Entri Populer

Welcome Guys

Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog

Tampilkan postingan dengan label kandungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kandungan. Tampilkan semua postingan

Khawatir Pil KB Bikin Rahim Kering? Simak Dulu Penjelasan Dokter

Written By iqbal_editing on Minggu, 10 September 2017 | 07.30

'Nggak mau pakai pil KB, takut rahimnya kering'. Kalimat ini sering sekali didengar oleh dokter spesialis kandungan dan kebidanan, dr Gita Pratama, Sp.OG.MrepSc. Apakah kekhawatiran ini beralasan?

"Ini mitos. Dikatakan kering karena sejak pakai pil KB darah haidnya jadi sedikit. Padahal ini karena tebalnya dinding rahim tidak setebal biasanya," terang dr Gita dalam sebuah acara di Gran Sahid Hotel, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta, Sabtu (25/4/2016).

Para ibu khawatir pemakaian pil KB akan membuat mereka susah mendapatkan kehamilan selanjutnya setelah tidak lagi mengonsumsi pil KB. Padahal menurut dr Gita, ketika seorang perempuan menghentikan konsumsi pil KB, lalu mendapatkan menstruasi kembali, maka efeknya sudah tidak ada lagi.

"Itu karena kadar hormon dalam darah sudah nol," jelas dr Gita.


Sementara itu pil KB juga memiliki manfaat non-kontraseptif. Misalnya saja mengurangi nyeri haid, mengurangi kehamilan di luar kandungan, mengurangi terjadinya kista ovarium, mengurangi penyakit radang panggul, juga mengurangi anemia dan defisiensi besi.

Dijelaskan dr Gita, pil KB generasi baru mengandung drospirenon yang memiliki karakteristik mirip dengan progesteron alami tubuh seorang perempuan. Ada kandungan mineralokortikoid yang menurut dr Gita justru mencegah pusing dan retensi cairan.

Beberapa orang menganggap konsumsi pil KB bisa memicu kanker. Namun anggapan ini ditepis dr Gita. Malah dikatakan dia, pil KB bisa menurunkan risiko kanker ovarium dan endometrium.

Bagaimana anggapan pil KB bisa memicu kegemukan? "Kegemukan itu dipengaruhi faktor individual seperti pola makan dan sugesti awal. Pil kontrasepsi modern tidak bikin gemuk. Kalau yang dulu memang bisa bikin gemuk," tutur dr Gita.

Menurut dr Gita, efektivitas pil KB juga cukup tinggi. "Pil KB salah satu alat kontrasepsi yang efektif, karena angka kegagalannya 0,3. Sedang tubektomi angka kegagalannya 0,5 karena bisa saja hamil kalau terjadi lagi penyambungan tuba," papar dr Gita.

Tapi ingat ya, konsumsilah pil KB sesuai petunjuk dokter agar efektivitasnya bisa dirasakan. Bagaimana, sudah tidak khawatir lagi kan mengonsumsi pil KB?
07.30 | 0 komentar | Read More

Tak Haid 3 Tahun Setelah KB, Ternyata Infeksi Penyebabnya

Penggunaan KB memang bisa mengganggu siklus haid wanita. Tapi, pada sejumlah kasus komplikasi bisa terjadi. Seperti seorang ibu yang awal lalu membagikan kisahnya di media sosial Facebook.

Kisah pengalamannya tersebut ia tulis untuk memperingatkan para ibu lainnya yang menghadapi kondisi serupa.

Baca juga: Risiko Setelah Menikah Langsung KB

Tak Haid 3 Tahun Setelah KB, Ternyata Infeksi PenyebabnyaFoto: Facebook Mey Erlyn


Diceritakan dalam postingan tersebut, awalnya ia menggunakan KB suntik selama tiga bulan setelah kelahiran anak pertamanya melalui persalinan sesar. Setelah itu, ia tidak lagi menstruasi selama beberapa bulan.

Sempat biasa saja menanggapi kondisi tersebut, setelah mendengar cerita dari ibu-ibu lainnya, pengguna Facebook bernama Mey Erlyn tersebut mulai khawatir ketika ia tak lagi haid sejak 2014 hingga 2017, bahkan setelah lepas KB.

Delapan bulan tidak lagi menggunakan KB, ia tetap tidak haid dan mulai merasakan sakit di perut bawahnya. Ia pun memeriksakan diri ke dokter dan mendapat informasi yang cukup mengejutkannya. Berikut cerita lengkapnya:
Tak Haid 3 Tahun Setelah KB, Ternyata Infeksi PenyebabnyaFoto: Facebook Mey Erlyn


KISAH NYATA
(Saya sendiri yang mengalami )
BAHAYA KB SUNTIK 3 BULAN TIDAK HAID

Untuk perempuan2 di luar sana yg belum mengalami apa yg sy rasakan mohon lebih hati2 memilih kb yg akan dipakai jika setelah melahirkan.
Saya seorang ibu mempunyai anak 1, saya melahirkan secara ceasar pada bulan MEI 2014.
Lalu setelah saya masa nifas habis pada bulan JUNI 2014 saya memutuskan untuk kb suntik 1 bulan. Saat itu masih normal haid sebulan sekali.
Kemudian bulan berikutnya saya pergi ke bidan lagi untuk kb, tapi bidan menyarankan untuk kb suntik 3 bulan. Karena saya sedang menyusui . sebab kb suntik 3 bulan yg bagus untuk ibu menyusui.
Waktu demi waktu berlalu setiap 3 bulan sekali saya kb suntik tidak haid sama sekali hingga anak saya umur 3 tahun .
Lalu saya berencana ingin menambah momongan.
Dan pada awal bulan FEBRUARI 2017 saya lepas kb suntik.
Hingga sebulan berlalu saya belum haid juga, mungkin dampak dari kb suntik jadi hormon belum stabil . sy masih cuek karna banyak yg bilang kalau kb suntik 3 bulan yg gk haid lama mengembalikan masa suburnya.
Hingga akhir bulan AGUSTUS 2017 haid pun tak kunjung datang. Padahal kalau di hitung dari sy lepas kb bulan FEB-AGUTS udah 8 bulan. Tapi belum haid sampai sekarang.
Sudah 3 hari ini saya merasakan sakit banget bagian bawah perut dan keputihan banyak padahal saya tidak pernah keputihan selama kb suntik.
Lalu sore tadi saya memeriksakan ke dokter spesialis kandungan untuk konsultasi penyebab sakit y bagian bawah perut.
Saat saya masuk ke ruangan dokter, dokter menanyakan beberapa pertanyaan. Berikut bercakapan saya dan dokter :
Dokter : selamat sore ? Apa yg d keluhkan bu ?
Saya : sore dok . ini dok perut saya bagian bawah sakit bget kenapa y dok .
Dokter : menanyakan beberapa pertanyaan .
Saya : menjawab beberapa pertanyaan dr dokter
Dokter : menyuruh saya untuk berbaring d tempat tidur untuk d periksa d usg
Saya : saya berbaring
Lalu perawat membuka sedikit baju saya bagian perut
Dokter :mulai memeriksa dengan alat usg. Lalu dokter menunjukan ada pembekakan d dalam rahim saya yg terinveksi.
Saya : kaget sedih campur aduk lah . . melihat gambar usg yg d tunjukan dokter .
Kemudian saya kembali duduk di kursi depan dokter.
Dokter berkata " harus d bersihan dulu baru d obatin "
Besok senin tgl 4 SEPTEMBER 2017 datang ke ugd y untuk melakukan tindakan medis pembersihan rahim .
Saya bertanya ke dokter :
Kenapa bisa inveksi pembekakan rahim y dok ??
Dokter menjawab :
Karena darah kotor tidak keluar selama itu 3 tahun lebih . makanya membuat bengkak rahim y . kalau kondisi ibu seperti ini gk bakalan bisa hamil .harus d bersihin dulu rahim ibu .
Dalam pikiran ya allah hanya karna KB SUNTIK saya harus melakukan operasi lagi ..='( ='( *Tear* *Tear*
Ternyata bahayanya kb suntik jika tidak haid sama sekali .
Pembelajaran terutama buat saya ,harus lebih hati2 lagi memilih kb.
Untuk perempun di luar sana yg belum pernah mengalami apa yg saya rasakan mohoon untuk lebih hati2 dan selektif menggunakan kb suntik .

Mohon maaf jika ada kata2 yg mungkin salah karna kesempurnaan hanya milik allah.
07.27 | 0 komentar | Read More

Ada Varises di Vagina, Ibu Hamil Disarankan Melahirkan dengan Prosedur Caesar

Written By iqbal_editing on Kamis, 31 Agustus 2017 | 20.40

Pada ibu hamil, kadang bisa terjadi kasus varises yang muncul di vagina maupun uterus. Nah, jika terjadi kondisi seperti ini, persalinan disarankan dilakukan dengan prosedur caesar.

"Ketika varises itu pecah maka pembuluh darah itu akan susah dihentikan pendarahannya untuk dijahit. Makanya kalau ada varises vagina kita hindari untuk persalinan normal karena terlalu berbahaya," papar dr Boy Abidin SpOG dari RS Mitra Keluarga Kelapa Gading, Jakarta, dalam perbincangan dengan detikHealth beberapa waktu lalu.

dr Boy menambahkan, varises akan membuat pembuluh darah rapuh. Inilah yang berpotensi menyebabkan perdarahan nantinya. "Jadi lukanya jadi compang-camping karena pembuluh darahnya lunak. Jadi terlalu berisiko (untuk persalinan normal)," lanjutnya.

"Mungkin bayinya lahir keluar tapi setelah itu masalahnya pada perdarahan," imbuh dr Boy.

Baca juga: Ibu Hamil Perlu Tahu! Tak Cuma di Kaki, Varises pun Bisa Muncul di Vagina

dr Nana Agustina SpOG dari RSU Bunda Jakarta sependapat bahwa varises di vagina maupun uterus bisa berbahaya bagi ibu hamil jika 'dipaksa' melahirkan secara normal. Menurutnya, nyawa pasien menjadi taruhan karena perdarahan yang terjadi.

"Bayi lahir sehat tapi ibunya perdarahan," kata dr Nana.

"Risiko ibunya bisa meninggal karena ketika pembuluh darah pecah terjadi perdarahan hebat, nyawa ibu taruhannya. Maka jalan satu-satunya ya caesar," sambung dr Nana.

Lalu apakah varises di vagina maupun uterus bisa diatasi? Menurut dr Nana, jika varises muncul saat kehamilan, biasanya ketika bayi sudah lahir, varises akan membaik sendiri. Ini bisa terjadi lantaran tidak lagi terjadi penekanan dari janin.

"Karena nggak ada penekanan, pembuluh darah akhirnya mengecil dan nggak ada tekanan lagi, sehingga sembuh sendiri. Atau bisa juga pakai stoking. Tapi kalau sudah parah, setelah melahirkan nggak mengecil-mengecil maka harus terapi pada dokter pembuluh darah," terang dr Nana.
20.40 | 0 komentar | Read More

Lakukan Pose Yoga Saat Hamil, Wanita Ini Alami Gangguan Penglihatan

Written By iqbal_editing on Minggu, 20 Agustus 2017 | 17.27

Seorang wanita hamil di Inggris mengalami kasus langka, penglihatannya hilang usai melakukan pose yoga. Kasus ini dilaporkan dalam BMJ Case Reports.

Wanita 35 tahun yang tidak disebutkan namanya tersebut tengah mengandung 27 bulan saat melakukan gerakan downward. Dalam gerakan tersebut, kepalanya diregangkan hingga posisinya lebih rendah dari pantat.

Posisi tersebut, diduga menyebabkan aliran darah ke kepala yang kemudian memicu valsalva retinopathy (VR). Gejalanya langsung dirasakan seketika, sehingga wanita itu langsung dilarikan ke rumah sakit.


Beruntung, lima bulan berikutnya ia melahirkan seorang bayi sehat dengan selamat. Penglihatannya yang sempat hilang pun dilaporkan telah membaik.

Menurut dokter, prognosis atau peluang sembuh pada kondisi semacam ini sangat variatif. Namun dalam sebagian besar kasus, pemulihannya disebut sangat baik.
17.27 | 0 komentar | Read More

Hendak Melahirkan, Ibu Ini Harus Jalan Seharian ke Puskesmas

Written By iqbal_editing on Selasa, 01 Agustus 2017 | 01.19

Dengan perut besar karena usia kandungan yang sudah tua, Delvi Tapenu harus turun gunung. Dia pun harus berjalan kaki ke puskesmas terdekat yang ditempuh dalam waktu sekitar 14 jam. Ini semua dilakukannya agar bayi lahir dengan selamat.

Delvi saat ini tinggal di rumah tunggu kelahiran. Dia mulai tinggal di sana seminggu sebelum tanggal perkiraan kelahiran anaknya.

Delvi menuturkan rumahnya berada di Desa Bikekneno, Mollo Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Daerah yang memang cukup jauh dari puskesmas. Jika hujan turun dalam perjalanan ke puskesmas, dia harus berhenti untuk berteduh terlebih dahulu.


"Kalau jalan kaki pagi dari sini, malam tiba. Jalan jam 5 pagi sampai jam 7 malam," ucap Delvi.

Kata Delvi, jalan kaki dipilihnya karena disebut lebih aman dan efisien dibanding menggunakaan kendaraan motor. Sebab, selain akses jalannya yang berbatu, butuh uang 100 ribu untuk membayar ongkos ojek sepeda motor.

"Kalau motor yang sudah biasa masuk (ke daerah puskesmas) 2 jam, kalau yang baru 3-4 jam," terang perempuan berusia 20-an tahun itu.





Setelah beberapa hari tinggal di rumah tunggu kelahiran, pada 1 Mei 2017 lalu, Delvi melahirkan bayi perempuan dengan berat badan 2,4 kg. Meski berat badannya di bawah 2,5 kg namun kondisi si bayi secara umum dalam keadaan sehat.

Bayi yang dilahirkan DelviBayi yang dilahirkan Delvi Foto: Suherni


Di saat yang sama, Menteri Kesehatan RI, Prof Dr dr Nila Djuwita F Moeloek, SpM (K), menemui Delvi sambil berbincang-bincang, Nila juga memberi anjuran untuk tetap memberikan ASI pada bayi. "Tapi Ibu, makannya juga mesti baik, nanti kalau nggak ASI-nya nggak keluar, kasihan bayinya. Suami kerja apa Ibu? Petani. Ini anak pertama ya? Senang. Selamat ya, perempuan? Cantik kamu, senang lihatnya," kata Nila sambil memberi senyum.

Delvi dan Menkes NilaDelvi dan Menkes Nila Foto: Suherni
01.19 | 0 komentar | Read More

33 kondisi yang menyebabkan persalinan terasa nyeri

Written By iqbal_editing on Senin, 24 Juli 2017 | 00.13

Melahirkan kadang dianggap horor karena rasanya begitu menyakitkan. Meskipun sudah ada obat penghilang rasa nyeri pada proses persalinan tetapi dinilai kurang membantu. Persalinan yang begitu nyeri terjadi dalam 3 kondisi ini.

Ada begitu banyak faktor yang mempengaruhi nyeri persalinan. Namun 3 kondisi ini paling banyak yang mengeluhkan rasa sakit luar bisa yaitu wanita yang pertama kali melahirkan, wanita gemuk dan wanita yang lama persalinannya.

Karena ada begitu banyak faktor yang mempengaruhi nyeri persalinan, Nitin K. Sekhri MD dari Columbia University Medical Center berusaha menggunakan model matematika untuk menghitung semua variabel yang mengarah pada penghitungan data yang digunakan untuk pengobatan nyeri pada 3 kondisi itu.

Dengan bantuan peneliti dari dokter dan ahli bedah Columbia University College, Rumah Sakit Sharp Mary Birch di San Diego dan University of California San Fransisco, Dr Sekhri dan rekan-rekan mewawancarai 800 orang wanita melahirkan. Dia mengumpulkan informasi mengenai etnis, usia, berat badan, tinggi badan, berapa kali telah melahirkan sebelumnya, apakah kelahirannya diinduksi, berapa minggu usia kehamilan dan berat bayi.

Skor nyeri dicatat setiap jam sampai wanita mencapai pelebaran penuh leher rahim. Dr Sekhri dan timnya menemukan bahwa wanita di bawah usia 25 tahun melaporkan skor nyeri yang lebih tinggi bahkan setelah penempatan epidural.

Dr Sekhri berspekulasi bahwa wanita yang lebih muda mungkin memiliki sistem dukungan sosial yang lemah dan mekanisme tubuh untuk mengatasi rasa sakit di tubuhnya lebih rendah.

"Kebanyakan wanita yang menerima kateter epidural dengan nyaman selama persalinan. Tetapi dalam beberapa kasus, kateter epidural tidak membantu wanita menghilangkan rasa sakit atau hanya sedikit membantu. Bahkan ada beberapa wanita yang masih terus merasa sakit setelah penempatan epidural," kata Dr Sekhri seperti dikutip dari Newswise.com, Jumat (21/102011).

Epidural merupakan suatu metode penyuntikan obat penahan rasa sakit (analgesik) melalui kateter atau tabung kecil yang ditempatkan ke dalam suatu ruang di tulang belakang. Penyuntikan ini dapat menyebabkan hilangnya sensasi (anestesi) dan rasa sakit (analgesik) dengan cara menghalangi penyampaian sinyal saraf sumsum tulang belakang.

Metode epidural adalah metode yang relatif aman untuk menghilangkan nyeri pada persalinan. Pada banyak kasus persalinan, metode ini cepat menghilangkan rasa nyeri. Cara ini dianggap lebih efektif daripada metode pembiusan lain saat melahirkan.

Wanita yang mengalami obesitas melaporkan nyeri lebih besar setelah penempatan metode epidural daripada wanita dengan indeks massa tubuh normal. Perbedaan ini dapat dijelaskan oleh fakta bahwa metode epidural terkadang lebih sulit diterapkan pada wanita gemuk dan tabung kateter lebih mudah bergeser karena obesitas sehingga menyebabkan aliran obat tidak tepat sasaran.

"Memahami bahwa wanita yang lebih muda, wanita gemuk dan wanita yang lama mengalami persalinan berisiko nyeri bahkan setelah penempatan epidural dapat membantu dokter dan perawat mengidentifikasi pasien yang rentan. Hal ini memungkinkan tim medis yang merawat pasien agar lebih memperhatikan pasien yang berisiko dan mempercepat intervensi," kata Dr Sekhri.
00.13 | 0 komentar | Read More

*Usia Janin dalam Satuan Minggu detikHealthHealth NewsJangan Anggap Enteng, Kebiasaan Olahraga Juga Pengaruhi Kesuburan Jangan Anggap Enteng, Kebiasaan Olahraga Juga Pengaruhi Kesuburan

Written By iqbal_editing on Minggu, 23 Juli 2017 | 23.56

Rutin olahraga tak cuma penting untuk menjaga kestabilan berat badan. Nyatanya hal ini juga berdampak positif bagi tingkat kesuburan tubuh Anda.

Menurut pakar kesehatan kesuburan dari USC Fertility, Los Angeles, Kristin Bendikson, MD, memiliki pola hidup sehat dengan rutin olahraga benar adanya juga berpengaruh terhadap tingkat kesuburan.

"Namun demikian, tetap harus diperhatikan porsinya. Jika berat badan Anda normal, olahraga berlebihan dan terlalu dipaksakan justru bisa mengganggu kerja hormon. Pada wanita, hal ini bisa memengaruhi siklus haid," tutur Bendikson, dikutip dari Women's Health Mag.

Baca juga: Nekat Bercinta Saat Haid, Hati-hati Risikonya

Ia melanjutkan, olahraga yang lebih sering biasanya lebih dibutuhkan pada mereka yang memiliki berat badan berlebih. Sebab untuk mengembalikan kestabilan hormon dan meningkatkan tingkat kesuburan, maka langkah awal yang dianjurkan adalah menurunkan berat badan.

"Tapi jika berat badan masih berada pada tingkat normal, lalu Anda justru olahraga secara ekstrem lalu diet rendah kalori, Anda justru berisiko berhenti berovulasi sama sekali," imbuhnya.

Dengan kata lain, olahraga juga dapat memengaruhi kesuburan Anda secara positif karena meningkatkan kesehatan jantung dan paru-paru, bersamaan dengan kesejahteraan emosional. Demikian disampaikan oleh pakar endokrinologi reproduksi dan kesuburan Sheeva Talebian, MD.


"Kuncinya adalah berolahraga cukup dan sesuai kebutuhan. Dengan cara itu, Anda akan mendapatkan manfaat peningkatan kesuburan namun tetap aktif dan tidak berlebihan," pesan Talebian.

Mengapa berat badan berkaitan dengan tingkat kesuburan? Menurut penelitian dari Journal of Turkish German Gynecological Association, wanita dengan berat badan berlebih memiliki peluang lebih tinggi untuk mengalami masalah kesuburan. Selain itu, mereka juga memiliki peningkatan risiko mengalami komplikasi kehamilan atau bahkan keguguran.

Sebaliknya, berat badan yang terlalu rendah dan kurang dari normal juga bisa berdampak negatif pada kesuburan. Kedua kondisi ini diketahui dapat memengaruhi kadar hormon, yang menyebabkan siklus menstruasi dan ovulasi tidak teratur.
23.56 | 0 komentar | Read More

Ingat, Kena Endometriosis Bukan Berarti Wanita Tidak Akan Bisa Hamil

Written By iqbal_editing on Jumat, 21 Juli 2017 | 18.14

Putus asa dan langsung berpikir tidak akan bisa memiliki anak sering kali terjadi pada wanita pasca ia didiagnosis endometriosis. Meskipun, tak melulu seperti itu kenyataannya.

"Belum tentu wanita yang kena endometriosis itu bakal susah punya anak, karena statistik menunjukkan hanya 26 persen saja yang kesulitan punya anak," tegas dr Hari Nugroho SpOG dari RSUD Dr Soetomo Surabaya saat berbincang dengan detikHealth.

Ketika hamil, disebutkan endometriosis bisa mereda. Menurut dr Hari, hal ini bisa terjadi karena pada dasarnya perkembangan endometriosis sangat bergantung dengan kadar estrogen. Pada kehamilan, kadar estrogen menurun sehingga progresifitas dari endometriosis bisa tertekan.


"Tapi hanya menekan progresifitasnya saja ya, bukan menyembuhkan. Sama halnya dengan menyusui yang membuat kadar estrogen menurun sehingga bisa meredakan endometriosis," tambah pria yang juga pendiri GMITS (Gynecologic Minimally Invasive Treatment Surabaya-www.trust-gmits.com) ini.

Dikutip dari endometriosis.org, disebutkan bahwa sekitar 60 sampai 70 persen wanita dengan endometriosis masuk kategori subur. Kemudian, sekitar setengah dari wanita dengan endometriosis yang kesulitan hamil akhirnya bisa hamil dengan atau tanpa pengobatan.

Selain itu, disebutkan pula bahwa jaringan parut pada tuba falopi akibat adanya endometriosis bukanlah penyebab umum dari infertilitas. Sebab, penyakit radang panggul juga berkaitan dengan infertilitas yang dialami wanita.

Penyakit radang panggul merupakan infeksi yang merusak atau menyumbat tuba falopu. Kondisi ini bisa menyebabkan infertilitas dengan mencegah terjadinya sel telur yang sudah bertemu dengan sperma masuk ke tuba falopi. Sebaliknya, endometriosis pada tuba falopu lebih jarang menyebabkan infertilitas.
18.14 | 0 komentar | Read More

Begini Cara Bedakan Nyeri Haid Normal dengan Endometriosis

, Nyeri haid merupakan keluhan utama dari adanya endometriosis. Hal ini tentu menyulitkan untuk membedakan nyeri haid normal dengan endometriosis.

Menanggapi hal ini, dr Ichandy Arief Rachman SpOG mengatakan pada dasarnya batas rasa nyeri pada setiap wanita berbeda-beda. Maka dari itu, membedakan nyeri haid normal dengan endometriosis sering dianggap sulit.

dr Ichandy melanjutkan, rasa nyeri saat haid bisa dinilai dengan membandingkan kualitas kegiatan yang dilakukan. Misalnya, seseorang masih dapat beraktivitas seperti biasa maka nyeri haid dianggap normal.

"Tapi kalau sampai teramat sangat sakit dan nggak bisa beraktivitas sama sekali itu bisa jadi (gejala endometriosis). Sebaiknya periksakan setelah haid," kata dokter yang praktik di RSPAD Gatot Soebroto ini.

Hal ini ia sampaikan kepada detikHealth di sela-sela acara KARMIG meeting 2017 di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta Pusat, Jumat (21/7/2017).


Lebih lanjut, dr Ichandy mengatakan bahwa di Indonesia masih banyak wanita yang belum memeriksakan diri lebih awal. Inilah yang menyebabkan sampai saat ini penanganan dari endometriosis menjadi sulit.

"Di Indonesia ini kebanyakan orang 'nrimo' dengan rasa nyeri yang hebat. Sehingga sering datang ke rumah sakit dalam kondisi yang sudah parah," sambung dr Ichandy.

Lantas, benarkah haid dalam jangka waktu dan jumlah yang lama dan merupakan salah satu ciri endometriosis? Menurutnya hal tersebut harus diperiksa lebih dalam dengan menggunakan USG (ultrasonografi) karena setiap orang memiliki ciri yang berbeda.
18.11 | 0 komentar | Read More

Tak Seperti Zika, Ancaman CMV Belum Banyak Diperhatikan

Written By iqbal_editing on Selasa, 18 Juli 2017 | 21.23

Baru-baru ini dunia digemparkan oleh adanya epidemi atau wabah virus Zika yang mengakibatkan mikrosefali pada bayi baru lahir. Padahal ada virus yang lebih horor dari Zika.

Ambil contoh kasus di AS. Wabah Zika yang hanya berlangsung selama beberapa bulan itu mengakibatkan lebih dari 2.000 bayi mengalami kerusakan otak. Namun sebuah virus bernama Cytamegalovirus (CMV) tercatat menyerang 20.000-40.000 bayi tiap tahunnya.

20 Persen bayi yang terlahir dengan CMV mengalami cacat permanen seperti gangguan pendengaran hingga ketulian, penurunan intelektual, dan gangguan penglihatan. Ditambah lagi, tak ada pengobatan standar ataupun vaksin untuk mengatasi virus ini.

"Anehnya, semua orang tahu tentang Zika, padahal ini saja langka sekali di AS," tandas Dr Mark R Schleiss, direktur divisi penyakit menular anak di University of Minnesota Medical School seperti dilaporkan New York Times.

Seharusnya, lanjut Schleiss, penanganan terhadap CMV mendapatkan prioritas yang sama besarnya dengan Zika, termasuk dalam pembuatan vaksin untuk kondisi ini.

"Tetapi nyatanya sampai sekarang tidak ada. Dugaan kami salah satunya karena kurangnya kesadaran publik akan keberadaan CMV," ungkapnya.

Baca juga: Kelainan Bawaan Saat Lahir, Adakah Hubungannya dengan Infeksi CMV?

Bahkan di negara semaju AS, tidak ada peringatan yang jelas tentang CMV, apalagi kampanye tentang bagaimana mengurangi risiko terinfeksi CMV. Padahal persebaran CMV dapat dihindari hanya dengan cuci tangan, terutama seusai mengganti popok atau tidak berbagi alat makan dengan si kecil.

Hal ini pulalah yang disesali Laura Sweet (37). Ia baru tahu jika terinfeksi CMV saat anak keduanya, Jane mengalami ketulian di ulang tahunnya yang pertama. Sweet mengaku dokternya telah mewanti-wanti agar ia menjauhi kucing peliharaannya dan tidak minum alkohol, tetapi tak pernah menyebutkan tentang CMV.

Barulah setelah berbulan-bulan kemudian, dokter menemukan bahwa Jane tertular CMV dari ibunya saat masih dalam kandungan.

"Andai saja ada peringatan atau informasi tentang CMV yang diberikan, setidaknya kami bisa melakukan sejumlah perubahan," ujar Sweet penuh sesal.

Baca juga: Orang-orang Seperti Ini Dianjurkan Segera Tes CMV

Dari hasil survei yang dilakukan lembaga di tingkat federal, kurang dari separuh dokter kandungan di AS yang memberitahukan pasiennya tentang CMV dan bagaimana mengantisipasi virus 'licik' ini. Sebaliknya, sebagian besar dokter di AS justru lebih banyak bicara tentang Zika setelah wabah virus ini merebak luas.

Padahal dari studi yang dilakukan di sebuah rumah sakit di Prancis mengungkap konseling tentang pencegahan CMV selama 5-10 menit saja sudah cukup menurunkan angka kasus infeksi CMV pada ibu-ibu hamil. Studi lain menyebut, ibu hamil yang diperlihatkan video dan diberi wejangan tentang higienitas berpeluang lebih kecil untuk terserang CMV (5,9 persen) dibandingkan yang tidak diberi informasi sama sekali (41,7 persen).

Jane kini harus menggunakan implan koklea sebagai alat bantu dengar. Untungnya ia mendapatkan intervensi sejak dini semisal terapi fisik, sehingga sudah bisa berjalan di usia 16 bulan.

Namun masa depan Jane masih berada di awang-awang. Sebab infeksi CMV juga meninggalkan abnormalitas pada otaknya. "Kami takkan pernah tahu apa yang akan terjadi sampai dia masuk sekolah nanti. Barulah kami bisa memastikan apakah terjadi perlambatan proses pembelajaran," tutup Sweet.
21.23 | 0 komentar | Read More

Nutrisi Alami Vs Buatan, Mana Lebih Baik untuk Bumil? Ini Kata Dokter

Written By iqbal_editing on Senin, 17 Juli 2017 | 01.46

Apakah yang alami selalu lebih baik dari yang buatan? Kebanyakan orang berkata 'ya'. Alami selalu dilabeli dengan segala hal yang positif.

Namun, dokter fetomaternal dari RS Cipto Mangunkusumo, dr M Adya F Dilmy, SpOG, BMsc mengatakan bahwa hal ini harus dikaji secara bijaksana. Jangan sampai ada pro kontra dalam hal ini.

"Tentunya ada hal-hal tertentu yang lebih baik alami. Ada alami yang jelek. Ada buatan yang jelek. Tapi ya kita pertimbangkan saja gunanya untuk apa," ujarnya saat acara halal bihalal dan seminar kesehatan di Auditorium Gedung BKKBN, Jl. Permata No. 1 Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur beberapa waktu yang lalu.


Tentunya ibu hamil harus benar-benar mempertimbangkan pilihannya. Tidak semua hal yang alami itu lebih aman dibandingkan yang buatan.

"Kalau gunanya karena kurang zat besi dan sangat kurang, mikirnya mending transfusi darah, itu kan alami ya, atau suplemen zat besi? Kalau transfusi kan bahayanya bisa infeksi HIV, penularan hepatitis, ketidakcocokan golongan darah, meninggal dunia. Kalau suplemen zat besi paling sakit lambung atau muntah," jelas dokter yang disapa dr Dido tersebut.

Di kesempatan yang sama, dr Ulul Albab SpOG dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) juga menyampaikan pendapat yang sama. Menurutnya beberapa bahan yang alami itu juga ditunjang dengan bahan buatan yang terkadang mengandung kimiawi.

"Bahan baku kita mayoritas 80 persen masih bahan baku sintetik, bukan alami. Contohnya ada produk yang bahannya jahe, jahe aman untuk ibu hamil. Tapi bada bahan lainnya nggak? Proses packaging-nya alami nggak? Banyak yang bilang jamu alami, tapi bahan pendukungnya nggak alami," ujarnya.


Dalam memilih produk harus selektif disesuaikan dengan kebutuhan, jangan karena brand yang mendunia namun berdampak negatif bagi tubuh. Masyarakat juga harus paham mengenai informasi produk-produk yang alami, apakah didukung dengan bahan buatan atau tidak.

"Pada dasarnya, hal-hal yang buat pasien nyaman dan sudah dilakukan jauh sebelum dia hamil, silakan diteruskan. Selama tidak mengganggu kehamilannya, baik pada ibu juga janinnya," tutup dr Ulul.
01.46 | 0 komentar | Read More

bKalau Kondisinya Begini, Ibu Hamil Jadi Rentan Kena CMV

Seorang bayi asal North Carolina, AS akhirnya bisa mendengar suara ibunya untuk pertama kali setelah dipasangi implan koklea. Pendengarannya hilang sejak lahir karena terinfeksi Cytomegalovirus dalam kandungan.

Lantas bagaimana bisa bocah malang ini terinfeksi Cytomegalovirus sejak dalam kandungan? Diungkapkan dr Ludhang Pradipta Rizki, M.Biotech, SpMK, Cytomegalovirus atau biasa disebut CMV merupakan virus yang memang dapat menginfeksi segala usia, bahkan janin sekalipun.

Ironisnya, janin tertular virus yang biasa disebut dengan CMV ini dari ibunya sendiri. "CMV ini asal kata kuncinya itu daya tahan tubuh yang rendah. Jadi sebenernya kalau dalam kondisi yang lemah, siapa saja bisa terkena," tandasnya saat berbincang dengan detikHealth beberapa waktu lalu.

Hanya saja untuk ibu hamil, risikonya menjadi tinggi karena daya tahan tubuhnya kerap berada dalam keadaan rendah. "Tapi yang positif HIV itu juga bisa kena," imbuhnya.

Kendati demikian, menurut dr Ludhang ibu hamil tidak selamanya memiliki risiko tinggi terinfeksi CMV. Ini karena daya tahan tubuh seseorang bergantung pada dua hal: fisik dan mental.

"Kalau ibu hamil punya daya tahan tubuh yang baik, makanannya bagus, dianya happy, enjoy dengan keadaannya, mempersiapkan kehamilannya dengan baik, dan yang terpenting support dari orang-orang sekitar, maka daya tahan tubuhnya pun prima," paparnya.


Ditambahkan pria yang juga staf pengajar Bagian Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada tersebut, ketika tidak hamil, CMV ini sebenarnya tidak akan memberikan efek berarti. Lain halnya jika yang bersangkutan berencana untuk hamil. Karena virus ini dapat menular dari ibu ke janin, maka tindakan preventif perlu dilakukan.

"Sama seperti Zika, itu kalau umpamanya traveller-nya fine-fine aja ya gak masalah, apalagi yang laki kemudian istrinya gak ada rencana hamil ya nggak masalah. Yang dikhawatirkan kan gangguan pada proses kehamilannya itu," katanya.


Bagaimana CMV bisa menular? "Biasanya kalau dia udah ada infeksi di dalam tubuh, itu akan bertahan lama dalam tubuh kita walaupun sifatnya dormant. Artinya selama sistem kekebalan kita baik, dia tidak akan memberi efek apapun," jelas dr Ludhang.

Berdasarkan laporan di lapangan, dr Ludhang juga mengatakan tidak ada keluhan umum maupun khas yang terlihat pada orang-orang yang terinfeksi CMV.

"Umumnya asymptomatic, bisa tidak bergejala atau tidak mempunyai gejala yang khas. Ibu hamil yang menderita CMV pun barangkali kalau tidak diskrining atau diperiksakan, barangkali tidak menunjukkan keluhan yang khas," urainya.

Namun pada kasus-kasus tertentu, ada pasien yang memperlihatkan gejala tertentu, seperti demam, walaupun ini sangat jarang terjadi.

"Ya kalau serem tidaknya lebih pada bagaimana kita menyikapinya. Kalau umpamanya itu tidak bergejala tapi kita ngeh kalau kondisi kita sedang tidak fit, maka tidak ada salahnya kita konsultasi ke dokter atau skrining," pesannya.
01.23 | 0 komentar | Read More

*Usia Janin dalam Satuan Minggu detikHealthIbu & Anak3 Pesan Penting Pak Dokter Agar Kehamilan di Trimester Pertama Tetap Sehat 3 Pesan Penting Pak Dokter Agar Kehamilan di Trimester Pertama Tetap Sehat

Written By iqbal_editing on Sabtu, 15 Juli 2017 | 11.00

Menjaga kehamilan agar tetap sehat mutlak dilakukan setiap calon ibu, bahkan sang ayah. Nah, bagi ibu yang sedang mengandung di trimester awal kehamilan, dokter punya pesan agar kehamilan tetap sehat.

Seperti penuturan dokter spesialis kebidanan dan kandungan dari Divisi Fetomaternal RSU Dr Soetomo Surabaya, dr Khanisyah Erza Gumilar, SpOG, ada tiga hal yang baiknya tidak dilakukan ibu yang tengah hamil muda di mana usia kandungannya di bawah tiga bulan. Apa saja?

"Pertama jangan naik turun tangga. Kalau kantor berada di lantai dua ya naik-turunnya sekali dalam sehari yaitu pagi atau sore," kata dr Erza ketika berbincang dengan detikHealth baru-baru ini.

Ia menjelaskan naik turun tangga merupakan salah satu aktivitas yang berhubungan dengan rongga panggul. Sehingga hal tersebut dapat memanipulasi janin dan memicu kontraksi pada rahim.

Hal kedua adalah ibu diminta jangan mengangkat beban yang berat, walaupun ukuran berat pada setiap orang berbeda. Sebab, bukan tak mungkin ketika melakukan aktivitas berat, ibu berisiko mengalami keguguran.


"Ketiga kalau mau berhubungan seks kondisi ibu jangan ada masalah. Kalau aktivitas seks dirasa memberatkan maka bisa memanipulasi mulut rahim sehingga memicu kontraksi," sambung dokter yang juga praktik di RS Pendidikan Universitas Airlangga.

dr Erza menambahkan, pada ibu hamil yang ingin berhubungan seks, posisi yang paling baik adalah woman on top alias wanita yang berada di atas. Dengan posisi ini, istri dapat mengatur ritme kapan ia merasa nyaman ataupun merasa tidak nyaman.

"Hal lainnya, tidak disarankan melakukan ejakulasi di dalam, secara teori memang begitu. Karena sperma itu ada prostaglandin yang merupakan stimulator untuk terjadinya kontraksi rahim," kata dr Erza.

Sehingga bagi pasangan suami istri yang ingin melakukan hubungan seks ketika hamil, yang harus diperhatikan adalah dilakukan secara perlahan-lahan, penuh tanggung jawab dan sesuai kondisi ibu hamil. Ia memberi contoh ketika ibu hamil memiliki riwayat penyakit jantung maka sebaiknya tidak melakukan hubungan seks yang cukup sering.

"Kasihan kan istrinya kalau sudah sakit terus capek diminta sering berhubungan seks. Tapi kembali lagi ke setiap pasangan, kalau masih bisa nggak apa-apa," pungkas dr Erza.
11.00 | 0 komentar | Read More

Seperti Halnya anita, Pria Juga Harus Ikut Mempersiapkan Kehamilan

, Kehamilan identik dengan wanita, tentu saja karena hanya wanita yang mengalaminya. Disebut-sebut, wanita harus mempersiapkan kehamilan sejak sebelum menikah.

Menurut dokter bagian fetomaternal RS Cipto Mangunkusumo, dr M. Adya F. Dilmy, SpOG, BMsc, pria juga perlu berpartisipasi dalam proses persiapan kehamilan. "Kesehatan suami juga dipersiapkan sejak dini," katanya.

Baik pada pria maupun wanita, persiapan kehamilan harus dimulai sejak dini. Dukungan nutrisi yang baik akan sangat berpengaruh pada kesehatan sang buah hati nantinya.

"Gizi dan nutrisi yang dikonsumsi itu bisa mempengaruhi kesehatan bayi nantinya," ujarnya saat acara halal bihalal dan seminar kesehatan di Auditorium Gedung BKKBN, Jl. Permata No. 1 Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur, Sabtu (15/7/2017).

Baca juga: Kisah Andien Menyiapkan Kehamilan Sejak Sebelum Nikah

Menurutnya nutrisi seperti zat besi, mineral, zink, dan lainnya harus diperhatikan sejak wanita memasuki masa pubertas. "Dari mulai haid sudah dipersiapkan untuk menjadi ibu yang handal," imbuh dokter yang disapa dr Dido.

Hal yang sama juga dituturkan oleh dr Ulul Albab, SpOG bahwa wanita juga harus melakukan periksa kesehatan organ reproduksinya sebelum menikah.

"Jadi ada prenatal screening, ada beberapa screening sebelum dia menikah. Ada masalah nggak di organ untuk kehamilannya nanti," jelasnya.
10.58 | 0 komentar | Read More

*Usia Janin dalam Satuan Minggu detikHealthIbu & AnakHati-hati Bumil, Mual Berlebih Bisa Jadi Hiperemesis Gravidarum Hati-hati Bumil, Mual Berlebih Bisa Jadi Hiperemesis Gravidarum

Pada masa kehamilan, mual dan muntah adalah hal yang wajar di alami oleh ibu hamil. 90 Persen ibu hamil pasti mengalami mual dan muntah, yang biasanya terjadi di trimester pertama kehamilan.

Tapi tahukah kamu bahwa mual berlebih bisa berisiko terhadap kesehatan si ibu? Hal ini disebut dengan mual dan muntah hebat, atau dalam bahasa medis dikenal dengan nama hiperemesis gravidarum..

Menurut dokter obstetri dan ginekologi, dr Ulul Albab, SpOG, gejala terjadinya hiperemesis gravidarum atau disebut HEG adalah jika si ibu mengalami mual muntah lebih dari 10 kali dalam waktu 24 jam. Bisa terjadi di trimester kedua bahkan memburuk di trimester ketiga.


"Biasanya dirasakan saat kehamilan usia 16 minggu, sudah diberi terapi sederhana juga nggak sembuh, dan mengganggu kegiatan sehari-hari," jelasnya saat acara halal bihalal dan seminar kesehatan di Auditorium Gedung BKKBN, Jl. Permata No. 1 Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur, Sabtu (15/7/2017).

Dokter yang merupakan perwakilan dari Ikatan Dokter Indonesia ini menjelaskan bahwa risiko dari mual muntah berlebih dapat menyebabkan dehidrasi pada si ibu.

"Banyak cairan keluar, kayak muntah yang warna kuning," imbuhnya.

Selain itu, gangguan ini juga dapat menyebabkan penurunan berat badan ibu lebih dari tiga kilogram atau lima persen dari berat badannya. Hal yang lebih parah dapat menyebabkan robekan pada selaput kerongkongan dan lambung.

Tidak hanya berisiko pada ibu, risiko pada bayi pun juga bisa terjadi seperti pertumbuhan janin terhambat dan berat badan lahir rendah.
10.50 | 0 komentar | Read More

Demam dan Ruam Merah Saat Hamil? Waspada Rubella Nular ke Janin

Written By iqbal_editing on Jumat, 14 Juli 2017 | 03.45

Blogger Grace Melia alias Gesi (28) terkena Rubella saat hamil. Hal ini membuat buah hatinya, Aubrey Naiym Kayacinta atau Ubii (5) ikut tertular sejak dalam kandungan.

Ubii pun terlahir tuli, punya kebocoran jantung, pengapuran otak, retardasi psikomotorik atau cerebral palsy. Ini karena ia terdiagnosis Congenital Rubella Syndrome atau rubella kongenital.

Kepada detikHealth, Gesi menceritakan bahwa dirinya belum tahu sedang hamil kala terkena Rubella. Namun ia memperkirakan usia kehamilannya saat itu berada pada trimester pertama, yakni sekitar dua atau tiga bulan.
 

"Waktu pertama kali sakit, saya belum tahu lagi hamil, tapi itu kemungkinan di trimester pertama. Sempat tanya ke dokter juga tidak disebut-sebut Rubella, ke dokter kandungan saat tahu hamil pun tidak dianjurkan untuk cek darah," tutur wanita yang akrab berbagi kisahnya lewat Instagram @grace.melia ini.

Saat itu, Gesi mengalami kondisi yang mirip seperti masuk angin yakni demam, sumeng, ngilu di badan, serta mata berair. Beberapa hari kemudian, muncul ruam-ruam merah di kulitnya.

Gejala Rubella saat hamil ini dibenarkan oleh dr Meta Hanindita, SpA. Ia menjelaskan bahwa Rubella pada ibu hamil dapat dilihat dari gejala seperti demam, adanya ruam merah pada tubuh, serta pembengkakan kelenjar getah bening. Bisa juga muncul keluhan lain seperti nyeri sendi.

Sementara itu, pada bayi yang terkena Congenital Rubella Syndrome atau rubella kongenital gejalanya berbeda dengan infeksi Rubella pada umumnya. Pada bayi dengan rubella kongenital, biasanya tidak muncul ruam maupun demam.

Gejalanya berbeda-beda pada tiap bayi, namun yang khas di antaranya bisa berupa gangguan perkembangan. Selain itu, bayi juga bisa mengalami sesak napas karena gangguan pada jantung atau masalah pada pendengarannya.
03.45 | 0 komentar | Read More

Tersambar Petir Saat Berjalan, Ibu Hamil Ini 'Terpaksa' Melahirkan

Written By iqbal_editing on Minggu, 09 Juli 2017 | 12.56

Tengah hamil 9 bulan dan diperkirakan akan melahirkan seminggu kemudian, Meghan Davidson (26) memutuskan untuk mulai rajin berjalan kaki. Siapa sangka, saat sedang melakukan rutinitasnya tersebut, tiba-tiba ia tersambar petir.

Dikutip dari Fox News, kejadian ini sendiri baru terjadi beberapa hari lalu. Davidson yang tengah hamil besar ditemukan tidak sadarkan diri oleh pengunjung gereja dekat rumahnya. Tim medis pun segera dipanggil.

"Kami sangat terkejut dan benar-benar hanya berdoa mengharapkan keajaiban semoga dia baik-baik saja," ujar pengunjung gereja tersebut.


Setelah dibawa ke rumah sakit, dokter kemudian memutuskan untuk membantu proses persalinan Davidson sesegera mungkin. Beruntung proses persalinan berjalan dengan baik, bayi laki-laki Davidson pun dilahirkan dengan selamat dan diberi nama Owen.

Davidson sendiri sampai saat ini masih mendapatkan perawatan intensif dan sudah membaik meski sempat kritis. Menurut salah seorang kerabat, Davidson sudah dipindahkan ke ruang perawatan.

"Tim medis sudah menurunkan jumlah oksigen yang diberikan pada Davidson. Ia juga sudah mulai memberi respons melalui kedipan mata saat mendengar suara suaminya," ungkap sang kerabat.

Dokter yang merawat Davidson menyebutkan peristiwa semacam ini cukup jarang terjadi. Namun menurutnya proses persalinan memang sebaiknya disegerakan demi menyelamatkan nyawa sang bayi dan juga ibunya, melalui operasi caesar.
12.56 | 0 komentar | Read More

Dramatis! Bidan di Kalimantan Ini Bantu Ibu Melahirkan di Atas Pick-up

Written By iqbal_editing on Minggu, 02 Juli 2017 | 04.46

Seorang bidan di pedalaman Kalimantan Barat mengisahkan salah satu pengalaman tak terlupakan saat membantu persalinan. Belum lama ini, ia menolong ibu melahirkan di atas mobil pick up dalam perjalanan ke puskesmas rujukan.

Saat itu hari masih pagi, Betty Simanjuntak yang merupakan bidan Polindes (Pondok Bersalin Desa) di Kecamatan Mandor, Kabupaten Landak, sedang menggantikan rekannya yang masih cuti melahirkan. Seorang pasien mengalami kontraksi, saat didatangi sudah mengalami bukaan lebar dan siap melahirkan anak keempat.

Saat diperiksa, tekanan darahnya terukur sangat tinggi dan pasien tersebut punya riwayat persalinan yang kurang bagus. Pada kehamilan sebelumnya, pasien ini melahirkan bayi prematur dengan berat badan kurang dari 1 kg.

"Ini termasuk risiko tinggi sehingga harus segera dirujuk ke Puskesmas Kecamatan," kata Betty saat dihubungi detikHealth, Rabu (25/3/2015).

Baca juga: Kisah-kisah 'Heroik' di Balik Turunnya Angka Kematian Ibu di Gorontalo

Bukan perkara mudah untuk merujuk pasien tersebut ke puskesmas. Kendala pertama, akses menuju jalan provinsi berjarak sekitar 15 km. Untuk sampai di Puskesmas rujukan, dibutuhkan waktu 1,5 jam jika perjalanan lancar. Ditambah kendala berikutnya, tidak ada ambulans yang tersedia.

"Hanya ada mobil pick up milik warung sebelah," lanjut Betty.

Tak ingin buang-buang waktu, Betty memasang infus dan menyiapkan peralatan yang dibutuhkan. Pasien dievakuasi dengan mobil pick up yang sehari-hari digunakan untuk mengangkut dagangan. Hanya beralaskan matras seadanya, pasien dibawa melintasi jalan beraspal yang rusak karena memang banyak dilintasi truk sawit.

Hanya sekitar 2 km sebelum tiba di puskesmas rujukan, pasien sudah tidak sanggup bertahan. Di titik tersebut, Betty melakukan pertolongan darurat dengan perlengkapan yang memang sudah disiapkan. Tidak butuh waktu lama, si jabang bayi pun lahir di atas bak mobil pick up.

"Puji Tuhan, ibu dan anaknya selamat. Saya jadi bidan sejak 1996, baru kali ini menolong ibu melahirkan di atas pick up," kenang Betty penuh rasa syukur.

Kendala Transportasi di Daerah

Meski baru pertama kali membantu persalinan di atas mobil, Betty mengaku sering menempuh perjalanan jauh untuk mengevakuasi ibu hamil ke fasilitas rujukan. Ikatan Bidan Indonesia (IBI) mengakui, buruknya sarana transportasi di banyak daerah di Indonesia menghambat pelayanan para bidan.

"Geografis kita kan unik. Mungkin jarak tempuh tidak terlalu jauh, tapi transportasinya tidak lancar. Ini menjadi kendala dalam konteks merujuk pasien," kata Ketua IBI, Dr Emy Nurjasmi, MKes kepada detikHealth.

Hambatan-hambatan tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam menekan Angka Kematian Ibu (AKI) yang secara nasional tercatat masih tinggi yakni 359 kasus/100.000 kelahiran pada 2012. Dalam banyak kasus, ibu hamil meninggal karena terlambat mendapat penanganan kegawatdaruratan.

"Pasien kebidanan neonatal ini spesifikasinya kalau terjadi kegawatdaruratan, masa kritisnya tidak panjang. Memang harus segera tertangani," tandas Emy.
04.46 | 0 komentar | Read More

kasus ibu hamil di tempat tidak biasa

Arus balik mudik Lebaran 2017 diwarnai momen dramatis. Seorang ibu, Sukiati (43), melahirkan di pinggir jalan Tol Cikopo-Palimanan (Cipali) dalam perjalanan menuju Jakarta. Walau memang tak ideal, dalam banyak kasus ada perempuan-perempuan tangguh yang terpaksa melahirkan di tempat-tempat tak biasa.

Sukiati dilaporkan dalam kondisi sehat usai melahirkan. Peristiwa tersebut diketahui oleh petugas kepolisian pada Minggu (2/7/2017) sekitar pukul 10.40 WIB di Km 82. Usai melahirkan, Sukiati dan anaknya segera dilarikan ke rumah sakit.


Dalam catatan detikHealth, ada beberapa kasus serupa yang pernah dilaporkan. Berikut ini di antaranya.



1. Ibu di Kalbar melahirkan di atas pick up
Betty Simanjuntak, seorang bidan di Kecamatan Mandor, Landak, Kalimantan Barat punya pengalaman dramatis menolong persalinan di atas mobil pick up. Sang ibu harus dirujuk karena kehamilannya berisiko, namun kontraksi terjadi 2 km sebelum mencapai puskesmas rujukan. Tak mau buang waktu, Betty segera melakukan pertolongan darurat. Ibu dan anaknya, selamat.


2. Melahirkan di jalan dengan panduan via telepon
Imani Crawford (26), seorang ibu hamil di Amerika Serikat sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit ketika mendadak mengalami kontraksi. Ia menelepon 911 lalu diminta meminggirkan kendaraan sembari menunggu ambulans datang. Dengan panduan melalui telepon, ia sukses melahirkan anaknya dengan selamat di pinggir jalan.

3. Suami istri bahu-membahu melahirkan di mobil
Pasangan suami istri di Amerika Serikat, Noah dan Lauren Strunk tidak bisa mencapai rumah sakit tepat waktu ketika sang istri yang sedang hamil tua, mengalami kontraksi. Momen dramatis itu diabadikan dengan kamera, lalu diunggah ke instragram dan menjadi viral di internet.
04.40 | 0 komentar | Read More

Cerita Josie, Gunakan Amplas dan Garpu untuk Redakan Kulit Gatal Saat Hamil

Written By iqbal_editing on Jumat, 23 Juni 2017 | 05.42

Saat usia kandungannya 27 minggu, Josie Barker (26) mengalami iritasi di tangan, kaki, dan menjalar ke perutnya. Tak sekadar rasa gatal saja yang timbul tapi ia juga mengalami sensasi seperti terbakar. Hal ini mulanya dialami Josie saat tengah berlibur.

Setelah menelepon sang bidan, Josie segera ke rumah sakit dan hasil pemeriksaan darah menunjukkan ibu dua anak itu mengalami kondisi langka intrahepatic cholestasis of pregnancy (ICP) yaitu gangguan hati langka yang menyebabkan meningkatnya asam empedu pada tubuh. Kala itu, kadar asam empedunya diketahui mencapai 14.

"Saya sudah mencoba berbagai macam losion untuk meredakan gatal disertai sensasi terbakar di kulit saya. Bahkan saya menggunakan amplas dan garpu untuk meredakannya, tapi itu tidak berhasil. Kadang jika saya menggaruk tangan atau kaki terlalu keras, justru akan luka," tutur Josie, seperti dikutip dari berbagai sumber.

Di malam hari, gatal dan sensasi terbakar yang dirasakan Josie makin parah. Ia juga jarang memakai baju karena kontak antara kulitnya dengan baju membuat rasa gatal menjadi. Saat mandi, sebisa mungkin Josie akan berlama-lama di bawah shower karena siraman air dingin membuat rasa gatal disertai sensasi terbakar yang ia rasakan mereda.


Umumnya, wanita dengan ICP disarankan menjalani induksi atau operasi caesar saat usia kandungannya 37 minggu karena dikhawatirkan kadar asam empedunya meningkat. Hal itu pula yang dialami Josie hingga ia melahirkan putra pertamanya Freddie di usia kandungan 37 minggu.

"Setelah Freddie lahir dengan bobot sekitar 3 kg, gatal saya hilang begitu saja. Dan saya bersyukur kondisi bayi saya sehat. Ketika saya hamil anak kedua, untungnya rasa gatal dan sensasi terbakar itu baru saya rasakan saat usia kandungan 31 minggu," kata Josie.

Namun, karena sudah merasakan hal serupa sebelumnya, Josie lebih siap menghadapi kondisi gatalnya itu. Hampir sama dengan Freddie, anak kedua Josie yang diberi nama Elsie lahir saat usia kandungan 36 minggu. Meski harus melewati kehamilan dengan gatal disertai sensasi terbakar yang mengganggu, Josie bersyukur bisa melewati masa-masa itu.

Sementara, juru bicara British Skin Foundation, dr Anjali Mahto mengatakan dermatolog kerap diminta untuk meninjau pasien yang mengalami gatal atau ruam selama kehamilan. Dengan mengetahui ICP lebih dini, diharapkan kondisi ini dapat lebih terkontrol dan bisa diberi pengobatan tepat sedini mungkin.
05.42 | 0 komentar | Read More
 
berita unik