Entri Populer

Welcome Guys

Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog

Tampilkan postingan dengan label bedah syaraf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bedah syaraf. Tampilkan semua postingan

Kisah Bayi Kembar Tiga dengan Kelainan Tengkorak Langka

Written By iqbal_editing on Rabu, 03 Mei 2017 | 23.30

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, ada tiga bayi kembar yang kesemuanya memiliki kelainan pada tulang tengkoraknya dan kemudian menjalani operasi rekonstruksi secara bersamaan.

Di bulan Oktober 2016 lalu, si kembar Hunter, Jackson dan Kaden Howard terlahir dengan sebuah kelainan tengkorak yang disebut craniosynostosis, di mana tulang tengkoraknya tidak terbentuk dengan sempurna.

Yang menarik dari kasus mereka adalah craniosynostosis sendiri tergolong kelainan langka, yaitu diperkirakan hanya terjadi pada 1 dari 2.000 kelahiran. Lebih dari itu, sebelumnya belum pernah ditemukan bayi kembar tiga yang ketiganya mengalami craniosynostosis seperti ini.

"Anda bisa lihat, kepala mereka tampak agak janggal," kata sang ibu, Amy (38)

Untungnya Januari lalu, ketiganya memperoleh kesempatan untuk menjalani operasi rekonstruksi di Stony Brook Hospital, New York. Tim medis di rumah sakit ini juga mengaku baru kali ini menemui kasus craniosynostosis pada bayi kembar tiga.


Kisah Bayi Kembar Tiga dengan Kelainan Tengkorak LangkaFoto: facebook


Namun tim dokter memperkirakan peluang terjadinya craniosynostosis pada bayi kembar tiga hanya mencapai 1 dari 500 triliun. Yang lebih istimewa lagi, ketiganya bukanlah kembar identik.
 

Persoalannya, craniosynostosis dapat mengakibatkan hilangnya penglihatan atau terbatasnya pertumbuhan otak, karena itu harus mendapatkan penanganan secepatnya.

"Intinya otak anak berada di bawah tekanan, ini bisa membahayakan otak, penglihatan maupun masa depannya. Memang tidak mengancam nyawanya, tetapi konsekuensi ke depannya sangat nyata," terang salah satu anggota tim dokter yang juga ahli bedah saraf anak, dr David Chesler.

Amy pun mengaku sempat gugup ketika mengetahui ketiga bayinya yang saat itu baru berumur 11 pekan harus menjalani tindakan operasi. "Sangat ngeri membayangkan anak Anda yang masih bayi menjalani operasi," tuturnya seperti dilaporkan Today.

Operasi ketiganya berlangsung lancar pada bulan Januari lalu. Chesler menjelaskan, ia dan timnya hanya perlu membuat irisan kecil di kepala masing-masing anak, serta menggunakan sebuah endoskop dan scalpel, mereka memotong sebagian kecil tulang tengkorak ketiganya untuk memisahkan bagian tulang yang telah menyatu.

Chesler mengatakan bentuk kepala ketiganya yang mirip almond telah hilang. "Tiga bulan berikutnya bentuknya sudah bundar dan bagus," timpalnya.

Amy mengaku senang karena ketiga putra mereka sudah diperbolehkan pulang hanya berselang dua hari setelah operasi.

Meski demikian, ketiganya masih harus mengenakan helm khusus selama 6-9 pekan untuk membentuk tengkorak mereka. "Tetapi mereka tidak terganggu dengan helm-helm itu," tambah Amy.
23.30 | 0 komentar | Read More

profil dr eka julianta wahkoepramono

Written By iqbal_editing on Kamis, 19 Januari 2017 | 07.09

Prof. Dr. Dr. dr. Eka Julianta Wahjoepramono, SpBS, Ph.D. (lahir di Klaten, Jawa Tengah, 27 Juli 1958; umur 58 tahun) adalah seorang dokter dan guru besar dengan spesialisasi bidang bedah syaraf (neurosurgeon). Ia merupakan dokter pertama yang mendapat rekor dari Museum Rekor Indonesia dan namanya juga tercatat sebagai dokter pertama dan satu-satunya di Indonesia yang berhasil membedah batang otak pasien[1].
Dokter yang menjabat sebagai Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan ini juga berhasil mendapat gelar guru besar dari Fakultas Ilmu Hukum dan Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan[2]. Penetapan ini tertuang dalam Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No 11791/A4.5/KP/2010 tertanggal 1 Februari 2010. Penganugerahan gelar guru besar dilakukan oleh Rektor UPH Jonathan Parapak dan disaksikan langsung Presiden of World Federation Neurosurgical Societies, Harvard Medical School, Prof Peter Black di The Grand Capel UPH, Lippo Village, Tangerang.
Prestasi Prof. Eka membedah otak, berawal pada 20 Februari 2001, ketika ia berhasil membedah batang otak seorang pasien yang tidak mampu bernama Ardiansyah. Ardiansyah adalah warga Merak, Banten yang berprofesi sebagai buruh nelayan. Ia di diagnosis, terkena tumor kavernoma yang telah pecah di pons atau batang otak. Terdorong oleh belas kasihan, dr. Eka memberanikan diri untuk membedah batang otak tersebut, dengan risiko yang sangat besar, kematian atau lumpuh. Saat itu tidak pernah ada dokter yang berani untuk melakukan pembedahan batang otak. Selain Ardiansyah, ia juga berhasil membedah pasien Jumiati di Rumah Sakit Siloam Hospital, Tangerang, Banten. Prestasinya inilah yang tercatat dalam sejarah dunia, bahwa dr. Eka Julianta Wahjoepramono, adalah dokter bedah pertama di dunia yang melakukan operasi batang otak[3].
Selain mendidik dokter muda melalui Fakultas Kedokteran UPH, ia juga melakukan beberapa penelitian. Diantaranya perkembangan penyakit alzheimer, bekerja sama dengan Prof Ralph Nigel Martins, ia berusaha menemukan cara untuk menangani penyakit yang satu ini[4].

Daftar isi

Keluarga dan masa kecil

Ia adalah anak sulung dari lima bersaudara, masa kecilnya banyak dihabiskan di Klaten dalam keluarga yang kurang mampu. Sepulangnya dari sekolah, ia harus membantu ibunya menjaga warung dan mengawasi adik-adiknya sambil belajar. Sejak kecil ia sudah bercita-cita menjadi dokter, dan setelah tamat SMA, ia mencoba mengikuti ujian penyaringan secara bersamaan di Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Airlangga (Unair), dan Institut Teknologi Bandung (ITB), tetapi ditolak. Ia mencoba lagi di Universitas Diponegoro (Undip) dan berhasil. Dibantu oleh pamannya ia berhasil memyelesaikan sekolah nya di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang.
dr. Eka menikah dengan dr. Hannah Kiaty Taty Damar, Sp.KK dan memiliki tiga orang anak yang bernama Petra Octavian Perdana Wahjoepramono, Nicolaus Novian Dwiya Wahjoepramono, dan Graciella Noviana Triya Wahjoepramono. Ketiga anak dr. Eka menempuh bidang pendidikan kedokteran.

Pendidikan

Karier

  • Kepala Neuro Science Center, RS Siloam Hospital, Lippo Village, Tangerang[5]
  • Honorary President 6th Asian Conference of Neurosurgical Surgeon (ACNS) 2006
  • Visiting Professor di Harvard University Medical School
  • Visiting Professor Fakultas Kedokteran Universitas Arkansas
  • Visiting professor di Taiwan National University

Organisasi

  • Pendiri World Academy of Neurological Surgeons (2006),
  • Pendiri Yayasan Otak Indonesia (2003)
  • Duta Besar “World Federation of Neurological Rehabilitation”
07.09 | 0 komentar | Read More

PENGALAMAN OPERASI TULANG BELAKANG ( LAMINECTONOMY

Written By iqbal_editing on Rabu, 14 September 2016 | 05.00

Menjalani Operasi Tulang Belakang (Laminectomy) – Sebuah Testimoni Penderita Chiari-Malformation Type I

Menjalani Operasi Tulang Belakang (Laminectomy) – Sebuah Testimoni Penderita Chiari-Malformation Type I
9 September 2010 saya menjalani pemeriksaan MRI di RS Boromeus Bandung, dokter yang menganalisa hasil MRI saya adalah dr. Tan Siauw Koan SpRad, salah seorang yang hebat dibidangnya.  Saking sibuknya, dokter yang satu ini tidak bisa lagi melayani pasien untuk konsultasi.
15 September 2010, ambil hasil MRI dan konsul ke dr. Bing Haryono SpS di RS Immanuel Bandung, dari situ baru tahu kalau saya mengidap chiari-malformation type I  yang disertai shyringomyelia.  Kemudian saya dirujuk ke dokter spesialis bedah orthopedi spinal, tapi saya tidak menemuinya.
Mulai saat itu saya berusaha untuk mengumpulkan keberanian menghadapi tindakan operasi / surgery dan mencari semua informasi dari internet yang berkaitan dengan chiari-malformation type I.  Dari beberapa literatur yang saya baca, semuanya mengarahkan bahwa treatment untuk kasus ini adalah dengan melakukan tindakan surgery oleh neuro-surgereon.  Makanya saya tidak mendatangi dokter spesialis bedah orthopedi spinal, seperti yang di rekomendasikan oleh dokter saraf saya itu.

*) Gambar diambil dari http://www.mayoclinic.com
Apa itu chiari-malformation type I ?   Chiari-malformation type I adalah semacam kalainan bawaan, dimana cereberal-tonsil (bagian dari otak kecil) turun di bawah foramen-magnum (lubang kecil di bagian bawah tulang tengkorak, tempat keluarnya spinal-cord).  Semacam herniasi otak kecil di saluran sumsum tulang belakang, sehingga menimbulkan tekanan di sumsum atau spinal-cord tersebut.  Hal inilah yang menyebabkan timbulnya shyring di bagian lain sumsum tulang belakang.
27 September 2010, konsultasi ke dokter spesialis saraf di RSPAD Gatot Subroto Jakarta (dr. Tugas SpS), diberi tahu apa itu shyringomyelia dan kenapa hal ini bisa terjadi.
28 September 2010, konsultasi ke dokter spesialis bedah saraf di RS St. Boromeus Bandung (dr. Beny Atmaja SpBS), diberi tahu treatment yang akan ditempuh, penjelasan mengenai efek-efek shyringomyelia.  Ternyata dalam sumsum tulang belakang banyak urat saraf yang bersliweran, sehingga timbulnya shyring dapat mengganggu urat-urat saraf tersebut.  Dan bila pada satu bagian shyring tersebut membesar (sampai ukuran diameternya sama dengan diameter sum-sum tulang belakang), resikonya bisa menimbulkan kelumpuhan.  Kerusakan saraf yang disebabkan oleh shyring bersifat permanen dan berjalan sangat lambat, semoga shyring yang ada di sumsum tulang belakang saya belum sampai merusak sistem saraf di tubuh saya.

*) Gambar diambil dari http://www.mayoclinic.com
2 Oktober 2010, konsultasi dengan dokter spesialis bedah saraf RSPAD Gatot Subroto (dr. Djoko Riadi SpBS), treatment yang akan diambil oleh dokter ini sama persis dengan apa yang akan dilakukan oleh dr. Beny AW SpBS.
5 Oktober 2010, saya kembali ke dr. Beny AW SpBS, saya putuskan untuk melakukan tindakan surgery dengan beliau di RS St. Borromeus.  Saat itu saya buat jadwal untuk tindakan surgery seminggu kemudian, perkiraan saya sekitar tanggal 13 Oktober 2010.  Dan beliau sepakat.
Mulai hari itu, sampai tanggal 11 Oktober 2010, saya menyelesaikan semua administrasi di kantor agar tindakan operasi dapat dilakukan di Bandung, tepatnya di RS St. Borromeus.  Di tanggal 11 itu pula, saya sudah mulai ’booking kamar’ di Borromeus.  Namun saya baru bisa masuk kamar tanggal 12 Oktober 2010 jam 14.30.  Seorang yang nampak sehat dan ’gagah perkasa’ masuk ke ruang opname😀 untuk menjalani operasi tulang belakang, sesuatu yang tidak pernah terbayangkan oleh saya.
Karena sudah terlalu sore dan saya baru bisa bertemu dengan dr. Beny SpBS pada pukul 23.00, akhirnya kami sepakati tindakan surgery diundur satu hari menjadi tanggal 14 Oktober 2010 jam 13.00 WIB.  Tanggal 13 Oktober 2010 digunakan untuk pemeriksaan dan persiapan pra-surgery.   Untuk penanganan pra dan pasca operasi, saya diminta untuk menentukan dokter spesialis penyakit dalam, dan saya memilih dr. H. Edwin Setiabudhi SpD.
Akhinya, tibalah saat yang sudah kami sepakati.  14 Oktober 2010 jam 13.00 saya mulai didorong ke ruang operasi.  Secara singkat, operasi yang akan saya jalani adalah posterior-fossa-craniectomy, cervical laminectomy dan menambal dura (selaput pelindung cairan otak, yaitu pelindung otak yang paling luar sebelum tulang tengkorak).  Secara keseluruhan, dapat disebut ’decompresi’ atau kalau dokter lain menyebutnya laminectomy yang bertujuan untuk mengurangi tekanan cereberal-tonsil ke arah spinal-cord.  Menyebut laminectomy, ternyata sebuah operasi besar yang sangat beresiko.  Padahal saya beranggapan bahwa operasi ini tidak akan berisiko, nyatanya justru lain.  Sehari sebelum masuk opname, salah seorang dokter perusahaan mengingatkan aku, apakah sudah benar-benar dipikirkan ?  Karena resiko yang akan dihadapi adalah kegagalan fungsi / sistem pernafasan, akibat terjadinya trauma di sekitar cervical (C-1).  Kalau sistem pernafasan sudah berhenti…berarti sudah tidak jauh dari yang namanya kematian. Hi… makin tambah takut.  Tindakan operasi baru dilakukan sekitar jam 14.30, namun jam 14.00 saya sudah tidak ingat apa-apa lagi, lha wong sudah dibius total.  Segala doa saya panjatkan sebelum operasi, agar oprasi berjalan lancar dan sukses dan yang terpenting saya bisa sadar kembali dari ketidaksadaran saya saat operasi.  Sekitar jam 17.00 operasi selesai, dokter sudah menghubungi keluarga saya yang menuggu di luar ruang operasi.  Tapi saya masih belum sadarkan diri.  Begitu saya sadar, tim di ruang operasi memberitahu, kalau operasi sudah selesai, dan saya panjatkan ’doa bangun tidur paling berarti dalam hidup ku’.  Dokter mengatakan bahwa sekitar 30 menit lagi saya akan dipindahkan ke ruang perawatan.  Namun hampir 3 jam saya belum juga dipindahkan ke dari ruang operasi, malah harus menjalani observasi dulu di ruang khusus.  Keluarga bertambah shock mendengar hal ini.  Saya keluar dari ruang operasi sekitar pukul 19.45 dan di-observasi di ruangan stroke unit.  Observasi bisa berlangsung satu atau dua hari, tergantung kondisi tubuh saya.
Keesokan harinya, 15 Oktober 2010 pagi, dokter penyakit dalam saya datang untuk visite, beliau menyalami saya sambil mengatakan : “Hebat…Mantap…!”  Saya belum mengerti maksud perkataannya tersebut, namun beliau menyatakan bahwa masa observasi saya sudah lewat, saya bisa segera dipindahkan ke ruang perawatan.  Tidak lama kemudian dokter bedah saraf saya juga datang untuk visite, saya sampaikan terima kasih yang tak terhingga, sejujurnya inilah ungkapan terima kasih paling tulus yang pernah saya ucapkan (selain kepada kedua orang tua ku).  Experience dan profesionalitas dr. Beny lah yang membuat saya bisa menjalani operasi dengan lancar, sukses dan tentunya saya masih bisa selamat dari resiko berat operasi yang telah saya jalani ini.  Bebarapa kejadian penting yang bisa saya ingat selama di ruang observasi adalah, saat alarm berbunyi yang menandakan bahwa saya tidak menghirup nafas untuk jangka waktu yang cukup lama (minimal 10 kali tarikan nafas dalam satu menit).  Hal ini terjadi sebanyak tiga kali, dan yang terakhir saya tidak menghirup nafas sekitar 20 detik.  Akhirnya sore itu saya pindah kembali ke ruang perawatan.
Tanggal 16 Oktober 2010 pagi, dokter penyakit dalam saya visite ke ruang perawatan.  Kali ini beliau cerita, kenapa saya harus melalui masa observasi pasca operasi.  Ternyata beliau lah yang menginginkan hal itu.  Sebab beliau punya pengalaman buruk, beberapa tahun lalu rekannya menjalani operasi yang hampir sama dengan yang saya jalani.  Rekannya tersebut menjalani operasi laminectomy, setelah operasinya dinyatakan selesai, ternyata terjadi pendarahan dan hal ini tidak diketahui, hingga akhirnya meninggal dunia.  Itulah sebabnya saya harus menjalani masa observasi, ditambah lagi dokter bedah saraf saya tidak meminta persedian darah selama operasi dan setelah operasi.  Dokter penyakit dalam saya, agak riskan dengan hal ini, walaupun beliau cukup kagum dengan profesionalitas dokter bedah saraf saya.  Dan ungkapan “Hebat … Mantap…!” yang disampaikannya hari kemarin, sepertinya beliau tujukan untuk dokter bedah saraf saya itu.  Beliau menambahkan lagi, bahwa selain beresiko terjadinya pendarahan, beliau juga sepakat bahwa operasi ini bisa menyebabkan kegagalan sistem pernafasan dan juga jantung.  In case terjadi trauma, bisa dibayangin kalau yang terjadi kegagalan sistem pernafasan atau jantung tiba-tiba berhenti…  Semua berujung pada kematian…  Dan beruntung, saya bisa melalui semuanya dengan selamat.  Dan semoga tidak akan timbul resiko atau komplikasi lain akibat dari operasi yang saya jalani ini, di masa yang akan datang.
Aku menjalani perawatan di rumah sakit sampai dengan hari ke-7 pasca operasi, setelah semua jahitan dilepas dari luka bekas operasi.  Saat ini saya masih menjalani masa pemulihan di rumah, rencananya tanggal 1 Nopember 2010 nanti saya akan memulai aktivitas saya kembali untuk bekerja di kantor.  Walaupun saat ini rasanya saya belum 100 % pulih, karena masih terasa sakit di leher saya bila terlalu lama tegak (duduk atau pub berdiri), namun saya akan mencoba untuk memaksimalkan sisa waktu istirahat saya agar saat memulai bekerja nanti, saya sudah benar-benar fit.
Dari hasil yang saya peroleh dalam kasus saya ini, ada beberapa point penting yang ingin saya sampaikan kepada orang lain, terutama bagi sesama penderita chiari-malformation type I :
  1. Saya merasa beruntung karena hasil MRI saya dibaca oleh dr. Tan Siauw Koan SpRad.  Kasus yang saya alami adalah kasus yang sangat langka, dimana peluang terjadinya antara 1 : 1000 s/d 1 : 5000.  Namun beliau dapat memberikan diagnosa yang tepat dan rinci mengenai kasus yang saya alami, lengkap dengan ukuran herniasi dan besarnya diameter shyring yang ada di sumsum tulang belakang saya.
  2. Saya juga pantas merasa beruntung karena memilih dr. Beny Atmaja W. SpBS.  Profesionalitas dan experience beliau dalam menangani kasus chiari-malformation type I, telah membuat operasi yang saya jalani bisa berjalan dengan lancar dan sukses.
Pemilihan dokter yang tepat, akan sangat menentukan hasil diagnose dan treatment dari kasus / penyakit yang kita derita.
Semakin maju ilmu kedokteran, akan semakin meningkatkan kualitas hidup umat manusia.  Karena untuk itulah tujuan ilmu kedokteran…
Dan setiap hari saya terbangun dari tidur, selalu saya berharap agar kualitas hidup saya menjadi semakin baik….  Amien…!
Terakhir, saya bukanlah seorang dokter, apabila ada istilah atau persepsi saya yang keliru tentang kasus yang saya alami ini, mohon dimaafkan.  Dan semoga testimoni ini berguna buat saya dan orang lain, yang kemungkinan menghadapi kasus chiari-malformation type I.
Tidak lupa ucapan terima kasih saya kepada kedua orang tua dan keluarga saya, semua dokter yang terlibat dalam menangani kasus saya, dan semua rekan / handai taulan yang telah memberikan doa dan dukungan kepada saya sehingga saya bisa melewati semua yang saya alami dengan lancar dan sukses.  Segala puji saya panjatkan kehadirat Allah swt, atas segala limpahan karunia, rahmat dan hidayah-Nya kepada kami sekeluarga.
Dalam tulisan ini saya memuat beberapa nama dokter atau rumah sakit yang menangani kasus saya, tidak ada maksud apa pun dari semua tulisan ini, selain saya ingin berbagi dengan orang lain yang mungkin mengalami kasus yang sama dengan yang saya alami.  Karena saat saya mencari informasi mengenai kasus chiari-malformation ini, sangat jarang testimony yang ditulis oleh orang Indonesia. Dan apabila ada yang tidak berkenan dengan tulisan ini, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.  Sekali lagi, semoga berguna dan bermanfaat.
05.00 | 1 komentar | Read More

melomeningocele

Written By iqbal_editing on Senin, 08 Agustus 2016 | 00.36

A. Definisi


Mylomeningocele adalah kelainan spinal bawaan kompleks yang menyebabkan perubahan tingkat cacat otot spinal atau melodysplasia. (Article, April, 2006)

Myelomeningocele adalah suatu kerusakan kongenital yang terjadi di saluran sum-sum tulang belakang dan tulang punggung akibat dari tidak tertutup sebelum lahir. Kondisi ini termasuk kondisi dari spina bifida. (Artikel Kesehatan, Maret, 2008)


Mielomeningokel menggambarkan bentuk disrafisme yang paling berat yang melibatkan kolumna vertebralis dan terjadidengan insiden sekitar 1/1000 kelahiran hidup.

B. Etiologi

Penyebab mielomeningokel tidak diketahui secara pasti, namun sebagaimana halnya semua defek penutupan tuba neuralis, ada predisposisi genetik, antara lain sebagai berikut ;

- Resiko berulang setelah seseorang terkena meningkat dari 3-4 % dan meningkat sampai sekitar 10% pada dua kehamilan abnormal sebelumnya.
- Faktor nutrisi dan lingkungan.
- Faktor maternal.

Kejadian mielomeningokel kira-kira 75 % dari seluruh penyebab spina bifida dan perbandingannya adalah 1: 800 kelahiran hidup.

C. Patofisiologi



Cacat pembuluh neural adalah hasil proses teratogenic yang menyebabkan kerusakan penutupan dan perbedaan abnormal pembuluh neural embrio selama empat mingu pertama usia kehamilan. Keadaan kerusakan pembuluh neural adalah anencephaly dan myelomeningocele. Anencephaly dihasilkan dari kerusakan penutupan anencephaly arirostral akhir pembuluh neural, hasil formasi inkomplit otak dan tengkorak. Myelomeningocele dihasilkan dari kerusakan penutup caudal akhir pembuluh neural, dihasilkan pada pembukaan luka atau kantong yang berisi otot spinal dysplastic, akar syaraf, tulang belakang punggung, dan kulit. Tingkat anatomik kantong myelomeningocele kira-kira berhubungan dengan neurologi, motorik dan defisit sensor pasien.



Myelomeningocele sering terjadi dengan bawaan anomalis sistem ganda. Kelompok anomalis biasanya bermuka pucat, malformasi hati, dan anomalis sistem pencernaan. Anomali saluran kemih, seperti gagal ginjal atau tidak terbentuknya saluran kencing, kemungkinan meningkatkan mordibitas dalam adanya disfungsi kandung kemih neurogenic.

D. Manifestasi klinis

Keadaan ini menghasilkan disfungsi banyak orgfan dan struktur, termasuk skeleton, kulit dan saluran genitourinaria, disamping sistem syaraf perifer dan CSS (Sistem Cerebro Spinal). Mielomeningokel mungkin beradea disuatu tempat sepanjang aksis saraf, namun daerah lumbosakral menyebabkan seridaknya 75 % kasus. Luas dan tingkatnya defisi neurologis tergantung pada lokasi mielomeningkel. Lesi pada daerah sakrum bawah menyebabkan inkontinensia usus besar dan kandung kencing dan disertai dengan anestesi pada daerah perineum namun tanpa gangguan fungsi motorik.
E.komplikasi
1. Neurologic, seperti hidrosefalus, radang selaput otak/meningitis dsb
2. Orthopedic, seperti kelemahan atau kelumpuhan kaki permanen
3. Urologic, hilangnya kendali VU.
4. Gastrointestinal.
00.36 | 0 komentar | Read More

bedah syaraf streotatik

PEMBEDAHAN radiasi stereotaktik (stereotactic radiosurgery) merupakan bentuk khusus dari terapi radiasi. Berbeda dengan teknik pembedahan konvensional, bedah radiasi stereotaktik tidak membuka (non invasif) organ dan tidak nyeri.

Bedah radiasi streotaktik memfokuskan sinar radiasi dosis tinggi pada lokasi kecil di organ tubuh (kebanyakan di otak). Bedah radiasi stereotaktik ini biasanya dipakai dalam pengobatan tumor otak kecil dan tumor pada syaraf tulang belakang. Juga dapat digunakan pada kelainan pembuluh darah di otak.

Umumnya radiasi dipakai sebagai bagian dari terapi untuk berbagai jenis tumor. Karena radiasi dapat memberikan efek tidak hanya pada tumor namun juga pada sel-sel normal, maka dibuat radiasi stereotaktik yang berfokus pada zona radiasi dosis tinggi hanya pada area target. Penatalaksanaannya melibatkan spesialis bedah syaraf, spesialis radiologi konsultan onkologi dan terapis radiasi.


Sebelum dilakukan prosedur bedah radiasi stereotaktik, penderita akan diberikan steroid (untuk mencegah pembengkakan otak) dan obat anti kejang. Beberapa tipe radiasi stereotaktik memakai bingkai kepala (head frame) yang ringan dan kak. Terdapat skrup yang melekat pada tengkorak (disebut pin). Bingkai ini akan menentukan lokasi tumor dan membuat kepala tidak bergerak selama prosedur dilakukan.

Terdapat juga metode bedah radiasi stereotaktik yang tidak menggunakan frame/bingkai, namun memakai face mask atau dental impression system agar kepala tidak bergerak. Untuk melokalisir target digunakan X Ray atau CT Scan. Radiasi diberikan dengan suatu alat yang ditempelkan dengan lokasi dari tumor otak.

Beberapa efek samping dari terapi ini adalah pembengkakan otak (edema), mual, muntah, hoyong, dan kebotakan pada area radiasi.
00.32 | 0 komentar | Read More

pemeriksaan yang biasanya diperlukolan oleh dr bedah syaraf

  • Pencitraan tomografi komputer dengan bantuan komputer, atau lebih dikenal sebagai CT Scan
  • Magnetic Resonance Imaging atau MRI
  • Tomografi Emisi Positron atau PET
  • Magnetoencephalography atau MEG
  • Bedah radio stereotaktik
00.24 | 0 komentar | Read More

perkembangan operasi oleh bedah syaraf


Selain kategori yang disebutkan diatas, bedah saraf juga melibatkan penggunaan berbagai metode bedah untuk memeriksa dan mengobati kondisi saraf. Dalam beberapa tahun terakhir, telah terjadi pergeseran dari metode bedah saraf konvensional dengan metode alternatif yang lebih modern. Sementara metode konvensional membutuhkan bedah terbuka dimana dokter bedah membuka tengkorak untuk menjangkau otak, metode yang baru saja dikembangkan saat ini memungkinkan dokter bedah untuk melakukan pembedahan dalam mengatasi penyakit saraf melalui celah kecil. Metode ini menggunakan mikroskop, endoskop, dan yang paling baru, metode neuroradiologi. Saat ini, teknik bedah terbuka biasanya dilakukan untuk kasus trauma atau keadaan darurat.
Bedah mikro, atau bedah saraf mikroskopis, yang menggunakan teknologi mikroskopis untuk memungkinkan dokter bedah mengobati daerah yang sakit pada otak melalui lubang kecil, yaitu hanya dengan memperbesar daerah perawatan. Saat ini, bahkan tindakan bedah kompleks seperti penjepitan aneurisma atau tulang belakang seperti mikrodisektomi atau laminektomi dapat dilakukan melalui bedah mikroskopis, yang membuat perawatan bedah saraf menjadi lebih rendah risiko.
00.23 | 0 komentar | Read More
 
berita unik