Entri Populer

Welcome Guys

Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog

Tampilkan postingan dengan label gigi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gigi. Tampilkan semua postingan

Gigi Anda Sering Terasa Ngilu? Cari Tahu Solusinya di Sini

Written By iqbal_editing on Senin, 04 September 2017 | 18.30

Makanan manis seperti es krim, donat, cheesetart, dan sejenisnya memang menjadi incaran utama ketika sedang pergi ke mall. Namun pernahkah gigi Anda merasa ngilu saat sedang mengunyah makanan manis? Sebaiknya segera cari tahu penyebabnya.

Masalah gigi sensitif sepertinya masih sering diabaikan oleh banyak orang. Hal itu karena rasa ngilu yang timbul akibat gigi sensitif hanya muncul sejenak, kemudian langsung menghilang begitu saja.

Faktanya, orang yang memiliki masalah gigi sensitif rentan merasa ngilu di gigi mereka ketika sedang mengonsumi makanan manis, dingin, panas, hingga asam. Rasa ngilu yang tidak tertahankan, bisa saja mengganggu aktivitas mereka.


Orang-orang yang biasanya mengalami masalah gigi sensitif, yaitu mereka yang memiliki usia produktif antara 20-50 tahun.Di usia produktif, banyak orang menghabiskan waktu hangout bersama teman-temannya dan menjajal aneka makanan dan minuman.

Masalah gigi sensitif sendiri disebabkan hilangnya lapisan email yang mengakibatkan dentin terbuka. Masalah itu muncul karena dipicu dari gaya hidup yang gemar mengonsumsi makanan dan minuman panas, dingin, asam, serta manis, dan sikat gigi terlalu keras.

Dilansir dari penelitian Ipsos tahun 2011, sekitar 45% orang Indonesia menderita gigi sensitif dan merasakan gigi ngilu pada saat mengkonsumsi makanan panas, dingin, dan manis. 52% di antaranya tidak menyadari bahwa gigi mereka sensitif dan tidak pernah konsultasi ke dokter gigi.

Sebaiknya, mulailah mengurangi kebiasaan mengonsumsi makanan panas, dingin, asam, dan manis yang dapat memperparah kondisi gigi. Selain itu, mulailah jaga kebersihan gigi dan mulut dengan menggunakan pasta gigi yang tepat saat menggosok gigi.

Untuk membantu Anda mengatasi rasa ngilu akibat gigi sensitif, Sensodyne menghadirkan Teknologi Novamin (formula kalsium) dalam pasta gigi Sensodyne Repair dan Protect.

Gigi Anda Sering Terasa Ngilu? Cari Tahu Solusinya di Sini
Teknologi Novamin dalam pasta gigi Sensodyne Repair and Protect, mampu melindungi lapisan gigi dari lubang-lubang sangat kecil. Terutama lubang kecil yang menyebabkan gigi ngilu dengan membentuk ulang mineral alami dari gigi 60% lebih kuat dibandingkan lapisan gigi normal.

Berikan perlindungan lebih kuat pada gigi anda agar terhindar dari rasa ngilu dan bebas dari gigi sensitif. Gunakan Sensodyne Repair and Protect dengan formula baru sekarang juga.

Punya masalah gigi sensitif? Segera atasi dengan Sensodyne Repair and Protect. Dapatkan Sensodyne Repair and Protect dengan mudah di sini.

Sensodyne, kategori penjualan pasta gigi untuk gigi sensitif no.1** di Indonesia.

**Perhitungan dan klaim PT Sterling Products Indonesia berdasarkan data laporan Nielsen Retail Index untuk kategori pasta gigi varian gigi sensitif di pasar pada area perkotaan Indonesia dalam periode 12 bulan yang berakhir di bulan Agustus 201
18.30 | 0 komentar | Read More

Sederhana, Begini Saran Dokter untuk Redakan Sariawan

Written By iqbal_editing on Jumat, 25 Agustus 2017 | 16.22

Sariawan memang bukan penyakit yang serius, tetapi kondisi ini kerap mengganggu karena menyulitkan untuk makan dan berbicara. Sariawan sendiri disebabkan oleh beberapa faktor, seperti stres, luka di mulut akibat tergigit, genetik, serta siklus haid.

Diutarakan oleh Dr drg Febrina Rahmayanti SpPM, dokter gigi spesialis penyakit mulut dari RS Pondok Indah - Pondok Indah, untuk meredakan sariawan hal pertama yang patut diperhatikan adalah mencari faktor pencetusnya dahulu, misal dari oral hygiene atau kebersihan mulut.

"Dicari faktor pencetusnya, mungkin kalau oral hygiene-nya (kebersihan mulut) kurang, bisa tingkatkan oral hygiene-nya," tutur dr Febrina sapaan akrabnya.
r

Kemudian, lanjut dr Febrina, untuk mempercepat penyembuhan sariawan bisa juga diberikan antiseptik. "Antiseptik juga macam-macam tergantung lesi-nya, tergantung ulser-nya," ujar dr Febrina.

Untuk mengatasi sariawan, garam pun ditengarai bisa mengatasi sariawan karena berfungsi sebagai antiseptik.

"Jadi kalau misalnya sariawannya kecil, terus nggak sakit. Untuk membuat nyaman itu juga bisa lho kum
16.22 | 0 komentar | Read More

Waspadai Sariawan yang Muncul Lebih dari 2 dan di Satu Bagian Mulut Saja

Written By iqbal_editing on Kamis, 24 Agustus 2017 | 17.52

Satu sariawan yang muncul saja rasanya sudah perih dan membuat mulut menjadi tidak enak. Apalagi, jika sariawan muncul lebih dari satu dalam waktu yang bersamaan. Makan menjadi tidak enak dan berbicara pun akan membuat mulut sakit.

Sariawan dalam istilah medis dikenal dengan stomatitis aphtosa recurrent (SAR). Sariawan terjadi karena adanya peradangan dan perubahan struktur sel-sel yang ada di dalam rongga mulut. Penyebab sariawan sendiri bermacam-macam, terutama karena faktor hormonal, menstruasi, anemia, alergi, defisiensi nutrisi, hingga trauma.

Menurut drg Harum Sasanti, SpPM, dokter spesialis penyakit mulut dari Departemen Gigi dan Mulut FKGUI dan RSCM, sariawan ada tiga jenis, pertama sariawan minor yang jumlahnya bisa muncul 2-3, ukurannya kecil dan dapat sembuh dengan sendirinya. Kedua, sariawan yang bentuknya kecil-kecil dan jumlahnya banyak. Sariawan ini mirip dengan penyakit herpes. Ketiga, sariawan mayor yang ukurannya besar dan biasanya lebih dari 1 cm. Sariawan ini biasanya dalam dan memerlukan waktu yang lama untuk sembuh.

"Untuk sariawan jenis ketiga, ini yang lebih mengganggu karena membuat kita jadi tidak enak makan. Sariawan ini harus dibantu penyembuhannya dengan obat. Selain itu, karena ukurannya yang besar dan sembuhnya yang lama sariawan ini sering dikira sebagai kanker mulut padahal tidak," kata dr Harum dalam perbincangan dengan detikHealth dan ditulis pada Jumat, (07/11/2014).

Dihubungi terpisah, Prof Dr drg Melanie S. Djamil, MBiomed, FICD Lab BioCORE, dari FKG Universitas Trisakti, mengatakan bahwa sariawan yang muncul lebih dari dua di dalam mulut dalam waktu bersamaan perlu untuk diwaspadai. Terlebih lagi, jika sariawan hanya terjadi pada satu bagian mulut saja, misalnya di sekitar pipi kiri saja dan berulang-ulang.

"Biasanya kalau sariawan banyak itu paling dua ya. Kalau ada sariawan yang tumbuh berkali-kali di tempat yang sama, misalnya di bagian mulut pipi kiri terus, atau di gusi kanan terus dan jumlahnya banyak sampai 3 atau lebih dari 4 ini harus dicurigai sebagai gejala dari penyakit yang lebih serius. Apalagi kalau rasanya sampai sangat perih dan lidah rasanya jadi seperti terbakar. Sariawan yang biasa itu sembuh dalam 3-7 hari, kalau sudah lebih dari itu dan jumlahnya banyak harus segera diperiksakan. Kondisi ini harus segera diperiksakan," terang Prof Melanie.

Untuk mengatasi kondisi sariawan yang lebih dari satu ini memang sebaiknya menggunakan bantuan obat kumur. Gunakan kassa yang dibubuhi obat dan kemudian ditempelkan di bagian yang sariawan agar cepat pulih.
17.52 | 0 komentar | Read More

Kenali Penyebab Sariawan, Mulai dari Kegigit Hingga Genetik

Sariawan merupakan penyakit mulut yang sepele namun sangat mengganggu dan mempengaruhi kualitas hidup keseharian penderitanya. Biasanya terjadi pada berbagai kalangan usia, baik anak-anak, remaja, dewasa, maupun lansia.

Dikatakan dokter gigi spesialis penyakit mulut RS Pondok Indah - Pondok Indah, Dr drg Febrina Rahmayanti SpPM atau yang akrab disapa dr Febrina, sariawan umumnya disebut dengan istilah stomatitis aftosa rekuren yang ditandai dengan luka yang membentuk suatu cekungan atau kawah yang dikenal dengan ulser atau tukak.

"Jumlahnya itu bisa satu atau lebih dari satu. Kemudian ukurannya, biasanya ukurannya antara 1 centimeter atau kurang dari 1 centimeter. Kemudian bentuknya bulat atau oval," ujar dr Febrina dalam diskusi media di Plaza Sentral, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta.

Tanda lainnya biasanya terjadi pada bibir bagian dalam, pipi bagian dalam, dasar lidah dan juga tepi lidah. Sariawan juga bisa hilang timbul atau rekuren dan dalam setahun biasanya lebih dari 4 kali.


"Biasanya juga ada rasa nyeri. Terus lama lesi sebenarnya bisa hilang dalam waktu 7 sampai 14 hari," ucap dr Febrina.

Kemudian penyebab pasti dari sariawan itu sendiri, imbuh dr Febrina belum diketahui, namun ada faktor-faktor lain yang memudahkan terjadinya sariawan tersebut.

"Bisa juga dipicu oleh kegigit, itu bisa terjadi sariawan, pada orang yang memang kecenderungan terjadi sariawan," kata dr Febrina.

"Faktor genetik juga bisa mempengaruhi, kalau bapak ibunya sariawan nah anaknya sariawan juga. Atau saudara kembar, itu juga bisa," pungkas dr Febrina.
17.49 | 0 komentar | Read More

Kurang Makan Buah Bisa Sebabkan Sariawan? Ini Kata Dokter

Sariawan bisa disebabkan oleh berbagai faktor, selain faktor genetik. Namun banyak yang beranggapan bahwa sariawan juga terjadi karena kurang mengonsumsi buah. Benarkah demikian?

Diutarakan dokter gigi spesialis penyakit mulut RS Pondok Indah - Pondok Indah, Dr drg Febrina Rahmayanti SpPM atau yang akrab disapa dr Febrina, umumnya agar tubuh tetap sehat, komponen asupan seperti karbohidrat, protein, lemak dan vitamin harus tercukupi, termasuk mengonsumsi buah agar tak rentan terkena sariawan.

"Kenapa sih sariawan dikaitkan dengan kurang buah? Sebenarnya yang kita harapkan dari buah dan sayur adalah seratnya juga kan, kemudian ada zat besi, kemudian mineral," ucap dr Febrina.

"Nah di situlah yang sebenarnya juga bermanfaat untuk mempertahankan integritas epitelnya itu," sambung dr Febrina.


Oleh karena itu, berdasarkan pengalamannya, biasanya dr Febrina akan melakukan anamnesis pada pasien dan bertanya bagaimana pola makan dan juga pola hidup pasien tersebut.

"Pola makannya bagaimana, kemudian selain pola makan juga kelelahan, faktor stres, itu juga bisa memicu timbulnya sariawan," terang dr Febrina.

Selain itu, sariawan juga dipengaruhi oleh faktor hormonal. Pada perempuan menjelang menstruasi biasanya timbul sariawan.

"Faktor hormonal juga bisa berperan. Kalau pada saat mau menstruasi biasanya ada yang suka sariawan," pungkas dr Febrina.
17.48 | 0 komentar | Read More

Susah Membedakan Sariawan Biasa dengan Kanker Mulut? Begini Cirinya

Sariawan bukanlah termasuk masalah penyakit mulut yang serius. Namun jika gejalanya sudah seperti ini sebaiknya jangan diremehkan. Siapa tahu ini menjadi pertanda kanker mulut.

Kanker mulut terjadi sekitar 10 persen dari seluruh kanker yang ada. Sisanya, sebanyak 90 persen merupakan karsinoma sel skuamosa, kanker dengan prognosis buruk. Biasanya jika sudah terdiagnosis, 50-63 persen survival rate-nya hanya sekitar 5 tahun.

Dokter gigi spesialis penyakit mulut RS Pondok Indah - Pondok Indah, Dr drg Febrina Rahmayanti SpPM atau yang akrab disapa dr Febrina, mengatakan bahwa kanker mulut terjadi karena ketidakpedulian terhadap kesehatan gigi.


"Giginya ada yang bolong nggak ditambal, nggak dirawat, kan itu lama-lama tajam ya, terus dia patah, nah itu mengiritasi mukosa mulutnya. Nah iritasi yang kronis itulah kemudian bisa mengubah sel yang tadinya normal menjadi sel kanker," ujar dr Entri baruFebriani.

Berbeda dengan sariawan, kanker mulut punya ciri-ciri umum seperti ulser bersifat menetap atau kronis, tidak kunjung sembuh dalam kurun waktu 3 sampai 4 minggu, serta rasa sakitnya tidak sepadan dengan besarnya ulserasi.

"Jika diraba keras, ada indurasi. Kemudian ada pembesaran jaringan," tambah dr Febrina.

Dikatakan dr Febrina, kanker mulut juga terkait dengan rokok. Panasnya rokok bisa mengubah environment di dalam rongga mulut yang bersifat karsinogenik.

"Nah ini juga biasanya kita perhatikan faktor risiko kanker mulut," pungkas dr Febrina.
17.45 | 0 komentar | Read More

Tidak Semua Gigi Berlubang yang Sakit Bisa Langsung Ditambal

Written By iqbal_editing on Selasa, 15 Agustus 2017 | 06.51

Sakit gigi, mendengarnya saja tentu sudah membuat kita mengernyitkan dahi karena tidak enak atau bahkan takut. Namun demikian, akan lebih baik jika kita mengetahui lebih dalam mengenai sakit gigi dan apa yang kita akan hadapi bila sakit gigi terjadi.

Pertama-tama yang perlu kita ketahui janganlah langsung berasumsi bahwa sakit gigi hanya dapat diobati dengan mencabut gigi tersebut. Karena jika kita menilik dari penyebabnya, tidak selalu semua sakit gigi juga berasal dari masalah gigi tersebut.

Persepsi sakit pada gigi dapat terjadi karena gigitan yang tidak baik, infeksi pada jaringan gusi, atau hipersensivitas pori-pori gigi. Maka sangat dianjurkan kedokter gigi untuk melakukan pemeriksaan dan konsultasi untuk perawatan yang tepat.

Sakit gigi yang memang berasal dari gigi itu sendiri biasanya terjadi karena tiga hal, sensitivitas gigi, pecahnya struktur gigi (seperti fraktur akar gigi) dan infeksi gigi karena karies. Sakit gigi paling sering dijumpai kebanyakan orang adalah infeksi gigi karena karies gigi.

Apakah itu karies gigi? Awal mula terjadinya karies dimulai dari penumpukan sisa makanan (plak) pada bagian gigi tertentu. Plak merupakan sumber makanan bagi kuman dan mikroorganisme, yang akan menyebabkan mereka berkembang biak dan melepaskan produk toksinnya.


Tidak Semua Gigi Berlubang yang Sakit Bisa Langsung DitambalFoto: dok. pribadi
Lapisan gigi kita yang terpapar toksin ini lama kelamaan akan makin terkikis. Proses pengikisan yang terus menerus sampai menghancurkan struktur gigi kita membentuk lubang gigi. Inilah yang disebut dengan karies.

Saat proses karies masih terjadi pada gigi kita saja, sering kali kita belum menyadarinya karena memang pada beberapa orang belum menimbulkan rasa sakit. Namun apabila proses karies tersebut telah menembus email dan dentin gigi, mencapai saraf gigi (pulpa), barulah penderita sakit gigi mulai mengeluhkan sakit gigi yang sangat hebat. Dari sakit yang berdenyut pada gigi, kadang dapat menjalar sampai ke kepala sehingga beberapa orang sampai tidak dapat makan maupun tidur.

Gigi yang telah berlubang sampai ke saraf gigi tentunya tidak bisa diobati dengan hanya dilakukan penambalan biasa. Hal itu dikarenakan sistem saraf gigi ini telah terinfeksi sampai ke bagian akarnya.

Dokter gigi yang baik umumnya akan menganjurkan untuk mempertahankan gigi itu terlebih dahulu yaitu dengan perawatan saluran akar gigi (root canal treatment). Perawatan ini akan lebih meningkatkan kualitas hidup pasien, karena masih dapat menggunakan gigi aslinya untuk makan dibandingkan menggunakan gigi palsu apabila giginya yang sakit tersebut dicabut.

Perawatan saluran akar gigi atau yang biasa disingkat PSA merupakan pembersihan saluran akar gigi dari jaringan saraf gigi yang telah terinfeksi kuman dan dilakukan penambalan saluran akar gigi dengan bahan tambalan khusus. Pasien yang kurang informasi biasanya akan meminta sesegera mungkin agar giginya tidak sakit dan ditambal.

Perlu diketahui bahwa gigi yang infeksi apabila langsung ditambal begitu saja, justru akan menciptakan bencana di kemudian hari. Proses infeksi oleh kuman yang terjadi di dalam gigi akan meluas ke jaringan penyangga gigi yakni tulang rahang gigi, karena ditutupnya jalan keluar kuman oleh tambalan tersebut.

Infeksi yang meluas itu selain akan memperburuk prognosis gigi tersebut, tentunya juga akan menyebabkan pasien mengalami sakit gigi yang lebih parah. Maka penting untuk melakukan perawatan saluran akar terlebih dahulu. Perawatan ini tidak semata-mata untuk membuat gigi tidak sakit saja, namun mengobati infeksi yang telah terjadi di dalam saluran akar gigi yang sangat kecil dan kompleks.

Maka jangan heran jika perawatan ini bisa mencapai dua sampai tiga kali kunjungan ke dokter gigi.Namun harus diingat bahwa tidak semua sakit gigi pasti dapat dirawat dengan metode ini.

Ada beberapa hal seperti adanya fraktur akar gigi maupun kontra indikasi lain yang membuat prognosis perawatan ini tidak baik. Seperti telah disebutkan di atas, tidak tepat juga kiranya perawatan saluran akar gigi ini dilakukan apabila memang sakit giginya ternyata bukan disebabkan dari infeksi gigi yang telah mencapai pulpa.

Maka dari itu penting bagi pasien yang sakit gigi untuk berkonsultasi dengan dokter gigi setempat jika memungkinkan ke spesialis konservasi gigi. Karena spesialis konservasi gigi ini pasti memiliki kompetensi melakukan perawatan saluran akar gigi. Selalu jaga kesehatan gigi dengan mensikat gigi sebelum tidur malam dan sesudah makan pagi serta memeriksakan kondisi gigi dan mulut kedokter gigi 6 bulan sekali.
06.51 | 0 komentar | Read More

Ingin Menghindari Merkuri, Ibu Gigi Hadid Hapus Tambalan Lama Giginya

, Ibu dari model ternama dunia Gigi Hadid, Yolanda Hadid (53) baru-baru ini mengunggah fotonya di Instagram bahwa dia telah menjalani prosedur kontroversial untuk menghapus tambalan lama dari giginya.

"Saya menghilangkan semua amalgam merkuri saya," tulisnya di foto tersebut.

Amalgam biasanya digunakan sebagai penambal gigi yang berlubang dengan berbahan dasar logam yang mengandung merkuri. Bagian gigi yang rusak dihilangkan oleh dokter gigi dengan cara dibor dan kemudian ditambal dengan amalgam.

Tujuannya dilakukan prosedur penghilangan amalgam pada gigi ini adalah untuk membersihkan racun potensial dari tubuh. Dikutip dari New York Post, Selasa (1/7/2017), komunitas kedokteran gigi mengatakan bahwa prosedur semacam berbahaya.



Dokter gigi dari Herald Aquare, Idelle Brand mengatakan bahwa dia mendapatkan sekitar 15 pasien yang memiliki keluhan seperti Yolanda. dr Brand melakukan prosedur ini sekitar 30 kali dalam satu bulan.Ia menyebutnya 'prosedur keselamatan merkuri'.

Menurutnya amalgam gigi berkaitan dengan penyakit autoimun. Ia pun percaya bahwa menghilangkan amalgam yang mengandung merkuri tersebut dapat membuat antibodi bekerja optimal untuk melawan penyakit.

Namun, Asosiasi Dokter Gigi Amerika mengatakan bahwa prosedur seperti itu tidak diperlukan bahkan berbahaya. Asosiasi ini bahkan menganggap tidak etis bagi seorang dokter gigi untuk menghilangkan jenis tambalan ini hanya untuk menggantinya dengan yang lain.

Profesor kedokteran gigi umum dari Universitas Stony Brook, Amerika Serikat, Ying Gu, PhD mengatakan penelitian menunjukkan bahwa merkuri dalam jumlah kecil yang disebabkan karena penambalan gigi tidak memiliki efek samping.

"Tinjauan ilmiah yang ekstensif menunjukkan bahwa tidak ada bukti yang memadai untuk mengaitkan amalgam gigi dengan berbagai keluhan penyakit lainnya," ujarnya.

Hal yang sama juga dikatakan oleh dokter gigi dari Cosmetic Dental Associates yang juga merupakan anggota Asosiasi Dokter Gigi Amerika, John Moore bahwa prosedur tersebut tidak direkomendasikan.
06.49 | 0 komentar | Read More

ppenyebab gigi gingsul

, Gigi gingsul pada beberapa orang membuat senyum semakin manis, sampai tak sedikit orang rela memanipulasi gigi mereka untuk mendapatkannya.

Selain karena faktor genetik, gigi gingsul dapat disebabkan banyak penyebab yang tidak selalu baik.

Berikut adalah 5 penyebab umum dari tumbuhnya gigi gingsul, seperti dilansir dari Orthodonticslimited, Selasa (15/8/2017).


1. Kebiasaan mengisap jempol saat kecil.

Kebiasaan yang alami dilakukan pada usia awal ini bisa mempengaruhi pertumbuhan gigi. Mengisap jempol dalam waktu lama bisa memberikan dorongan yang tidak alami untuk gigi. Dampaknya, gigi tonggos atau beruntungnya hanya gingsul di gigi taring.


Kebiasaan isap jempol saat kecil bisa sebabkan gigi gingsul.Kebiasaan isap jempol saat kecil bisa sebabkan gigi gingsul. Foto: Thinkstock


2. Kebiasaan menekan gigi dengan lidah.

Lidah adalah otot yang terbilang kuat, sehingga mampu menggerakkan gigi ketika tekanan diberikan secara berulang-ulang. Ketika kebiasaan ini dilakukan di usia dini, gigi dapat terdorong dari tempat tumbuhnya.

Menekan gigi dengan lidah juga bisa sebabkan tumbuh gigi gingsul.Menekan gigi dengan lidah juga bisa sebabkan tumbuh gigi gingsul. Foto: Thinkstock

Baca juga: Ini Dia Hal-hal yang Bisa Bikin Gigi Anak Tumbuh Gingsul

3. Gigi pertama tanggal lebih cepat.

Kebanyakan gigi pertama yang tumbuh saat bayi akan tanggal ketika gigi dewasa siap untuk tumbuh. Waktu tanggal yang tepat akan membuat gigi baru tumbuh di posisi yang tepat. Sebaliknya, ini akan membuat gigi tumbuh melenceng dari tempatnya di gusi.

Gigi pertama lebih cepat tanggal.Gigi pertama lebih cepat tanggal. Foto: ilustrasi/thinkstock


4. Gigi dewasa berlebih.

Gigi gingsul bisa saja muncul saat dewasa. Kemungkinan pertumbuhan gigi dewasa yang berlebih adalah faktornya. Selain gigi bungsu di ujung rahang, gigi dewasa lain bisa mendesak di tengah padatnya rahang dan membuat gigi gingsul.

Gigi dewasa pada anak berlebih.Gigi dewasa pada anak berlebih. Foto: thinkstock


5. Ukuran gigi terlalu besar untuk ukuran rahang.

Orang yang memiliki keturunan gigi besar dan rahang kecil sangat mungkin untuk mendapati gigi mereka berantakan dan tumbuh gingsul. Hal ini mungkin sulit dicegah, tapi bisa diatasi perbaiki oleh ahlinya.

Ukuran gigi terlalu besar untuk rahang.Ukuran gigi terlalu besar untuk rahang. Foto: ilustrasi/thinkstock
05.38 | 0 komentar | Read More

Awas, Kesalahan Saat Gosok Gigi Bisa Menyebabkan Ngilu

Written By iqbal_editing on Jumat, 28 Juli 2017 | 21.30

Pernah merasakan ngilu pada gigi? Biasanya ini merupakan gejala umum pada gigi sensitif. Menurut data dari Ipsos Indonesia Research pada tahun 2011, 45 persen orang Indonesia cenderung merasakan ngilu gigi saat mengonsumsi makanan dan minuman dingin, panas, manis, atau asam.

Dokter gigi dari Divine Dental Clinic Jakarta, drg Hardini Dyah Astuti, SpPerio menjelaskan bahwa biasanya kesensitifan pada gigi biasanya dikarenakan mengonsumsi makanan yang mengadung asam berlebih.

"Itu merangsang enamel (email gigi) itu erosi. Kalau enamelnya terkikis atau hilang, langsung ke dentin. Di dalam dentin itu ada cairan yang dinamakan cairan dentin. Nah itu kalau kena manis, panas, dingin, asam, itu dia langsung merangsang masuk ke saraf makanya bisa ngilu," jelasnya saat ditemui di Atrium Gandaria City Mall, Jumat (28/7/2017).

Baca juga: Doyan Makan, Ini Cara Mpok Sylvi Jaga Kesehatan dan Berat Badan

Dokter yang disapa dr Dini itu mengatakan bahwa biasanya yang orang berusia muda yang sering mengalami gigi sensitif. Semakin tua, maka akan semakin tidak merasakan ngilu yang berlebih pada gigi.

"Yang rentan kena gigi sensitif itu yang usia muda. Starting di umur 20, udah mulai agak-agak ngilu," ujarnya.

"Semakin tua malah semakin enggak, karena ruang pulpanya semakin kecil, sensor ke sarafnya juga lebih kecil. Jadi orang tua kalau giginya goyang saja nggak ngerasa sakit," imbuhnya.

Menggosok gigi secara kencang juga merupakan salah satu penyebab gigi sensitif. dr Dini juga mengingatkan untuk memilih sikat dan pasta gigi yang benar.

"Pilih sikat gigi yang bulu sikatnya halus, jangan yang keras supaya kalau kena gusi nggak sakit dan gusinya nggak naik," pungkasnya.
21.30 | 0 komentar | Read More

Kenali, Anomali Gigi yang Bisa Terjadi pada Pasien Bibir Sumbing

Written By iqbal_editing on Kamis, 27 Juli 2017 | 22.47

Perawatan gigi tak bisa dikesampingkan pasca pasien bibir sumbing menjalani operasi. Apalagi, pada pasien bibir sumbing dan celah langit-langit, biasanya ada kondisi yang disebut anomali gigi.

Diungkapkan Dr drg Nia Ayu Ismaniati, MD.Sc, SpOrt(K), untuk penatalaksanaan gigi pada pasien bibir sumbing, terlebih dulu ditangani soft tissue, tepatnya di daerah bibir. Kemudian area langit-langit dan dilakukan bone drafting saat umur 9 tahun. Setelah itu, baru dilakukan perawatan orthodontik.

Nah, pada pasien bibir sumbing, anomali gigi yang terjadi di antaranya terdapat gigi lebih atau gigi yang hilang. Gigi hilang bisa terjadi ketika tidak terdapat benih gigi, atau benih tidak tumbuh. Sehingga, ruangan yang harusnya terisi gigi menjadi kosong. Selain itu, bisa pula benih gigi ikut rusak atau tidak terbentuk saat terjadi kegagalan fusi.


Dr drg Nia Ayu Ismaniati, MD.Sc, SpOrt(K)


Anomali atau kelainan gigi lain yang bisa terjadi yaitu gigi berukuran kecil. Atau, di sebelah gigi yang berukuran kecil tersebut terdapat gigi yang tumbuh bertumpuk. Pada gigi yang hilang, perlu dilakukan penggantian dengan pemasangan gigi palsu atau implan, jika ruangan di area tersebut memungkinkan untuk dipasang gigi palsu atau implan.

Baca juga: Pasien Bibir Sumbing Tak Dioperasi, Bisakah Rahangnya Tumbuh Normal?

"Atau pakai gigi lepasan atau pake bridge, semacam jembatan gitu, jadi giginya menyatu. Kalo bridge nggak memerlukan tulang gigi tapi tetap antara gigi ke gigi yang lain bisa menyatu. Sedangkan, pada gigi yang terlalu kecil bisa pakai crown atau dibesarkan jika diperlukan," kata drg Nia saat ditemui detikHealth di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta, baru-baru ini.

Pada dasarnya, perawatan orthodontik dilakukan supaya gigi lebih harmonis. Dalam menangani pasien bibir sumbing, lanjut drg Nia, ada beberapa tahapan operasi. Saat bayi, akan dilakukan operasi untuk menutup celah bibir. Kemudian, dilanjutkan dengan operasi langit-langit dan bone drafting di usia 9 tahun.

Pada prosedur bone drafting, dipasang tulang sintetis dupaya gigi taring yang tidak keluar karena tidak bisa tumbuh, bisa keluar. Kemudian, bisa dilakukan perawatan orthodontik setelahnya. Namun, jika setelah itu ada masalah misalnya rahang terlalu maju, dikatakan drg Nia maka akan dilakukan bedah rahang setelah selesai masa pertumbuhan, biasanya sesudah pasien berusia 17 tahun.
22.47 | 0 komentar | Read More

Efek bagi Kesehatan Gigi dan Mulut Saat Pasien Bibir Sumbing Tak Dioperasi

Operasi umum dilakukan pada pasien cleft lip and palate (celah bibir dan langit-langit) atau dalam bahasa awam kerap disebut bibir sumbing. Namun, ketika tidak dilakukan prosedur operasi, adakah dampak fatal yang bisa terjadi?

"Kalau efek mengancam jiwa sih nggak ya. Tapi bayangkan kalau anak kita yang mengalami itu. Ketika dibiarkan, itu kan nyambung dari hidung ke mulut, tentu makan jadi sulit, bisa kesedak," kata Dr drg Nia Ayu Ismaniati, MD.Sc, SpOrt(K) kepada detikHealth.

Ditemui di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta, baru-baru ini, menurut drg Nia, ketika pasien bibir sumbing tak doperasi, pastinya kondisi psikologis dialah yang amat terpengaruh. Misalnya, anak bisa diejek di sekolah karena suaranya sengau.


Sehingga, dengan mempertimbangan aspek psikologis, menurut drg Nia akan lebih baik jika kondisi bibir sumbing ini ditangani lebih dini. Lalu ketika tidak dioperasi, adakah efek kondisi bibir sumbing pada kesehatan gigi dan mulut?

"Untuk kondisi gigi dan mulut, kalau dibiarkan saja mungkin nggak masalah. Nggak masalah dalam hal ini maksudnya nggak mengancam jiwa. Tapi, gigi-gigi yang nggak bagus itu kan bisa saja memicu infeksi. Kalau giginya bertumpuk-tumpuk, makanan bisa nempel, nanti jadi lubang. Higienitasnya pun nggak terjaga," kata drg Nia.

"Intinya kalau sampai mengakibatkan dampak fatal nggak. Tapi berefek ke kualitas hidup pasien. Terjadi efek ke kesehatan gigi secara keseluruhan. Ketika kesehatan gigi secara keseluruhan terganggu, tentu kesehatan secara keseluruhan juga terpengaruh," pungkas drg Nia.
22.43 | 0 komentar | Read More

Pesan Dokter Untuk Mencegah Sumbing pada Bibir dan Lelangit

Kelainan bibir dan lelangit sumbing pada anak-anak masih menjadi maslah besar di Indonesia. Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, sumbing bibir dan lelangit menempati urutan kelima dari populasi anak-anak yang menyandang kecacatan di Indonesia.

Saat ditemui dalam acara press conference Dalam Rangka Memperingati Bulan Kewaspadaan Bibir dan Lelangit Sumbing, dokter spesialis bedah plastik, dr Kristaninta Bangun, SpBP-RE(K) memaparkan bahwa ada sekitar 150-240 pasien dengan sumbing bibir dan lelangit setiap tahunnya.

dr Kristaninta mengaku bahwa telah melakukan sekitar 24 kasus operasi sumbing setiap tahunnya. "Pendanaan untuk pasien, khusus pasien operasi sumbing di sini hampir semuanya untuk operasi free, tidak bayar," ujarnya di depan para media.


Masih besarnya angka kasus sumbing pada bibir dan lelangit, dr Prasetyanugraheni Kreshanti, SpBP-RE(K) memberikan anjuran untuk pencegahan terjadinya sumbing.

"Sebaiknya anak-anak perempuan menjaga supaya asupan nutrisinya cukup bergizi, dipastikan tidak kekurangan asam folat, vitamin B12," jelas dr Heni sapaan hangatnya.

dr Heni menyarankan untuk tidak melulu mementingkan diet untuk menurunkan berat badan, tapi lebih memperharikan nutrisi yang dikonsumsi setiap harinya.

"Makan secukupnya tapi bergizi lah. Jadi saat mereka besar nanti, mereka siap menjadi ibu dalam kondisi yang siap badannya," imbuhnya.

Di kesempatan yang sama, dokter spesialis fisik dan rehabilitasi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, dr Luh Karunia Wahyuni, SpKFR(K) juga menyarankan untuk ibu hamil memperhatikan nutrisi yang seimbang dan harus selalu dalam pengawasan dokter spesialis kandungan, serta tidak mengonsumsi obat-obatan sembarangan.
22.34 | 0 komentar | Read More

Marak Dijual Pemutih Gigi Instan, Aman atau Tidak Ya?

Written By iqbal_editing on Selasa, 25 Juli 2017 | 23.13

Gigi yang indah bisa menunjang penampilan. Salah satu kriterianya adalah memiliki deretan gigi yang putih bersinar. Demi memenuhi tuntutan, kini banyak beredar pemutih gigi instan dengan harga yang terjangkau. Berbahaya atau tidak ya?

drg Diono Susiolo, saat ditemui di sela konferensi pers Indonesia Dental Exhibition & Conference 2017, Rabu (26/7/2017), mengimbau masyarakat untuk tidak menggunakan pemutih gigi tanpa bantuan dokter gigi.

"Kalau kita lihat, pemutih itu menggunakan bahan kimia, ada skala legal ada skala ilegal. Kalau ternyata dosisnya berlebihan itu malah merapuhkan, karena itu yang diputihkan adalah emailnya bukan yang lain," terang ketua Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) Jakarta Selatan tersebut.


Memutihkan gigi secara sempurna yang baik pun idealnya tidak didapatkan dalam hari yang sama. Jadi menurutnya, butuh usaha ekstra dan agak sulit untuk memutihkan gigi, sekalipun menggunakan bahan kimia.

Hal ini dikarenakan adanya efek samping yang harus diperhatikan ketika menggunakan pemutih dengan bahan kimia. "Makanya harus dilakukan oleh profesional," tegasnya.

Dibanding menggunakan pemutih yang belum tentu aman, ada baiknya untuk mencoba memutihkan gigi secara alami. Caranya adalah dengan mengonsumsi buah-buahan seperti stroberi hingga jeruk nipis yang sudah terbukti bisa memberikan hasil.
23.13 | 0 komentar | Read More

Benarkah Sakit Gigi Bisa Menular ke Gigi Sebelahnya?

Mungkin Anda pernah merasakan sakit gigi terasa menjalar ke gigi-gigi lainnya. Bahkan ketika memeriksakan diri ke dokter gigi, seolah Anda jadi kesulitan menunjuk gigi mana yang benar-benar sakit. Menurut dokter gigi, ini memang sering terjadi.

"Saat praktik saya sering tanya pasien yang sakit giginya yang mana. Terus dijawab 'sebelah sini, Dok. Eh sebelahnya ding. Eh atasnya, bawahnya, semua kok sakit ya. Ini biasanya terjadi karena terlalu sakit," jelas drg Irayani Queencyputri dari Hendra Hidayat Dental Center, dalam perbincangan dengan detikHealth dan ditulis pada Selasa (15/9/2015).

Untuk mengatasinya, dokter gigi akan memeriksa baik-baik gigi pasien untuk melihat di mana sebenarnya sumber sakitnya. Jika penyebab sakit adalah satu gigi yang bolong, kemudian oleh dokter gigi tersebut ditambal, biasanya rasa sakit akan menghilang.

Terkadang nyeri yang berasal dari gigi dan rahang juga bisa meluas ke bagian wajah dan kepala. Kondisi-kondisi seacam itu dikenal sebagai nyeri alih atau referred pain.

Untuk meminimalkan terjadinya sakit gigi, dr Ira berpesan agar rajin menggosok gigi, utamanya setelah makan dan sebelum tidur. Selain itu kurangi asupan yang manis dan asam. Terlalu banyak makan makanan yang asam juga bisa menyebabkan email gigi menipis, akibatnya gigi menjadi sensitif.(vit/up)

22.58 | 0 komentar | Read More

penyebab munculnya sariawan di banyak tempat di satu waktu

Written By iqbal_editing on Selasa, 18 Juli 2017 | 03.37

Sariawan bisa muncul karena berbagai hal. Nah, terkadang kemunculan sariawan bisa banyak dalam satu waktu sehingga mengganggu aktivitas seseorang.

Dr drg Rina Permatasari, SpKG mengatakan sariawan yang muncul sekaligus banyak dalam satu waktu bisa berkaitan dengan masalah di organ pencernaan. Sebab menurutnya mulut berkaitan dengan organ pencernaan.

"Takutnya sariawan yang muncul banyak dalam waktu yang sama bukan masalah lokal saja tapi sistemik. Jadi biasanya arahnya ada masalah di salah satu organ pencernaan," ucap drg Rina dalam perbincangan dengan detikHealth baru-baru ini.

"Kalau gitu harus diperiksa lebih jauh ya. Tapi kalau yang pasang kawat dan muncul banyak sariawan itu sih normal," imbuh dokter yang praktik di RS Pondok Indah ini.

Lebih lanjut, drg Rina menjelaskan, penyebab sariawan pada dasarnya bermacam-macam seperti stres, bibir yang tergigit atau alergi pada bahan tambalan.

Sehingga, perawatan yang diberikan pun akan berbeda-beda. Misalnya dengan memberikan obat oles atau kumur atau melakukan pengecekan lebih lanjut apakah pasien memiliki gangguan lain atau tidak.

"Tapi saya selalu sarankan untuk banyak aktivitas sehat dan banyak minun air putih dan konsumsi multivitamin," pungkas drg Rina.
03.37 | 0 komentar | Read More

hbungan kondisi gigi dan stres

Written By iqbal_editing on Sabtu, 15 Juli 2017 | 23.29

Pada orang-orang tertentu, stres yang dialaminya bisa mempengaruhi kesehatan gigi dan mulutnya. Oleh karena itu, jangankan psikolog, dokter gigi saja tahu Anda stres.

Bahkan stres maupun gangguan kecemasan rata-rata tidak ditunjukkan dengan gangguan tidur, kelelahan, atau sakit kepala. Justru seringnya kondisi ini muncul sebagai pemicu gangguan gigi dan mulut, mulai dari mulut kering hingga penyakit pada gusi.

"Jika kami menemukan gejala-gejala seperti itu, kami akan melontarkan beberapa pertanyaan pasien untuk mengetahui penyebabnya, termasuk terkait apa yang terjadi di hidupnya," tutur ahli bedah mulut Dr Sherina Daryanani dari Teeth @ Tiong Bahru Dental Clinic, Singapura.

Lantas gangguan gigi dan mulut apa saja yang mengindikasikan adanya stres? Berikut paparannya seperti dilaporkan Asia One.

B

1. Gigi berlubang
Gigi berlubang dan radang gusi biasanya muncul karena seseorang enggan membersihkan giginya dengan baik. Salah satunya karena stres. Lagipula stres memicu kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman tak sehat, seperti minuman energi atau kopi.

2. Lesi
Sariawan, cold sore (luka yang berisi cairan), lichen planus dan sindrom mulut terbakar adalah sebagian kecil contoh lesi yang muncul saat stres. Sebab stres menurunkan kekebalan seseorang sehingga berkontribusi di balik lesi tersebut.

3. Gigi gemeretak
Menurut Dr Daryanani, bila pasien tak bisa membuka rahangnya sepenuhnya atau merasa tak nyaman saat mengunyah sembari berbicara bisa jadi adalah gejala bruxism atau gigi bergemeretak dengan sendirinya di malam hari. Sebagian besar orang yang mengalami bruxism merasakan stres.

4. Gigi rusak
Kebiasaan menggigiti kuku dapat mempercepat kerusakan gigi, termasuk memaksa otot-otot yang berperan dalam proses mengunyah sehingga memicu myalgia atau nyeri otot. Pada orang-orang tertentu, kondisi ini juga ada kaitannya dengan kebiasaan bruxism.

5. Sindrom mulut kering
Dr Daryanani mempertegas bahwa mulut kering adalah salah satu manifestasi utama dari stres. "Saliva (air liur) mempunyai fungsi perlindungan, jadi ketika mulut mengering dan kurang lembab, dapat memicu gangguan lain seperti gigi berlubang, bibir pecah-pecah atau infeksi jamur," tandasnya.

Bahkan pada kasus tertentu, mereka yang mengalami sindrom ini juga bisa merasakan susah makan, susah menelan, mengunyah, hingga berbicara.(lll/up)
23.29 | 0 komentar | Read More

Gigi Remaja Sering 'Bergetar' Saat Tidur, Ini Dia Penyebabnya

Teeth-grinding atau menggemeretakkan gigi merupakan kebiasaan yang tidak disadari oleh kebanyakan orang, bahkan cenderung disepelekan. Tetapi jika Anda melihat anggota keluarga mengalaminya, ketahuilah bahwa ini bisa menandakan sesuatu.

Menurut sebuah penelitian yang dilakukan di Brazil, kebiasaan menggemeretakkan gigi pada remaja bisa jadi pertanda bahwa yang bersangkutan mengalami bullying atau pundung di sekolah.

Penelitian dilakukan terhadap lebih dari 300 remaja berusia 13-15 tahun. Hasilnya, mereka yang mengalami pundung secara verbal berisiko empat kali lebih besar untuk menggemeretakkan giginya di malam hari dibanding remaja lain yang tidak mengalaminya.

"Kami tahu bahwa dampak kebiasaan ini seringkali tidak disadari orang, padahal ini bisa jadi jendela penting dari kondisi pikiran seorang anak atau remaja," tutur Dr Nigel Carter dari Oral Health Foundation Inggris, menanggapi temuan ini.

Carter menambahkan, tidak menutup kemungkinan ini juga kerap terjadi pada orang dewasa yang mengalami stres atau gelisah akan suatu hal.


Secara umum, kebiasaan menggemeretakkan gigi yang tidak tertangani juga dapat memicu gangguan lain seperti gigi sensitif, gigi keropos atau retak, gigi tanggal, serta nyeri pada rahang bahkan wajah.

"Karena pada dasarnya ketika gigi digemeretakkan kekuatannya 40 kali melebihi ketika gigi mengunyah. Saya lihat sendiri ada pasien yang giginya keropos sampai ke gusi karena kebiasaan ini," tambah Carter seperti dilaporkan BBC.

Kondisi ini juga bisa disertai sakit kepala saat bangun tidur hingga gangguan tidur.

Untungnya, kebiasaan ini dapat dihentikan dengan mudah oleh dokter gigi, yaitu dengan memasang semacam plastik yang membuat 'pertemuan' gigi atas dan gigi bawah menjadi terasa nyaman saat tidur, termasuk saat mengunyah.

Namun Carter mengingatkan, perubahan gaya hidup seperti berhenti merokok, mengurangi minum alkohol, dan mengelola stres dikatakan dapat membantu meredakan kondisi ini.
23.20 | 0 komentar | Read More

sikat gigi elektrik vs sikat gigi biasa

Written By iqbal_editing on Senin, 03 Juli 2017 | 17.57

Kesehatan gigi akan berpengaruh terhadap kesehatan tubuh secara umum, oleh sebab itu kesehatan gigi merupakan hal yang sangat penting disamping kesehatan mulut kita. Salah satu cara untuk menjaga kesehatan gigi adalah dengan menyikat gigi. Dengan menyikat gigi, kebersihan gigi dan mulut pun akan terjaga, selain menghindari terbentuknya lubang-lubang gigi dan penyakit gigi dan gusi.

Saat ini sudah banyak jenis dan ragam sikat gigi yang dijual di pasaran, dari yang manual maupun elektrik. Sebetulnya, apa saja syarat sikat gigi yang bagus? “Yang terpenting adalah bulu sikat dan lebar kepala sikat,” kata drg. Lita Rubini Dharmawan dari Kharinta Dental Clinic, Bintaro. Untuk bisa menjangkau daerah-daerah gigi bagian belakang, ukuran kepala sikat gigi yang ideal adalah 35 – 40 mm. “Bahkan, orang dewasa sebaiknya juga memakai sikat gigi anak, karena ukurannya yang kecil akan membantu menjangkau bagian gigi yang paling dalam,” lanjutnya

Bulu sikat sebaiknya dipilih yang lembut (soft). Bulu sikat sebaiknya juga diganti setiap bulan. Cuma, ada orang yang merasa kalau pakai bulu yang soft tidak mantap, tidak bersih. Padahal, itu cuma perasaan. “Yang penting adalah bagaimana cara menyikat giginya. Kalau cara menyikat giginya salah, hasilnya pun tak bakal maksimal,” lanjut Lita. Banyak sikat gigi yang dijual di pasaran tanpa merek dan memiliki bulu sikat yang sangat kasar. “Ini tidak bagus, karena bisa mengiritasi gusi,” kata Lita.
Baca juga :
1. Sikat Gigi Jari (Finger Toothbrush) 
2. Sikat Gigi untuk Gigi Berbehel >> Sikat Gigi behel

Sikat Gigi untuk "Memijat" Gusi

Sekarang, banyak jenis sikat gigi yang ditawarkan. Yang kini dicari adalah sikat gigi yang praktis dan nyaman, sekaligus cepat. Nah, salah satu yang menjadi pilihan adalah sikat gigi elektrik. Sikat gigi elektrik memang jauh lebih praktis dan lebih nyaman ketimbang sikat gigi yang manual. “Kelebihan lain dari sikat gigi elektrik adalah semua sudah diatur sedemikian rupa, sehingga tekanan saat menyikat gigi pun lebih terkontrol. Pasalnya, jika tekanannya terlalu kuat, motor malah akan berhenti,” jelas Lita. Bulu sikat gigi elektrik juga lebih awet. “Bisa tahan 3 bulan, baru diganti. Belum lagi teknologi yang semakin canggih, misalnya sekarang ada sikat gigi elektrik yang dilengkapi semprotan air untuk membersihkan sela-sela gigi.”

Pola bulu sikat gigi elektrik yang bergerak memutar juga menjadi kelebihan lain sikat gigi jenis ini. “Gerak memutar ini sekaligus berfungsi untuk me-massage gusi. Terkadang, sisa makanan masih menempel di sela-sela gigi. Nah, dengan gerakan memutar, sisa makanan di sela-sela gigi ini akan terangkat. Gerak memutar juga akan membantu mengontrol tekanan, supaya tidak terlalu kuat atau terlalu lemah,” paparnya.

Bukti bahwa sikat gigi elektrik sekarang makin digandrungi bisa dilihat pada orang Barat. “Hampir 70 persen orang Barat sudah pakai sikat gigi elektrik. Salah satunya adalah karena pola hidup mereka yang condong memilih hal-hal yang praktis dan cepat, selain tentu faktor kenyamanan. Waktu bagi mereka sangat berharga. Nah, dengan sikat gigi elektrik, acara menyikat gigi bisa dilakukan lebih cepat dan nyaman,”


Baguskah Sikat Gigi Elektrik untuk Anak-Anak?

Bagaimana dengan anak-anak? Bolehkah mereka menggunakan sikat gigi elektrik ini? “Sebaiknya tidak. Mereka sebaiknya tetap menggunakan sikat gigi konvensional untuk anak. Pasalnya, mereka ini kan belum punya self-control untuk mengatur sikat gigi elektrik. Selain malah sering dijadikan mainan, anak juga tidak mampu mengontrol gerak sikat gigi, sehingga malah berakibat fatal. Misalnya gusi teriritasi, sehingga terjadi perdarahan,” lanjut Lita.

Ya, anak memang belum bisa mengira-ngira seberapa kuat tekanan atau berapa lama ia harus menyikat gigi dengan sikat gigi elektrik, sehingga bukan gigi bersih yang dihasilkan, melainkan gusi malah luka. Kalaupun akan menggunakan sikat gigi elektrik, anak sebaiknya didampingi orangtua atau orang dewasa. “Anak sebaiknya memakai sikat gigi ini setelah berusia 8 tahun,” saran Lita.

Yang tak kalah penting, lanjut Lita, “Sejak dini anak sudah diajarkan untuk menyikat gigi. Orangtua atau orang dewasa di sekeliling anak sebaiknya menjadi model. Misalnya dengan menyikat gigi bersama-sama. Anak biasanya akan mengikuti apa yang dilakukan orang tua,” tukas Lita.
Baca juga : Memasang Implan Gigi

Sikat Gigi Biasa atau Sikat Gigi Elektrik?

Dari sisi kegunaan, sebetulnya sikat gigi elektrik dan sikat gigi manual sama saja. “Cuma masalah efisiensi waktu saja. Dengan sikat gigi elektrik, waktu untuk menggosok gigi akan menjadi lebih cepat. Yang penting cara menggosok giginya benar,” jelas Lita. Bedanya lagi, sikat gigi elektrik biasanya relatif lebih mahal.

Ada beberapa jenis sikat gigi elektrik, dari yang dijual lepasan sampai yang sekali pakai. Lita lebih menganjurkan memilih sikat gigi elektrik lepasan yang jauh lebih awet dan kualitasnya terjamin. “Memang, harganya sedikit lebih mahal, tetapi kualitasnya pasti jauh lebih bagus. Selain itu, juga lebih awet. Kalau bulunya rusak, tak perlu membuang semua, tapi cukup mengganti bulu sikatnya saja.” Sementara sikat gigi elektrik sekali pakai, “Kalau rusak harus membeli lagi, tak bisa mengganti bulunya saja. Bulu sikat yang sudah rusak tidak akan bekerja secara maksimal dan bisa mengiritasi gusi.”
Baca juga : Sikat Gigi untuk Bayi

Perbedaan lain hanya terletak pada bulu sikat dan motor. “Kalau yang lebih mahal, motornya biasanya lebih kuat. Tapi, secara umum, sama saja, kok,” lanjutnya.  Biasanya, masalah muncul pada mereka yang terbiasa memakai sikat gigi manual dan kemudian beralih ke sikat gigi elektrik. “Pasalnya, tekanan dan perputaran bulu pada sikat gigi elektrik sudah diatur sedemikian rupa, sementara pada sikat gigi manual, kan semau kita. Bahkan, terkadang kita menyikat gigi dengan sangat kuat. Kalau nggak kuat, rasanya nggak bersih.”

Akibatnya, untuk membiasakan pemakaian sikat gigi elektrik, dibutuhkan waktu yang cukup lama. “Mereka merasa masih kurang bersih.” Padahal, menyikat gigi tidak tergantung kuat-lemahnya tekanan, melainkan cara menggosok gigi. Meski menyikatnya pelan, tetapi kalau caranya benar, hasilnya tentu bisa maksimal. Tapi, sekalipun kuat, kalau caranya tidak benar, ya hasilnya nggak bakal maksimal.”
17.57 | 0 komentar | Read More

waktu yang disarankan untuk menggosok gigi

Menyikat sikat gigi adalah sebuah 'ritual' yang wajib dilakukan bila seseorang ingin kesehatan mulutnya terjaga. Sebab bila tak rutin disikat gigi akan alami karies kemudian rusak berlubang dan hal ini tentu bukan sesuatu yang mengenakkan.

Namun bagi orang yang rutin menyikat juga bukan jaminan giginya akan selalu sehat. Bila dilakukan sembarangan sikat gigi tak membawa manfaat. Hal ini terlihat dari laporan riset kesehatan dasar 2013 oleh Kementerian Kesehatan yang melihat angka kesadaran menyikat gigi masyarakat meningkat namun begitu juga dengan prevalensi karies gigi.

Prof Dr Melanie S. Djamil, drg, mengatakan bahwa sebetulnya hal yang penting dalam menyikat gigi adalah teknik. Pastikan seluruh permukaan telah tersikat dengan durasi yang tak usah terlalu lama juga.

"Tidak ada maksimal waktu, semua tergantung jumlah gigi. Yang pasti kita harus menyikat seluruh bagian gigi kita dengan gerakan mekanis yang baik selama 2-5 menit, dan semua permukaan harus terbersihkan," ujar drg Melanie yang menjabat sebagai Guru Besar Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti ketika dihubungi detikHealth dan ditulis pada Rabu (25/11/2015).
 

Hal serupa juga dikatakan oleh Prof Heriandi Sutadi, drg. SpKGA(K), PhD, dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Menurutnya durasi menyikat gigi bisa bervariasi namun untuk patokan sebaiknya dilakukan sekitar 3-5 menit.

Sekali lagi tapi perlu diingat bahwa lama menyikat bukan pegangan utama untuk hasil maksimal karena yang lebih penting adalah teknik. drg Irayani Queency Putri dari Hendra Hidayat Dental Clinic menyarankan agar seseorang memastikan kekuatan saat menyapu sikat pas.

"Baiknya 1-2 menit, tetapi lebih penting lagi untuk tidak terlalu keras dalam menyikat gigi. Kekuatannya harus sedang, tidak keras dan tidak terlalu pelan," ucapnya.
17.57 | 0 komentar | Read More
 
berita unik