Entri Populer

Welcome Guys

Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog

Tampilkan postingan dengan label bedah onkologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bedah onkologi. Tampilkan semua postingan

Makan Sayap dan Ceker Ayam Bisa Picu Kanker? Ini Kata Dokter

Written By iqbal_editing on Minggu, 20 Agustus 2017 | 17.26

Mendengar kata 'kanker' merupakan hal yang menakutkan banyak orang, terutama kaum wanita. Maklum, kanker mamatikan banyak mengintai perempuan, misalnya kanker payudara dan kanker serviks. Nah, konon salah satu pemicu munculnya kanker payudara dan kanker seviks adalah karena konsumsi ceker dan sayap ayam. Benarkah?

Kabar mengenai sayap dan ceker ayam yang bisa menyebabkan kanker banyak beredar belakangan ini melalui pesan di jejaring sosial Path dan juga BlackBerry Messenger (BBM). Dalam pesan tersebut disebutkan bahwa sayap ayam merupakan bagian yang paling sering disuntik, sedangkan ceker ayam merupakan tempat menimbun 'end product' antibiotik dan turunan 'second hormonal' sehingga berpotensi menyebabkan kanker. Apa kata dokter?

"Belum ada buktinya, itu kan baru asumsi. Umur ayam itu kan pendek sampai dia dipotong, kalau dipotong obat hormonnya itu masih ada atau belum habis lalu dimakan menyebabkan kanker, sampai sekarang belum ada buktinya," kata dr Ramadhan, SpBOnk, yang berpraktik di RS Kanker Dharmais, saat dihubungi detikHelath pada Jumat (9/5/2014).

Hal serupa juga dikatakan oleh dr Drajat Suardi, SpB(K) Onk. Dikatakan dia, sayap ayam dan juga ceker ayam belum tentu menyebabkan timbulnya kanker bagi orang yang sering mengonsumsinya.

"Tidak hanya sayap dan ceker, semua yang kolesterolnya tinggi juga bisa memicu kanker. Kalau kanker payudara itu kan memang erat kaitannya dengan hormon estrogen. Makanan yang mengandung kolesterol tinggi juga bisa memicu terjadinya kanker karena mengakibatkan kemudahan terbentuknya estrogen. Sehingga kalau estrogennya subur ya bisa memicu kanker, salah satunya kanker payudara," kata dokter yang merupakan Ketua Perhimpunan Onkologi Indonesia tersebut.

Walaupun belum terbukti pasti, namun menurut dr Drajat, mengonsumsi ayam yang sudah mendapat suntik hormon memang menigkatkan risiko untuk terkena kanker. Karena salah satu penyebab kanker merupakan faktor kimiawi. Untuk itu ia mengimbau agar masyarakat meminimalkan segala macam zat kimiawi yang bisa menjadi faktor pemicu kanker.

"Pembentukan sel kanker itu ada dua faktor utama, faktor internal dan eksternal. Faktor internal itu gen, kalau faktor eksternal terdiri sari 3 antara lain faktor biologis, kimiawi, dan fisik. Nah yang suntik ini termasuk kategori kimiawi, makanya kitaa jaga diri kita dari segala macam kimiawi yang bisa menjadi faktor eksternal," kata dr Drajat

Berikut ini isi pesan tentang sayap dan ceker ayam yang bisa menyebabkan kanker payudara dan kanker serviks yang diterima detikHealth:

<i>"SAYAP & CEKER AYAM ? "

Entah Anda sudah menikah atau belum menikah, maka perempuan harus berhati². Baru² ini artis Tionghoa Xia Yi divonis tumbuh LISTS dalam rahim (kista coklat) dan Hu Qing Wen melakukan operasi tumor yg penuh dengan darah, dan darahnya berwarna hitam gelap. Mereka berpikir bahwa setelah operasi akan sembuh, tetapi hanya beberapa bulan kambuh lagi, sehingga akhirnya mereka melakukan konsultasi ke ginekolog.

Dokter Ginekolof tsb kemudian bertanya : "Apakah Anda suka makan sayap ayam, dia sangat terkejut ?

"Loh, koq dokter bisa tahu kesukaanku ?

"Hormon pertumbuhan (growth-hormone) ayam ataupun antibiotiknya, selalu diinjeksi di bagian sayap, atau leher ayam. Sementara kaki Ayam tempat menimbun "end product" antibiotik dan turunan "second hormonal" Dokter tsb meneruskan : Karena itu kegemaran makan sayap ayam atau kaki, akan serta merta menambah sekresi hormon bagi wanita. Akibatnya "second hormonal" tsb akan terakumulasi menjadi TOXIN yg ujung²nya menjadi karsinogen, sehingga wanita pengkonsumsi SAYAP + KAKI ayam sangat rentan terkena kanker yg berkenaan dengan kelenjar hormonal seperti : kanker rahim, cervix dan payudara. Oleh karena itu, kami menyarankan Anda jangan "banyak" mengkonsumsi sayap ayam atau kakinya.

Saat ini 80% wanita memiliki fibroid rahim dan mudah untuk mendapatkan kista coklat tersebut.

Ketika Anda menerima pesan ini, Apa yg akan Anda lakukan ? Meneruskannya kepada teman dan keluarga di sekitar (teman² terutama perempuan). Atau end-chat dan skeptis ? Ekspektasi saya : Jika di friend-list anda ada 851 kontak, cukup 10 orang saja yg men-share ulang, sehingga minimal juga ada 10 orang yg baca. Snow ball effect, siapa tau di kelipatan kesekian ada yg TERTOLONG Karena anda peduli... indahnya berbagi.</i>
17.26 | 0 komentar | Read More

Studi: Kelebihan Estrogen dan Testosteron Bisa Sebabkan Tumor Rahim

Segala sesuatu yang berlebihan memang tidak baik. Termasuk bila tubuh perempuan memiliki hormon estrogen dan testosteron tinggi.

Sebuah studi yang diterbitkan oleh Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism menyatakan jika wanita memiliki tingkat hormon testosteron dan estrogen tingg maka memiliki risiko terkena tumor jinak atau fibroid lebih tinggi. Risiko tinggi ini terutama bagi mereka yang berada di usia pertengahan, yaitu antara 26 hingga 39 tahun.

"Hasil ini cukup menarik karena testosteron sebelumnya tidak diakui sebagai faktor berkembangnya fibroid rahim," kata dr Jennifer Lee dari Stanford University School of Medicine, dikutip dari Health, Rabu(23/12/2015).


Penelitian ini melibatkan hampir 1.400 wanita yang memiliki hormon testosteron dan estrogen. Selama 13 tahun, mereka melakukan pemeriksaan satu kali setiap tahunnya.

Diketahui beberapa perempuan peserta penelitian memiliki tingkat testosteron tinggi dan disebut memiliki risiko 1,3 kali lebih tinggi terkena fibroid rahim dibandingkan mereka yang memiliki testosteron rendah. Namun, risiko akan lebih tinggi jika mereka juga memiliki tingkat estrogen yang tinggi juga.

"Penelitian ini menunjukkan wanita yang sedang mengalami transisi masa menopause memiliki kadar testosteron lebih tinggi, sehingga lebih tinggi pula mengembangkan fibroid," kata Jason Wong, dari Stanford University School of Medicine, California.

Penelitian juga menyatakan perempuan dengan kadar testosteron dan estrogen tinggi memiliki risiko fibroid rahim sekali selama hidupnya. Akan tetapi perempuan dengan testosteron dan estrogen lebih rendah apabila mengalami fibroid rahim kemungkinan bisa mengalaminya lagi.

"Hasil ini membuka jalan baru untuk menyelidikan tentang bagaimana fibroid berkembang dan bagaimana cara pengobatannya," ujar dr lee.



Fibroid rahim merupakan tumor jinak yang tubuh di dalam rahim. Tumor ini terbentuk dari sel-sel yang membentuk otot dinding rahim. Fibroid biasanya berukuran sebesar biji kacang polong, namun juga bisa membesar hingga seukuran bola.

Gejala fibroid seringkali berupa sakit punggung, nyeri panggul, sembelit, serta perasaan penuh dan berat dalam perut. Sebagian besar perempuan tidak menyadari gejala-gejala ini merupakan tanda  mereka mengalami fibroid.(vit/vit)
17.24 | 0 komentar | Read More

Pada Perokok, Cahaya Lampu Kota Tingkatkan Risiko Kanker Payudara

Tinggal di lingkungan yang terang benderang di kala malam, menurut penelitian bisa meningkatkan risiko kanker payudara. Ini berlaku pada perokok dan mantan perokok.

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Environmental Health Perspectives ini menyebut, perempuan yang bekerja di shift malam lebih rentan terhadap pengaruh cahaya buatan luar ruangan di malam hari.

Para ilmuwan yang melakukan penelitian tersebut mendasarkan temuannya pada hipotesis tentang melatonin, yakni salah satu hormon yang mengatur pola tidur. Penurunan kadar melatonin, menurut berbagai penelitian terdahulu, bsia meningkatkan risiko kanker payudara.


Paparan cahaya buatan di malam hari, menurut penelitian kali ini, berpengaruh pada produksi melatonin. Efek yang sama juga ditemukan pada paparan racun rokok.

"Kami berteori bahwa kadar melatonin terlibat," kata salah seorang peneliti, Peter James dari Harvard Medical School, seperti dikutip dari NYdailynews.

Dalam penelitian ini, para ilmuwan menganalisis data dari 110.000 partisipan dalam Nurse's Health Study II antara tahun 1989-2013. Kadar iluminasi luar ruangan didasarkan pada informasi satelit.
17.13 | 0 komentar | Read More

Pasien Leukemia Ini Meninggal Setelah Makan Tiram Terkontaminasi

Written By iqbal_editing on Sabtu, 19 Agustus 2017 | 17.19

Jane White Cunningham, seorang pasien kanker sel darah atau yang sering disebut leukemia sejak tahun 2016 itu tengah berlibur bersama suaminya di Mississippi, Amerika Serikat.

Dikutip dari Fox News, sesuatu yang buruk terjadi ketika ia mengonsumsi tiram yang sudah terkontaminasi, kemudian Cunningham dinyatakan meninggal dunia.

"Ada banyak pembengkakan ekstrim dan rasa sakitnya luar biasa," tulis suaminya, David Cunningham dalam sebuah unggahan di Facebook pada tanggal 8 Agustus.


Pasien Leukemia Ini Meninggal Setelah Makan Tiram TerkontaminasiPasien leukimia meninggal setelah makan tiram terkontaminasi/Foto: Facebook/David Cunningham

Baca juga: Gara-gara Tato Henna, Wajah Pemuda Ini Mengalami Luka Parah

Setelah dilarikan ke Rumah Sakit Gulfort Mississippi, Cunningham didiagnosis terinfeksi bakteri vibrio, yaitu bakteri yang biasa ditemukan dalam makanan laut mentah dan sangat berbahaya bagi orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) di Amerika Serikat, bakteri ini menyebabkan 80 ribu penyakit dan 100 diantaranya meninggal dunia setiap tahunnya.

Kebanyakan bakteri ini menyerang antara bulan Mei sampai Oktober ketika suhu air biasanya lebih hangat. CDC menyarankan untuk tidak mengonsumsi tiram mentah ataupun setengah matang untuk menghindari infeksi bakteri vibrio.

"Hari ini mereka harus mengamputasi kedua kaki dan lengan kirinya dalam upaya menyelamatkan hidupnya saat infeksi menyebar dengan cepat," lanjut tulisan David.
17.19 | 0 komentar | Read More

KEGUNAAN DAN KELEMAHAN BIOPSI ASPIRASI JARUM HALUS

Written By iqbal_editing on Senin, 31 Juli 2017 | 20.28

FNAB pada awalnya digunakan untuk mengkonfirmasi kecurigaan klinis adanya rekurensi lokal/metastasis suatu kanker, tanpa membuat pasien menjalani intervensi bedah lebih lanjut. Pada perkembangan selanjutnya, FNAB digunakan untuk : Diagnosis pre-operatif dari berbagai jenis proses neoplastik (benign/malignant) Diagnosis inflamasi, infeksi, dan kondisi degeneratif.
Dalam pelaksanaannya, FNA memberikan keuntungan untuk pasien, dokter, dan pembiayaan, yaitu : Relatif tidak nyeri Hasil lebih cepat Murah Bila dilakukan ahli yang berpengalaman  keakuratan FNAB pada beberapa keadaan, dapat mendekati diagnosa Histopatologi. Dapat dilakukan pada penderita debil Dapat diulang Dapat dilakukan pada multipel lesi FNAB kurang bergantung kepada teknologi, bila dibandingkan biopsi bedah. makassar oncology forum tgl 30 april 2011. materi ini hasil dari makassar oncology forum sayang klo dibuasng saya share disini semoga membasntu dan memberi informasi kepada semua yang berkepentinga. nara sumber: GUNAWAN ARSYADI BAGIAN PATOLOGI ANATOMI FK-UNHAS MAKASSAR, 2011
20.28 | 0 komentar | Read More

hubungan sakit leher dan kanker tiroid

Written By iqbal_editing on Jumat, 21 Juli 2017 | 16.35

Kanker tiroid merupakan suatu kanker yang semakin meningkat kasusnya belakangan ini. Walaupun dapat dibilang belum banyak yang mengetahui mengenai jenis kanker ini, namun ternyata kanker tiroid sudah banyak mengambil nyawa manusia.

Seperti dilansir CBS News dan ditulis detikHealth pada Selasa (25/2/2014), pada tahun 1970-an, para peneliti tidak menganggap peningkatan kasus kanker tiroid yang terjadi merupakan suatu tanda bahaya yang dapat membuat banyak orang terserang penyakit tersebut. Hal ini disebabkan kebanyakan orang yang terkena kanker tiroid tidak dalam kondisi yang parah.

"Kami menemukan bahwa terdapat wabah (dari kanker tiroid) yang menyebar di Amerika Serikat. Bagaimana pun, saat itu kami tidak menganggap hal itu terlihat sebagai sebuah wabah penyakit yang berbahaya," tutur para peneliti di Amerika.

Pernyataan tersebut seakan bertolak belakang dengan apa yang terjadi saat ini. Seperti data yang didapat dari Institut Kanker Nasional, Amerika, pada tahun 2013, tercatat sekitar 60 ribu orang didiagnosa terkena penyakit kanker tiroid, di mana sebanyak 1.850 diantaranya meninggal karena penyakit ini.

Kanker tiroid merupakan penyakit yang menyerang kelenjar tiroid yang dimiliki manusia. Akibat memproduksi hormon yang berlebih, kelenjar tiroid ini pun membesar sehingga mengganggu fungsi regulasi di dalam tubuh, seperti jantung, tekanan darah, serta suhu dan berat badan. Gejala yang ditimbulkan akibat kanker tiroid adalah rasa sakit di leher, adanya perubahan suara yang terjadi, kesulitan menelan makanan, hingga adanya pembengkakan kelenjar getah bening.

Pada tahun 1975, tercatat hanya 4,9 dari 100 ribu orang yang didiagnosa terkena kanker tiroid. Namun pada tahun 2009, angka tersebut meningkat menjadi 14,3 dari 100 ribu orang.

Para peneliti menyatakan bahwa orang yang didiagnosa menderita kanker tiroid tidak menunjukkan gejala yang menyebabkan bahaya. Diagnosa sepenuhnya atas kanker ini dapat dipastikan melalui metode seperti CT scan dan ultrasound.

"Peningkatan hampir sepenuhnya disebabkan oleh diagnosa kanker tiroid yang berjenis papillary thyroid cancer. Kanker ini berkembang pada satu kelenjar tiroid yang pertumbuhannya sangat lambat dan sering menyebar melalui kelenjar getah bening yang terdapat di dalam leher," ungkap salah satu peneliti di American Cancer Society.

Jika Anda mengalami gejala-gejala yang terasa aneh di leher Anda, mungkin ada baiknya jika Anda mulai waspada. Jangan sampai gejala yang tidak terlalu terlihat menyebabkan kanker tiroid semakin tumbuh dan tersebar di dalam tubuh Anda.
16.35 | 0 komentar | Read More

Kisah Perjuangan Wanita Melawan Dua Kanker Sekaligus

Mendengar kata kanker yang telintas di benak banyak orang adalah penyakit yang menyeramkan dan dapat menyebabkan kematian. Tidak sedikit penyintas kanker yang merasa putus asa untuk melawan penyakit ini.

Berbeda dengan wanita satu ini, Dewi Yulita (47) yang didiagnosis dua kanker sekaligus melawan penyakit mematikan dengan penuh semangat. Ketika usianya 26 tahun, Dewi didiagnosis kanker tiroid. Kanker yang menyerang kelenjar tiroid, yang berfungsi untuk mengatur fungsi tubuh manusia.

"Awalnya terdiagnosis kanker tiroid jenis papilar, pada waktu itu, saya juga nggak paham kalau itu kanker tiroid. Ada benjolan terus saya periksa ke dokter langsung tindakan operasi," ujarnya saat acara Press Conference dan Seminar Edukator Sehatkah Tiroidmu? di Hotel Shangri-La, Jakarta, baru-baru ini.

Setelah melakukan operasi, suara Dewi sempat tidak muncul selama 2,5 bulan. Namun setelah itu semua kesehatannya membaik dengan selalu memeriksakan tiroidnya secara teratur dan harus mengonsumsi obat setiap pagi.


Harus berjuang dengan konsumsi obat setiap hari selama tujuh tahun lamanya, Dewi dikagetkan dengan adanya benjolan di payudaranya setelah melahirkan anak keduanya. Kemudian benjolan tersebut didiagnosis sebagai kanker payudara.

"Sempat nge-down, saya sempet nggak mau operasi lagi," ungkapnya kepada detikHealth.

Dewi mengungkapkan bahwa dirinya tidak mau menjalani pengobatan medis, berbagai pengobatan alternatif telah ditempuhnya. "Tapi malah jadi lebih buruk, dari stadium 2 jadi 3B," imbuh Dewi yang merupakan ketua I Cancer Information & support Center (CISC).

Akhirnya Dewi menyadari bahwa pengobatan yang terbaik adalah pengobatan medis. Mulai dari kemoterapi hingga radiasi.

"Saya disadarkan oleh suami, dukungan pasangan hidup, anak, keluarga, lingkungan itu benar-benar besar. Dan satu lagi komunitas kanker," tutupnya.
16.33 | 0 komentar | Read More

Lawan Kanker Tulang di Usia 4 Tahun, Pio Tetap Lincah dan Selalu Tersenyum Radian Nyi Sukmasari - detikHealth

Written By iqbal_editing on Senin, 17 Juli 2017 | 23.49

Di tahun 2013, Stepio Andika (5) didiagnosis kanker tulang fibrosarkoma. Saat itu, bocah yang akrab disapa Pio ini awalnya hanya merasa ada benjolan di gusi dan di bawah lidah ketika ia berusia 4 tahun.

Pio tidak pernah mengeluh sakit, tetapi adanya benjolan di area pipi membuat bocah kelahiran Pontianak, 30 Juni 2009 itu tidak nyaman. Sang ibu, Eka (27) dan suaminya pun membawa Pio ke dokter di tempat tinggalnya di desa Menteba. Setelah dirujuk ke salah satu RS di Pontianak, Pio diminta menjalani biopsi.

"Hasilnya ada tumor jinak. 4 bulan dibawa lagi makin gede benjolannya, diperiksa kata dokter masih tumor jinak. Udah sempat diobatin tapi makin gede bejolannya akhirnya dirujuk ke Jakarta 3 bulan lalu. Ada rumah Anyo ini juga ada tetangga yang bilang ada rumah singgah di Jakarta," kisah Eka kepada detikHealth dan ditulis pada Sabtu (6/6/2015).

Sesampainya di Jakarta, Pio diperiksa di RS Dharmais dan menjalani dua kali biopsi tulang. Setelah itulah dokter memastikan bawah Pio terkena fibrosarkoma. Untuk mengatasi kanker tulang yang diidap Pio, mau tak mau bocah itu harus menjalani operasi pengangkatan tulang rahang yang nantinya akan diganti dengan tulang di bagian kaki yang bisa tumbuh. Namun, sebelumnya Pio harus menjalani kemoterapi untuk mengecilkan ukuran sel kankernya.

"Sampai saat ini dibilangnya harus dua kali, tapi Pio baru dikemo satu kali, sekitar 2 minggu lalu. Kemonya pakai infus dan pas dikemo dia muntah-muntah, abis kemo juga muntah, makan minum nggak mau ada kali 3-4 hari akhirnya dirayu aja biar mau minum makan dikit, pakai pipa juga nggak apa-apa. Alhamdulillah dikit-dikit mau," tutur Eka.

Selama menjalani pengobatan, Eka selalu memberi tahu apa saja prosedur yang harus dijalani Pio. Dulunya, putra semata wayang Eka juga kerap bertanya mengapa ada benjolan besar di pipinya. Setelah diberi tahu, Pio hanya mengatakan dirinya akan berdoa agar cepat sembuh, benjolannya cepat kempes, dan bisa pulang ke rumahnya bertemu nenek dan kakeknya.

"Aku sakit kanker tulang, satu kali lagi operasi aku sembuh lho. Nanti kalau aku udah gede mau jadi pemain bola sama tentara," celoteh Pio saat ditanya dirinya sakit apa. Pio juga bercerita bahwa ia meminta alat suntik pada dokter saat dikemoterapi. Namun, ketika ditanya untuk apa alat suntik itu, Pio hanya tersenyum.

Selama di rumah Anyo, Pio terlihat sangat lincah dan selalu tersenyum. Bahkan, sesekali ia terlihat menggoda temannya. Meski kondisi dagunya membesar, Pio tidak terlihat minder dan selalu riang berceloteh saat diajak mengobrol.


"Supaya Pio nggak ngeluh, nggak nangis, kuncinya saya juga jangan nangis. Jadi ya menerima aja dengan ikhlas. Saya senang sekali kalau ngelihat Pio tetap semangat, mau cepat sembuh, mau dioperasi. Kita tetep ikhlas nerima apa adanya. Pokoknya kuncinya harus tegar," kata Eka.

Nah, bagi pembaca yang ingin menyalurkan bantuan untuk Pio dan pasien kanker anak lainnya, Anda bisa bertandang langsung ke rumah Anyo di Jl Anggrek Nelli Murni Blok A/110, Slipi, Jakarta Barat, no telp 021-5346529. Atau, bantuan bisa disalurkan melalui rekening di nomor 1640000582421 (bank Mandiri) dan 0845244010 (bank BCA) atas nama Yayasan Anyo Indonesia.
23.49 | 0 komentar | Read More

Perjuangan Leni, Jualan Kue untuk Melawan Kanker Payudara Stadium Empat Aisyah Kamaliah - detikHealth

Written By iqbal_editing on Sabtu, 08 Juli 2017 | 11.25

Berawal dari benjolan di payudaranya di tahun 2006, Leni Marlina (45) memeriksakan dirinya ke RS Cipto Mangunkusumo. Ketika dokter mendiagnosis kanker payudara stadium 4, ia dengan tenang mengikuti semua kata dokter.

Sayangnya, ketenangan yang ditunjukkan Leni tidak bertahan lama. Diakuinya, ia tenang semata-mata karena tidak tahu-menahu tentang penyakit yang dihadapinya. Begitu tahu bahwa harapan hidupnya tinggal 4 bulan, perasaan tenang itu runtuh seketika.

"Pas udah tau hancur lebur, baru nggak bisa tidur," ujarnya pada detikHealth, Sabtu (8/7/2017), di sela-sela acara bulanan Cancer Information and Support Center (CISC), Menteng, Jakarta.

Namun di sisi lain, Leni tidak ingin berlama-lama larut dalam keterpurukan. Baginya, hidup harus tetap berjalan. Hingga kini 8 tahun berlalu sejak 'vonis' kanker mematikan itu dijatuhkan, ia masih bertahan. Pikiran yang selalu positif, disebutnya sebagai kunci dalam menjalani semua pengobatan.

"Semua itu dari pikiran," kata, Leni yang sehari-hari berjualan kue di sekitar tempat tinggalnya di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten.


Berasal dari keluarga yang kurang mampu, Leni menceritakan perjuangnya selama melakukan perawatan. "Perjuangan bukan hanya untuk melawan penyakit, tapi semua," kenangnya dengan berkaca-kaca.


Leni menjalani rangkaian pengobatan dengan semangat juang yang tinggi. Rambut yang rontok karena efek kemoterapi yang membuat kepalanya botak, tak menghalanginya untuk tetap berjualan kueLeni menjalani rangkaian pengobatan dengan semangat juang yang tinggi. Rambut yang rontok karena efek kemoterapi yang membuat kepalanya botak, tak menghalanginya untuk tetap berjualan kue (Foto: dok. pribadi)


Ketika mulai melakukan perawatan kemoterapi, ia menceritakan bahwa ia cukup kesulitan untuk mencari dana. Beruntung sebuah komunitas membantunya untuk membiayai pengobatan.

"Meskipun dibantu, saya disarankan untuk mengurus bantuan dari pemerintah juga, tapi nggak mudah, saya ditolak sudah 10 kali dengan alasan limit," tuturnya yang juga masih aktif berjualan demi mendapatkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit.

Kanker payudara termasuk salah satu kanker paling mematikan pada perempuanKanker payudara termasuk salah satu kanker paling mematikan pada perempuan (Foto: ilustrasi/thinkstock)


Selama menjalani perawatan, ibu Leni menceritakan bagaimana ia harus menahan rasa sakit dari perjalanan rumah ke rumah sakit. "Saya naik kereta, berebut kereta juga. Kadang naik Kopaja juga," ungkapnya.


Belum lagi ketika berobat, ia pernah kehabisan uang untuk pulang ke rumah. Beruntung ia punya keluarga selalu siap untuk patungan agar Leni bisa pulang ke rumah tanpa rasa sakit.

Semangat Leni untuk berjuang melawan penyakit tidak pernah pudar, meskipun ada pandangan miring terhadap dirinya. Bahkan ketika ada orang yang berkata pedas hingga ia menitikan air mata. "Ini kan penyakit orang kaya, lagian penyakit kayak ibu dikit lagi juga mati," ujarnya menirukan kata orang yang mencibirnya.

Sikapnya yang selalu tersenyum dan berpikiran positif membuat kami tergelitik untuk mencari tahu dari mana ia mendapatkan kekuatan tersebut. Ternyata, keluarga dan teman-teman dari komunitaslah yang membuatnya tegar.

"Waktu saya botak abis kemoterapi, suami dan anak saya ikut botak. Teman-teman komunitas juga bikin saya tetap positif karena saya jadi ingat, saya tidak sendiri yang sakit," ungkapnya.

Kini, ia masih rutin melakukan kontrol setelah pengobatan terakhirnya di tahun 2016. Tetapi ia mengaku masih tetap menjaga pola hidupnya agar tetap sehat. "Sel kanker selesai pengobatan itu seperti mati suri, kalau ada yang membangkitkan dia bisa hidup lagi, makanya pola hidup harus dijaga," tutupnya.
11.25 | 0 komentar | Read More

wanita yang beresiko terkena kanker payudara

Written By iqbal_editing on Jumat, 16 Juni 2017 | 00.21

, Ada beberapa faktor yang membuat risiko seseorang untuk terkena kanker payudara menjadi berlipat ganda. Utamanya berkaitan dengan gaya hidup.

Seperti disampaikan oleh dokter kandungan dan juga konsultan onkologi dari RS Cipto Mangunkusumo, dr Sigit Purbadi, SpOG(K)Onk, faktor lainnya yakni usia yang di atas 55 tahun.

"Lalu bila dalam keluarga ditemukan ada yang mengidap kanker payudara, misalnya saudara perempuan, ibu atau anak perempuan, maka ia mempunyai risiko 2 kali terkena kanker payudara," ujar dr Sigit kepada detikHealth.


Pada dasarnya, bila orang tua mempunyai kelainan gen pembawa, maka ada kemungkinan kelainan gen tersebut juga akan diturunkan ke anak.

"Selain itu, jika seorang pasien mengidap kanker payudara, maka payudara yang lain mempunyai risiko 3-4 kali untuk juga terkena kanker juga," imbuhnya.

Terkait gaya hidup, dr Sigit menjelaskan bahwa risiko kanker payudara lebih besar dimiliki oleh mereka yang kegemukan dan hobi mengonsumsi minuman beralkohol serta merokok.

"Wanita yang tidak pernah hamil sampai 9 bulan atau baru melahirkan setelah umur 30 tahun juga mempunyai risiko kanker payudara lebih besar. Lalu paparan estrogen yang lama seperti menstruasi sebelum umur 12 tahun dan menopause setelah 55 tahun pun memberi risiko lebih besar," tutur dr Sigit.
00.21 | 0 komentar | Read More

aalasan cukupan pap smear rendah

Written By iqbal_editing on Senin, 12 Juni 2017 | 07.10

Pap smear adalah salah satu bentuk skrining atau pemeriksaan dini bagi kanker serviks. Sayangnya, data dari Kementerian Kesehatan menyebut cakupan pap smear masih rendah dan jauh dari target yang diharapkan.

Hingga tahun 2016, baru sekitar 1,5 juta perempuan dari target 37 juta perempuan usia 30-50 tahun yang melakukan skrining kanker serviks. Cakupan skrining tes inspeksi visual asam asetat (IVA) hanya 3,5 persen, sedangkan pap smear 7,5 persen.

Chynthia (28), seorang pegawai swasta, mengaku belum pernah melakukan pap smear meskipun sudah menikah 2 tahun dan memiliki anak. Alasannya sederhana, menurut penuturan beberapa rekannya yang sudah melakukan pap smear lebih dulu, ada rasa nyeri ketika pemeriksaan pap smear dilakukan.


"Sakit kan katanya temen-temen aku yang udah ngelakuin duluan. Kan diusap untuk diambil sampel sel di leher rahimnya, nah vaginanya katanya harus dibuka gitu, itu katanya sakit," ujar Chynthia kepada detikHealth.

Alasan berbeda dikatakan oleh Sari (31). Ia mengaku paham bahwa pemeriksaan pap smear penting, terutama bagi perempuan yang sudah menikah atau sudah melakukan hubungan seksual. Namun menurutnya, ia tidak termasuk yang memiliki risiko tinggi karena tidak pernah berganti-ganti pasangan.



Dihubungi terpisah, dr Yassin Yanuar MIB, SpOG, MSc, dari RS Pondok Indah - Pondok Indah memang ada beberapa hambatan yang menyebabkan perempuan masih enggan melakukan kanker serviks. Hambatan utama adalah masih kurangnya pengetahun dan pemahaman soal kanker serviks itu sendiri.

"Kanker serviks sebenarnya kanker yang bisa dicegah. Maka dari itu pencegahan kanker serviks ini menjadi program prioritas dari semua dokter kandungan di Indonesia, kita support secara pelayanan klinis dan edukasi," tutur dr Yassin.

Ia juga tidak menampik bahwa pemeriksaan pap smear memang sedikit tidak nyaman. Namun ia menampik bahwa pemeriksaan pap smear dapat menyebabkan rasa sakit atau nyeri.


"Setting pemeriksaan yang tidak nyaman, karena mengharuskan duduk di kursi periksa, dengan posisi tidak nyaman, meskipun tidak sakit dan hanya sebentar," tambahnya lagi.

dr Yassing kembali menegaskan bahwa pemeriksaan dini atau skrining sangat penting dilakukan satu tahun sekali. Hal ini untuk mencegah terserang kanker serviks sebelum muncul. Karena menurutnya jika sudah positif terdiagnosis kanker serviks, peluang kesembuhan akan menurun, biaya yang dikeluarkan lebih besar hingga penyakit yang makin kompleks.

"Prinsipnya, lakukanlah deteksi dini setahun sekali, kalau punya akses ke pap smear, lakukan. Kalau tidak punya akses, maka melakukan IVA cukup," tutupnya.
07.10 | 0 komentar | Read More

kisaran biaya vaksin hpv

Kanker serviks adalah salah satu kanker paling mematikan pada wanita. Kanker yang disebabkan oleh infeksi HPV (Human Papilloma Virus) ini dapat dicegah dengan vaksin.

Vaksin HPV sangat bermanfaat untuk pencegahan berbagai macam penyakit, termasuk di antaranya kanker serviks. Berdasarkan strain virusnya, terdapat dua jenis vaksin HPV, yaitu vaksin HPV bivalen (2 tipe HPV) dan quadrivalen (4 tipe HPV).

Vaksin HPV bivalen adalah vaksin untuk mencegah infeksi HPV tipe 16 dan 18, yaitu strain HPV yang menyebabkan kanker serviks. Sedangkan vaksin HPV quadrivalen untuk mencegah infeksi HPV tipe 6, 11, 16, dan 18.

"HPV tipe 6 dan 11 itu adalah kutil kelamin (genital warts)," jelas Ketua Himpunan Onkologi Ginekologi Indonesia (HOGI), Prof dr Andrijono SpOG(K) saat dihubungi detikHealth, Senin (12/6/2017).



Kanker serviks dipicu oleh infeksi HPV (Human Papilloma Virus)Kanker serviks dipicu oleh infeksi HPV (Human Papilloma Virus)


Vaksin HPV bisa diberikan pada wanita usia 9-45 tahun dan bisa dilakukan di rumah sakit yang memiliki dokter spesialis kandungan. Dokter seperti ini bergelar SpOG (Spesialis Obstetri dan Ginekologi).

Informasi biaya yang diterima oleh detikHealth untuk vaksin HPV bivalen berkisar antara Rp 600 ribu sampai Rp 800 ribu. Sedangkan untuk vaksin HPV quadrivalen berkisar antara Rp 1,1 juta sampai Rp 1,3 juta.

"Kisaran harganya Rp 600 ribu sampai Rp 700 ribu. Yang quadrivalen nggak jauh beda lah," imbuh Prof Andrijono.

Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan saat ini sudah menggelar program vaksin HPV secara gratis untuk siswi sekolah dasar. Program ini bertujuan untuk mencegah kanker serviks seminimal mungkin.

"Tahun lalu di Jakarta, tahun ini di Jakarta, Surabaya, dan Jogja. Nah tahun besok di tambah di Makassar," pungkas Prof Andrijono.
07.07 | 0 komentar | Read More

kisah orang punya bintik bintik di dada tenryata kanker langka

Written By iqbal_editing on Minggu, 11 Juni 2017 | 00.10

Bila diperhatikan dengan seksama, kulit orang bule sebenarnya tidak sepenuhnya putih, melainkan ada bintik-bintik kemerahan di sekujur tubuhnya. Namun apa yang ditemukan wanita ini agak berbeda.

Rebecca Hockaday menemukan bintik-bintik tak biasa itu di dekat payudaranya. Ia pun tak ambil pusing karena mengira itu karena paparan sinar matahari.

Namun makin lama bintik-bintik itu makin bertambah banyak. Lama-lama Rebecca pun khawatir dan memutuskan mendatangi dokter kulit, enam bulan kemudian.

"Sejujurnya saya berpikir mereka akan mengatakan itu hanya sun spots atau karena penuaan kulit," katanya kepada Today.com.

Nasib berkata lain. Dari hasil biopsi dipastikan bahwa itu adalah kanker, tepatnya inflammatory breast cancer, jenis kanker payudara yang agresif serta langka. Ketika ditemukan, kanker itu telah menyebar ke kelenjar getah bening wanita asal Watkinsville, Georgia tersebut.

"Tak pernah terlintas sekalipun dalam pemikiran saya bahwa itu adalah kanker," tambahnya.




Inflammatory breast cancer (IBC) merupakan jenis kanker yang tidak lazim ditemukan dan ketika muncul, manifestasinya tak seperti kanker payudara pada umumnya, yang biasanya terdeteksi lewat adanya benjolan di payudara.

"Dalam separuh kasusnya tidak ditemukan benjolan atau apapun. Hanya perubahan kulit jadi mudah sekali disalahpahami sebagai infeksi, mastitis atau sejenisnya," terang Dr Jean Wright dari Johns Hopkins Breast Cancer Program.


Lazimnya kanker payudara ditandai dengan benjolanLazimnya kanker payudara ditandai dengan benjolan (Foto: Facebook/Rebecca Schmitt Hockaday)


Selain bintik-bintik, Wright menambahkan bahwa gejala lainnya adalah kulit payudara yang memerah atau pembengkakan. "Karakteristik lainnya adalah ini terjadi begitu cepat. Biasanya satu bulan setelah perubahan signifikan pada kulit payudara Anda," lanjutnya.

Tak berapa lama kemudian, Rebecca segera diarahkan untuk menjalani kemoterapi selama 16 pekan sebelum akhirnya kedua payudaranya harus diangkat. Berikutnya, ia harus bertahan dari pengobatan radiasi yang intens dua kali sehari selama sepekan, kecuali hari Sabtu dan Minggu.

Radiasi itu pun akhirnya merusak kulit dan melemahkan tubuhnya, bahkan sebagian tulangnya patah. Namun pengorbanan itu tak sia-sia. Pada bulan September 2013 lalu atau 10 bulan setelah pengobatan, ibu dua anak itu dinyatakan terbebas dari kanker.

Hanya saja ia masih harus menghadapi sejumlah masalah kesehatan terkait operasi rekonstruksi payudara yang dijalaninya semisal masih adanya infeksi.

Wanita berusia 40 tahun itu juga tetap harus mengonsumsi obat kemoterapi oral dan mendapatkan injeksi bulanan mengingat tingkat kekambuhan IBC terbilang cukup tinggi.

B

Sebagai bentuk antisipasi, dokter kulit Cameron Rokhsar menjelaskan, payudara wanita rentan sekali mengalami iritasi, entah dari kegiatan seperti lari atau menyusui. Tetapi iritasi ini bisa datang dan pergi dengan mudah. Yang perlu diwaspadai adalah ketika iritasi itu tak hilang-hilang selama beberapa hari sebab ini bisa berarti gejala IBC seperti yang dialami Rebecca.

"Jika mereka melihat ada ruam pada payudaranya yang tidak hilang sampai 1-2 pekan, apalagi setelah diolesi krim cortisone, maka temui dokter kulit," pesan Rokhsar yang berpraktik di Mount Sinai Hospital tersebut.

Rebecca menambahkan, inilah mengapa ia membagi kisahnya dan mendorong para wanita untuk proaktif ketika menemukan hal yang tidak lazim pada tubuhnya.

"Anda takkan berpikir sejauh itu, karena saya sendiri tidak merasa kesakitan, tidak ada gejala," tegasnya.
00.10 | 0 komentar | Read More

jenis leukimia yang membunuh batmen 60 an

Adam West, pemeran tokoh Batman di serial TV tahun 1960-an meninggal setelah berjuang melawan leukemia. Meski begitu, belum ada laporan resmi soal leukemia apa yang menyerang aktor berusia 88 tahun itu.

Secara garis besar, leukemia atau yang biasa disebut kanker darah oleh orang awam terbagi menjadi beberapa jenis. Di antaranya adalah acute lymphoblastic leukemia (ALL), acute myeloid leukemia (AML), chronic lymphocytic leukemia (CLL) chronic myeloid leukemia (CML), hairy cell leukemia, dan T-cell prolymphocytic leukemia.

Dari jenis-jenis leukemia tersebut, AML merupakan leukemia yang paling sering ditemukan pada orang dewasa di atas 55 tahun. AML merupakan jenis leukemia yang membuat sumsum tulang belakang menghasilkan myeloblast (salah satu tipe sel darah putih) yang abnormal.


Data dari National Cancer Institute (NCI) Amerika Serikat menyebut sekitar 21.000 orang mengidap AML setiap tahunnya, dengan angka kematian 2,8 per 100.000 penduduk. Penduduk dengan usia 65 hingga 74 tahun berisiko paling tinggi mengalami leukemia jenis ini.

Di sisi lain, risiko kematian terbesar dimiliki oleh penduduk dengan usia 75-84 tahun. Selain itu, leukemia jenis ini juga memiliki angka harapan hidup 5 tahun yang cukup rendah, 26,9 persen.
00.03 | 0 komentar | Read More

NANOKNIFE

Written By iqbal_editing on Senin, 05 Juni 2017 | 03.33

Meningkatkan Harapan Hidup Pasien Kanker Pankreas Stadium Lanjut
Nanoknife adalah teknologi ablasi tumor termutakhir saat ini, menyerang selaput sel kanker menggunakan tegangan tinggi yang dikeluarkan oleh jarum elektroda, membentuk elektroporasi permanen (IRE), merusak keseimbangan sel dan membuat sel mati dalam waktu singkat. Metode ini telah mendapat izin aplikasi klinis dari FDA Amerika, dan telah mendapat pengakuan dari CE (Conformité Europeenne). Sedangkan Departemen Kesehatan di China sendiri mulai menerapkan metode ini pada Juni 2015. St. Stamford Modern Hospital Guangzhou telah menerapkan teknologi NanoKnife pada pengobatan kanker pankreas, kanker hati dan berbagai jenis kanker lainnya, teknologi ini membuahkan hasil yang efektif.
NanoKnife, Meningkatkan Harapan Hidup Pasien Kanker Pankreas Stadium Lanjut
Pada pengobatan kanker pankreas, metode Radiofrequency Ablation (RFA) memiliki risiko komplikasi hingga 28%-40% dan tingkat kematian hingga 7.5%. Sedangkan pengobatan kanker pankreas saat ini memiliki 3 masalah utama : Ablasi yang tidak menyeluruh, kerusakan saluran darah, serta kerusakan dinding usus dan saluran pankreas. NanoKnife tidak memiliki keterbatasan-keterbatasan ini, menggunakan aliran listrik untuk merusak membran sel dan mematikan sel kanker, serta tidak akan merusak jaringan di sekitarnya, seperti saluran darah, saluran usus dan saraf. Berdasarkan data yang dimiliki American Surgical Association (ASA), sebagian besar penerapan NanoKnife pada kanker pankreas akan meningkatkan harapan hidup pasien hingga 2 kali lipat!
Bagaimana NanoKnife Membunuh Kanker?
Jenis Tumor Yang Dapat Ditangani Dengan Nanoknife
Metode Nanoknife cocok diterapkan pada berbagai kasus jenis tumor padat, seperti kanker pankreas, kanker hati, kanker paru, kanker ginjal, kanker prostat dan sebagainya, terlebih pada tumor yang berada di sekitar anus, kandungan dan saluran empedu, pankreas dan saluran kemih.
6 Keunggulan NanoKnife
  • Waktu Ablasi Yang Singkat
Setiap jarum dapat melepaskan tegangan dengan kecepetan 90 mikrodetik, memerlukan waktu tidak sampai 1 menit; pada tumor yang berukuran 3cm memerlukan waktu 5 menit saja.
  • Proses Pengobatan Aman, Terkontrol
Di bawah panduan CT atau MRI, dokter akan menemukan lokasi untuk memasukkan jarum Nanoknife, mengontrol ukuran target ablasi dan setelah ablasi, menganalisa perubahan jaringan di sekitar area ablasi, menjamin hasil pengobatan dan keamanan pasien, serta membantu pemulihan cepat setelah prosedur.
  • Pengobatan Tuntas, Batas Pengobatan Juga Jelas
Tidak peduli letak, ukuran dan bentuk tumor, prosedur ini dapat mengablasi tumor secara sempurna. Batas ablasi pada Nanoknife jelas. Area pengobatan dan area yang tidak dilakukan pengobatan dapat terlihat dengan jelas, tidak ada area yang tidak jelas, serta mengurangi kekambuhan yang tidak terlihat.
  • Melindungi Pembuluh Darah, Saraf, Dan Jaringan Penting Lainnya
Melindungi pembuluh darah, saraf, dan jaringan penting lain di sekitar area pengobatan, tidak akan menyebabkan luka yang tidak dapat dipulihkan. Melalui metode Nanoknife, jaringan hati dan struktur penting seperti arteri hati, vena hati, pembuluh darah portal, saluran empedu intrahepatik akan terlindungi dengan baik.
  • Area Pengobatan Dapat Dengan Cepat Tergantikan Oleh Sel Sehat, Memulihkan Fungsi Normal
Teknologi Nanoknife menginduksi apoptosis sel tumor, menggunakan fungsi kekebalan tubuh, melalui fungsi fagositosis sel-sel kekebalan membersihkan jaringan apoptosis, mendorong proses regenerasi dan perbaikan jaringan normal.
  • Dapat Beradaptasi Dengan Lebih Banyak Kondisi Penyakit
Pada pengobatan konvensional, jika tumor terletak di dekat pembuluh darah besar, saluran empedu, saluran pankreas, arteri hati, dan area berbahaya lainnya, maka tidak dapat dilakukan pengobatan. Namun Nanoknife tidak merusak saluran dan saraf, sehingga dapat melakukan pengobatan dengan aman dan efektif.
03.33 | 0 komentar | Read More

Bila Begini Penanganannya, Kanker pada Anak Masih Bisa Disembuhkan

Kanker adalah penyakit yang sangat mengerikan, apalagi jika terjadi pada anak-anak. Namun menurut peneliti Amerika Serikat, dengan strategi penanganan yang lebih baik, pasien kanker anak dapat hidup lebih lama dan mengurangi risiko masalah kesehatan yang lebih serius.

Menurut pemimpin penelitian ini, Todd Gibson dari Rumah Sakit St. Jude Children's Research di Memphis, pasien kanker pada anak-anak yang mendapatkan penanganan lebih modern seperti pengurangan paparan radiasi atau pemberian dosis kemoterapi yang lebih rendah akan merasakan perubahan yang lebih baik.

Penelitian tersebut didasarkan pada analisis data terhadap 23.600 peserta Childhood Cancer Survivor Study yang didanai oleh National Institutes of Health. Hasilnya, dalam 15 tahun terakhir, diagnosis kanker pada anak turun 8,8 persen pada tahun 1990-an dari yang semula sebesar 12,7 persen pada tahun 1970-an.


Penurunan diagnosis terbesar terjadi pada kasus tumor Wilm's, kanker ginjal langka yang sering terjadi pada anak-anak. Komplikasi serius yang timbul di kemudian hari turun menjadi 5 persen pada tahun 1990-an dari yang semula 13 persen di tahun 1970-an.

Sedangkan pada penyintas penyakit limfoma Hodgkin atau sering disebut kanker getah bening di masa kanak-kanak, tingkat komplikasi serius yang timbul turun menjadi 11 persen dari 18 persen di tahun 1970-an. Hal yang sama juga terjadi pada penyintas astrocytoma (kanker otak) dan leukemia limfoblastik akut, yaitu kanker anak yang paling sering terjadi.

Namun menurut penelitian, tidak ada penurunan risiko masalah kesehatan yang lebih serius untuk jangka panjang pada penyintas kanker neuroblastoma, leukemia myeloid akut, sarkoma jaringan lunak, dan osteoscarcoma.

Perbaikan kondisi juga terlihat pada penyakit yang berkaitan dengan kondisi endokrin seperti diabetes, penyakit tiroid atau kekurangan hormon pertumbuhan. Para peneliti menemukan, masalah endokrin turun menjadi 1,6 persen pada pasien kanker anak yang disurvei di tahun 1990-an dari yang semula 4 persen pada 1970-an.

Munculnya kanker sekunder di kemudian hari juga menurun menjadi 1,6 persen pada 1990-an, dibandingkan dengan 2,4 persen pada 1970-an.

Kondisi gastrointestinal (saluran pencernaan) dan neurologis (otak dan sistem saraf) pada pasien kanker anak juga membaik. Namun, tidak ada tingkat perbaikan pada kondisi jantung atau paru-paru.

"Tidak hanya akan lebih banyak anak yang dapat disembuhkan, namun juga dapat mengurangi risiko masalah kesehatan yang lebih serius di kemudian hari," tambahnya.
02.26 | 0 komentar | Read More

hubungan perut buncit dan kanker

Jangan tenang-tenang saja jika perut Anda sudah mulai membuncit. Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam British Journal of Cancer menyebut perut buncit dapat memicu kanker.

Kesimpulan ini diperoleh peneliti setelah mengamati tujuh studi yang melibatkan total 43.000 orang. Dari hasil pengamatan lanjutan 12 Tahun kemudian diperoleh fakta bahwa lebih dari 1.600 partisipan terserang kanker.

Faktanya, orang dengan lingkar pinggang 10 cm di atas rata-rata berisiko terserang kanker, dengan besaran 13 persen. Pada kasus kanker tertentu, besaran risikonya bisa berbeda, semisal pada orang yang memiliki kelebihan lingkar pinggang sebanyak 8 cm maka risiko kankernya bisa mencapai 15 persen.

Sekadar info, standar lingkar pinggang yang ideal, baik untuk pria maupun wanita adalah berkisar 90 cm. Risiko kanker ini juga berlaku untuk pria maupun wanita.

"Bahkan untuk pria, lingkar pinggang sekitar 102 cm saja sudah meningkatkan risikonya terserang kanker," ungkap peneliti, Heinz Freisling, PhD kepada The Guardian.

Sedangkan untuk wanita, risiko kankernya muncul pada mereka yang berlingkar pinggang sekitar 88 cm.

"Sebab lingkar pinggang adalah penanda utama dari obesitas sentral atau banyaknya lemak yang menumpuk di perut. Nah lemak inilah yang dikatakan lebih berbahaya dari lemak lainnya," terangnya.

Penumpukan lemak perut yang berlebihan bisa memicu kanker dalam berbagai cara. Misalnya kondisi ini dapat menyebabkan peningkatan kadar insulin dan memicu peradangan kronis, yang lama-kelamaan dapat menumbuhsuburkan munculnya sel-sel kanker.


Di sisi lain, Freisling merasa menemukan cara mudah untuk memprediksi risiko kanker dari tingkat obesitas seseorang.

"Anda tinggal mengukur lingkar pinggang Anda dengan meteran. Ini mudah dan Anda sudah bisa tahu risiko apa yang Anda miliki," pesan Freisling.

Jenis kanker yang dikaitkan dengan obesitas di antaranya kanker usus, kanker kerongkongan bawah, kanker perut, kanker hati, kanker kandung kemih dan kanker ginjal.
02.10 | 0 komentar | Read More

hubungan depresi dan peningkatkan angka kematian penderita kanker

Written By iqbal_editing on Kamis, 01 Juni 2017 | 05.55

Jangan abaikan gejala depresi yang Anda miliki, seperti mudah cemas dan mood yang sering turun. Sebab ini bisa berdampak pada risiko kanker Anda.

Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan di Inggris mengungkap, orang dengan gejala depresi berpeluang lebih besar untuk meninggal dunia akibat kanker.

Peneliti dari University College London memastikan hal ini dengan mengamati lebih dari 160.000 pria dan wanita yang awalnya tidak mengidap kanker.

Setelah 10 tahun, 4.353 responden meninggal dunia karena kanker. Peneliti kemudian menemukan keterkaitan yang kuat antara masalah psikis dengan risiko kanker mereka. Mereka yang merasa paling tidak bahagia paling besar peluangnya untuk 'terbunuh' oleh kanker.

"Kami tidak mengatakan bahwa depresi meningkatkan peluang kematian akibat kanker. Namun hasilnya memperlihatkan tingkat kematian pada pasien yang stres secara konsisten jauh lebih tinggi daripada yang tidak," kata peneliti, David Batty seperti dilaporkan The Sun.


Namun peneliti menunjuk ada beberapa jenis kanker yang lebih rentan muncul pada mereka yang terserang depresi, di antaranya kanker usus, prostat, pankreas, esofagus atau kerongkongan dan leukemia atau kanker darah.

Peneliti mengungkap mereka yang depresi mengalami kenaikan risiko kanker usus sebesar 84 persen, prostat 142 persen, pankreas 176 persen, kerongkongan 159 persen dan leukemia hingga 286 persen.

Dalam sebuah acara bedah buku beberapa waktu lalu, dr Ang Peng Tiam dari Parkway Cancer Centre, Singapura menjelaskan, stres kronis maupun depresi dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh, yang salah satu fungsinya adalah melindungi tubuh dari serangan penyakit ringan hingga berat seperti kanker.

"Namun ketika sistem kekebalan tubuh melemah, sel kanker dapat tumbuh menjadi tumor ganas," paparnya seperti diberitakan detikHealth sebelumnya.

Begitu pula dengan risiko kekambuhan kanker. Menurut dr Ang, meski telah dinyatakan sembuh, stres yang dialami penyintas dapat memicu kanker untuk datang kembali. Emosi yang buruk, kata dr Ang, mampu mempercepat pertumbuhan atau penyebaran kanker, walaupun hubungan ini tidak terlihat secara konsisten dalam semua studi.
05.55 | 0 komentar | Read More

studi hubungan durasi tidur dan kanker paru-paru

Written By iqbal_editing on Minggu, 28 Mei 2017 | 21.26

Durasi jam tidur menjadi salah satu faktor penentu kondisi kesehatan seseorang. Nah, baru-baru ini, durasi tidur disebut juga berkaitan dengan risiko seseorang terkena kanker paru.

Memang, merokok menjadi faktor risiko utama kanker paru. Tapi nyatanya, penelitian terbaru dalam Cancer Prevention Research menyebutkan durasi tidur juga memengaruhi risiko terkena kanker paru. Untuk studi ini, peneliti mensurvei lebih dari 42 ribu petani di China tentang kebiasaan tidur mereka selama periode waktu berbeda dalam kehidupannya.

"Kami menemukan pria yang tidur kurang dari 7 jam dari usia 41 sampai 50 tahun 39 persen lebih mungkin meninggal karena kanker paru dibanding mereka yang mendapat waktu tidur 8 jam sehari. Sementara, pria yang tidur lebih dari 10 jam sehari selama tahun-tahun tersebut dua kali lebih mungkin meninggal karena kanker paru," kata salah satu peneliti, dikutip dari Men's Health.

Pada prinsipnya, kurang tidur atau terlalu lama tidur disebutkan bisa meningkatkan risiko kematian akibat kanker paru. Hubungan ini dikatakan paling terlihat saat melihat kebiasaan tidur pria di pertengahan usia lanjut.


Dalam studi ini, peneliti juga mempertimbangkan hal lain yang bisa meningkatkan risiko kanker paru. Misalnya, riwayat merokok di mana sebagian besar responden adalah perokok, kemudian berapa lama mereka merokok dan apakah mereka memakai batubara untuk pemanasan atau memasak.

"Setelah disesuaikan, hubungan antara durasi tidur dengan kematian akibat kanker paru tetap ada," ujar peneliti.

Sulit tidur atau terlalu lama tidur bisa menyebabkan kacaunya kadar hormon dalam tubuh yang menyebabkan terganggunya imunitas serta sistem metabolisme tubuh. Peneliti mengatakan hormon tidur melatonin terlah terbukti memiliki sifat yang dapat menghalangi pembelahah sel yang tidak diatur yang bisa jadi faktor pendorong berkembangnya sel kanker.

Meski demikian, peneliti menegaskan bahwa penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengonfirmasi hubungan durasi tidur dengan risiko kanker paru dikaitkan dengan populasi di daerah tertentu.
21.26 | 0 komentar | Read More

hubungan implan payudara dan kanker payudara

Written By iqbal_editing on Jumat, 19 Mei 2017 | 03.17

a, Implan payudara meski relatif aman namun pada beberapa kasus dilaporkan bisa menjadi pemicu kanker. Oleh karena itu masyarakat sebaiknya berhati-hati dan mengetahui faktanya.

Kondisi kanker karena implan payudara tersebut dalam dunia medis diketahui bernama Anaplastic Large-Cell Lymphoma (ALCL). Angka prevalensinya belum diketahui pasti namun Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat mendeskripsikannya sebagai 'kasus yang sangat langka'.

B

ALCL sendiri sebetulnya bermula dari sel darah putih bernama sel-T yang bertugas melawan infeksi. Ketika implan masuk ke tubuh, kadang ada bakteri yang bisa ikut masuk sehingga memicu sel-T untuk melawannya menciptakan inflamasi tingkat rendah.

Anand Deva dari Health Sciences Centre Macquarie University menjelaskan ketika 'pertempuran' ini terjadi dalam waktu panjang, maka lama kelamaan bisa terjadi mutasi dan akhirnya muncullah kanker.

"Sekali ada prostetik yang terkontaminasi dalam tubuh Anda, ini akan sulit dihilangkan. Iritasi yang disebabkannya akan berlangsung terus-menerus, dan dari waktu ke waktu bisa merangsang sistem imun untuk kemudian mendorong sebagian sel menjadi kanker," jelas Anand seperti dikutip dari ABC Australia, Jumat (19/5/2017).

Kebanyakan kasus kanker payudara karena implan ini baru diketahui oleh seorang pasien dua hingga 28 tahun setelah operasi. Gejalanya bisa berupa pembengkakkan, penumpukan cairan, hingga muncul benjolan pada payudara atau ketiak.
03.17 | 0 komentar | Read More
 
berita unik