Entri Populer

Welcome Guys

Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog

Tampilkan postingan dengan label paru -paru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label paru -paru. Tampilkan semua postingan

Ingin Sukses Turunkan Berat Badan? Hindari Bernapas Lewat Mulut

Written By iqbal_editing on Selasa, 05 September 2017 | 17.08

Usaha untuk menurunkan berat badan akan sukses dengan banyak faktor, termasuk cara kita bernapas. Percaya atau tidak, sering bernapas lewat mulut bisa menjadi penghambat Anda untuk mencapai berat badan yang ideal.

Menurut penulis "The Oxygen Advantage", Patrick McKeown, mengatakan bahwa kebiasaan bernapas lewat mulut menyebabkan orang sesekali bangun di malam hari karena tubuhnya kekurangan oksigen. Bernapas lewat mulut biasanya dilakukan ketika menarik napas saat menguap dan berbicara.


"Bernapas lewat mulut terbukti secara signifikan bisa meningkatkan frekuensi mendengkur dan gangguan tidur seperti apnea obstruktif," kata pelatih atlet Olimpiade dan pemain NFL tersebut, seperti dikutip dari Dailymail, Selasa (5/9/2017).

Pernapasan melalui mulut juga menyebabkan kualitas tidur rendah. Banyak penelitian menunjukkan bahwa kualitas tidur yang buruk dikaitkan dengan peningkatan nafsu makan dan risiko obesitas yang lebih tinggi.

"Ini juga terkait dengan risiko yang lebih tinggi untuk berbagai masalah kesehatan, termasuk tekanan darah tinggi, kesehatan kardiovaskular yang buruk, bahkan demensia," imbuhnya.

Sebaliknya, McKeown dan beberapa penelitian membuktikan bahwa bernapas melalui hidung membantu meningkatkan metabolisme untuk membakar lemak tubuh yang sebabkan kegemukan.

"Pernapasan melalui hidung meningkatkan suplai oksigen yang membantu meningkatkan kualitas tidur. Untuk itu, latihlah diri Anda untuk bernapas dengan benar melalui hidung, karena ini juga akan menjaga hormon yang menekan lapar tetap seimbang," pesannya.
17.08 | 0 komentar | Read More

Curhat Seorang Istri yang Paru-paru Suaminya Harus Dibor Karena Rokok

Written By iqbal_editing on Kamis, 27 Juli 2017 | 22.49

Sebuah postingan oleh akun Facebook bernama Agun Gunawan dan Rossa Ocha menarik perhatian para pengguna yang lain. Keduanya diketahui pasangan suami istri muda dari Cirebon dengan Agun sedang dalam kondisi sakit dan Rossa bercerita tentang apa yang menimpanya.

"Awalnya dia (Agun -red) mengeluh dada sesak, susah napas, tidur, susah duduk, sampai bergerak kiri kanan pun susah. Nyeri di dada kanan yang amat sakit sampai tidak bisa melakukan apapun," kata Rossa seperti dikutip dari halaman Facebooknya, Jumat (28/7/2017).

Baca juga: Cerita Viral Pria yang Matanya Kena Bara Rokok Saat Bermotor

Setelah menemui dokter, Agun menerima beberapa jenis obat yang ia minum dengan rutin sampai habis namun hal tersebut ternyata tidak membantu kondisi nyerinya. Akhirnya atas saran dari keluarga dekat Agun beberapa waktu kemudian kembali menemui dokter spesialis dan menjalani rontgen paru.

Hasilnya menunjukkan apa yang dicurigai sebagai tumor di paru-paru. Rossa mengatakan ia mengetahuinya setelah membaca hasil rontgen itu dan mencari tahu sendiri.

"Tumor entah itu ganas/jinak kita enggak tahu karena belum ke dokter ahli paru langsung. Setelah pergi dibacakan... dokter manapun tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan saya satupun itu sakit apa? parah tidak? apa harus diangkat? Sampai dikasihlah surat rujukan untuk memeriksa di ahli paru," kata Rossa.

"Setelah giliran kita untuk konsultasi, diceklah hasil rontgen suami dan ternyata dengan tegas dan suara keras dokter berbicara 'Mas, Mba. Ini bukan benjolan tumor tapi paru-parunya kempes harus dirawat dibor di bawah ketiak diselang biar semua udara di paru keluar,'" lanjut Rossa.


Paru-paru Agun harus dibor diduga karena dampak rokok.Paru-paru Agun harus dibor diduga karena dampak rokok. Foto: Facebook/Agun Gunawan


Tidak dijelaskan secara rinci namun apa yang dialami oleh Agun kemungkinan adalah pneumothorax atau paru-paru runtuh. Pneumothorax terjadi ketika ada kebocoran udara ke dalam ruang antara paru-paru dan dinding dada. Akibatnya paru jadi terdesak oleh udara yang bocor dan menimbulkan rasa nyeri.

Mengapa udara bisa keluar dari paru dan masuk rongga dada? Penyebabnya bisa karena ada cedera atau kerusakan yang dialami oleh paru-paru. Pada kasus Agun dicurigai kebiasaan merokok yang jadi pemicu.

"Ini suami saya bukan perokok berat loh hanya biasa saja 1 bungkus bisa 2-3 hari... Mereka yang tidak merasakan begini hanya beruntung saja tidak mengalami gejalanya, tapi kalian sebenarnya punya masalah berat karena sebenarnya paru-paru kalian sudah pasti rusak," kata Rossa.

"Semoga kejadian ini tidak menimpa kalian di luar sana ya, sayangi diri mu sehat itu mahal. Enggak enak loh suer," pungkas Rossa.

Hingga saat ini postingan Agun dan Rossa di Facebook sudah dibagikan lebih dari 55 ribu kali dan menarik reaksi dari 23 ribu orang lain.
22.49 | 0 komentar | Read More

Berhasil Berhenti Merokok, Apa Paru-paru Bisa Pulih 100 Persen?

Written By iqbal_editing on Minggu, 02 Juli 2017 | 04.31

Dampak buruk dari rokok dapat memengaruhi seluruh tubuh, namun di antara area tubuh yang paling parah terkena dampaknya paru-paru dan saluran napas termasuk yang paling rentan.

Berita baiknya adalah ketika seorang perokok memutuskan berhenti merokok, paru-paru diketahui dapat memperbaiki dirinya hingga pada derajat tertentu. dr Norman Edelman dari American Lung Association mengatakan secara umum begitu seseorang berhenti merokok maka peradangan jangka pendek yang terjadi pada saluran napas juga akan berhenti.

Ketika saluran napas berhenti meradang maka bulu halus bernama cilia dapat tumbuh bekerja dengan baik. Dampaknya seseorang bisa merasakan napasnya jadi lebih mudah karena cilia bekerja bergerak maju mundur mengeluarkan dahak dan debu.


Oleh karena itu waktu awal-awal berhenti seorang perokok mungkin malah akan merasa kesulitan karena sering batuk-batuk.

"Batuk-batuk itu karena tubuh Anda membersihkan dahak dari dari paru," kata dr Norman seperti dikutip dari Live Science, Minggu (2/7/2017).


Paru-paru adalah organ yang paling terdampak oleh kebiasaan merokokParu-paru adalah organ yang paling terdampak oleh kebiasaan merokok (Foto: thinkstock)


Setelah sekitar seminggu berhenti merokok maka seseorang akan bisa merasakan dirinya lebih tahan melakukan olahraga tanpa kehabisan napas. dr Norman mengaku belum ada penelitian yang mengkonfirmasi hal ini namun kemungkinan terjadi karena paru mulai terbiasa mendapat suplai oksigen lebih banyak dibandingkan karbon monoksida.

Namun tidak semua kerusakan akibat rokok dapat diperbaiki. Meski paru-paru bisa memulihkan diri, ketika seseorang mengonsumsi rokok dalam jangka panjang maka inflamasi bisa menimbulkan 'bekas' luka yang permanen.

Bekas luka tersebut akan menghilangkan keelastisan paru-paru sehingga tidak bisa lagi secara efesien bekerja menukar oksigen seperti sedia kala.

Apabila kerusakannya parah maka akan terjadi apa yang disebut dengan kondisi penyakit paru obstruktif kronik (PPOK). Orang dengan PPOK akan kesulitan untuk bernapas bahkan dalam kondisi normal sekalipun dan biasanya baru akan ketahuan setelah 20-30 tahun merokok.
04.31 | 0 komentar | Read More

saran pasien kanker paru untuk memeriksa pdl -1

Written By iqbal_editing on Sabtu, 17 Juni 2017 | 00.46

Berdasarkan Globocan tahun 2012, kanker paru merupakan kanker yang paling umum terjadi dan paling banyak menyebabkan kematian pada laki-laki maupun perempuan di Indonesia.

Seperti yang dipapar oleh dokter spesialis kanker paru dan ahli imunoterapi, dr. Sita Laksmi PhD, SpP(K) bahwa dari tahun ke tahun tingkat pasien kanker paru semakin meningkat, lain halnya dengan kanker-kanker yang lain justru menurun karena sebagian bisa dideteksi.

Dengan adanya pengobatan imunoterapi dapat memberikan pencerahan pada pasien kanker paru stadium lanjut (stadium IV). Imunoterapi adalah bentuk pengobatan yang mencegah interaksi antara sel T milik sistem imun dan tumor. Saat tumor dan sel T berinteraksi, sebuah protein di tumor yang disebut Programmed Death-Ligand 1 (PDL-1) akan melumpuhkan sel T sehingga sel-sel imun ini tidak dapat mengenali dan membunuh sel-sel kanker.


Melalui imunoterapi, interaksi ini bisa diblok sehingga sel T bisa mendeteksi dan membasmi sel-sel kanker. Oleh karena itu, pentingnya melakukan pemeriksaan PDL-1 jika pengobatan sebelumnya seperti kemoterapi, radioterapi, atau pengobatan yang lainnya tidak berhasil.

"Kalau saat pemeriksaan PDL-1 hasilnya responsif maka bisa dilakukan imunoterapi," jelas dr Sita.

Apabila saat pemeriksaan PDL-1 hasilnya tidak responsif, maka tidak dapat dilakukan imunoterapi. Imunoterapi yang diterapkan di Indonesia adalah sebagai terapi lini kedua.

"Kalau FDA (badan pengawas obat dan makanan di Amerika) sudah approve pada orang yang memiliki ekspresif/responsif pada PDL-1 lebih dari 50%. Setelah dicek ekspresif PDL-1 nya lebih dari 50% imunoterapi boleh dijadikan terapi first line. Tapi di Indonesia indikasinya masih second line, stadarnya masih kemoterapi," tuturnya.
00.46 | 0 komentar | Read More

Teknik Bersalin Water Birth Bikin Bayi Infeksi Paru? Ini Kata Dokter

Written By iqbal_editing on Jumat, 09 Juni 2017 | 02.16

Salah satu teknik bersalin yang tengah populer saat ini adalah water birth, terutama di Amerika Serikat. Disebut-sebut teknik ini memiliki efek samping, di antaranya infeksi paru pada bayi.

Seperti terjadi pada dua orang bayi di Arizona, yang dikabarkan didiagnosis Legionnaires' disease, sejenis infeksi bakteri di paru-paru. Ilmuwan mengaitkannya dengan teknik water birth yang dipakai dalam persalinan kedua bayi tersebut.

Diduga kuat tidak terjaminnya kebersihan air yang digunakan merupakan salah satu penyebab infeksi pada teknik persalinan water birth. Bakteri Legionella bisa hidup di air dan memicu infeksi pernapasan.

Beberapa waktu lalu, Ketua Indonesian Water Birth Association, dr I Nyoman Hariyasa Sanjaya, SpOG(KFM), MARS, menjelaskan pada detikHealth bahwa infeksi dan risiko tenggelam memang paling sering disebut-sebut sebagai 'efek samping' dari water birth. Namun ia menjelaskan bahwa nyatanya tak selalu demikian.

dr Hariyasa juga menjelaskan bahwa pada dasarnya pada water birth air tidak harus steril. Yang penting suhunya cukup hangat (35-37 derajat Celcius), tidak berwarna, tidak berbau dan jernih.

"Kalau ada yang bilang airnya harus steril ya keliru, jalan lahir saja tidak steril dan banyak flora normalnya. Bayi tidak akan infeksi selama ia tidak menghirup air. Kuncinya adalah dengan memerhatikan denyut jantung bayi yang dijelaskan sebelumnya," imbuh dr Hariyasa.

Meski tak harus steril, kebersihan air yang digunakan untuk ibu berendam tetap perlu diperhatikan. Pantau suhu dan ganti air secara berkala agar tetap hangat. "Air itu justru sifatnya juga bisa 'membilas' bayi yang terpapar bakteri dari vagina," tuturnya.


Water birth sempat populer di Indonesia setelah penyanyi Andien menerapkan teknik ini saat melahirkan anak pertamanya, Anaku Askara Biru, beberapa waktu lalu. Teknik ini diklaim bisa memberikan efek rileks bagi ibu selama proses persalinan.

Namun demikian, American College of Obstetricians dan Gynecologists (ACOG) menyebutkan tetap ada berbagai risiko yang bisa terjadi. Jika dilakukan tanpa persiapan matang dan bukan oleh orang yang berpengalaman, teknik water birth diyakini justru bisa mendatangkan berbagai risiko, salah satunya infeksi pada ibu maupun bayi yang baru dilahirkan.
02.16 | 0 komentar | Read More

amankah puasa dengan penderita paru kronik

Written By iqbal_editing on Senin, 29 Mei 2017 | 23.09

Saat didiagnosis dengan penyakit paru obstruktif kronik atau PPOK, bolehkah tetap menjalankan ibadah puasa?

Menurut dokter spesialis paru dari RS Persahabatan, dr Dianiati Kusumo Sutoyo, SpP(K), pasien PPOK masih diperbolehkan puasa, selama stadiumnya masih di awal.

"PPOK itu kan keluhannya sesak, kalau sudah masuk stadium 4 biasanya nafsu makannya sudah turun sekali. Kelihatannya sulit ya (untuk puasa -red), untuk hari-hari saja sulit," ujar dr Dianiati dalam temu media di Gedung Kemenkes RI, Jl HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Senin (29/5/2017).


Pada stadium 4, pasien PPOK disebutkan dr Dianiati memang mengalami penurunan nafsu makan. Ini karena terdapat gangguan pada bagian diafragmanya. Selain nafsu makan yang menurun, terdapat juga efek lainnya seperti otot melemah.

Namun demikian, pada pasien PPOK dengan stadium yang belum mencapai 4 menurut dr Dianiati tidak ada masalah untuk berpuasa. Tidak ada perlakuan khusus yang perlu diterapkan juga.

"Yang penting obat tetap ya. Pasien PPOK kan obatnya inhalasi, jadi tidak akan membatalkan puasa," imbuhnya.
23.09 | 0 komentar | Read More

perbedaan gejala tbc dan kanker paru

Written By iqbal_editing on Minggu, 28 Mei 2017 | 22.52

Kanker paru dan tuberkulosis alias TB memiliki gejala yang sangat mirip. Karena hal itu, masyarakat pun seringkali tertukar dan sulit membedakan gejala dari kedua penyakit ini.

Hal serupa juga diakui oleh dokter spesialis paru RS Mitra Keluarga Bekasi, dr Anthony D. Tulak, SpP, FCCP. Menurut dr Anthony, kadang-kadang memang agak sulit membedakan gejala kanker paru dan TB. Maka dari itu, diperlukan pemeriksaan khusus yakni foto thorax atau sering disebut juga rontgen dada.

"Kadang-kadang sukar membedakan ini kanker paru atau TB, makanya perlu pemeriksaan lain. Misalnya foto thorax, nanti setelah difoto baru terlihat ternyata ada benjolan yang sudah besar ketahuan ini kanker paru," tutur dr Anthony.

Gejala yang hampir mirip tersebut di antaranya nyeri dada, sesak napas, serta batuk parah yang bahkan kadang hingga berdarah. Ciri khas lain dari kanker paru adalah berat badan yang turun tanpa sebab jelas. Cara untuk membedakan kanker paru dan TB biasanya bisa dilihat dari usia pasien.

Baca juga: Memahami Kaitan Paparan Radon dengan Risiko Kanker Paru

Menurut dr Anthony, TB pada umumnya bisa menyerang seluruh usia, mulai dari anak-anak sampai dewasa. Sementara kanker paru biasanya menyerang mereka yang sudah berusia 40 tahun ke atas, baik pria maupun wanita.

"Jadi kalau ada batuk darah misalnya di usia muda, yakni sekitar 20 atau 25 tahun, ya itu jangan berpikir kanker paru dulu. Lain halnya kalau batuk darahnya terjadi di usia 45 tahun, itu kemungkinan kanker paru apalagi kalau orangnya perokok," imbuh dr Anthony.

Jika Anda memiliki gejala seperti sesak napas dan gejala-gejala lainnya seperti disebutkan di atas, maka ada baiknya segera berkonsultasi dengan dokter spesialis paru. Meskipun mungkin dari segi usia Anda masih muda dan belum tentu kanker paru, namun bisa saja kemungkinan Anda mengalami penyakit lainnya seperti TB, pneumonia, bronkitis, atau asma.

"Dari keluhan-keluhan itu kan nanti dokter memilih apakah ini bronkitis, asma, pneumonia atau ka
22.52 | 0 komentar | Read More

Pneumokoniosis, Alasan Mengapa Pekerja Proyek Perlu Pakai Masker

Written By iqbal_editing on Kamis, 18 Mei 2017 | 05.41

Salah satu benda yang wajib digunakan oleh pekerja pabrik logam, pekerja tambang dan pekerja proyek saat berada di lokasi adalah masker. Sayangnya, masih saja ada orang yang lalai dan enggan menggunakan masker.

Bukan tanpa alasan, aturan penggunaan masker bagi pekerja di area berisiko tersebut adalah untuk mencegah munculnya gangguan bagi kesehatan pernapasan. Yang berbahaya antara lain pneumokoniosis.

Pneumokoniosis merupakan sekelompok penyakit yang dipicu oleh paparan debu, yang biasanya didapatkan di lingkungan kerja. Penyakit ini sulit terdeteksi karena baru muncul dalam jangka panjang dan gejalanya sulit dikenali karena mirip seperti batuk biasa.


Pneumokoniosis, Alasan Mengapa Pekerja Proyek Perlu Pakai MaskerFoto: infografis


Menurut dokter spesialis paru dari RS MH Thamrin, Prof dr Faisal Yunus, SpP(K), MD, PhD, pneumokoniosis terjadi akibat menghirup partikel debu atau logam bahaya, sehingga merusak paru-paru. Salah satu partikel yang kerap memicu pneumokoniosis adalah silika, dan kondisinya disebut sebagai silikosis.



"Silika ini dari serpihan batu-batuan. Biasanya yang banyak silika ini di pabrik semen, pabrik amplas, pabrik keramik, juga di proyek terowongan dan bangunan. Paparan dalam jangka waktu panjang bisa memicu silikosis," tutur Prof Faisal kepada detikHealth.

Guru Besar Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tersebut menambahkan, silikosis dibagi menjadi tiga kategori: akut, kronis dan akselerasi. Silikosis akut terjadi akibat paparan dalam jangka waktu yang lebih pendek yakni hitungan pekan hingga tahun.

Silikosis kronis biasanya terjadi akibat paparan debu silika yang tidak terlalu tinggi, namun cukup lama, bisa sampai hitungan 25 tahun. Lalu silikosis akselerasi terjadi seperti kronis, hanya saja lebih cepat yakni sekitar 5-10 tahun. Prof Faisal menuturkan pada kasus silikosis akselerasi, umumnya percepatan infeksi terjadi akibat faktor pemicu lain seperti infeksi paru atau tuberkulosis.

Proses sejak terpapar debu hingga muncul gejala butuh waktu bertahun-tahun, sehingga tahap awal pneumokoniosis seringkali tidak bergejala. Ini sebabnya penyakit ini sering tidak terdeteksi. Namun jika pekerja di wilayah tambang, pabrik logam atau proyek bangunan mengalami gejala seperti batuk berdahak dan sesak napas yang tak kunjung sembuh, maka sebaiknya periksakan diri ke dokter.
05.41 | 0 komentar | Read More

Punya Asma Saat Anak-anak, Mungkinkah Hilang Ketika Dewasa?

Written By iqbal_editing on Kamis, 04 Mei 2017 | 23.59

Asma merupakan penyakit yang dipicu oleh peradangan kronis di saluran napas. Teorinya, penyakit ini tidak bisa benar-benar disembuhkan meski tetap bisa dikendalikan sehingga pengidapnya bisa beraktivitas normal.

Namun dalam keseharian, banyak ditemukan anak-anak dengan riwayat asma yang 'sembuh' seiring bertambahnya usia. Ketika dewasa, keluhan sesak napas tidak pernah lagi muncul meski sekali waktu masih terpapar oleh pemicunya.

"Istilahnya outgrow. Hilang, tapi sewaktu-waktu juga bisa muncul lagi," kata dr Darmawan Budi Setyanto, SpA(K), pakar respirologi anak dari RS Cipto Mangunkusumo dalam temu media di Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (2/5/2017).


Adanya fenomena asma yang 'sembuh' ketika beranjak dewasa, juga diakui oleh dr Darmawan. Oleh karenanya ketika gejala asma muncul lebih awal, cenderung lebih ada harapan gejala tersebut akan hilang dibandingkan jika keluhan asma muncul saat sudah dewasa.

"Kenapa demikian, saja juga nggak tahu. Tapi faktanya memang demikian," kata dr Darmawan.

Pada tingkat keparahan tertentu, pengidap asma membutuhkan pengobatan jangka panjang untuk mengontrol kekambuhan. Namun yang terpenting menurut dr Darmawan, pengidap asma harus mengenali dan kemudian menghindari pencetus serangannya.
23.59 | 0 komentar | Read More

alasan target indonesia zero TBC sulit dicapai

Written By iqbal_editing on Jumat, 24 Maret 2017 | 23.56

Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan RI menargetkan Indonesia tidak memiliki kasus tuberkulosis (TB) baru pada tahun 2035. Program yang disebut seabgai Zero TB 2035 ini dinilai pakar sulit terealisasi tanpa adanya kerjasama lintas sektor.

dr Erlina Burhan, SpP(K), Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Jakarta, mengatakan Zero TB 2035 tidak akan berhasil jika hanya sektor kesehatan saja yang bekerja. Penanganan yang komprehensif dan lintas sektor harus dilakukan jika target ingin terwujud.

"Sebetulnya Indonesia ini orangnya pintar-pintar dan jago analisis. Bikin regulasi, bikin modul, bikin pedoman semuanya sangat bagus. Masalahnya kita lemah di implementasi," tutur dr Erlina kepada warwatan, ditemui di RS Persahabatan, Rawamangun, Jakarta Timur.

Baca juga: Indonesia Darurat TB, Pakar Sebut Jumlah Pasien Drop-out Masih Tinggi

Dikatakan dr Erlina, pengentasan TB tidak bisa dilakukan oleh sektor kesehatan sendirian. Dokter dan rumah sakit menurutnya, hanya memiliki kemampuan untuk mendeteksi penyakit, memberikan diagnosis dan berusaha semaksimal mungkin agar pasien sembuh.

Namun untuk TB yang sebagian besar pasiennya berobat rawat jalan, dokter dan rumah sakit tidak memiliki kewenangan ketika pasien sudah di rumah. Apalagi salah satu penyebab gagalnya pengobatan TB adalah pasien yang tidak patuh saat berobat atau bahkan putus pengobatan.

"Karena itu butuh sektor public health di sini, puskesmas misalnya yang memantau apakah pasien teratur dan rutin minum obat. Dibutuhkan juga keterlibatan Pemerintah Daerah melalui lurah, terutama lurah di daerah kantong TB, untuk memastikan warganya minum obat dengan patuh," papar dokter yang juga Wakil Ketua Komisi Ahli Tuberkulosis ini.

Di lain pihak, keterlibatan Kementerian dan Dinas Sosial juga tak boleh ditinggalkan. Berdasarkan pengalamannya praktik, masih banyak pasien TB yang tak bisa pergi ke RS untuk berobat karena tak memiliki ongkos atau lebih memilih bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Terakhir, adanya keterlibatan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dari sisi promosi dan prevensi menurut dr Erlina sangat penting. Dengan mengirimkan SMS blast atau pesan singkat, masyarakat dapat memiliki informasi yang lebih baik soal TB.

"SMS blast seperti yang menyuruh orang nyoblos di Pemilu itu kan metodenya bagus mengingatkan orang untuk memilih. Nah dengan TB bisa juga, misalnya bagi yang awam diberi beberapa informasi dan keutamaan pemeriksaan dini," ungkapnya.

"Sementara untuk pasien, bisa digunakan sebagai pengingat atau reminder untuk minum obatnya," tutupnya
23.56 | 0 komentar | Read More

pemisahan alat makan pasien TBC dan sendiri membuat terusir

Pasien berhenti atau tidak mau berobat merupakan penyebab masih tingginya angka pengidap tuberkulosis (TB) di Indonesia. Pakar mengungkap salah satu sebabnya adalah kuatnya stigma yang masih beredar di masyarakat soal TB.

dr Erlina Burhan, SpP(K), Wakil Ketua Komisi Ahli Tuberkulosis, menyebut stigma pada pasien TB biasanya datang pertama kali dari orang terdekat, baik itu keluarga, teman atau kerabat. Stigma bisa berupa tindakan apa saja mulai dari memisahkan peralatan makan, alat mandi dan pakaian pasien TB hingga membuat pasien terusir dari rumah.

"Padahal harus diketahui, TB itu penyakit yang menular lewat udara, bukan saluran cerna atau kontak fisik. Jadi kalau gelas, piring atau pakaiannya dipisahkan itu malah memelihara stigma," tutur dr Erlina kepada wartawan, ditemui di RS Persahabatan, Rawamangun, Jakarta Timur.



Stigma pada pasien TB juga sangat rentan terjadi di tempat kerja. Dikatakan dr Erlina, sebagian besar alasan pasien TB menolak berobat adalah takut kehilangan pekerjaan jika diketahui berobat TB.

Soal risiko penularan, dr Erlina mengatakan hampir 80 persen orang Indonesia pernah terpapar kuman TB. Namun dari sekian banyak orang yang terpapar kuman, hanya 10 persen di antaranya yang akhirnya menjadi sakit atau disebut TB aktif.

Sisanya hanya mengalami TB laten, yakni kondisi di mana kuman TB tertidur di dalam tubuh tubuh atau bahkan hilang sama sekali karena sistem imun. Risiko dari TB laten menjadi TB aktif berbeda-beda antara setiap orang.

"Jadi sistem imun itu ibarat tentara, musuhnya kuman. Kalau kuman TB masuk tubuh dan tentaranya banyak dan kuat, kumannya akan tidur atau mati. Ini yang disebut sebagai TB laten. Tapi kalau kumannya banyak sementara tentara kita lagi lemah, ya bisa jadi TB aktif," paparnya.

Oleh karena itu, jika ada anggota keluarga, rekan atau kerabat yang mengidap TB, dr Erlina berpesan agar jangan dijauhi dan dikucilkan. Rangkul orang tersebut dan ajak ia untuk berobat supaya risiko penularan menjadi lebih luas.

"Ingat, jangan dijauhi atau dikucilkan. Tapi didekati, diajak berobat dan pastikan minum obatnya patuh. Kalau bicara risiko, semuanya berisiko, saya tiap hari ketemua pasien TB ya berisiko. Cuma kan nggak semuanya jadi sakit gitu lho," tutupnya.
21.51 | 0 komentar | Read More

Respons Pasien TB Saat Diedukasi: Takut Stigma, Ngotot, Hingga Patuh

Written By iqbal_editing on Kamis, 23 Maret 2017 | 05.34

Edukasi soal Tuberkulosis atau TB penting dilakukan, terutama terkait pengobatan TB. Dengan begitu keberhasilan pengobatan bisa dicapai. Hanya saja, kadang respons masyarakat bisa berbeda-beda saat diberi edukasi.

Seperti diungkapkan koordinator lapangan Cepat Perdhaki yang memberi penyuluhan soal TB dari RS Mitra Masyarakat, Valentin Wenehen, ia dan tim setiap hari turun ke lapangan jalan dari rumah ke rumah untuk melihat pasien yang mereka dampingi.

"Selain pada pasien, kita juga kasih pembekalan ke keluarga untuk jadi PMO atau pendamping minum obat. Ada pasien yang tidak mau menerima dan jika begitu akan kita kasih penjelasan," kata Valentin ditemui di RS Mitra Masyarakat, Timika, Papua, Rabu (22/3/2017).

Kadang kala ada pasien yang merasa takut didiskriminasi. Misalnya, penggunaan alat makannya takut dipisah, dijauhi, atau bahkan dikucilkan. Walaupun, tidak ada pasien TB yang sampai dikucilkan seperti itu.

"Ibaratnya dia takut dapat stigma dari masyarakat terus putus asa gitulah. Kalau gitu, kita tetap bujuk dia agar mau berobat tuntas. Memang nggak mudah, nggak bisa sekali. Kita harus lakukan berkali-kali," tambah Valentin.

Baca juga: Unik! Ada ATM Dahak di Rumah Sakit Ini
"Biar begitu ada yang ngotot juga. Bilang TB kan menular bisa dari air liur. Nah liur kan kontak sama sendok, jadi bisa dong tertular. Kalau gitu lagi-lagi kita kasih penjelasan. Ada juga pasien yang iya iya saja tapi ternyata dia nggak paham," tambahnya.

Meski begitu, ada pula pasien yang bisa menyenangkan bagi Valentin dan penyuluh lainnya karena amat patuh. Ia mengisahkan, ada seorang wanita yang positif TB dan kebetulan dia tinggal bersama anak dan keluarga besarnya. Khawatir saat diberi edukasi bahwa orang di sekitar berisiko tertular, si wanita lantas memboyong keluarga besarnya ke RS.

"Ada itu yang anaknya empat dibawa semua. Atau bahkan keluarga besarnya dibawa semua karena mereka satu rumah ada 3 sampai 4 kepala keluarga. Ada yang patuh sekali seperti itu. Kalau begitu pasti ada salah satu keluarga yang tertular memang," kata Valentin.

Memberi edukasi juga terkait dengan kebiasaan mereka sehari-hari. Sebut saja kebiasaan masak di dalam rumah, mengasapi tubuh, bahkan merokok. Lagi-lagi, itu bukan hal yang mudah. Butuh berkali-kali edukasi agar masyarakat paham bahwa apa yang mereka lakukan keliru.

"Apalagi kalau sudah terkait budaya dan adat memang susah sekali. Tapi kita jangan menyerah. Terus beri edukasi perlahan, diarahkan masyarakatnya, butuh waktu berbulan-bulan itu. Memang, tidak gampang seperti yang dibayangkan dan tidak boleh memaksa," pungkas Valentin.
05.34 | 0 komentar | Read More

PENYEBARAN KUMAN TBC

Tuberkulosis atau TB merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh mycobacterium tuberculosis atau kuman TB. Umumnya penyakit ini menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ lain seperti tulang, kelenjar getah bening, kulit dan usus.

Penyakit yang tak mengenal usia ini dapat menyebabkan kematian bila tidak segera diobati. Maka itu menyambut Hari TB Sedunia 24 Maret mendatang, Kementerian Kesehatan terus berupaya menanggulangi penyebaran penyakit TB dengan Gerakan Masyarakat Menuju Indonesia Bebas Tuberkulosis, melalui aksi Temukan Tuberkulosis Obati Sampai Sembuh (TOSS).

Baca juga: Respons Pasien TB Saat Diedukasi: Takut Stigma, Ngotot, Hingga Patuh

"Bagaimana pun penyakit ini masih belum kita kendalikan dengan optimal," tutur Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, dr H Mohamad Subuh, MPPM, di ruang Maharmardjono lantai 3, Gedung Kementerian Kesehatan RI, Jl HR Rasuna Said Blok X 5 Kav 4-9, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (23/3/2017).

Dikatakan dr Subuh, tuberkulosis merupakan penyakit menular di Indonesia yang paling besar angka kematiannya, mencapai 100 ribu dalam setahun atau sekitar 7-8 orang setiap 1 jam. Di mana risiko penularan dipengaruhi oleh jumlah kuman, lamanya kontak, dan daya tahan tubuh seseorang.

Umumnya gejala yang dirasakan adalah batuk berdahak selama lebih dari dua pekan. Di samping itu, ada beberapa gejala tambahan, seperti demam, berkeringat di malam hari, dan nyeri dada.

"Bila seperti itu segera periksakan dahaknya. Ini sangat perlu untuk upaya pencegahan," ucap dr Subuh.

Kemudian kata dr Subuh, potensi penularan melalui penyebaran kuman tuberkulosis ketika berbicara dengan jarak 30 centimeter bisa mencapai 210 partikel. Jika batuk mencapai 3.500 partikel dengan jarak 1-1,5 meter. Kemudian bersin bisa lebih jauh lagi bisa 1,5-2 meter, antara 4.500-1 juta partikel.

"Jadi jangan dikira kalau ada orang batuk, kita agak jauh dengan dia, kita tidak bisa terkena, setengah meter saja sudah berpengaruh," terangnya lagi.

Nah untuk perlindungan, gunakanlah masker. Selain itu diperlukan partisipasi pengendalian tuberkulosis bukan hanya dari pemerintah, swasta, maupun masyarakat saja, tapi juga penderita.
05.23 | 0 komentar | Read More

senam asma

Written By iqbal_editing on Kamis, 01 Desember 2016 | 07.20

SENAM ASMA
Olah Raga Pilihan Penderita Asma
Senam asma, pernahkah anda mendengarnya?
Mungkin bukan senam asma yang akrab di telinga anda, melainkan jenis senam lainnya seperti senam hamil dan senam jantung.
Senam asma merupakan salah satu pilihan olah raga yang tepat bagi penderita asma. Karena Senam asma bermanfaat untuk meningkatkan kesegaran jasmani dan juga meningkatkan kemampuan benapas.
Selain senam asma, masih ada beberapa pilihan olahraga lain, di antaranya berenang dan jalan santai (jogging). Namun perlu diperhatikan pula faktor pemicu asma anda, jika asma muncul karena udara dingin, hindari berenang di kolam dengan suhu rendah atau melakukan jogging di pegunungan.
senam_asma_rsud_pasar_rebo
Klub Senam Asma RSUD Pasar Rebo
Manfaat dan Tujuan Senam Asma
Senam asma juga merupakan salah satu penunjang pengobatan asma karena keberhasilan pengobatan asma tidak hanya ditentukan oleh obat asma yang dikonsumsi, namun juga faktor gizi dan olah raga. Bagi penderita asma, olah raga diperlukan untuk memperkuat otot-otot pernapasan.
Senam asma bertujuan untuk:
    • Melatih cara bernafas yang benar.
    • Melenturkan dan memperkuat otot pernafasan.
    • Melatih ekspektorasi yang efektif. 
    • Meningkatkan sirkulasi.
    • Mempercepat asma yang terkontrol.
    • Mempertahankan asma yang terkontrol.
    • Kualitas hidup lebih baik.
Senam asma tidak boleh dilakukan sembarangan. Ada syarat-syarat bagi mereka yang akan melakukan senam asma, yaitu: tidak dalam serangan asma, sesak dan batuk, tidak dalam serangan jantung, dan tidak dalam keadaan stamina menurun akibat flu atau kurang tidur dan baru sembuh.
Rangkaian dan Frekwensi Senam Asma
Rangkaian senam asma pada prinsipnya untuk melatih memperkuat otot-otot pernafasan agar penderita asma lebih mudah melakukan pernafasan dan ekspektorasi.
Senam asma sebaiknya dilakukan rutin 3-4 kali seminggu dan setiap kali senam ± 30 menit. Senam asma akan memberikan hasil bila dilakukan selama 6-8 minggu.
Senam asma tidak berbeda dengan senam pada umumnya. Berikut rangkaian senam Asma:
1. Pemanasan
Dimulai dengan pemanasan
2. latihan Inti
Latihan inti A:
Bertujuan untuk melatih cara bernafas yang efektif bagi penderita asma. Dengan cara menarik nafas dan mengeluarkan nafas. Proses pengeluaran nafas lebih lama 2 hitungan.

Latihan inti B:
Bertujuan untuk melepaskan otot-otot pernafasan. Dengan irama yang ritmis, otot-otot akan menjadi santai, sehingga mempermudah pernafasan dan ekspektorasi.
3. Aerobik
Aerobik dilakukan supaya tubuh dapat menghasilkan pembakaran O2 tinggi untuk meningkatkan hembusan napas. Dan disesuaikan dengan kondisi dan usia peserta senam asma
4. Pendinginan
Diakhiri pendinginan. alam pendinginan, dilakukan gerakan-gerakan lambat agar otot-otot kembali seperti keadaan semula yaitu dengan menggerakkan tangan sambil menarik napas pelan-pelan.
Klub Senam Asma di Indonesia:
Kota / Wilayah Nama Rumah Sakit Alamat Telepon
Jakarta
Timur
RS. Persahabatan Rawamangun (021) 47869870
RS. Polri Kramat Jati (021) 809 4005
RSUD Pasar Rebo
Pasar Rebo (021) 8400109
Jakarta
Pusat
RSPAD Gatot Soebroto Jl. Abd. Rachman Saleh (021) 3441008
RS PGI Cikini Jl. Raden Saleh No. 40 (021) 337257
RS Islam Jakarta Jl. Cempaka Putih Tengah I (021) 4244208
Jakarta Selatan RS Pusat Pertamina Kebayoran Baru (021) 7219206
RSU Fatmawati Jl. Fatmawati (021) 7660552
RS Tebet Jl. MT. Haryono No. 8 (021) 8307540
Jakarta
Utara
RSUD Koja Tanjung - Priok (021) 43552401
Jakarta
Barat
RS Pelni Petamburan Jl. Aipda KS Tubun (021) 5306901
RS Graha Medika Kebon Jeruk (021) 5300887
(021)5300889
Tangerang RSU Tangerang Jl. A. Yani No. 9 (021) 5523507
RS Internasional Bintaro Sektor 7, Kawasan Niaga Bintaro Jaya (021) 7455500
Bekasi RS Mekar Sari Jl. Mekar Sari No. 1 (021) 8802641
Bandung RSTP Cipaganti Jl. Bukit Jarian 40 (022) 2031427
Cirebon RSUD Gunung Jati Jl. Kesambi 56 (0231) 206330
Makasar RS Wahidin Sudirohusodo Km 10 Tamalanrea (0411) 510677
Lainnya Dapat Menghubungi:
Pusat Informasi Asma (PIA) Gedung Asma Lt.2
RSUP Persahabatan Telp. 021-4723256
07.20 | 0 komentar | Read More
 
berita unik