya menghasilkan perubahan warna. Keuntungan metode ini adalah spesifik dan
kuantitatif.
20
Tray aglutination test (TAT)
TAT dignakan untuk mendeteksi adanya antibodi anti sperma dalam serum atau
semen pasien. Cairan yang akan diperiksa dilarutkan secara serial setelah dilakukan
pemanasan untuk menginaktivasi komplemen. Kemudian ditambahkan sperma motil
yang dicuci dari donor yang sehat kedalam contoh cairaan. Persentase aglutinasi
sperma dihitung dengan bantuan mikroskop cahaya.
3
Gelatin aglutination test
Pada test ini spermatozoa motil dicampur dengan medium gelatin dan sperma atau
cairan ditambahkan kedalam campuran tersebut secara serial. Aglutinasi dapat dilihat secara mikroskopik. Tes ini digunakan secara luas pada suami pasangan infertil,
sedangkan penggunaan paad isteri kurang memberikan hasil yang baik. Walaupun
tidak dianjurkan lagi aktivitas aglutinasi gelatin terletaak pada IgG, IgA daan IgM.
Metode ini membutuhkan kontrol dan interpretasi yang teliti.
2
Teknik immunofluresens
Pemeriksaan ini terdiri dari tiga langkah dasar, Subsrat antigen disiapkan dengan cara
membuat apusan spermatozoa yang dikeringkan diudara. Sediaan kemudian ditetesi
serum yang diperiksa (atau cairan serviks atau plasma semen) dan dilakukan
pemeriksaan imunofluresens terhadap imunoglobulin. Reaksi antigen antibodi antara
semen dan cairan saluran reproduksi dan sel-sel sperma dapat dilihat dan dilokalisasi
secara makroskopik dan penampakannya berhubungan dengan anatomi spermatozoa.
2
Reaksi pewarnaan yang lemah pada kasus yang meragukan seringkali didapatkan
dan hasil yang dianggap positif bila diadpatkan pada pengenceran lebih dari 1/16.
Beberapa bagian sperma seperti kutub, leher dan bagian tengah adalah tempet yang
menimbulkan warna nonspesifik. Antibodi antisperma dalam darah bereaksi pada
teknik imunofluoresens hanya terhadap antigen diakrosom dan ekor. Pewarnaan
akrosom terjadi karena adanya antibodi IgM dan IgG, dan pewarnaan pada ekor
utama hampir selalu disebabkan oleh IgG. Sedangkan pewarnaan pada ujung ekor
disebabkan oleh adanya antibodi IgM.
2
Flow cytometry
Sampel plasma semen sebanyak 50 μL dicampur dengan 40 μL PBS ditambah 5%
albumin serum goat. Sepuluh mikroliter suspensi sperma yang disiapkan dengan
metode renang atas dari donor dengan antibodi anti sperma (-) mengandung ±
125.000 sperma motil ditambahkan pada tiap sampel. Kontrol menggunakan sampel
yang diketahui positif atau negatif terhadap ASA.
19
Setelah inkubasi paada suhu 37
0
C daalam inkubator yang mengandung CO2 5%
selama 1 jam, sperma dicuci sebanyak 2 kali untuk menghilangkan antibodi yang
tidak terikat. Satu mililiter PBS ditambahkan dan campuran digoyang-goyang teratur.
Tabung kemudian disentrifus selama 5 menit pada 500 ppm dan supernatan dipisahkan. Endapan sperma dicampur lagi dengan 1 ml PBS dan kemudian dicuci
ulang. Setelah disentrifus, endapan diencerkan lagi dengan 50 μL larutan fluoresens
isotiosianat konjugat (FITC) yang mengandung imunoglobulin IgA, IgG, IgM dan
diinkubasi selama 1 jam pada suhu 4
0
C dan terhindar dari sinar. Antibodi yang tidak
terikat dihilangkan dengan mencuci menggunakan PBS sebanyak 2 kali dan sperma
dianalisis dengan flow cytometry.
19
Sebanyak ± 5000 sperma dianalisis dari tiap sampel menggunakan histogram.
Dihitung berapa persen sperma yang dilapisi antibodi. Bila < 20% dikatakan negatif
dan bila ≥ 20% dikatakan positif.
19
Berdasarkan hasil, metode, dan ketelitian pemeriksaan antibodi antisperma,
beberapa petunjuk untuk langkah pemeriksaan pasangan pasangan infertil dengan
kemungkinan adanya faktor imunologi telah diusulkan oleh Jones. Ia membuat suatu
pedoman meliputi :
1. Tes imobilisasi sperma cocok sebagai tes untuk skrining terhadap adanya antibodi
suami atau isteri dan juga dapat digunakan untuk pemeriksaan lendir serviks.
2. tes kontak sperma – lendir serviks untuk melihat faktor imunologis lokal. Dengan
uji silang menggunakan sperma atau lendir serviks donor dapat ditentukan apakah
aktivitas antibodi berasal dari isteri atau suami.
3. Tes aglutinasi dengan gelatin cocok digunakan untuk suami, khususnya plasma
semen, tapi memerlukan interpretasi yang teliti.
4. Antibodi lokal (SIgA) tidak dapat dideteksi pada lendir serviks dan plasma semen
dengan tes konvensional untuk antibodi antisperma serum.
5. Tes mikroaglutinasi sperma sebaiknya dihindarkan.
6. Tes menggunakan mikroskop imunofluoresens tak langsung bukan merupakan tes
rutin, tapi mungkin bermanfaat untuk menilai sifat reaksi antigen-antibodi dalam
suatu penelitian.
2
PENGOBATAN
Ada tiga strategi dasar dalam penanganan pasangan infertil karena imunologi ini yaitu
1. menurunkan produksi ASA, 2. Menghilangkan antibodi antisperma yang terikat
pada sperma, dan 3. ART (Assisted reproductive technology). Ketiga sterategi ini secara teoritis menurunkan paparan gamet oleh antibodi antisperma yang akan
meningkatkan fungsi gamet. Sedangkan Alexander mengajukan 3 pilihan terapi yaitu
1. Inseminasi dengan sperma donor, 2. Terapi imunosupresif, dan 3. Manipulasi
sperma.
3,5
Ada hubugan antara antibodi antisperma dan ART. Walaupun ART digunakan
untuk pengobatan ASA, antibodi antisperma mungkin mempunyai efek merusak
ART. Beberapa penelitian antara lain penggunaan intra uterine insemination,
intracervical insemination (ICI), in vitro fertiliztion (IVF), gamete intrafallopian tube
transfer (GIFT), subzonal sperm injection (SUZI) dan intracytoplasmic sperm
injection (ICSI).
3,21
Terapi oklusi
Di sini suami menggunakan kondom selama 6-9 bulan bila isteri mempunyai bukti
faktor imunologis sebagai penyebab infertilitasnya. Ada yang menganjurkan 6-12
bulan. Tujuannya adalah untuk mengurangi titer antibodi antispermatozoa dengan
mencegah pengulangan stimulasi antigenik. Uji imunologi harus diulang setiap 3
bulan sehingga menjadi negatif atau titernya menjadi 1:4 atau kurang. Terapi ini tidak
memberikan hasil yang memuaskan pada isteri yang mempunyai antibodi antisperma
dalam serumnya. Terapi ini lebih rasional bila diberikan pada pasien dengan adanya
faktor imunologik lokal (lendir serviks). Franklin dan Dukes melaporkan bahwa
kondom efektif untuk beberapa pasien. Tetapi menurut Aiman tidak ada bukti yang
menyakinkan untuk pemakaian kondom ini.
2,3,11,22
Inseminasi intrauterin
Inseminasi intrauterin terutama diberikan bila terbukti adanya antibodi antisperma
lokal pada lendir serviks yang menyebabkan kegagalan penetrasi lendir serviks oleh
sperma. Memang indikasi inseminasi ini masih kontroversi karena beragamnya hasil
yang dilaporkan. Angka keberhasilan dengan metode ini berkisar antara 20-30%.
Francavilla dkk dalam penelitiannya tidak berhasil melakukan inseminasi intrauterin
ini dimana spermatozoa yang digunakan semuanya berikatan dengan antibodi.
Sedangkan Rojas dalam penelitiannya terhadap 41 orang yang dilakukan inseminasi dengan menggunakan sperma yang dicuci hanya mendapatkan insidens antibodi
antisperma (+) pada 2 pasien (4,8%).
3,21,24
Terapi imunosupresif/kortikosteroid
Terapi kortikosteroid dapat diharapkan menurunkan produksi ASA. Suami diberikan
20 mg prednisolon selama 10 hari pertama sesuai siklus isteri dan 5 mg/hari pada hari
ke 11-12 selama 3 siklus. Ada juga peneliti yang menggunakan metilprednisolon.
3
Lahteenmaki membandingkan efektivitas pemberian prednisolon oral dengan
inseminasi intrauteri pada 46 pasangan dengan antibodi antisperma (+) pada suami.
Suami diberi prednisolon 20 mg/hari selama 10 hari ditambah 5 mg/hari pada hari ke
11-12 selama 3 siklus. Namun pada penelitian ini ia berkesimpulan bahwa inseminasi
lebih baik dibandingkan terapi steroid pada suami.
3
Penelitian lain yaitu membandingkan 30 pasangan dengan antibodi antisperma
suami positif yang dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama diberikan steroid
oral selama 4 bulan dan dilakukan inseminasi, sedangkan kelompok kedua
diberikansteroid selama 4 bulan dan diberikan jadwal hubungan suami isteri. Steroid
yang diberikan yaitu prednisolon selama 4 bulan dan diberikan jadwal hubungan
suami isteri. Steroid yang diberikan yaitu prednisolon selama 10 hari pertama siklus
istri dan 10 mg pada hari ke11 dan 12. Didapatkan tingkat kehamilan pada kelompok
pertama sebesar 39,4 % dan kelompok kedua 4,8%. Memang disini masih belum jelas
apakah faktor steroid berperan dalam tingginya tingkat kehamilan karena masih ada
faktor lain yaitu keadaan superovulasi, bypass terhadap lendir serviks atau perbaikan
lingkungan uterus. Beberapa efek samping pemakaian imunosupresif ini antara lain
nekrosis aseptik sendi paha, kambuhnya ulkus duodenal.
3,5
Pencucian spermatozoa
Metode ini merupakan salah satu metode menghilangkan antibodi antisperma yang
terikat pada sperma. Disini sperma dari suami dicuci beberapa kali dengan buffer
fisiologik yang ditambah serum/albumin manusia 5-10%. Spermatozoa yang telah
dicuci diinseminasi kekanalis servikalis atau kavum uteri isteri. Kualitas sperma yang
baik penting sekali dalam metode ini.
11
Penambahan protease IgA
Bronson menemukan bahwa porsi Fc pada antibodi antisperma imunoglobulin
bertanggung jawab dalam menghambat penetrasi sperma kedalam lendir serviks. Ia
berasumsi bahwa IgA protese yang melepaskan porsi Fc dapat meningkatkan
penetrasi lendir serviks. Lebih lanjut Kutteh dan kawan-kawan menambahkan
protease IgA pada campuran antibodi antisperma (-) dan antibodi antisperma (+) pada
lendir serviks. Pada kelompok protease terdapat penurunan 81% pengikatan sperma
oleh ASA.
3
Penggunaan heparin dan aspirin
Pada keadaan infertilitas yang disebabkan adanya faktor autoimum dimana
didapatkan antibodi antifosfolipid beberapa peneliti menggunakan heparin dan aspirin
sebagai obat yang digunakan. Sher mendapatkan tingkat kehamilan sebesar 49% pada
kelompok terapi dan hanya 16% pada kelompok non terapi. Kutteh dkk melaporkan
bahwa penggunaan heparin dasn aspirin dosis rendah lebih bik dibandingkan hanya
menggunakan aspirin saja. Ia mendapatkan angka kehamilan 44% pada kelompok
aspirin dan 80% pada kelompok aspirin ditambah heparin. Balasch dengan
menggunakan aspirin 100 mg perhari mulai 1 bulan sebelum konsepsi sampai selama
kehamilan dapat meningkatkan angka keberhasilan kehamilan dari 6,1% sampai
90,5%. Wada dkk juga berhasil meningkatkan tingkat kehamilan dengan
menggunakan aspirin 150 mg atau 300 mg dalam penelitiannya.
13
RINGKASAN
Salah satu penyebab penting infertilitas adalah faktor imunologi, khususnya pada
kasus-kasus dengan infertilitas yang sebabnya tidak jelas. Reaksi imunologi pada
pasangan infertil disebabkan oleh adanya antigen pada sperma yang menyebabkan
timbulnya antibodi antisperma baik pada suami maupun pada istri. Antibodi
antisperma ini dapat menyebabkan infertilitas melalui 2 mekanisme yaitu melalui
aktivitas aglutinasi dan aktivitas imobilisasi sehingga akhirnya sperma tidak dapat
mencapai tuba untuk membuahi ovum. Beberapa tes untuk mendeteksi adanya antibodi antisperma dalam serum atau
dalam lendir serviks yang penting adalah uji aglutinasi sperma, uji imobilisasi
sperma, uji kontak sperma-lendir serviks, dan beberapa pemeriksaan lain yang
memerlukan alat dan bahan yang lebih canggih.
Tujuan pengobatan pada kasus pasangan infertil dengan sebab faktor imunologi ini
(adanya antibodi antisperma dengan titer tinggi) adalah untuk menurunkan titer
antibodi tersebut yaitu dengan jalan metode oklusi menggunakan kondom, metode
inseminasi intrauterin, metode imunosupresi menggunakan obat kortikosteroid,
metode pencucian sperma, penambahan protease IgA, dan penggunaan heparin dan
aspirin.
17.00 | 0 komentar | Read More

AASA bagian 1

PENDAHULUAN
Infertilitas merupakan suatu permasalahan yang cukup lama dalam dunia kedokteran.
Namun sampai sdaat ini ilmu kedokteran baru berhasil menolong ± 50% pasangan infertil
untuk memperoleh anak. Perkembangan ilmu infertilitas lebih lambat dibanding cabang
ilmu kedokteran lainnya, kemungkinan disebabkan masih langkanya dokter yang
berminat pada ilmu ini.
1
Sesuai dengan definisi fertilitas yaitu kemampuan seorang isteri untuk menjadi hamil
dan melahirkan anak hidup oleh suami yang mampu menghamilinya,maka pasangan
infertil haruslah dilihat sebagai satu kesatuan. Penyebab infertilitaspun harus dilihat pada
kedua belah pihak yaitu isteri dan suami. Salah satu bukti bahwa pasangan infertil harus
dilihat sebagai satu kesatuan adalah aadanya faktor imunologi yang memegang peranan
dalam fertilitas suatu pasangan. Faktor imunologi ini erat kaitannya dengan faktor
semen/sperma, cairan/lendir serviks dan reaksi imunologi isteri terhadap semen/sperma
suami. Termasuk juga sebagai faktor imunologi adanya autoantibodi.
1,2
Lebih kurang seperlima pasangan usia subur di Amerika Serikat adalah pasangan
infertil. Limabelas persen diantaranya tergolong infertil yang tidak jelas penyebabnya
(unexplained infertility). Banyak bukti yang menjelaskan bahwa ada peranan faktor
imunomodulasi pada pasangan ini. Aspek penting dari imunomodulasi ini adalah adanya
antibodi anti sperma (ASA).
3.
Beberapa penelitian telah dilakukan terutama dinegara maju untuk mengetahui
hubungan faktor imunologi ini dengan fungsi reproduksi suatu pasangan. Diantara
penelitian ini yaitu menemukan antigen pada sperma, cara-cara identifikasi
antigen/antibodi dalam tubuh, dan penatalaksanaan apa yang memungkinkan diberikan
pada pasangan infertil dengan faktor imunologi ini. Terjadinya infertilitas pada suatu
pasangan yang mempunyai antibodi antisperma secara teoritis dikarenakan tingginya
kadar antibodi antisperma pada cairan vagina,serviks, uterus atau tuba. Walaupun
antibodi antisperma terdapat dalam serum seseorang, belum tentu orang tersebut
mempunyai antibodi antisperma yang tinggi kadarnya dalam cairan genitalianya.
4
.
Penemuan antibodi antisperma juga memberiakan suatu ide bagi beberapa ilmuwan
untuk mengembangkan suatu vaksin kontrasepsi berdasarkan antigen sperma.
5,6BEBERAPA PENYEBAB INFERTILITAS
Banyak faktor yang menyebabkan mengapa seorang wanita tidak bisa atau sukar menjadi
hamil setelah kehidupan seksual normal yang cukup lama. Diantara faktor-faktor tersebut
yaitu faktor organik/fisiologik, faktor ketidakseimbangan jiwa dan kecemasan berlebihan.
Dimic dkk di Yugoslavia mendapatkan 554 kasus (81,6%) dari 678 kasus pasangan
infertil disebabkan oleh kelainan organik, dan 124 kasus (18,4%) disebabkan oleh faktor
psikologik. Ingerslev dalam penelitiannya mengelompokkan penyebab infertilitas
menjadi 5 kelompok yaitu faktor anatomi, endokrin, suami, kombinasi, dan tidak
diketahui (unexplained infertility)
7,8
Sumapraja membagi masalah infertilitas dalam beberapa kelompok yaitu air mani,
masalah vagina, masalah serviks, masalah uterus, masalah tuba, masalah ovarium, dan
masalah peritoneum. Masalah air mani meliputi karakteristiknya yang terdiri dari
koagulasinya dan likuefasi, viskositas, rupa dan bau, volume, pH dan adanya fruktosa
dalam air mani. Pemeriksaan mikroskopis spermatozoa dan uji ketidakcocokan imunologi
dimasukkan juga kedalam masalah air mani.
1
Masalah vagina kemungkinan adanya sumbatan atau peradangan yang mengirangi
kemampuan menyampaikan air mani kedalam vagina sekitar serviks.
Masalah serviks meliputi keadaan anatomi serviks, bentuk kanalis servikalis sendiri
dan keadaan lendir serviks. Uji pascasenggama merupakan test yang erat berhubungan
dengan faktor serviks dan imunologi.
1
Masalah uterus meliputi kontraksi uterus, adanya distorsi kavum uteri karena
sinekia,mioma atau polip, peradangan endometrium. Masalah uterus ini menggangu
dalam hal implantasi, pertumbuhan intra uterin, dan nutrisi serta oksigenasi janin.
Pemeriksaan untuk masalah uterus ini meliputi biopsi endometrium,histerosalpingografi
dan histeroskopi.
9
Masalah tuba merupakan yang paling sering ditemukan (25-50%). Penilaian patensi
tuba merupakan salah satu pemeriksaan terpenting dalam pengelolhan infertilitas.
1
Masalah ovarium meliputi ada tidaknya ovulasi, dan fungsi korpus luteum. Fungsi
hormonal berhubungan dengan masalah ovarium, ini yang dapat dinilai beberapa pemeriksaan antara lain perubahan lendir serviks, suhu basal badan, pemeriksaan
hormonal dan biopsi endometrium.1
Masalah imunologi biasanya dibahas bersama-sama masalah lainnya yaitu masalah
serviks dan masalah air mani karena memang kedua faktor ini erat hubungannya dengan
mekanisme imunologi.
1,7
FAKTOR IMUNOLOGI SEBAGAI PENYEBAB INFERTILITAS
Dulu orang masih bertanya-tanya apakah faktor imunologi besar peranannya dalam
infertilitas. Para iluwan masih meragukan, bingung dan timbul berbagai pendapat yang
saling kontradiksi. Jones pada penelitian nya mengajukan teori bahwa faktor imunologi
berpengaruh pada beberapa tahap dalm proses reproduksi manusia, mulai dari masa
gamet dan telur yang dibuahi. Sebagaimana hormon, jaroingan dan cairan sekresi yang
berhubungan dengan traktus genitalia potensial bersipat antigenik dan mampu
menimbulkan suatu respon imun.
2,10,11
Suatu antigen akan mengalami beberapa proses dalam tubuh kita akibat sistem
imunitas tubuh. Antigen tersebut akan difagositosis sebagai respon imun nonspesifik dari
tubuh. Dapat juga terjadi penghancuran sel (sitolisis) melalui peranan sel T-sitotoksis.
Mekanisme lain yaitu dengan membentuk antibodi dengan bantuan makrofag, sel T
helper dan selT supresor. Se-sel ini memberikan sinyal-sinyal kepada limfosit B sehingga
berdifensiasi menjadi sel plasma dan membentuk antibodi spesifik. Antibodi ini melalui
beberapa jalan menyebabkan penghancuran antigen antara lain membentuk komplek
antibodi komplemen menyebabkan lisis, antibody dependent cell mediated cytotoxicity
(ADCC) menimbulkan sitolisis, atau fagositosis spesifik. Untuk jelasnya dpat dilihat paa
gambar
1. 12 Pada beberapa wanita antigen sperma menyebabkan timbulnya antibodi terhadap
antigen spesifik atau permukaan pada sperma dan menyebabkan infertilitas. Menurut
Burnett, antigen jaringan yang telah ada dalam tubuh sebelum sistem imunologik
berfungsi dikenal sebagai self antigen, sedangkan antigen jaringan yang timbul setelah
sistem imunologik berfungsi sebagai non self antigen. Spermatozoa dapat digolongkan
self antigen karena diproduksi jauh setelah sistem imunologik berfungsi, sehingga ia
dianggap sebagai antigen asing. Antigen tersebut dapat berasal dari spermatozoa sendiri,
atau dari plasma semen.
2,10,11
Selain itu dapat juga terjadi keadaan autoimun terhadap semen dan komponen sperma
yang biasanya terjadi pada suami yang pernah mengalami proses pada genitalianya
termasuk vasektomi dan infeksi (mumps). Beberapa penyakit autoimun dapat
menyebabkan suatu keadaan infertilitas. Geva dalam tulisannya tentang autoimunitas dan
reproduksi mendapatkan bahwa banyaknya autoantibodi dalam serum berhubungan
dengan kegagalan kehamilan yang berulang, endometriosis, kegagalan ovarium prematur
(prematur ovarian failure/POF), infertilitas yang tak jelas penyebabnya(unexplained
infertility), dan kegagalan fertilisasi invitro (IVF). Beberapa jenis antibodi yang dapat
dideteksi antara lain antibodi antifosfolipid (APA), antibodi antikardiolipin dan
antikoagulan lupus, antibodi antinuklear (ANA), Antibodi anti-DNA, faktor rhematoid,
antibodi antitiroid, autoantibodi anti oavarium, dan antibodi otot polos (smooth muscle
antibodies). Dalam tulisannya Geva berkesimpulan bahwa abnormalitas autoimun
mungkin menyebabkan kegagalan reproduksi (infertilitas) dan sebaliknya kegagalan
reproduksi dapat merupakan manifestasi awal dari penyakit autoimun yang belum
terdiagnosis.
2,5,13
BEBERAPA ANTIGEN DAN ANTIBODI PADA PASANGAN INFERTIL
Sperma dan plasma/cairan semen
Banyak molekul yang dibentuk pada saat terjadi miosis dalam testis. Autoantigen spesifik
testis pada saat terjadinya spermiogenesis. Antigen lain muncul pada membran plasma
setelah stadium midspermatid proses spermatogenesis dan pada permukaan sperma pada masa perjalanan sperma diepididimis. Sifat antigenik dari sperma dan cairan sperma
inilah yang menyebabkan terbentuknya antibodi antisperma.
5
Pada keadaan normal reaksi imun ini dihalangi oleh salah satu fungsi sel Sertoli pada
testis yaitu mempertahankan lingkungan intralumen bebas dari komponen serum. Sel
sertoli juga membentuk barier imunologik yang secara aktif memfagositosis dan
menghancurkan sisa-sisa produk hasil spermatogenesis tadi yang bila dibiarkan lolos dari
tubulus seminiferus akan menyebabkan reaksi imunologik. Hanya ± 1/5 dari sisa-sisa
tersebut yang lolos dari tubulus dn sisa ini diresorbsi oleh epitel germinativum. Beberapa
jenis antigen sperma manusia dapat dilihat pada tabel 1.
5
Antigen fertilisasi-1 (FA-1) merupakan antigen yang terdapat pada sel-sel germinal
laki-laki dan bereaksi kuat dengan semen dari laki-laki dan perempuan infertil dan
bereaksi lemah dengan semen dari orang –orang normal. Sperma dilapisi oleh membran
plasma yang mengandung antigen spesifik yang fungsinya sebagai pengenal zona
pellusida telur dan berfungsi dalam proses kapasitas dan reaksi akrosom. FA-1 adalah
glikoprotein spesifik-sperma yang didapatkan dari membran plasma sel germinal
manusia. Naz dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa hal ini terjadi karena antibodi
terhadap FA-1 tidak mengaglutinasi atau menyebabkan immobilisasi sel sperma, antibodi
ini menghambat fertilisasi dengan cara mempengaruhi interaksi antara sperma & zona
pellucida, sedangkan Kaplan dalam penelitiannya mendapatkan kesimpulan bahwa FA-1
tidak mempunyai efek proteolitik atau aktivitas akrosin. FA-1 menghambat penetrasi
sperma ke ovum melalui pengaruhnya terhadap kapasitasi dan reaksi akrosom sel sperma.
Dari datanya juga Kaplan mengganggap bahwa FA-1 dapat digunakan dalam diagnosis dan pengobatan dalam imunoinfertiliti dan memungkinkan pengembangan vaksin
kontrasepsi pada manusia.
14,15
Antibodi antisperma
Ada banyak bukti bahwa saluran reproduksi manusia khususnya pada wanita mampu
menimbulkan respons imun lokal terhadap antigen asing, termasuk antigen sperma.
Rumke dan Hellinger (1959) adalah orang pertama yang membuktikan adanya antibodi
antisperma atau autoantibodi terhadap sperma manusia. Respon imun saluran reproduksi
wanita terhadap antigen sperma dapat melalui 2 jalur yaitu jalur aferen dan jalur eferen.
Saluran reproduksi wanita dibantu oleh sel-sel yang kompeten untuk menimbulkan
respon imun. Sel-sel ini memfagositosis spermatozoa dan memproses antigennya
sehingga menimbulkan pertahanan imun seseorang, Mekanisme ini dibantu oleh beberapa
faktor yaitu :
1. Jumlah sperma yang sangat banyak/berlebihan
2. Sperma juga difagositosis oleh sel-sel somatik sebagaimana makrofag, dan semen
secara kemotatik mempengaruhi makrofag dan netropil
3. Antigen asing lain mempunyai efek ajuvans terhadap saluran reproduksi,
misalnya adanya infeksi vagina
4. Limfosit dalam semen berperanan menyebabkan sterilitas bagi wanita melalui
mekanisme histokompatibilitas
5. Faktor-faktor yang mempengaruhi respon imun lainnya misalnya prostaglandin E
yang bersipat imunosupresif. Respon ini terhadap sperma pada wanita dapat
melalui pembentukan antibodi atau melalui sel-sel, yang masing –masing lebih
dominan bersipat lokal dibanding sistemik.
2 Imunisasi lokal (intravaginal) dengan berbagai antigen menghasilkan antibodi
spesifik pada mukosa serviks. Biasanya stimulus antigen terhadap memnbran mukosa
membentuk antibodi lokal maupun sistemik, tapi karena antigen tidak mencapai
sirkulasi respon sistemik jarang terjadi. Ada juga bukti klinik yang menunjukkan
bahwa antigen yang terpapar akibat hubungan seksual dapat menimbulkan reaksi
hipersensitif akut lokal maupun sistemik, walaupun sangat jarang.
2
Penelitian teakhir terhadap antibodi antisperma pada wanita dan hubungannya
dengan infertilitas mulai diarahkan keanalisis cairan saluran reproduksi. Penelitian
terhadap antibodi antisperma penting dilakukan karena berhubungan erat dengan
transport sperma, daya tahan sperma, fertilisasi oosit yang abnormal, perkembangan
embrio yang abnormal, abortus spontan, dan antibodi anti-DNA. Apakah antibodi
antisperma adalah penyebab dari kelainan-kelainan tersebut ataukah semata-mata
antibodi antisperma itu sebagai tanda adanya penyakit yang masih dicari. Moghisssi
dalam penelitiannya menadpatkan insidens adanya antibodi antisperma pada
pasangan infertil berupa sperm-aglutination antibodi (SAA) yang mempunyai
kegiatan mengaglutinasikan sperma (aglutinasi kepala-kepala, ekor-ekor, dan kepala
ekor), dan sperm-immobilizing antibody (SIA) yang menyebabkan spermatozoa motil
menjadi berhenti, tidak mobil.
6,10,11,16
Dalam penelitiannya Moghissi berkesimpulan bahwa diantara wanita infertil,
insidens SAA dan SIA lebih tinggi dalam cairan serviks dibandingkan dalam serum,
bahkan walaupun dalam serum tidak ditemukan antibodi antisperma. Juga didapatkan
bahwa kandungan antibodi antisperma ini lebih tinggi pada pasangan infertil yang
tidak jelas sebabnya dibandingkan kandungan pada pasangan infertil yang diketahui
penyebabnya (explained infertility).
10
Haas dkk, mengevaluasi semen 614 orang laki-laki & wanita dengan explained
infertility. Ia mendapatkan 7% laki-laki dan 13% wanita antibodi antisperma (+). Nip
dkk, menggunakan cara ELISA melaporkan bahwa antibodi antisperma terdapat pada
serum 77% wanita dengan explained infertility, 75% wanita dengan endometriosis
dan 60% wanita dengan infertilitas karena faktor tuba. Pada penelitian ini hanya
didapatkan 5% antibodi antiperma (+) pada kontrol.
3,10 Imunoglobulin adalah antibodi yang diproduksi sebagai respons terhadap antigen
spesifik. Imunoglobulin yang dibentuk oleh sel limfosit B merupakan molekul
glikoprotein yang terdiri dari komponen polipeptida sebanyak 82-96% dan selebihnya
karbohidrat. Pada elektroforesis molekul bermigrasi sebagai gammaglobulin. Fungsi
polipeptida ini adalah mengikat dan menghancurkan antigen dengan bantuan fungsi
efektor sekunder yaitu memacu aktivitas komplemen.
12
Ada 5 isotip imunoglobulin yang dikenal IgA, IgG, IgM, IgE, dan IgD. Masingmasing mengandung 2 rantai berat spesifik dan 2 rantai ringan (α atau λ). Ig dibagi
dalam 2 region, Fab (amino-terminal) porsion to antibodi dan Fc (carboxy-terminal)
portion bind to other imunosupresor.
3,11,12
IgG merupakan 75% imunoglobulin total dan dijumpai dalam bentuk monomer.
IgG ini paling mudah berdifusi kedalam jaringan ekstravaskuler dan melakukan
aktivitas antibodi dijaringan. Aktivitas lain yaitu melapisi mikroorganisme sehingga
lebih mudah difagositosis, dan juga menetralisir toksin serta virus.
12
IgA merupakan immunoglobulin terbanyak kedua dalam serum dan merupakan
imunoglobulin terbanyak dalam cairan sekresi termasuk cairan vagina/serviks. IgA
dapat mengikat vaksin atau bakteri sehingga mencegah mikroorganisme tersebut
melekat pada permukaan mukosa.
12
IgM dijumpai dalam bentuk pentamer sehingga merupakan imunoglobulin
terbesar. Karena itu IgM terdapat hanya dalam intravaskuler dan merupakan 10% dari
imunoglobuin dalam serum. Makromolekul ini dapat menyebabkan aglutinasi
berbagai partikel and fiksasi komplemen dengan efisiensi yang sangat tinggi, yaitu 20
kali lipat lebih efektif dalam aglutinasi and 1000 kali lebih efektif dalam aktivitas
penghancuran bakteri dibanding IgG. Antibodi IgM cenderung menunjukkan afinitas
rendah terhadap antigen dengan determinan tunggal (hapten) tetapi karena molekul
IgM multivalen, molekul IgM dapat menunjukkan aviditas yang tinggi terhadap
antigen yang mempunyai banyak epitop (bagian antigen yang bereaksi dengan
antibodi).
12
IgD merupakan monomer dan konsentrasinya dalam serum hanya sedikit. Peran
biologiknya sebagai antibodi humoral belum jelas. IgD dapat dijumpai pada
permukaan sel B, terutama sel B neonatus dalam jumlah jauh lebih banyak dibanding konsentrasi dalam serum. IgD diduga merupakan reseptor antigen pertama pada
permukaan sel B, dan bahwa IgD berperan dalam mengawali respon imun.
12
Ig E dijumpai dalam serum dengan kadar yang sangat rendah, hanya 0,004% dari
imunoglobulin total. Selain itu IgE dapat dijumpai dalam cairan sekresi. Salah satu
sifat penting dari IgE adalah kemampuan melekat secara erat pada permukaan
mastosit atau basofil melalui reseptor Fc. Peran IgE secara pasti belum diketahui.
12
Ada beberapa hipotesis pembentukan antibodi antisperma pada laki-laki. Secara
teoritis, barier darah-testis dapat ditembus oleh beberapa mekanisme yang
menyebabkan terpaparnya sirkulasi oleh antigen sperma sehingga menyebabkan respons imun yang menimbulkan reaksi radang dan pembentukan antibodi
antisperma. Obstruksi mekanis traktus genitalia dapat terjadi akibat kelainan
kongenital, vasektomi, atau trauma. Ekstravasasi sperma dapat dijumpai pada pria
setelah dilakukan vasektomi. Beberapa penelitian mendapatkan 50%-70% laki-laki
tersebut mempunyai antibodi antisperma serum (+). Sebagian besar laki-laki yang
mengalami vasovasostomi dan sebagian kecil laki-laki infertil mempunyai antibodi
antisperma dalam plasma semennya. Antibodi ini biasanya terdiri dari subklas IgG
atau IgA yang aka melekat pada sperma dan mempengaruhi fertilitas.
3,5,17
Organisme penyebab penyakit yang ditularkan secara seksual merupakan initiator
pembentukan antibodi antisperma melalui mekanisme proses radang dan autoimun.
Beberapa penelitian membuktikan bahwa beberapa bakteri, virus dan jamur dapat
mencapai membran luar sperma yang berfungsi sebagai antigen atau hapten yang
menimbulkan respons imun. Pembentukan antibodi antisperma juga terjadi sebagai
akibat adanya radang lokal setelah infeksi genital pada seorang wanita.
3
Pembentukan antibodi antisperma pada wanita dapat terjadi pada traktus genitalia
wanita yang terpapar antigen sperma. Seorang wanita yang aktif secara seksual akan
terpapar triliunan speermatozoa selama hidupnya. Fertilitas akan baik bila wanita
tersebut memberikan reaksi imun yang kompromistik. Proses imunisasi yang (akibat
hubungan seksual) pada wanita terhadap sperma dapat menurunkan fertilitas
berdasarkan kemungkinan kombinasi efek antibodi antisperma seperti aglutinasi
sperma, menurunnya motilitas, gagalnya penetrasi lendir serviks, fusi sperma telur
yang tidak efisien, fagositosis sperma, dan gagalnya kehamilan sebelum atau sesudah
implantasi. Antibodi terhadap intrinsik sperma yang dihasilkan saat maturasi dalam
testis dan antigen kapsul sperma yang muncul selama dalam epididimis dan saat
bercampur dengan plasma semen berhubungan dengan infertilitas yang tidak dapat
dijelaskan sebabnya (unexplained infertility).
3,5
Sperma yang mencapai cavum peritonium juga dapat menginduksi pembentukan
antibodi antisperma serum melalui fagositosis makrofag dan presentasi sel T untuk
menimbulkan respon imun. Pembentukan antibodi antisperma juga dapat terjadi
akibat radang lokal pada genitalia wanita. Cunningham dkk, mencari prevalensi
antibodi antisperma pada wanita nulligravid usia reproduksi dengan berbagai proses infeksi ginekologis. 46 % wanita didiagnosis dengan penyakit radang pelvis (PID)
(n=81) mempunyai antibodi antisperma (+) pada serum dan cairan serviks
dibandingkan prevalensi antibodi antisperma (+) 20% pada wanita dengan infeksi
genital bagian bawah ( jamur,klamidia, bakteri, n=86). Antibodi antisperma juga
ditemukan pada 69% wanita yang dilaparoskopi pada wanita dengan perlengketan
dipelvis atau hidrosalping tanpa riwayat PID
16.59 | 0 komentar | Read More

hal-hal tentang andrologi

Written By iqbal_editing on Jumat, 30 Desember 2016 | 01.03

Andrologi (dari bahasa Yunani ἀνήρ, anēr, genitif ἀνδρός, andros yang berari laki-laki dan -λογία, -logia) adalah spesialisasi medis yang berhubungan dengan kesehatan pria, secara khusus kepada masalah-masalah yang berhubungan dengan sistem reproduksi dan sistem urin pria. Andrologi merupakan lawan dari ginekologi yang menangani masalah kesehatan wanita. Andrologi dipelajari sejak akhir 1960-an. Jurnal yang membahas andrologi pertama kali adalah jurnal berbahasa Jerman Andrologie (sekarang Andrologia), yang dipublikasikan sejak 1969[1].
Andrologi sebagai cabang ilmu dalam bidang Kedokteran, belum banyak diketahui orang tentang apa saja yang termasuk dalam keilmuan ini, baik bagi kalangan sejawat dokter, apalagi bagi kalangan awam. Andrologi dikenal sebagai ilmu yang menangani permasalahan pria karena berasal dari kata ”Andro” (salah satu hormon penting bagi pria).

Daftar isi

Pandangan umum

Seperti halnya pada bidang ilmu Kebidanan dan Kandungan yang khusus menangani permasalahan pada wanita, spesialisasi kedokteran yang menangani hal tersebut adalah Dokter spesialis Kebidanan dan Kandungan, demikian juga dengan permasalahan pria yang ditangani oleh Dokter spesialis Andrologi. Walaupun ilmu ini termasuk cabang dari ilmu kedokteran dan menangani masalah kesehatan, akan tetapi ditunjang oleh bidang keilmuan biologi, peternakan, farmasi dan lain-lain. seperti bidang ilmu kedokteran lainnya.
Kasus-kasus yang di tangani Andrologi (WHO, 1997) dibagi dalam 5 kelompok besar, yaitu: Infertilitas Pria, Disfungsi Ereksi, Hipogonadotropik – Hipogonadism, KB Pria dan Male Aging.
Pelayanan yang diberikan oleh Dokter spesialis Andrologi, meliputi: Klinis, Laboratorium Andrologi, Teknologi Reproduksi Berbantu (TRB).
Dengan demikian Andrologi membutuhkan kemitraan dengan bidang-bidang ilmu lain yang sudah lebih dahulu berkembang untuk hal tersebut, walaupun tidak fokus dan spesifik, antara lain Ilmu Kebidanan dan Kandungan, Ilmu Kesehatan Anak, Ilmu Bedah Urologi, Ilmu Psikiatri, Neorologi dll. Dari 5 materi pokok yang disebutkan diatas, dapat dikembangkan lagi pada masing-masing materi seperti, mikropenis, hiper dan hipo gonadotrophin, ejakulasi dini, disfungsi ereksi, hipoandrogen, hipospermatogenesis, imunologi sperma, antibodi antisperma, andropause, dll. Kesemuanya itu adalah permasalahan pada pria yang wadahnya ada pada Andrologi.
Perkembangan ilmu kedokteran termasuk sangat cepat dibandingkan dengan ilmu pengetahuan lainnya, salah satu penyebabnya adalah tuntutan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan dan keilmuan itu sendiri terutama yang menyangkut fungsi-fungsi dalam kehidupan dan hajat hidup orang banyak. Demikian pula kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan di bidang Andrologi terutama untuk masalah infertilitas dan seksualitas.

Sejarah Andrologi di Indonesia

  • 1974 : Prof. Dr. F.X. Arif Adimoelja pulang ke Indonesia setelah mengikuti pendidikan pasca sarjana di St Rafael Academic Hospital / School of Medicine, Catolic University Louvain di bawah bimbingan Prof. Dr. P. Omer Steeno. Dengan dukungan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Kepala Bagian Biomedik FK Unair, dan Kepala Bagian Obgyn menyelenggarakan Simposium Nasional Spermatologi I di Surabaya pada tahun 1978.
  • 1978 : Pada tanggal 19-21 Januari 1978 di Surabaya diselenggarakan Simposium Spermatologi I. Pada kesempatan tersebut para peserta sepakat mengembangkan Andrologi di Indonesia dengan mendirikan perkumpulan seminat yang diberi nama Perkumpulan Andrologi Indonesia yang disingkat PANDI pada tanggal 20 Januari 1978.
  • 1979 : Kongres I PANDI dilaksanakan bersama-sama dengan Kongres Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) di Yogyakarta yang dihadiri oleh pakar Andrologi dari luar negeri : Prof. Dr. Carl Schirren (The Father of the German Andrologist), Prof. Dr. Emil and Anna Steinbergers (USA), Prof. Dr. R. Schoysman (Belgium), Prof. Dr. Runne Eliasson (Stockholm, Representative WHO).
  • 1980 : Bagian Biomedik FK Unair merintis pendidikan Andrologi dengan peserta dari Denpasar, Manado, Palembang dan Surabaya. Semiloka Andrologi diselenggarakan di Jakarta dengan penyelenggara FKUI dan didukung oleh BKKBN dan WHO.
  • 1982 : Kongres Nasional II PANDI dan Simposium International I diselenggarakan di Denpasar dengan dukungan BKKBN, WHO Task Force For Male Fertility Regulation Prof. Dr. MRN Prasad (Chairperson of the WHO Male Task Force), Prof. Dr. CA Paulsen (USA), Prof. Dr. E. Nieschlag (Jerman) dan DR. Harjono Soejono (BKKBN Pusat) diadakan juga Post Graduate Course Andrology dengan penatar pakar dari luar negeri dibantu oleh WHO. Sejak itu Kongres Nasional PANDI selalu disertai dengan pelaksanaan simposium international dan post graduate Andrologi dengan dukungan WHO dan BKKBN Pusat, dukungan BKKBN ini khususnya datang karena komitmen dari DR Harjono Soejono sebagai Kepala BKKBN Pusat yang selalu hadir pada Kongres dan Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT). Dengan bertambahnya dokter anggota PANDI yang telah mendapat pendidikan Andrologi dirasakan perlu untuk pengakuan keahlian ini sebagai profesi klinik.
  • 1994 : Mulai dari KONAS IV dan PIT VII gagasan tersebut bergulir dan pada KONAS VI PANDI 19-24 September 1994 di Manado diputuskan untuk memebentuk PEER Group dengan tugas menyusun kriteria persyaratan Dokter Spesialis Andrologi, mendapatkan nama-nama dokter yang bergabung dalam PANDI untuk dinyatakan sebagai Dokter Spesialis Andrologi, memberikan sertifikat keahlian dan membentuk Perhimpunan Dokter Spesialis Andrologi Indonesia.
  • 1996 : Surat Keputusan Nomor 09/PP-PANDI/IX/1996 tanggal 25 September 1996 tentang pembentukan dan susunan pengurus organisasi Perhimpunan Dokter Spesialis Andrologi Indonesia yang disingkat PERSANDI.
  • 2002 : Setelah melalui perjalanan panjang dari MDSp IDI ke MKKI IDI, dari CHS KDIK dan Direktorat Pembinaan Akademik dan Kemahasiswaan Direktorat jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas RI maka pada tanggal 13 September 2002 terbitlah Surat Keputusan Majelis Kolegium Kedokteran Indonesia (MKKI) Nomor : 49/MKKI/IX/2002 tentang Pengesahan Program Studi Dokter Spesialis Andrologi sebagai Program Pendidikan Dokter Spesialis I (PPDS I).
  • 2006 : Pengesahan Kolegium Andrologi Indonesia hasil kongres I PERSANDI 2005 oleh MKKI dengan Surat Keputusan Nomor 051/Skep/MKKI/III/2006 tanggal 9 Maret 2006 dan Pengesahan Spesialis Andrologi oleh MKKI tanggal 1 Maret 2006 menyempurnakan perjuangan panjang perkembangan Andrologi sebagai ilmu kedokteran yang baru.

Ruang Lingkup

Ruang lingkup andrologi mencakupi beberapa hal yakni:
  • wanita pada usia balita dan anak-anak.
Perhatian orang tua terhadap anak laki-laki pada awal masa perkembangan organ reproduksi sangat diperlukan. Kepedulian orang tua terhadap gangguan perkembangan organ reproduksi dan seksual anaknya akan membantu dokter untuk mendiagnosis lebih dini setiap kelainan dan tentu akan memberikan terapi dan solusi lebih tepat pula sebelum fungsi-fungsi organ tersebut diperlukan. Masalah hipogonadisme saja atau disertai dengan masalah mikropenis, merupakan kelainan yang dapat dipantau pada usia anak-anak dan dapat mengantisipasi gangguan fungsi seksual dan reproduksi di kemudian hari. Perhatian terhadap perkembangan gonad setiap anak laki-laki apakah sudah turun sempurna pada waktu yang tepat dan apakah ukuran testis sesuai dengan umur, memerlukan konsultasi pada Dokter spesialis Andrologi untuk mendianosis dan melakukan terapi. Seyogyanya setiap anak mulai dari balita sampai usia dewasa muda mendapatkan pelayanan dan kontrol secara rutin terhadap perkembangan gonad dan organ reproduksi oleh Dokter spesialis Andrologi. Jumlah kelahiran anak laki-laki dari kelahiran pertahun di Indonesia sangat tinggi dibandingkan dengan negara maju lain. Setiap anak laki-laki memerlukan pelayanan yang memadai terhadap perkembangan organ seks dan reproduksinya, sedangkan jumlah Dokter spesialis Andrologii saat ini masih sangat terbatas.
  • Laki-laki pada usia Remaja dan Dewasa muda.
Laki-laki usia remaja atau setelah masuk usia pubertas merupakan usia anak yang mulai perhatian terhadap diri sendiri dan sering membandingkan apa yang ada pada dirinya dengan teman-teman sebayanya, alat kemaluannya, rambut alat kemaluannya, kumis, jenggot, bentuk tubuh dan jalannya apakah seperti pria umumnya dan cukup untuk dikatakan jantan. Hal-hal seperti ini akan menjadi pemikiran terus dan keraguan bagi si anak terhadap fungsinya sebagai laki-laki di kemudian hari. Keadaan ini akan menjadi lebih mudah apabila remaja tersebut lebih terbuka dan terus terang mengemukakan kekhawatirannya tersebut kepada orang tuanya, sehingga orang tua akan cepat mencari solusi kepada Dokter spesialis Andrologi. Setelah usia dewasa muda, anak laki-laki mulai mencari jalan untuk mengetahui, apakah alat kejantannya termasuk katagori normal atau tidak. Apabila ada hal yang kurang pada dirinya dan tidak sama dibandingkan temannya dari tanda-tanda dan sifat-sifat kejantannya, ilmu pengetahuan kedokteran harus dapat menjelaskan dan memberi solusi yang tepat. Sangat banyak pria remaja dan dewasa muda yang membutuhkan penjelasan yang tepat tentang kekhawatiran akan dirinya dimasa depan. Dalam hal ini peran Dokter spesialis Andrologi sangat dibutuhkan.
  • Laki-laki pada masa Perkawinan dan Reproduksi
Pasangan suami istri yang baru menikah tentu mengharapkan pernikahannya dapat dijalankan dengan penuh kebahagiaan dan menghasilkan keturunan sesuai dengan salah satu tujuan pernikahan itu sendiri. Salah satu fungsi utama dan penting dalam pernikahan adalah kemampuan melakukan hubungan seksual secara benar dan menyenangkan. Hal ini merupakan kebutuhan setiap pasangan suami istri dalam menjalani masa pernikahannya. Gangguan pada hubungan seksual, disebut disfungsi seksual yang dapat dibagi menjadi penurunan libido, ejakulasi dini, gangguan ereksi, tidak ejakulasi, frekuensi melakukan hubungan seksual sangat jarang dan lain-lain, adalah masalah yang harus dicari solusinya melalui konsultasi dan pengobatan oleh Dokter spesialis Andrologi. Selama masa pernikahan, salah satu harapan pasangan adalah mendapatkan keturunan. Diketahui bahwa 15% dari pasangan suami istri mempunyai kesulitan untuk mendapatkan keturunan. Sebagai penyebab dari pasangan infertilitas tersebut adalah 35% dari pihak pria, 40% dari pihak wanita dan 25% termasuk dalam ”unexplained Infertility”. Dalam hal ini suatu tuntutan terhadap Dokter spesialis Andrologi untuk menjawab masalah tersebut, terutama masalah pada pria dan yang termasuk ”unexplained infertility”. Secara umum dapat dikatakan bahwa pasangan suami istri akan memerlukan keahlian Dokter spesialis Andrologi di dalam hidupnya, baik dalam masa berproduksi maupun di luar masa berproduksi karena berada diruang lingkup Andrologi.
  • Laki-laki pada Usia Tua
Setelah masa bereproduksi, kehidupan dan aktivitas sebagai suami istri harus dipertahankan sebagaimana mestinya, hubungan seksual harus bisa dinikmati oleh pasangan, fisik harus dapat dijaga dan dirawat supaya tetap sehat dan segar, penampilan harus tetap berwibawa, makanan harus dijaga, proses menjadi tua diperlambat, kontrol kesehatan secara rutin, waktu untuk keluarga harus lebih banyak, aktivitas seksual tak boleh berhenti selama salah satu pasangan masih menginginkannya. Kesemuanya itu memerlukan Dokter spesialis Andrologi sebagai solusi dari permasalahan masing-masing pasangan.
  • Keluarga Berencana Pria
Selama ini pengaturan kehamilan, umumnya melalui pihak wanita (istri). Dengan tingginya kesadaran akan pentingnya Keluarga Berencana bagi keluarga di Indonesia, pihak pria (suami) perlu berpartisipasi dalam masalah ini. Sekarang ini sedang dikembangkan KB hormonal dengan target adalah pihak pria (suami), dengan demikian KB dalam keluarga bisa dilakukan secara bergantian antara suami dan istri. Setiap pasangan yang menjadi aseptor KB selama ini, tentu ingin mendapatkan keterangan dan penjelasan yang memadai mengenai KB pria. Disini peran Dokter spesialis Andrologi harus bisa sebagai solusi bagi masyarakat.
01.03 | 0 komentar | Read More
 
berita unik