Entri Populer

Welcome Guys

Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog

Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

cerpen labotarium quraan

Written By iqbal_editing on Selasa, 18 April 2017 | 06.20

Namaku niken, tepatnya Niken Fathunnisa Indira. Teman-teman memanggilku Niken. Tak ada yang istimewa dariku, kecuali satu hal yang membuat aku merasa sangat istimewa: Namaku. Namaku berasal dari paduan bahasa jawa dan arab. Niken berasal dari bahasa Jawa yang berarti anak perempuan yang cantik. Fathunnisa berasal dari bahasa Arab yang artinya wanita yang memperoleh kemenangan. Indira merupakan gabungan nama orangtuaku: Indra dan Ratih. Sehingga arti dari namaku adalah anak perempuan yang cantik yang memperoleh kemenangan, anak dari Indra dan Ratih. Panjang memang, tapi nama inilah yang menjadi spirit hidupku.
Aku seorang mahasiswa jenjang magister (S2). Saat ini aku kuliah di jurusan kesehatan masyarakat, di salah satu kampus ternama di negeri ini. Tiga smester berlalu, saat ini aku memasuki semester akhir masa studiku di jenjang magister. Dina Kariyosi. Ia adalah seorang mahasiswa jenjang sarjana yang juga memiliki topik penelitian serupa denganku. Setelah sidang proposal penelitian, kamipun mempersiapkan pengumpulan data dan tentunya mancari laboratorium untuk pemeriksaan penelitian kami.
=============================================================================================================
“ Selamat siang ibu, saya Niken mahasiswa FKM. Mohon maaf ibu saya mau bertanya apa di laboratorium ini bisa memeriksa benzopyrene pada urin?” tanyaku
“Benzopyrene? itu beda dengan benzene yah Mbak, wah kami belum bisa sepertinya Mbak” jawab suara diujung sana.
“Oh baik ibu..terima kasih ya bu” tanggapku
Kira-kira seperti itulah percakapan antara kami dengan petugas laboratorium yang kami hubungi. Mulai dari tidak bisa, tidak mengerti metodanya, tidak ada orangnya dan lainnya. Hingga suatu hari…
“Siang bu, saya Niken mahasiswa FKM. Boleh saya bertanya apakah di laboratorium ini bisa melakukan pemeriksaan benzopyrene pada urin?”
“Oh..sebentar ya Mbak, saya sambungkan dengan bagian Laboratoriumnya.”
Beberapa saat kemudian.
“Ya Mbak, ada yang bisa di bantu?”
“Iya bu, saya mau bertanya apa disini bisa untuk pemetriksaan benzopyrene pada urin?”
“Oh benzopyrene ya? Dulu pernah..tapi sebentar saya sambungkan dengan Bu Erna bagian laboratorium ya”
Tak lama akupun berbicara dengan Bu Erma, menyatakan maksudku. Alhamdulillah mereka menyanggupi. Dari obrolan itu disimpulkan aku dapat mengumpulkan sampel sekitar 1 minggu lagi. Betapa lega rasanya. Ini adalah laboratorium pertama yang menyanggupi dari lebih 10 laboratorium yang aku hubungi.
Empat hari berlalu, Hari Jumat pihak Laboratorium Kesehatan menelponku.
“Siang Mbak Niken, saya Bu Erna dari Laboratorium Kesehatan.”
“Oh oya, selamat siang ibu. Bagaimana kabarnya bu?”
“ Baik, Mbak Niken bagaimana?”
“ Saya juga baik bu, Alhamdulillah persiapan untuk ambil data sudah hampir selesai. Sehingga in syaa Allah hari senin saya bisa turun ambil data, dan setelah itu membawa sampelnya ke laboratorium”
“ Mbak Niken, mohon maaf sebelumnya. Kami ingin mengabarkan bahwa salah satu komponen alat laboratorium kami rusak. Untuk perbaikan alat bisa menghabiskan dana separuh dari pembelian baru di alat yang sama. Sehingga nampaknya kami tidak bisa menerima pemeriksaan untuk penelitian Mbak”
Seketika aku tak dapat berucap, hanya diam mendengar perkataan Bu Erna.
“ Apa tidak bisa diusahakan bu?”
“ Tidak Bisa Mbakk, kami juga tidak ada orang yang bisa mengerjakannya.”
“Baik, bu bagaimana kalau saya coba carikan tempat yang punya alat tersebut. Sehingga nanti separuh pemeriksaannya dilakukan di sini, dan separuhnya lagi di Lab lainnya.”
“Oh ya silahkan saja Mbakk, coba hubungi universitas XXX tampaknya bisa.”
“Baik bu, terima kasih.”
Seminggu setelah itu, kami terus mencari laboratorium yang bisa menyewakan alat itu. Tapi hasilnya nihil. Akhirnya kami temukan satu laboratorium yang bisa menerima pengajuanku.
“Siang Bu Erna, saya Niken bu”
“Iya Mbak Niken, bagaimana?”
“Iya Bu, laboratorium Fakultas MIPA dikampus saya bersedia membantu penelitian ini. Jadi preparasi sample di laboratorium kesehatan, sedangkan lanjutannya di lakukan di laboratorium MIPA. Bagaimana bu?”
“Oke baik kalau begitu, kami bisa bantu.”
“Alhamdulillah, jadi baiknya bagaimana bu? Apa besok saya bisa ke sana untuk membahas tekhnisnya?”
“Iya Mbak, silahkan.”
“Baik terima kasih bu”
Keesokan harinya, aku dan Dina berangkat ke kantor Laboratorium Kesehatan Tersebut. Kami sangat merasa senang, karena itu tandanya penelitian kami akan segera berjalan. Namun semua, terkadang tidak sekedar rencana manusia, ada takdir dan tangan Allah didalamnya.
“Siang bu, boleh saya bertemu dengan Bu Erna? Sudah janji sebelumnya. Saya Niken dari FKM bu” ujarku pada resepsionis di sana
“Baik, tunggu sebentar yah Mbak” jawabnya sopan.
Sambil menunggu, kusempatkan menlanjutkan jatah juz yang ku baca, selang 15 menit segera kukirim message di grup whatsapp ODOJ58: Juz 12 kholas ya, Alhamdulillah. Lega hatiku karena sudah menunaikan 1 juz pagi itu. Aku yakin memulai hari dengan 1 juz memudahkan urusan yang akan kulakukan hari ini. Tak lama, bu Erna pun datang
“Pagi Mbak Niken”
“Pagi bu, bagaimana bu? Bisa kita bahas rencana tekhnis sekarang”
“Begini Mbak….” ujarnya tertahan.
“Kami sudah diskusi dengan pemimpin kami, Melihat kondisi kami nampaknya kami belum bisa membantu penelitian Mbak.”
Seketika aku terdiam, menunggu Bu Erna melanjutkan perkatannya yang menurutku masih menggantung.
“Kondisi kami saat ini sedang banyak sekali sampel yang harus diperiksa, karyawan kami dua orang sedang cuti karena hamil. Jadi sepertinya tidak memungkinkan.”
“Apa tidak bisa diusahakan bu? Saya sudah mencoba cari laboratorium lainnya tapi memang semua tidak bisa karena meraka tidak pernah sebelumnya.”
“Iya Mbak, selain itu kami juga tidak memiliki reagen untuk reaksinya. Stoknya sudah menipis. Kalaupun mau dibeli waktu pesannya bisa mencapai 2 bulan.”
Aku masih terdiam.
“Tapi bu, sempel saya tidak terlalu banyak koq bu, tidak sampai ratusan.” tambahku meyakinkannya.
“Iya Mbakk, kami tidak yakin ada segitu reagennya. Mohon maaf yah Mbak. Coba cari laboratorium lainnya”
Aku belum berkata-kata lagi, memikirkan negosiasi apa yang bisa aku ajukan. Belum sempat aku berkata, Bu Erna segera melanjutkan kata-katanya.
“Mohon maaf ya Mbak, saya ada rapat di Dinas 30 menit lagi. Saya pamit yah Mbak, semoga dapat laboratorium pengganti. Coba hubungi laboratorium di Cilodong, siapa tahu bisa. Sekali lagi mohon maaf yah Mbak.”
Aku tidak menjawab, karena seingatku laboratorium Cilodong sudah pernah kami hubungi dan menyatakan tidak bisa.
“Baik bu, terima kasih. Saya juga langsung pamit ya bu. Tapi saya masih berharap laboratorium disini bisa membantu penelitian saya.hehe
“hehe..mohon maaf ya Mbak, saya duluan.”
Keluar dari kantor Laboratorium, Aku dan Dina memutuskan untuk berjalan kaki sampai ke shelter busway, kira-kira jaraknya 100 meter. Kami bisa saja menggunakan angkutan umum atau bajaj untuk menuju jalan raya utama, tapi kami memilih berjalan kaki. Dina bilang: ingin sedikit meratapi keadaan ka. Aku tersenyum, meski dalam hati mengiyakan.
Sepanjang jalan kami seperti orang yang tak tau mau kemana, sudah lemas bagaimana penelitian kami kedepannya. Sempat tersirat untuk mengganti tema. Itu berarti kami harus menyelesaikan dalan waktu 1 bulan. Itu hal mustahil, kecuali kami menambah 1 semester untuk lulus semester depan.
Kami terus berjalan, mulai terbayang muka orang-orang yang berusaha keras membantuku untuk melanjutkan kuiah ini. Wajah ayah ibuku. Ah..tak sekalipun aku menceritakan kendala yang kuhadapi pada orangtuaku. Bukan karena aku tertutup, tapi aku hanya tak ingin mereka ikut memikirkannya. Bagiku doa mereka adalah segalanya, dan aku sangat yakin doa merekalah yang membuat aku bertahan sampai hari ini apapun kondisi dan hambatan yang kuhadapi. Tekadku bulat: Cumlaude untuk buat mereka bangga!
Tak terasa, shelter busway sudah di seberang jalan yang kami lalui. Kami pun membeli tiket dengan sistem kartu elektronik yang baru kami beli tadi pagi. Tak banyak percakapan diantara kami. Karena kami menyadari masing-masing kami sedang tenggelam dalam kebimbangan. Ah Tuhan, cukup bahasa padaMu lah percakapan diantara kami.
Tak seperti biasanya, siang itu kondisi busway sangatlah lengang. Hanya beberapa orang. Hampir tak ada penumpang yang berdiri. Kami duduk bersebelahan, masih terdiam dalam keheningan. Tak lama ada sebuah pesan yang masuk di inbox handphoneku : “ Aa Gym: sesungguhnya setiap ujian yang Allah berikan bukan untuk membuat kita lebih terpuruk dan hina, melainkan untuk mengangkat drajat kita, terus berusaha dan sabar, in syaa Allah selalu ada jalan.” Jleb! Aku merasa tausyiah itu benar-benar ditujukan untukku. Untuk masalah yang aku hadapi saat ini. Seketika ada sebuah semangat yang menghujam di dadaku.
Tak lama berselang, masuk lagi sebuah message di whatsapp grup ODOJ Korea bekasi. Sebuah pesan yang menceritakan tentang seorang saudari yang diberi ujian sakit pada anaknya. Awalnya diagnosa dokter mengatakan anaknya sakit DBD, tapi kondisi sang anak terus menurun sampai jumlah leukosit yang signifikan, hingga dokter mengatakan anaknya menderita leukemia. Ditengah kondisi yang begitu campur aduk, ia mengandalkan alquran untuk terus dibaca. Pada kisah itu dikatakan, entah berapa juz yang sudah ia baca. Ia yakin, al quran lah yang membuatnya tenang. Alquranlah yang membuat pertolongan itu dekat. Hingga akhirnya keajaiban terjadi, Semua trombosit, leukosit dan komponen lainnya seketika berada pada kondisi normal. Dokter dan para medis yang menyaksikan tidak percaya. Ada yang menyarankan untuk dicek ulang, ada yang menyarankan untuk pergi ke dokter atau laboratorium lainnya, tapi ada pula yang mengatakan bahwa ini adalah keajaiban.
Selesai membacanya, timbul suatu keinginan untuk mengikuti cara bertahan pada kisah tersebut. Alquran, ya Alquran! Alquranlah segala obat dari kegundahan dan kebimbangan kondisiku saat ini. Alquranlah yang menjadi cara mendekatkan pertolongan Allah kepada kami. Al quranlah yang membuat kami menjadi pribadi kuat dan tahan banting terhadap ujian ini.
Ku buka mushaf, tak perduli apapun yang orang lihat. Pemandangan aneh, tak biasa ataupun jarang ada orang yang mengaji alquran di busway, aku abaikan. Aku terus membaca setiap kalamNya, menikmati setiap bacaan hurufnya, hingga aku terlarut pada setiap ayat demi ayat yang kubaca. Aku tak peduli surat apa yang kubaca, juz berapa yang kubuka, yang ku yakin semua ayat dalam al quran itu hidup. Menghidupkan hati yang mati, menerangi hati yang gelap, menyuburkan hati yang gersang. Satu per satu ayat terus kubaca. Turun dari busway tetap kulanjutkan membacanya di kereta menuju kampus. Aku tak peduli, alquran telah membuat candu bagiku saat itu.
Tak terasa kami sudah hampir sampai di stasiun tujuan dekat kampus. Aku menutup mushafku, kemudian turun distasiun kerata. Hatiku lebih tenang, udara segar di dekat kampus membuat kami merasa lebih baik. Setetelah keluar dari stasiun, tiba-tiba handphoneku bordering, ada nama Bu Erna di panggilan masuk:
“Assalamualaikum, ya Bu Erna.”
“Waalaykumussalam, Mbak Niken ada dimana? Sudah menghubungi laboratorium yang tadi saya kasih tahu Mbakk?”
“Saya baru saja turun kereta bu, baru sampai kampus. Jadi belum sempat menelpon kesiapa-siapa. Rencana saya mau menghadap pembimbing siang ini. Ada apa ya bu?”jawabku
“Oh begitu. Ini Mbakk kami mau infokan kalau Lab kami bisa membantu penelitian Mbak. Hanya saja mungkin nanti separuh tahapannya dilakukan di Lab lainnya. Bagaimana Mbak?”
“ Alhamdulillah..iya bu tidak apa-apa. Yang terpenting Lab kesehatan bisa bantu preparasi sample. Nanti dilanjutkan di laboratorium kampus.”
“Oh, baik kalau begitu, nanti saya kabari Mbak lagi mengenai persiapan teknisnya ya.”
“Baik ibu, terima kasih”
Ajaib? Mungkin. Aneh? Bisa Jadi.
Tapi yang ku yakini, inilah bentuk pertolongan Allah yang dipercepat. Alquranlah yang mengantarkan itu semua. Inilah laboratorium sebenarnya yang aku butuhkan. Laboratorium quran dengan reagen huruf didalamnya, reaksi mahadahsyat ayat-ayat penuh makna, semua lebih aku butuhkan untuk penyelesaian tesisku.
Alhamdulillah…Allahu akbar!!
Tak henti-hentinya hatiku meMbaktin kalimatNya, Dina pun masih terkaget-kaget dengan perubahan kondisi yang begitu cepat. Tak kurang dari 1 jam, Allah merubah segalanya. Kamipun berbegas menuju tempat wudhu untuk menunaikan ibadah shalat dzuhur. Tak sabar rasanya bercengkrama denganNya lewat shalat, ingin melanjutkan cerita dengan bahasa yang kami simpan dalam rasa padaNya.
Hari itu, satu dari sekian banyaknya cerita kemahadahsyatan alquran kualami sendiri, dalam hal yang tak disangka, Alquran menjadi sumber kekuatan dan pertolongan masalah yang kami hadapi. Satu juz per hari sekarang bukan soal kewajiban harian yang ditargetkan, tapi kebutuhan, candu ruhiyah yang harus kulakukan, kataku. Ya Rabb, terima kasih…Jagalah kami untuk terus dekat dengan alquran, jadikanlah hati kami dipenuhi rahmat dan cinta
06.20 | 0 komentar | Read More

cerpen labotarium angker

(Cerpen) Laboratorium Angker


            Banyak orang yang percaya dengan hal-hal mistis. Salah satunya, Chika. Chika selalu menghubungkan hal-hal ganjil yang terjadi di sekitarnya dengan alam ghaib. Entahlah, dia bilang, dia seperti bisa merasakan sesuatu yang berbeda dengan yang dirasakan orang lain. Chika sering bercerita pada temannya, Laras tentang pengalaman-pengalaman mistis yang pernah ia alami, seperti mendengar suara-suara yang memanggilnya saat tengah malam, saat ia melihat sekelebat bayangan putih melintas di depannya, dan lain-lain.
Laras bukanlah orang yang mudah percaya dengan takhayul ataupun cerita mistis seperti itu. Namun, karena Chika adalah temannya, jadi Laras mau tidak mau harus menjadi pendengar yang baik saat Chika bercerita. Laras tidak mudah percaya dengan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan logika dan akal sehat. Oleh karena itu, dia tidak pernah tertarik dengan segala macam hal-hal yang berbau ghaib. Disinilah  letak perbedaan antara Laras dan Chika, Laras lebih suka dengan hal-hal yang berkaitan dengan Jepang. Tidak seperti Chika yang lebih suka berkutat dengan DVD film-film horror dan koleksi novel horror favoritnya, Laras lebih suka menonton anime, ataupun mengoleksi manga.
***
“Ras, aku baru beli novel horror lagi loh. Kamu mau pinjem nggak?”
Yap, itulah Chika. Ternyata dia memang tidak mengerti kalau Laras tidak terlalu maniak dengan cerita horror seperti dia. Dan sekarang, dia mengganggu Laras yang sedang membaca komik Detective Conan.
“Nanti aja deh,Ka. Aku masih punya banyak komik yang belum aku baca.” jawab Laras dengan nada malas.
“Oke deh kalo gitu. Kalo kamu mau pinjem, bilang aja. Ceritanya seru loh,Ras. tentang misteri hantu-hantu di sekolah. Ceritanya itu, blablablabla...” ujar Chika dengan panjang lebar.
“Hm, kayaknya aku nggak perlu minjem novelmu deh,Ka. Kan udah kamu ceritain semua isinya barusan.”
“Ah, iya ya. Sorry deh, aku emang suka keasyikan kalo cerita tentang mistis, hehehe..”
“Dasar, Chika. Aku jadi tidak bisa konsentrasi baca komik ini.” batin Laras.
Tak lama kemudian, Bu Anisa masuk ke kelas. Oh, pelajaran biologi yang begitu membosankan bagi Laras. Untungnya ini jam pelajaran terakhir, ia erasa ingin cepat pulang ke rumah agar bisa menyelesaikan membaca komiknya. Sepanjang pelajaran biologi, dia hanya mendengarkan Bu Anisa berbicara kesana kemari. Karena dia sama sekali tidak mengerti dengan penjelasan yang diberikan Bu Anisa.
            “Chika, bisa tolong ambilkan mikroskop di laboratorium biologi?” tanya Bu Anisa ke Chika.
            “Baik, bu.”
            Chika pun beranjak dari kursinya di sebelah Laras, dan berjalan keluar. Beberapa menit kemudian, Chika pun kembali ke kelas dengan membawa sebuah mikroskop ditangannya. Namun, sepertinya ada yang lain dari Chika, wajahnya berubah pucat. Hm, mungkin Chika sakit karena begadang menyelesaikan membaca novel horror barunya itu? Dan kini, Chika sudah duduk di sebelah Laras. Laras sepertinya ingin bertanya ke Chika, tapi dia tidak berani, karena jika ketahuan oleh Bu Anisa ada dua orang muridnya yang berbicara selagi ia menjelaskan, maka mereka akan mendapat omelan yang lebih dahsyat dari ocehannya sekarang.
            Laras melirik jam tangan biru mudanya yang menunjukkan pukul 16.30, masih 30 menit lagi bel pulang. “Mengapa waktu berjalan begitu lama pada jam pelajaran?” batinnya. Jadi, selama itu dia hanya bisa berpura-pura mendengarkan dan kadang-kadang menggambar karakter baru untuk komik buatannya.
            “TENG! TENG! TENG!”
            Akhirnya... Suara bel membuyarkan lamunan Laras dan langsung memberinya semangat lagi. Terpancar aura kelegaan di wajah Laras setelah melewati 30 menit penuh penderitaan terberat baginya. Ia pun segera memasukkan buku-buku pelajarannya ke dalam tas dan berdiri untuk mengambil helm di lemari.
            “Ras, temenin aku ke lab yuk. Bu Anisa nyuruh aku balikin mikroskop ini.” kata Chika sambil menepuk pundak Laras.
            “Oke, tapi jangan lama-lama ya. Aku mau cepet pulang ke rumah, lalu nyelesain  baca komik ini.” balasnya sambil memegang komik Detective Conan.
            “Iya, ngapain lama-lama disana. Aku juga nggak betah lama-lama disana.”
            “Ya udah, ayo.”
            Mereka pun berjalan melewati lorong sekolah yang sudah mulai sepi. Laboratorium Biologi di sekolah mereka memang terletak di ujung, dekat halaman belakang sekolah, dan  berdampingan dengan Lab Kimia dan Lab Fisika. Laras pun teringat dengan pertanyaan yang tadi mau ditanyakannya ke Chika. Saat dia menoleh ke arah Chika, dia melihat wajah Chika masih tampak pucat.
            “Kenapa muka kamu pucat,Ka? Kamu sakit?” tanya Laras.
            “Ngg.. Ntar aja deh aku ceritanya,Ras.”
            Mereka pun sampai di depan lab biologi. Chika membuka kunci lab dan langsung masuk sambil membawa mikroskop itu. Sedangkan Laras menunggu di meja coklat tua dekat tempat penyimpanan mikroskop sambil membaca komiknya. Saat Chika sudah selesai menyimpan mikroskop, dia pun beranjak dari meja dan berdiri di depan lemari kaca tempat penyimpanan alat-alat praktikum. Laras berkaca untuk sekedar merapikan rambutnya. Setelah itu,mereka pun keluar dari lab dan menuju tempat parkir untuk mengambil motor.
            Saat di tempat parkir, Laras tersadar sepertinya dia melupakan sesuatu. Oh tidak, komiknya tertinggal di lab biologi! Dia lupa memasukkannya ke dalam tas. “Pasti komikku ada di meja dekat lemari kaca itu.” kata Laras dalam hati. Terpaksalah dia mengambil komik itu, karena memang komik itu yang daritadi ingin cepat ia selesaikan.
            “Ka, kunci lab bio belum kamu balikin ke penjaga sekolah kan?” tanya Laras.
            “Baru mau aku balikin,Ras. Sekalian pas kita lewat nanti deh.”
            “Aku pinjem bentar dong. Komik Detective Conan-ku ketinggalan di meja dekat lemari kaca tadi.”
            “Besok aja ngambilnya,Ras. Sekolah udah sepi nih. Kamu nggak takut?”
            “Nggak ah, aku mau baca komik itu sekarang. Ngapain juga takut? Nggak ada yang perlu ditakutin kok.”
            “Kamu nggak tau,Ras. Tadi, waktu aku disuruh Bu Anisa ngambil mikroskop, aku ngerasa ada yang aneh di lab itu. Aku ngeliat ada sesosok laki-laki disana. Dia memperhatikan aku, dan aku sadar kalo tubuh laki-laki itu tembus pandang. Kamu liat tadi muka aku pucat kan? Makanya pas balikin mikroskop tadi, aku minta temenin sama kamu.”
            “DEG!” jantung Laras berdegup keras mendengar kata-kata Chika.
“Ah, cuman perasaan kamu aja kali,Ka. Di dunia ini nggak ada yang namanya hantu, setan, atau apalah itu. Udah deh, cepetan mana kuncinya? Kalo kamu nggak mau nemenin aku lagi ke lab itu, nggak apa-apa kok, aku bisa sendiri” kata Laras.
            “Terserah kamu aja deh,Ras. Nih kuncinya. Aku tunggu disini aja”
            “Ya udah kalo gitu.” katanya sambil meninggalkan Chika di parkiran.
            Laras pun berjalan lagi ke arah lab biologi. Dan kali ini, suasana lorong sekolah benar-benar sudah sepi. Tidak ada lagi anak-anak yang duduk di depan kelas, ataupun yang bermain basket di lapangan. Laras pun berjalan dengan keraguan dalam benaknya, dia teringat dengan perkataan Chika tadi.
“Ah, kenapa aku jadi parno begini? Tidak biasanya aku merasa ragu, dan perasaan ku menjadi tidak enak seperti ini.” ujar Laras dalam hati.
            Dilihatnya lagi jam tangan di lengan kanannya, sudah menunjukkan pukul 17.15. Ia pun memutuskan untuk mempercepat langkahnya. Dan kini, ia sudah ada di depan lab biologi. Dengan ragu di membuka kunci lab biologi itu. Setelah terbuka, ternyata suasananya terasa lebih suram daripada saat ia masih bersama Chika tadi. Ia pun segera menuju ke meja dekat lemari kaca tempat ia membaca komiknya tadi. Tapi, dia tidak mendapatkan apa pun di atas meja itu. Padahal rasanya tadi memang dia letakkan di atas meja coklat yang sudah agak tua itu. Dia mencoba membongkar tasnya, tapi ia juga tidak mendapatkan komiknya di dalamnya. Saat ia sudah selesai merapikan tasnya, matanya kembali tertuju ke lemari kaca di dekat meja itu. Saat ia melihat pantulan bayangannya di kaca itu, ia melihat sekelebat bayangan putih yang lewat di belakangnya
            “Kreekk.. Krekk..”
            “Suara apa itu? Seperti suara benda bergerak.” batinnya.
 Dia melihat sekelilingnya, matanya tertuju pada miniatur rangka manusia yang ada di pojokan ruangan lab. Tangan tengkorak itu sedikit bergoyang. Padahal tidak ada angin masuk yang sekiranya cukup untuk menggoyangkan tangan tengkorak itu. Mungkinkah?
  Laras pun merasakan seperti ada angin semilir yang berhembus di belakang lehernya. Dan kini, bulu kuduknya sudah mulai merinding. Dia pun berjalan mundur dengan ragu-ragu, dan..
            “Brakkk!”
            “Kyaaaaa!!!” teriaknya spontan.
Oh, ternyata tangannya menyenggol rak tabung reaksi. Huuh, untunglah.. Ia mengira ada seseorang yang menyenggol rak tabung reaksi itu. Dia pun merapikan lagi rak tabung reaksi yang tadi disenggolnya. Setelah itu, ia berusaha mempercepat untuk menemukan komiknya
. “BINGO! Itu dia!” katanya.
 Seperti melihat harta karun, Laras pun berlari ke tempat penyimpanan mikroskop. Komiknya ada di atas salah satu kotak mikroskop tersebut. Rasanya, tadi komik itu ia letakkan di meja. Mengapa bisa jadi pindah ke atas kotak mikroskop? Tidak mungkin komik itu pindah dengan sendirinya. Dan ia yakin tadi sudah mencarinya kesana, dan tidak menemukan apapun.
            Tempat penyimpanan mikroskop itu berada di ujung ruangan, di dekat jendela yang mengarah langsung ke halaman belakang sekolah. Setelah memasukkan komiknya ke dalam tas, Laras pun memandang ke arah jendela itu. Betapa terkejutnya dia, tepat di jendela itu, ada bayangan seorang laki-laki dengan wajah yang pucat, matanya melotot, dan tersenyum menyeramkan kepadanya.
            Laras seperti ingin berteriak, tapi suaranya tercekat di tenggorokan, tidak bisa keluar. Maka, ia pun berlari menuju ke pintu lab. Tapi, pintunya terkunci!! Dia mencoba membuka pintu itu, tapi tidak bisa. Dia terus menggedor-gedor pintu itu sekuat tenaga sambil mencoba berteriak, berharap ada orang lewat yang bisa mendengar suaranya dan membukakan pintu itu. Sepertinya sudah tidak ada orang lagi. Dia menoleh ke jendela dekat tempat mikroskop itu. Bayangan laki-laki itu masih ada disana, tetap memperhatikannya!
            “Tolooong!!! Tolong buka pintunya!!” akhirnya suaranya keluar!
Tapi, tidak ada jawaban dari luar. Lututnya terasa lemas, ia pun hanya bisa terduduk sambil terus menggedor-gedor pintu. Ia merogoh saku tasnya untuk mencari HP. Setelah ia dapatkan, ia langsung memencet nomor HP Chika. Chika pasti masih menunggunya di parkiran. Namun, belum sempat ia berbicara dengan Chika, handphonenya tiba-tiba mati. Akh, sial! Laras lupa men-charge handphonenya tadi malam. Sekarang ia hanya bisa pasrah, dan terus menggedor-gedor pintu.
Rasa lelah mulai menghampiri Laras. Keringat dingin terus bercucuran dari dahinya. Ia melihat lagi bayangan laki-laki itu, yang kini mulai mendekat ke arahnya. Bayangan laki-laki itu tersenyum dan menyeringai kepadanya. Jantung Laras berdegup dengan keras. Ia tidak tau harus berbuat apa. Ia ingin membaca ayat kursi, tapi bibirnya terasa kaku. Laras pun hanya tertunduk, terdiam, dan tiba-tiba kesadarannya mulai hilang...
06.20 | 0 komentar | Read More

cerpen labotarium sekolah

Angga langsung menghunuskan pedangnya saat Ia mengetahui kalau peluru revolvernya habis. Dengan cekatan, dia langsung mengayunkan pedang itu ke leher para monster menjijikkan dan menebasnya dengan cepat.
Tidak berguna, sebenarnya. Monster itu membelah diri. Jika dibunuh, malah meningkatkan jumlahnya. Namun Angga tak bisa melakukan apapun selain menebas kepala monster itu untuk membuat jalan keluar dari laboratorium sekolahnya.
Ya, entah bagaimana caranya, saat Angga tengah sibuk berurusan dengan tabung-tabung kimia yang akan menjadi penentu nilai akhir, tiba-tiba saja lantai bergetar. Awalnya Angga mengira kejadian itu adalah gempa bumi, namun pemikiran itu segera tercoreng saat dia melihat lantainya terbuka (dalam artian sebenarnya) dan memunculkan sebuah tangan menjijikkan. Sekali lagi Angga mengira itu hanyalah sebuah tangan, namun ternyata tangan itu tersambung dengan tubuh yang menjijikkan pula.
Oh, soal pedang dan revolver, itu ternyata memang sudah disediakan. Iya, disediakan. Angga yang hampir saja meminum cairan kimianya karena tidak tahan menerima realita hidup terpaksa menghentikan aksinya saat dia melihat dindingnya terbuka dan mengeluarkan sebuah layar lebar.
“Selamat, kau terpilih.” Suara itu keluar dari layar lebar bersamaan dengan munculnya wajah seorang lelaki tua.
“Ini adalah percobaan. Jika kau berhasil memusnahkan para monster itu, maka kau bisa maju ke babak selanjutnya.”
Angga mengernyit. Apa-apaan? Pikirnya. Memainkan nyawa manusia dan menyebutnya sebagai percobaan, apa yang dipikirkan oleh pria tua itu?.
“Jangan bingung, karena itu tidak lagi berguna. Sekarang, pilihanmu hanya dua. Hidup, atau mati. Hidup dan melanjutkan percobaan ini, atau mati sia-sia dan menjadi makan siang mereka. Di laci meja sudah disediakan sebuah pistol dengan peluru penuh, dan di sebelah laci ada sebuah pedang. Gunakan sepuasmu. Jangan takut salah tembak ke luar ruangan, karena semua orang yang ada di sekolahmu sudah dievakuasi.
“Evakuasi? Ini bukan tanah longsor, tahu! Kau ini siapa?!” Angga berteriak, tak sadar kalau dia hanya berteriak pada sebuah layar.
“Semoga beruntung.”
Dan layar mati. Hebat sekali. Andai Angga bisa mengunyah layar itu.
Kembali pada kenyataan, kini Angga tengah kewalahan menghadapi monster tidak berakal itu. Penggal sana, tumbuh sini, penggal sini, tumbuh sana. Bagaimana bisa habis kalau siklusnya terus berulang?
Oh, seharusnya Angga benar-benar meminum cairan kimia itu.
“Berhentilah! Berhentilah! Tidakkah kalian tahu kalau kalian itu sudah mati? Tidakkah kalian tahu kalau kalian itu sudah masuk kubur? Kenapa kalian ada di sini? Kalian tidak betah dengan kubur kalian? Kalian tidak betah? Di kubur memang tak ada TV, tapi setidaknya jangan menyerangku di sini! Berhentilah, wahai para mayat yang kabur dari kuburnya! Berhentilah! Aku sudah tidak tahan!”
Ha, tidak berguna sama sekali.
Angga akhirnya menyerah. Dia sudah benar-benar tidak tahan dengan realita hidupnya. Apa salahnya? Apa dosanya? Dia hanya memakai laboratorium ini untuk nilai ujian praktik kimia, bukan untuk menjalani percobaan atau simulasi atau tes atau ujian atau semacam itu dan mempertaruhkan nyawanya. Apa salahnya?
“Angga,”
Bagus, sekarang Malaikat Maut sudah memanggilnya.
“Angga!”
Cabut saja, cabut.
“Angga!”
Iya! Ini Angga! Cabut saja nyawaku langsung kenapa, sih?
“WOI ANGGA!”
Angga terlonjak.
“Kamu ngapain, sih? Tidur ya tidur, gak usah gerak-gerak!”
… Eh?
“Tidur? Aku tidur? AKU TIDUR?!” Angga bangun dari kasurnya dan menarik kerah baju Bimo -lelaki yang tadi meneriaki namanya.
“… Kamu kenapa, sih? Mimpi apa kamu jadi sampai sengklek begini?”
“Tadi, Bim, ‘kan aku di laboratorium sekolah, tuh. Terus ternyata lantainya kebuka, terus muncul zombie! Pas aku mau bunuh diri, ternyata dindingnya kebuka, terus kayak munculin layar lebar, gitu, Bim! Muncul bapak-bapak tua, dia bilang aku lagi masuk percobaan, terus-”
“Stop!” Bimo memotong dengan cepat cerita Angga.
“Kenapa?”
“Seratus persen kamu itu mimpi, ‘Ngga. Lihat sekeliling kamu, gak ada zombie, gak ada bapak-bapak, gak ada laboratorium. Udah deh.”
“Tapi yang tadi itu-”
“Kamu itu jadi mimpi gitu karena kebanyakan nonton Walking Dead. Terus kenapa muncul bapak-bapak tua, palingan karena kamu tadi pagi dihukum Pak Arif keliling lapangan, makanya bawa perasaan sampai sekarang. Udah ah, kamu ini aneh-aneh aja. Ganggu.”
Bimo kembali ke kasurnya dan terlelap, meninggalkan Angga yang termangu.
Kalau semuanya mimpi, lantas mengapa kini tangannya memegang sebilah pedang di bawah selimut?
“Selamat, kau lulus percobaan pertama. Kini, selamat datang di percobaan kedua. Semoga beruntung, dan berjuanglah.”
Cerpen Karangan: Jamilatuzzahra
05.50 | 0 komentar | Read More

cerpen happy ending

Written By iqbal_editing on Selasa, 10 Januari 2017 | 17.03

HAPPY ENDING
Karya Tri Meilani Ameliya

Umur 14 tahun merupakan peralihan dari masa anak-anak menuju masa remaja. Pada saat inilah semua anak bakalan mengalami perubahan secara fisik maupun psikis, gak ada lagi keseriusan dalam belajar, yang ada hanyalah keinginan merasakan kebebasan dan mencari tau apa itu cinta. Pada saat ini pula rata-rata remaja bakalan merasakan kasmaran, termasuk aku.

Namaku Zahra Tania Putri, biasa dipanggil Zahra. Aku sekarang duduk dibangku kelas 3 SMP, bukannya belajar dengan serius untuk menghadapi UN aku malah sibuk memikirkan seseorang. Yuupp tentu aja yang aku pikirkan itu seorang cowok namanya Raditya Alveno biasa dipanggil Radit. Dia adalah cowok yang sejak kelas 2 SMP aku sukai. Gak tau kenapa bukannya perasaan itu semakin berkurang malah semakin bertambah.

Satu-satunya orang yang mengetahui aku mempunyai rasa sama Radit cuma Raya, Raya lah yang selalu setia mendengar celotehan ku tentang Radit. Raya adalah sahabatku sejak kelas 2 SMP. Menurutku Raya adalah cewek yang aneh, karena menurut pengakuannya gak ada cowok yang dia suka, setiap kali aku bertanya tentang itu Raya selalu bilang dengan santai "Gak Ada". Raya memang cewek yang pendiam, beda banget sama aku yang gak bisa diam karena sering nyari perhatiannya Radit.

Aku dan Radit satu kelas dan itu membuatku cukup salting di kelas. Sampai sekarang aku hanya bisa memendam perasaanku, sampai suatu hari Raya ngomong sama aku, "Ra,kalau kamu suka sama Radit, ngapa kamu gak coba deketin?" "Hah?? Ray gak mungkin cewek yang deketin cowok" balas aku dengan raut wajah yang tidak menentu. "Ya ampun Zahra, deketin seperti temen aja kalii.. misalnya SMSan sama Radit ataupun sering ngobrol sama dia", kata-kata Raya memang ada benarnya juga sih, selama 2 tahun aku suka sama Radit, aku paling jarang ngomong sama dia. "Oke akan aku coba Ray".

Semenjak saat itu aku mulai mencoba untuk dekat dengan Radit, mulai dari SMSan sampai sering ngobrol sama dia. Radit itu perfect banget dimataku dia putih,tinggi,ganteng,pintar dan tajir pula. Selama proses pendekatanpun aku ngerasa akrab banget sama dia. Sampai-sampai banyak orang di kelas yang bilang kalau Radit suka sama aku. Iya aku dengan Radit memang dekat banget, kami sering ke kantin bareng, pulang bareng, dan itu termasuk hal yang sangat menyenangkan bagi aku, tapi tetap aja aku ngerasa kurang nyaman karena kedekatan kami tanpa status.

Karena semakin resah akhirnya suatu hari aku bertanya pada Rico. Rico adalah sahabatnya Radit "Ric, ada yang mau aku tanyain sama kamu" "Apaan Ra?" "Kamu tau gak siapa yang Radit suka?" "Kalau itusih aku juga kurang tau Ra, tapi yang jelas 3 hari lagi Radit bakalan nembak cewek yang dia suka" mendengar itu jantung ku terasa berdetak sangat cepat. "Oh iya deh makasih infonya yah" "Iya sama-sama Ra".Setelah itu aku langsung menceritakan semuanya sama Raya, dan Raya pun menebak yang bakalan ditembak Radit itu adalah aku...

Akhirnya hari yang aku tunggu tiba. Hari ini adalah hari dimana Radit bakalan nembak cewek yang dia suka. Akupun udah dandan cantik-cantik dan rapi banget, pergi sekolah pun aku semangat banget. Setibanya di sekolah Raya hanya tersenyum melihat aku yang sangat gembira. Sampai waktu istirahatpun tiba, Rico berdiri di depan kelas dan teriak "Eh teman-teman Radit bakalan nembak cewek nih". Aduh pas itu aku pun berbisik pada Raya "Ray,kalau cewek yang ditembak Radit gak nerima Radit bakal aku marahin, masa' dia gak mau nerima Radit yang perfect banget." "Ah bilang aja yang mau ditembak Radit itu kamu Zahra". Mendengar balasan Raya aku hanya tersenyum malu.

Gak terasa Radit udah berdiri di depan meja aku sama Raya. Saat itu Radit langsung ngomong "Raaaaa...." aduh pas Radit ngomong itu aku udah senang banget,nama aku Zahra dan biasa teman-teman kalau ngomong sama aku cuma Ra aja dan ternyata yang ditembak Radit itu "Raaaaaa......Yaaaaaaaa kamu mau gak jadi pacar aku?".

Aku langsung kaget mendengar itu badanku terasa lemas banget, aku hanya bisa senyum sambil bisikkin ke Raya "Terima Radit yah Ray, aku ikhlas asalkan Radit bahagia.". Waktu itu Raya dan Radit resmi pacaran.
Pada saat itupun aku keluar kelas dengan alasan sama Raya kalau aku mau ke kantin, padahal aku langsung ke toilet. Keadaan toilet saat itu sepi karena anak-anak yang lain pada ke kantin, gak tau kenapa air mata aku netes,aku menangis, rasanya itu perih banget ketika kita mencintai seseorang yang malah mencintai sahabat kita sendiri. Lalu aku bergegas keluar dari toilet sambil menghapus air mata aku. Plukkk ternyata aku menabrak seseorang dan itu adalah Rico. "Ra, kamu kenapa nangis?" pertanyaan dari Rico hanya membuat aku semakin menangis. "Ra, sebenarnya aku udah tau kalau kamu suka sama Radit,aku juga tau kalau yang bakalan ditembak sama Radit itu Raya.."
Mendengar itu air mataku pun semakin deras mengalir, tiba-tiba Rico langsung mendekapku. Mulai saat itu aku baru menyadari bahwa Rico begitu perhatian terhadapku.

Dihari-hari berikutnya aku berusaha bersikap biasa sama Raya. Radit begitu perhatian sama Raya, aku hanya dapat tersenyum melihat mereka seakan aku mendukung hubungan mereka. Tapi sebenarnya hati ini tengah menangis, menangis sekuat-kuatnya, dan aku akan tetap berusaha tegar,mungkin aku bisa membohongi Radit dan Raya tapi tidak dengan Rico. Ntah mengapa akhir-akhir ini aku merasa nyaman saat bersama Rico. Tapi aku takut kedekatan ini sama seperti kejadian aku dengan Radit. Dulu aku sempat dekat sama Radit tapi ternyata Radit sukanya sama Raya. "Apakah mungkin Rico dekat denganku dan dia akan jadian dengan cewek lain??" tanyaku dalam hati.
Sudah hampir sebulan Raya dan Radit berpacaran, perasaan ku dengan Radit pun sudah mulai berkurang tetapi masih ada bekas luka yang belum dapat terobati. Namun ternyata perasaanku telah berpaling ke Rico. Hari ini tiba-tiba Rico mengajak ku ke taman samping sekolah setelah bel pulang berbunyi.

Aku mulai merasa ada yang aneh pada Rico. Tiba-tiba Rico mengeluarkan setangkai bunga mawar putih dari kantong celananya. "Ra mungkin ini adalah saat yang tepat untuk ngungkapin perasaanku sama kamu,sebenarnya aku udah lama suka sama kamu. Ra kamu mau gak jadi pacar aku?". Mendengar ungkapan perasaan Rico aku hanya bisa menangis dan karena aku memiliki perasaan yang sama dengannya akupun menerima cinta Rico.Kamipun resmi berpacaran.

Aku sangan berterima kasih pada Tuhan karena telah menciptakan sesosok Rico yang telah mampu mengobati luka hati ini. Sekarang aku dan Raya pun sama-sama bahagia. Dari pengalamanku ini aku belajar Cintailah orang yang mencintaimu karena belum tentu orang yang kamu cintai,mencintaimu pula. dan Relakanlah orang yang kamu sayangi untuk bersama orang yang dia sayangi pula, karena sebenarnya Tuhan telah mempunyai pengganti yang lebih baik yang pasti terbaik untukmu. :)
17.03 | 0 komentar | Read More
 
berita unik